KEPEMIMPINAN YANG MENGHARGAI KEMAMPUAN BAWAHAN

“Pemimpin yang berkualitas adalah kekuatan bagi para bawahannya.”~Djajendra

Kepemimpinan yang berkualitas ditentukan oleh bawahan yang kaya kinerja. Bawahan yang andal dan berkualitas merupakan kekuatan pemimpin untuk mencapai misi dan visi kepemimpinan. Oleh karena itu, pemimpin harus cerdas memberdayakan semua potensi dari para bawahan, serta memotivasi mereka agar dapat menghasilkan kinerja dan prestasi terbaik.

Hormati dan hargai kemampuan bawahan, tunjukkan kepada mereka bahwa Anda sebagai pemimpin membutuhkan keahlian dan integritas mereka. Pahami kemampuan dan keahlian bawahan, berikan mereka semangat dan kepercayaan diri untuk bekerja secara efektif dan produktif. Kepercayaan dan energi positif pemimpin untuk para bawahan akan menjadikan mereka lebih produktif dalam menuntaskan tugas dan tanggung jawab.  

Sebagai pemimpin yang berkualitas miliki kekuatan karismatik dalam menetapkan tujuan, arah kerja, kolaborasi, koordinasi, motivasi, inspirasi, daya tahan, kepercayaan diri, dan bimbingan kepada setiap bawahan. Kekuatan karismatik pemimpin merupakan energi yang mampu menarik dukungan dari bawahan untuk bekerja sesuai visi dan misi pemimpin.

Pemimpin yang kuat selalu bekerja dengan sangat terperinci, dan memastikan bahwa setiap bawahan bekerja sesuai visi. Kemudian, memiliki keyakinan yang kuat terhadap bawahan untuk melakukan apa yang ditugaskan dengan sebaik mungkin. Pemimpin tidak boleh melemahkan bawahan, tetapi selalu harus hadir di tengah-tengah mereka untuk memberikan kekuatan dan energi positif. Kekuasaan pemimpin haruslah digunakan untuk melayani dan memberdayakan setiap potensi bawahan, dan mendorong mereka menjadi aset produktif bagi organisasi.

Ketika pemimpin menghargai keahlian dan etos bawahan, maka mereka pun akan mempercayai pemimpin untuk memimpin mereka di sepanjang waktu. Mereka akan membuat sebagian besar kerja keras mereka untuk keberhasilan pemimpin. Mereka akan meningkatkan keahlian, kompetensi, kemampuan, kualitas, dan keandalan kerja mereka bagi keberhasilan pemimpin. Mereka akan menyiapkan dirinya menjadi lebih kredibel dan selalu sadar untuk meningkatkan kualitas kerja di setiap proses kerja.

Jangan biarkan ketidakpastian menciptakan kekhawatiran atau ketakutan di level bawahan. Jadilah pemimpin yang selalu ada untuk para bawahan, dan selalu berkomunikasi dua arah untuk memastikan bawahan berdaya tahan kuat dalam menghadapi ketidakpastian. Dengarkan suara hati para bawahan dengan empati. Pastikan mereka tetap unggul dan hebat di setiap situasi penuh tantangan. Jangan mengekspresikan keraguan dihadapan bawahan. Tunjukkan kepada bawahan bahwa Anda sebagai pemimpin siap menangani resiko dan krisis apapun. Tunjukkan kepada bawahan bahwa Anda adalah pemimpin yang berani, dan memiliki kemampuan untuk menangani setiap situasi yang tidak pasti.

Ketika pemimpin menghargai kemampuan dan keahlian bawahan, bawahan pun akan siap bekerja keras untuk mensukseskan visi pemimpin. Mereka akan mengarahkan upaya terbaik mereka untuk menuju visi pemimpin dengan penuh kinerja. Mereka menjadi sangat berharga dan terlibat secara proaktif di setiap proses kerja. Dalam hal ini, pemimpin harus selalu menemukan cara terbaik untuk memotivasi bawahan agar mereka melakukan tanggung jawab dengan berkualitas.

Pemimpin harus memberikan koordinasi terbaik untuk membangun kekuatan di setiap proses kerja. Setiap bawahan harus diberikan energi positif dan memotivasi mereka untuk menuntaskan pekerjaan. Inspirasi dan komunikasi pemimpin harus terfokus untuk memberdayakan setiap bawahan dalam menghasilkan yang terbaik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KEKUATAN KEPEMIMPINAN ADA PADA STAF-STAF YANG PRODUKTIF

MOTIVASI DJAJENDRA 08062016

“Jangan memberitahu orang-orang bagaimana melakukan sesuatu, memberitahu mereka apa yang harus dilakukan dan membiarkan mereka mengejutkan Anda dengan hasil mereka.”~Jenderal George Patton

Kepemimpinan adalah tentang kecerdasan untuk mengumpulkan semua kompetensi dan potensi dari setiap orang, kemudian memanfaatkan kompetensi dan potensi itu untuk mencapai visi. Karena bertugas untuk mengumpulkan kompetensi dan potensi setiap orang, maka pemimpin wajib memiliki kemampuan untuk menangani orang lain dengan hati dan pikiran positif. Pemimpin yang profesional biasanya cerdas dalam membangun hubungan yang produktif dengan setiap orang.

