Archive for the ‘artikel kecerdasan emosional’ Category
“Kendalikan Hidup Untuk Menaklukkan Masa-Masa Sulit, Lalu Kembangkan Pikiran Dan Perasaan Kaya.” – Djajendra
Di saat Anda merasa lelah dengan kesengsaraan dan cobaan hidup, Anda perlu berdiam diri sejenak untuk mencari perasaan syukur Anda atas semua kebaikan yang Anda peroleh dari kehidupan.
Jangan biarkan pikiran dan perasaan Anda terfokus pada kesengsaraan, tapi fokuskan pikiran dan perasaan Anda pada keunggulan dan kenikmatan yang Anda miliki. Walaupun keunggulan dan kenikmatan itu hanya setitik dari selautan kesengsaraan Anda.
Di saat hidup menguras semua energi positif Anda dengan berbagai cobaan dan kesengsaraan hidup, jangan berkeluh – kesah dan menangis, tapi temukan kelebihan dan kehebatan diri Anda melalui tekad dan motivasi diri yang tak padam oleh hal apa pun.
Kehidupan selalu memiliki siklus turun-naik. Dan di saat turun, cobalah belajar kembali untuk meningkatkan kualitas diri Anda. Dan di saat naik, janganlah tertawa dan merasa sombong, tapi kendalikan diri Anda untuk meningkatkan kualitas diri Anda buat kehidupan yang lebih berintegritas.
Di saat semua langkah-langkah kehidupan Anda menjadi berat, tidakpasti, penuh perasaan cemas, penuh pikiran takut, dan putus asa. Kendalikan ambisi Anda yang berlebihan, walaupun Anda harus menguras tenaga dan pikiran untuk bisa mengatasi semua persoalan Anda.
Kehidupan selalu akan memberikan kejutan-kejutan yang tidak terpikirkan sebelumnya. Oleh karena itu, biasakan diri Anda untuk menghadapi hal apa pun dalam hidup dengan jiwa besar dan pikiran positif.
Di saat tekanan hidup membuat Anda sengsara, maka Anda tidak boleh takut dan cemas. Tetapi, miliki sikap positif dalam percaya diri yang sempurna, lalu rangkullah semua cobaan dan perubahan, dan kendalikan diri Anda dalam sikap sabar, tegar, dan cerdas secara emosional.
Untuk seminar/training hubungi www.djajendra-motivator.com

“Kehidupan Yang Berkualitas Membutuhkan Emosi Yang Cerdas Dan Jalan Terang Untuk Menuju Kebahagiaan Hidup.” – Djajendra
Hidup yang indah butuh emosi yang indah, emosi yang indah dihasilkan dari keikhlasan diri untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab kehidupan dengan senang hati. Hidup yang indah butuh rutinitas kehidupan dengan kebiasaan-kebiasaan hidup yang berfondasikan niat baik dan sikap baik. Hidup yang indah butuh kecerdasan emosional di semua aspek kehidupan, sehingga Anda benar-benar menjadi pribadi yang terkendali untuk kebahagiaan hidup Anda. Emosi diri Anda yang cerdas adalah refleksi kehebatan Anda dalam memahami kehidupan Anda dengan ikhlas, tulus, bersyukur, dan penuh tanggung jawab.
Biasakan memiliki waktu untuk merenungkan perjalanan hidup Anda. Lakukan evaluasi dengan jujur untuk melihat apakah emosi Anda membantu atau menghalangi perjalanan Anda menuju puncak sukses. Dan miliki komitmen untuk selalu mengendalikan hidup Anda, sehingga hidup Anda dapat berjalan sesuai dijalan yang Anda inginkan.
Diri sejati Anda jauh lebih besar daripada emosi-emosi Anda. Diri sejati Anda adalah energi yang memiliki kekuatan untuk menghapus semua emosi negatif Anda dan meningkatkan kualitas emosi positif Anda. Tugas Anda adalah mencerahkan dan mengoptimalkan nilai-nilai kebaikan dari potensi kehidupan Anda, sehingga Anda benar-benar mampu menjadi diri sendiri yang merefleksikan Kehebatan kualitas hidup Anda.
Untuk seminar/training hubungi www.djajendra-motivator.com

“Perasaan Khawatir Harus Selalu Dalam Batas Yang Wajar Dan Tidak Boleh Menjadi Kebiasaan Khawatir Yang Berlebihan.” – Djajendra
Perasaan khawatir adalah sesuatu yang sangat manusiawi, dan setiap orang pasti pernah merasa khawatir di dalam kehidupannya. Tetapi, bila perasaan khawatir tidak dikendalikan melalui emosi yang cerdas, maka perasaan khawatir akan bergerak menjadi kebiasaan khawatir. Kebiasaan khawatir berpotensi merampas hak bahagia Anda, berpotensi menghilangkan hak damai Anda, dan berpotensi menjadikan Anda hidup dalam stres. Oleh karena itu, Anda harus selalu memastikan bahwa perasaan khawatir Anda masih dalam batas-batas wajar dan normal, serta belum menjadi kebiasaan yang membuat hidup Anda dalam tekanan dan kegelisahaan kronis. Bila khawatir sudah menjadi kebiasaan Anda, maka Anda harus secara serius bekerja keras untuk menghapusnya dari hidup Anda.
Anda perlu rasa khawatir untuk memacu kreativitas Anda. Anda perlu rasa khawatir untuk memacu rasa ingin tahu Anda terhadap berbagai tantangan dan peluang hidup. Anda perlu rasa khawatir untuk mengendalikan berbagai risiko dalam kehidupan Anda. Tetapi, kadar dan jumlah dari rasa khawatir yang Anda perlukan haruslah kecil dan harus dapat dikendalikan oleh emosi cerdas Anda.
Jika kebiasaan khawatir mengikuti kehidupan Anda dalam semua pola hidup Anda, maka Anda tidak akan memiliki kesempatan untuk bertahan hidup di dalam kekuatan kebahagiaan. Anda akan hidup dalam pertempuran batin yang akrab dengan stres dan kekosongan batin. Artinya, kedamaian dan kebahagiaan hidup hanya sebatas harapan yang sulit Anda dapatkan.
Menghapus kebiasaan khawatir dari hidup untuk selamanya akan menghasilkan kekuatan untuk menangkap semua peluang kehidupan, termasuk akan meningkatkan rasa percayaan diri dan perasaan menang dalam hidup.
Secara radikal beranikan diri Anda untuk membentuk kembali kehidupan mental Anda dengan nilai-nilai positif kehidupan, sehingga Anda dapat mengalami perubahan total terhadap perilaku, serta mampu membentuk kebiasaan pola hidup baru untuk kebahagiaan dan kedamaian hidup Anda.
Tingkatkan keyakinan pribadi Anda untuk melakukan pekerjaan yang brilian dan berperilaku tanpa rasa khawatir yang berlebihan. Tingkatkan kekuatan fokus Anda dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta perkuat semua potensi diri Anda untuk meningkatkan produktivitas hidup Anda di semua aspek kehidupan Anda.
Untuk seminar/training hubungi www.djajendra-motivator.com
“Kebahagiaan Akan Menjadi Abadi Kalau Anda Menjalani Kehidupan Anda Dengan Emosional Anda Yang Cerdas.” – Djajendra
Apakah kebahagiaan merupakan tujuan hidup? Bagaimana kalau kebahagiaan itu suatu hari harus berakhir? Pertanyaan ini ditanyakan oleh seorang peserta training kecerdasan emosional kepada saya. Pada saat itu, saya menjawab bahwa tujuan hidup setiap orang pasti berbeda-beda, dan menurut saya kebahagian adalah salah satu dari tujuan hidup saya. Dan setiap orang memiliki hak masing-masing untuk mendefinisikan tujuan hidupnya sendiri. Tapi, di saat perasaan bahagia Anda lenyap oleh takdir kehidupan atau oleh ketidakcerdasan emosional Anda dalam memaknai rasa syukur, maka Anda harus bangkit kembali dengan nilai-nilai baru Anda untuk kehidupan baru Anda yang lebih bahagia dan yang lebih menyenangkan.