Setiap staf adalah kekuatan kepemimpinan. Oleh karena itu, pemimpin bertanggung jawab untuk menjaga hubungan baik dengan staf-stafnya. Memahami setiap staf dengan empati dan menghormati keberadaan mereka. Tidak mempermalukan para staf di depan umum. Selalu memiliki perilaku kepemimpinan yang membangkitkan semangat staf untuk berkinerja lebih baik.

Kepemimpinan yang profesional selalu membangun kepercayaan dan soliditas bersama.Saling percaya dan kekompakkan adalah kunci keberhasilan. Komitmen dijaga dan dijalankan bersama. Kata-kata positif dan optimis menjadi pencipta perilaku kerja yang produktif. Kepercayaan yang diberikan pemimpin dijaga oleh para staf. Sebaliknya, kepercayaan yang diberikan oleh para staf kepada pemimpin, dijaga dan dirawat oleh pemimpin dengan profesional.

Walau pemimpin memiliki kekuasaan dan otoritas atas para staf, tetapi pemimpin harus menjadi jembatan bagi setiap staf. Dalam hal ini, pemimpin harus menjadi ahli komunikasi yang penuh empati. Mampu menjaga hubungan komunikasi dalam banyak arah dan menghormati keragaman pikiran. Mampu mendengarkan setiap staf dan memotivasi mereka untuk melakukan yang terbaik. Selalu ada dan hadir saat staf membutuhkan arahan pemimpin. Mampu menyampaikan pesan dengan cara yang paling sederhana.

Pemimpin yang profesional adalah yang mampu mendidik para staf untuk berhenti membawa masalah, tetapi fokus dan kreatif untuk menemukan solusi. Staf yang berkualitas dan profesional adalah yang memiliki keyakinan atas kompetensinya, serta selalu mampu membantu diri sendiri untuk mendapatkan jalan keluar atas masalah yang dihadapi. Dalam hal ini, pemimpin harus peduli dan mau mendampingi setiap staf untuk menemukan solusi terbaik bagi pencapaian kinerja.

Para staf wajib menjaga reputasi dan kredibilitas kepemimpinan dengan cara melayani pekerjaan secara profesional. Oleh karena itu, tidak boleh ada staf yang mensabotase, dan harus selalu menjaga agar kepemimpinan berjalan lancar dan produktif. Ingat! kepemimpinan menciptakan visi dan rencana, dan semuanya didelegasikan kepada para staf untuk dieksekusi melalui fungsi dan perannya masing-masing. Jadi, jangan pernah menunda untuk memenuhi target sesuai waktu yang ditentukan. Fokuskan semua energi dan waktu untuk melayani pekerjaan dengan hati dan totalitas.

Pemimpin selalu mengarahkan setiap staf dari belakang. Memimpin dan memotivasi para staf untuk tampil prima dengan fungsinya masing-masing. Pemimpin selalu menjaga para staf dari belakang dan memastikan para staf tampil cemerlang di front liner, serta melayani pelanggan dengan lincah dan penuh gairah.

Pemimpin bertugas untuk memimpin seluruh individu dan seluruh tim. Pemimpin bertugas membukakan jalan bagi para staf dalam mencapai target dan kinerja terbaik. Pemimpin bertugas berbagi visi dan mendorong setiap staf aktif menjalankan misi dan nilai-nilai budaya kerja. Pemimpin bertugas memotivasi setiap staf agar menyelesaikan rutinitas pekerjaan dengan produktif. Pemimpin bertugas memberitahu para staf tentang apa-apa yang harus mereka lakukan dengan kompetensi dan potensi mereka.

Pemimpin yang baik selalu berdiri paling depan saat para staf terjebak dalam zona nyaman. Dia akan segera memotivasi dan membangkitkan kesadaran para staf untuk segera keluar dan meninggalkan zona nyaman. Sebab, zona nyaman adalah zona yang mematikan kreativitas dan menjadikan setiap orang mundur dari masa depan. Pemimpin yang profesional tahu bahwa zona nyaman adalah tantangan yang paling berat. Jadi, hanya melalui kesadaran dan disiplin tinggi, para staf dapat meninggalkan zona nyaman menuju zona kreativitas kerja.