Beberapa waktu yang lalu seorang teman merasa semua miliknya sudah lenyap, dia kehilangan orang tua dan suami, dia merasa semua kebahagiaan hidupnya telah dirampas oleh kehidupan. Saya mencoba menenangkan hatinya dengan mengatakan bahwa apapun yang kita rasakan dan miliki tidak pernah abadi, semuanya pasti akan berakhir suatu saat nanti. Artinya, apapun perasaan Anda saat ini; apakah itu bahagia, senang, sedih, atau apapun itu, semuanya bersifat sementara dan tidak pernah abadi. Semuanya pasti akan berakhir pada sebuah titik tertentu, dan Anda harus bersiap-siap untuk melakukan perubahan untuk menggantikan perasaan-perasaan lama dengan perasaan-perasaan baru agar Anda tetap bisa mempertahankan kesenangan, kebahagiaan, dan semua perasaan positif Anda yang lainnya di sepanjang kehidupan Anda.
Pertanyaan dan persoalan di atas menunjukkan bahwa setiap orang harus mencerdaskan emosionalnya untuk mengikuti pola kehidupan yang tidak pernah abadi. Apapun perasaan dan harapan yang dimiliki saat ini, suatu hari nanti pasti akan hilang dan harus segera digantikan dengan perasaan dan harapan baru.
Kebahagiaan adalah perasaan yang tergantung kepada kecerdasan emosional Anda dalam menjalani kehidupan Anda secara konsisten dengan meningkatkan nilai-nilai kehidupan Anda setiap saat. Bila sebuah titik kebahagiaan Anda lenyap oleh alasan apapun, maka Anda harus bangkit dengan sabar dan tegar untuk memperjuangkan perasaan bahagia Anda, agar Anda tetap hidup dalam kebahagiaan, kedamaian, dan kesenangan.

”Saya Menganggap Orang Yang Bisa Mengatasi Keinginannya Lebih Berani Daripada Orang Yang Bisa Menaklukkan Musuhnya; Karena Kemenangan Yang Paling Sulit Diraih Adalah Kemenangan Atas Diri Sendiri.” – Aristoteles
Kecerdasan emosional berarti Anda harus memiliki kesadaran diri untuk melihat diri sendiri dan mengakui perasaan diri sendiri secara bijak; Anda harus mampu mengelola emosi dan menangani perasaan diri Anda sendiri agar sesuai dengan harapan dan keinginan Anda.
Di saat Anda menyatukan semua energi diri Anda dengan emosional Anda yang cerdas; Anda secara otomatis akan mendapatkan perasaan berani dan percaya diri, untuk mewujudkan harapan dan impian, dengan menaklukkan semua hambatan dan tantangan. Artinya, Anda akan berjalan terus untuk meraih semua impian Anda, tanpa takut, dan tanpa memiliki perasaan bosan atau pun menyerah.
Kecerdasan emosional akan mengatasi perasaan takut,marah, sedih, tidak percaya diri, dan menggantinya dengan perasaan memiliki, damai, bahagia, senang, sehat, sejahtera, dan terhormat.
Tetapi, Anda harus ingat bahwa perasaan manusia sengat labil. Artinya, untuk memiliki kecerdasan emosional tidaklah perkara gampang, diperlukan latihan dan motivasi secara terus-menerus. Setiap saat Anda harus mengisi energi motivasi ke dalam emosi Anda, agar emosi Anda bisa selalu mendapatkan tenaga positif untuk tetap stabil bersama nilai-nilai kehidupan yang membuat emosi Anda cerdas.
Saya pribadi mengenal pengetahuan kecerdasan emosional sudah lebih dari sepuluh tahun; termasuk sudah sering menulis, mengajar, dan melakukan riset, tapi sampai hari ini masih banyak misteri-misteri emosional diri kita yang tidak mudah untuk dipecahkan. Artinya, Anda tidak boleh berhenti atau merasa tidak mampu dalam mencerdaskan emosional Anda. Selama Anda antusias dan memiliki tekad untuk menyalurkan emosi Anda ke dalam pelayanan kehidupan Anda yang bertujuan positif, maka Anda pasti dapat mengontrol emosi diri Anda dengan baik.
Miliki empati terhadap semua hal-hal terbaik dan nilai-nilai kehidupan terbaik. Fokuskan diri Anda untuk menjalani pola hidup yang melihat semua hal dari perasaan positif dan pikiran positif. Lalu, miliki sensitivitas untuk menjalani hubungan dengan siapa pun dan apa pun dalam perasaan positif dan syukur.
”Kecerdasan Emosional Tidak Muncul Begitu Saja. Kecerdasan Emosional Adalah Hasil Dari Segala Kebaikan Diri, Pikiran Positif, Kerja Keras, Dedikasi Kepada Keseimbangan Hidup Yang Tak Pernah Terhenti Oleh Badai Kehidupan Apa Pun.” – Djajendra

“Di Bumi Mana Kita Berdiri; Hormatilah Tanah, Budaya, Adat Istiadat, Bahasa, Dan Masyarakatnya.” – Djajendra
Beberapa waktu yang lalu saya di undang oleh sebuah perusahaan batu bara di Kalimantan Timur untuk memberikan on site motivation tentang kecerdasan emosional dalam lingkungan multikultural. Mereka ingin saya memberikan pencerahan dan motivasi, agar para karyawan di lokasi mampu menjaga diri, emosi, dan kepribadian untuk menciptakan situasi yang harmonis dengan masyarakat di sekitar kawasan tambang.
Pagi sekali saya sudah sampai di Bandara Soekarno – Hatta, saya menggunakan pesawat pertama. Perjalanan dari Jakarta ke Balikpapan membutuhkan waktu sekitar dua jam sepuluh menit. Sesampai di Bandara Internasional Sepinggan, Balikpapan, terlihat pemandangan laut yang biru dan bersih. Belum selesai saya menikmati keindahan laut Balikpapan yang luar biasa itu, saya telah dijemput oleh klient saya dan langsung menuju ke kota Samarinda.
Di pertengahan jalan antara Balikpapan dan Samarinda, kami berhenti sejenak di rumah makan Tahu Sumedang, di Jl Poros Balikpapan – Samarinda di km 50. Rumah makan dengan pemandangan bukit dan kebun kecil yang indah.
Setelah selesai menikmati hidangan sunda dari rumah makan Tahu Sumedang, kami kembali bergerak menuju ke kota Samarinda, sambil menikmati kehijauan dan keindahan hutan bukit Soeharto.
Setelah tiga jam perjalanan dari Balikpapan, kami sampai di kota Samarinda, dan langsung check-in di hotel.
Setelah selesai check-in di hotel, setengah jam kemudian kami menuju ke daerah Tenggarong, untuk mengunjungi lokasi tambang milik klient kami. Di perjalanan, kami melihat aktivitas beberapa perusahaan tambang yang cukup sibuk melakukan loading batu bara dengan menggunakan conveyor.
Pemandangan sawah, rawah, semakbelukar, yang diselingi dengan beberapa rumah penduduk terlihat di kiri-kanan jalan menuju lokasi. Terdengar suara nyanyian burung dan hewan hutan lainnya. Aktivitas penduduk asli yang berjalan sambil menggendong anaknya dikeranjang yang diletakkan di pundak. Semua yang saya lihat di perjalanan menjadi sangat indah dan memberikan banyak inspirasi buat kekayaan kehidupan pribadi saya.
Multikultural! Saya langsung teringat tentang materi motivasi yang harus saya sampaikan besok pagi di hadapan para audience saya.
Di setiap daerah sangat ragam perilaku dan budaya masyarakat setempat, kita yang beraktifitas di sebuah daerah wajib untuk mengormati perilaku dan budaya masyarakat setempat. Artinya, di bumi mana kita berdiri, hormatilah tanah, budaya, adat istiadat, bahasa, dan masyarakatnya.
Sekitar tahun 1986 sampai dengan 1988, saya adalah Auditor yang bekerja di sebuah kantor akuntan publik. Saat itu, kantor saya sering mendapat klient dari BUMN, dan saya berkesempatan melakukan audit di perusahaan perkebunan, galangan kapal, pertambangan, dan lain sebagainya. Khusus untuk perkebunan dan pertambangan, saya harus melakukan perjalanan ke daerah – daerah terpencil. Keragaman masyarakat yang saya temui pada saat itu mengajarkan banyak kekayaan kehidupan kepada saya. Dan sekarang, di tahun 2010 ini, saya masih belajar tentang keragaman kehidupan masyarakat yang luar biasa indah.
Bekerja di sektor sumber daya alam tidaklah mudah. Para karyawan dan pimpinan harus menjadi cerdas secara multikultural, bila tidak, konflik dengan masyarakat setempat bisa merugikan semua pihak.
Karyawan dan pimpinan yang cerdas secara multikultural dan emosional pasti dengan mudah beradaptasi dengan sikap dan perilaku masyarakat lokal. Lalu, mampu membangun hubungan dan komunikasi positif dengan semua pihak secara berkualitas.