Bagi pemimpin terbaik, setiap staf adalah bakat yang paling berharga. Jadi, sekecil apapun pekerjaan dan kontribusi seorang, adalah sesuatu yang sangat berharga untuk menyempurnakan hasil akhir. Setiap staf menjadi orang penting dan dihormati oleh pemimpin. Setiap staf mendapatkan kasih sayang dan kepedulian dari pemimpin. Setiap staf terhubung dan tanpa jarak dari pemimpin. Setiap staf mendapatkan motivasi dan perhatian yang khusus dari pemimpin. Pemimpin terbaik selalu menyadari bahwa hubungan dekat dengan para staf adalah kunci untuk pencapaian tertinggi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENINGKATKAN KERJASAMA ANTAR DIVISI DI TEMPAT KERJA

“Ketika hati para pemimpin divisi dikuasai energi kegelapan, maka tidak ada terang yang bisa mengharmoniskan hubungan kerja. Nyalakan cahaya agar terang menemani kerja sama antar divisi untuk kinerja terbaik.”~Djajendra

Semua divisi dalam struktur organisasi bertanggung jawab untuk bergerak ke satu arah, yaitu ke arah visi yang sama. Walaupun fungsi dari masing-masing divisi berbeda, mereka tidak diciptakan untuk menjadi berbeda. Semua divisi diciptakan untuk bersatupadu melalui kolaborasi agar dapat menghasilkan kinerja terbaik. Intinya, tidak boleh ada penghalang untuk kolaborasi di tempat kerja. Setiap devisi harus memiliki kesadaran untuk beradaptasi dengan cara kerja masing-masing fungsi yang berbeda. Perbedaan masing-masing divisi sesungguhnya untuk memperkuat keamanan dan memperkecil resiko organisasi, bukan untuk menonjolkan ego sektoral atau ego fungsinya.  

Sebuah kenyataan bahwa semua divisi dibentuk untuk menjadi kekuatan eksekusi dalam mencapai kinerja terbaik. Ini adalah kenyataan yang harus bekerja di dalam organisasi, bukan setiap divisi saling menonjolkan ego dan melemahkan proses pencapaian kinerja. Produktivitas dan kinerja adalah dua hal yang harus dimiliki dan diperjuangkan secara bersama-sama oleh setiap divisi. Kesadaran para pemimpin divisi untuk bersatupadu di dalam kolaborasi yang solid dan kompak, adalah sebuah tanggung jawab yang harus dijalankan dengan integritas.

Manajemen difokuskan untuk menyatukan semua kekuatan divisi dalam mencapai produktivitas kerja yang tinggi. Saling mendukung, saling tolong menolong, proaktif, dan saling membantu menyelesaikan semua prioritas kerja, haruslah menjadi etos dari semua divisi. Kurangnya kerja sama dan empati antara divisi berdampak negatif terhadap pencapaian kinerja. Semua pimpinan divisi harus meninggalkan ego masing-masing, serta mampu mengalir di dalam kolaborasi dan koordinasi yang produktif bagi pencapaian terbaik.

Koordinasi dan kolaborasi adalah kekuatan yang tidak boleh diabaikan. Bila diabaikan, maka perusahaan berpotensi kehilangan produktivitas kerja. Akibatnya, proses kerja menjadi tidak efektif dan produktif; masalah akan menumpuk tanpa mendapatkan solusi yang tepat. Di samping itu, moralitas dan disiplin kerja akan turun, dan semua orang bekerja seadanya tanpa memiliki fokus dan gairah untuk mencapai target.

Mengembangkan sikap positif dan menciptakan budaya kerja yang fokus pada pencapaian terbaik. Untuk itu, setiap divisi harus dibukakan hati dan pikirannya agar mereka sadar tentang keberadaan mereka di tempat kerja. Semangat untuk selalu bekerja sama, melayani, berkontribusi, dan menyumbangkan ide-ide atau solusi yang tepat, haruslah menjadi perilaku kerja sehari-hari. Kebersamaan di dalam perbedaan fungsi kerja harus dijaga demi menciptakan budaya kerja yang unggul. Kesadaran untuk mengembangkan sikap rendah hati dan ikhlas melayani yang lain menjadi sesuatu yang penting.

Salah satu penyebab perusahaan menjadi tidak sehat karena rasa tinggi hati dari masing-masing pimpinan divisi terhadap pemimpin divisi yang lain. Saling berkompetisi untuk mendapatkan tempat istimewa di hati dewan direksi menjadikan kerja divisi kurang berkolaborasi. Bila hal ini terus-menerus berlangsung, maka perusahaan berpotensi menderita kerugian dan kehilangan peluang untuk mencapai kinerja terbaik. Oleh karena itu, peran direksi untuk mengkoordinasi semua divisi secara adil dan profesional, serta memotivasi semua pimpinan divisi untuk selalu bekerjasama dan berkolaborasi dengan baik, akan meningkatkan kinerja divisi.