“Kualitas Diri Anda Akan Mundur Di Saat Anda Tidak Mampu Memahami Orang Lain.” – Djajendra
Mungkin saja Anda pernah merasakan atau sedang merasakan bahwa orang-orang di sekitar Anda suka salah menilai Anda. Akibatnya, muncul kesalahpahaman terhadap perilaku Anda. Mungkin Anda akan berpikir bila orang-orang di sekitar Anda mau mengenal diri Anda lebih baik, maka pandangan mereka terhadap diri Anda akan berubah menjadi positif.
Saran saya, sebaiknya Anda jangan berandai-andai tentang perilaku orang lain kepada Anda, sebab Anda tidak mungkin mampu merubah perilaku orang lain, Anda hanya mungkin bisa membangun hubungan baik dengan orang lain dengan cara merubah perilaku, karakter, persepsi, dan sikap Anda kepada diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, di saat Anda dikiritik habis-habisan oleh orang-orang di sekitar Anda, jangan bereaksi dengan negatif, tapi konsolidasikan diri Anda, lalu renungkan semua sebab-akibat orang-orang mengkritik Anda. Dengarkan semua suara kritik, dan jangan pernah tersinggung kepada siapa pun. Tapi, perbaiki diri Anda, agar orang-orang di sekitar Anda bisa menyayangi Anda dengan sepenuh hati.
Kemampuan Anda untuk belajar positif dari kritikan dan ketidaksukaan orang lain kepada Anda, akan membuat kepribadian Anda menjadi lebih dewasa bersama emosi yang cerdas. Untuk itu, jangan paksa orang lain untuk memahami Anda, tapi berdayakan diri Anda untuk memahami perilaku orang lain. Menyalahkan orang lain atas ketidaksukaan mereka kepada Anda adalah hal yang paling mudah. Mencari seribu satu alasan untuk membantah semua kritikan orang lain kepada Anda adalah hal yang paling gampang. Persoalannya, hal termudah dan tergampang itu akan menggiring Anda kepada kemunduran kualitas diri. Sebab, di saat Anda tidak memiliki kemampuan untuk memahami orang lain, Anda hanya akan mengalami konflik, khususnya dalam hal membangun hubungan baik dengan orang lain.

“Bahasa Tubuh Yang Buruk Memperlihatkan Ketidakcerdasan Emosional.” – Djajendra
Bahasa tubuh yang buruk akan membuat orang lain bisa tersinggung. Hal ini terjadi kepada Mario Balotelli, pemain muda Inter Milan.
Mario Balotelli adalah seorang pemain sepak bola yang cukup berpotensi untuk menjadi pemain terbaik dunia. Persoalannya, dia sering sekali tidak mampu mengendalikan dirinya, sehingga beberapa kali harus menerima hukuman dari klub dan pelatih.
Pada semifinal Liga Champions, saat Inter Milan memenangkan pertandingan melawan sang raksasa Barcelona. Semua pendukung, pengurus, pelatih, dan pemain Inter Milan sedang merayakan kemenangan yang luar biasa tersebut. Tetapi, perayaan tersebut harus ternoda oleh sikap Mario yang membuang kostum Inter Milan yang dia pakai.
Mario Balotelli tidak mengucapkan kata-kata kasar, tapi bahasa tubuhnya, dan sikapnya yang membuang kostum membuat para pendukung dan beberapa pemain Inter tersinggung. Akibatnya, Mario Balotelli harus berseteru dan merusak pesta kemenangan tim dan pendukung.
Mentalitas yang rapuh dan emosional yang tidak cerdas sangat mudah membawa seseorang kepada konflik dan persoalan.
Kisah Mario Balotelli mengajarkan kepada kita bahwa bahasa tubuh yang tidak simpati, dan yang cendrung melecekan sebuah simbol, dapat mengundang emosional orang lain untuk merusak dan menghukum diri kita.
Kecerdasan emosional tidak hanya harus dipelajari, tapi harus diinternalisasikan ke dalam karakter, perilaku, sikap, dan sifat sejati kita. Bila tidak, maka semua pengetahuan kecerdasan emosional hanya akan menjadi sebatas pengetahuan yang tidak mampu merubah diri untuk menjadi lebih berkualitas.

“Jangan Mencela, Maka Kau Tidak Akan Dicela.” – Abraham Lincoln
Sebagian besar orang lebih suka mencela dan menceritakan kekurangan orang lain daripada mencela dan memperbaiki diri sendiri.
Perilaku mencela orang lain adalah hasil dari emosional negatif, dan akan ada dua hal yang muncul dari perilaku mencela, yaitu: akan dibenci orang lain dan akan mengundang banyak musuh untuk merusak perasaan damai dan bahagia.
Setiap orang tidak pernah menginginkan ada orang lain yang mencelanya, demikian juga dengan Anda, mungkin tidak akan membiarkan diri Anda dicela oleh siapa pun.
Pekerjaan mencela adalah pekerjaan yang paling gampang, tapi dampak negatifnya luar biasa merusak mental dan hubungan. Setiap kali Anda mencela seseorang, semakin sakit hati dan semakin dendam orang tersebut kepada Anda. Hasilnya, Anda akan dikelilingi oleh musuh yang terlihat dan yang tidak terlihat oleh mata dan perasaan Anda.
Agar Anda tidak menjadi seorang yang suka mencela orang lain, Anda harus menjalani kehidupan Anda dengan memfokuskan semua perhatian Anda kepada sisi baik orang lain. Jangan pernah melihat sisi negatif siapa pun, tapi lihatlah sisi baik, dan layani orang lain dengan sikap baik Anda, yang membuat orang lain terlihat hebat dan penting.
Gunakan setiap hari 10 menit dari waktu Anda, khusus untuk melatih mind set Anda, agar Anda mampu untuk tidak mencela orang lain. Gunakan 10 menit itu untuk merenungkan sisi baik dari orang lain, dan gunakan 10 menit itu untuk membuat diri Anda mendapatkan sifat dan perilaku yang menghormati orang lain.

“Konflik Akan Menciptakan Efek Buruk Berantai Yang Berpotensi Merusak Fondasi Perusahaan.” – Djajendra
Pengaturan hubungan kerja yang gagal akan menciptakan konflik dalam bentuk gesekan antara individu di dalam organisasi. Hal ini berpotensi menimbulkan masalah dan kerugian bagi stakeholders. Bila manajemen tidak mampu mengelola berbagai macam kepribadian yang berbeda untuk sebuah visi bersama, maka para individu akan berperilaku atas dasar ego dan kepentingan diri mereka masing-masing.
Ketegangan dan konflik yang tak terkendali akan memicu ketidakcerdasan emosional di internal organisasi. Oleh karena itu, pihak manajemen harus mampu memecahkan akar dari ketegangan dan konflik tersebut. Bila tidak, maka secara otomatis kepatuhan karyawan dan pimpinan kepada etika dan moralitas akan menurun, dan kondisi ini akan menghilangkan potensi perusahaan untuk meraih kinerja terbaik.
Setiap karyawan dan pimpinan sejak dini harus diajarkan cara untuk mengendalikan situasi di saat benih konflik muncul. Terutama untuk mengubah pandangan dan tanggapan negatif menjadi positif terhadap situasi yang ada, agar bisa mengatasinya dengan cara yang paling profesional dan bijaksana.
Konflik biasanya akan diikuti sikap marah dan dendam, kedua sifat ini pasti akan mengganggu perilaku setiap orang. Artinya, energi negatif yang dimunculkan oleh sekelompok orang di dalam internal organisasi, akan menciptakan efek buruk berantai yang berpotensi merusak fondasi perusahaan secara keseluruhan. Misalnya, jika sekelompok orang sedang berkonflik satu sama lain, maka perhatian orang-orang lain di internal perusahaan tidak akan fokus pada pekerjaan mereka, tapi perhatian akan ditujukan untuk mengetahui perjalanan konflik. Dan setiap orang akan mencoba untuk berasumsi dalam membongkar konflik. Hasilnya, gosip akan menguasai etos kerja, dan setiap orang akan terlibat dalam pro-kontra konflik.
Konflik yang berkepanjangan akan menciptakan ketidakmampuan sumber daya manusia untuk berkonsentrasi buat mencapai semua rencana dan tujuan. Akhirnya, etos kerja di internal perusahaan akan terbebani dengan perasaan gelisah dan marah. Termasuk, penurunan kualitas kerja, disiplin dan moral.