Para pimpinan divisi harus saling percaya satu sama lain, dan menyatukan staf-stafnya di dalam hubungan kerja yang saling melengkapi. Semua pimpinan divisi harus bersama-sama bergerak secara efektif dan produktif untuk mencapai tujuan perusahaan. Hindari konflik sejauh mungkin, sebab konflik dari pimpinan divisi bisa mempengaruhi dan menarik karyawan dan manajemen ke dalam konflik. Dan harus diingat bahwa konflik hanya memperbesar masalah dan menyulitkan penyelesaian pekerjaan. Dampaknya, produktivitas akan turun dan etos kerja menghilang.

Hubungan kerja yang produktif tidak pernah dibangun dari hubungan antagonis; hubungan yang penuh cinta dan peduli di dalam perusahaan akan meningkatkan produktivitas.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PEMIMPIN DAN BUDAYA KERJA KERAS

MOTIVASI 29042016

“Pemimpin adalah teladan untuk budaya kerja keras. Bila pemimpinnya banyak alasan, tidak berani mengambil resiko, dan malas bekerja keras; maka, dia adalah pemimpin yang sedang melemahkan budaya kerja keras.”~Djajendra

Dalam budaya kerja keras, kualitas pemimpin menentukan apakah budaya kerja keras itu tumbuh atau tidak berkembang. Bila pemimpin sadar bahwa seorang pemimpin ditakdirkan untuk bekerja lebih keras seumur hidup; lebih mencurahkan perhatian dan perilaku produktif; lebih berani menerobos resiko dan memenangkan situasi; lebih siap untuk menderita; dan lebih siap untuk menaklukkan setiap rintangan dan hambatan dengan integritas yang tinggi. Maka, pemimpin tersebut menjadi energi untuk menumbuhkan budaya kerja keras.

Ketika pemimpin bekerja keras, dia akan melakukannya bersamaan dengan pemberdayaan individu dalam kerja keras. Energi dan semangat kerja keras pemimpin ditularkan kepada setiap individu yang bekerja dibawah koordinasinya. Sebagai pemimpin, dia menghormati kehebatan individu, sehingga setiap karyawan dimotivasi dan dikuatkan kompetensinya agar siap berkontribusi dalam kerja keras.

Budaya kerja keras adalah budaya yang berkoordinasi, berkomunikasi, dan berkolaborasi secara profesional. Ide dan pendapat harus mengalir dan terkoordinasi secara baik, hal ini diperlukan untuk membuat keputusan yang tepat. Setiap karyawan dan pemimpin adalah satu kekuatan yang tak terpisahkan. Setiap orang di dalam struktur organisasi adalah satu tubuh dengan satu visi yang jelas, untuk mengeksekusi rencana dan target. Dengan kata lain, semua orang di dalam organisasi bersikap dan bertindak di dalam koordinasi yang dipimpin dengan semangat gotong royong dalam menghasilkan yang terbaik.

Setiap individu di tempat kerja adalah kekuatan yang bisa mengungguli apapun yang ditargetkan. Prinsip-prinsip budaya kerja keras harus ditanamkan ke dalam mind set, dan dimotivasi agar menjadi perilaku kerja yang andal. Karyawan dan pemimpin harus bersama-sama dalam satu persepsi, keyakinan, visi, misi, nilai-nilai, dan budaya kerja keras. Tidak boleh ada yang melemahkan budaya kerja keras, semua orang harus berkomitmen dalam menjaga budaya kerja keras yang efektif dan produktif.

Dalam budaya kerja keras dibutuhkan kontribusi intelektual dan perilaku produktif dari individu. Selanjutnya, dari keunggulan individu dibangun sebuah budaya kerja keras yang kolektif; budaya kerja keras yang kolektif harus terlihat dalam kolaborasi kerja. Pendekatan individu sangat penting agar setiap orang merasakan sentuhan pemimpin dan merasa diperhatikan oleh manajemen. Jadi, walau di tempat kerja harus digunakan pendekatan kolektif atau team work, tetapi pendekatan individu akan menguatkan budaya kerja keras. Artinya, kombinasi yang baik dari pendekatan individu dan pendekatan kolektif dapat meningkatkan kinerja setiap orang.

Etos kerja yang tak kenal lelah; etos kerja yang tak pernah menyerah; etos kerja yang ikhlas berkorban untuk mendorong kinerja; etos kerja yang kaya integritas; etos kerja yang penuh disiplin dan semangat; etos kerja yang mengejar prestasi dan kinerja; etos kerja yang kreatif dan inovatif; etos kerja yang berjuang untuk menjaga prestasi terbaik; etos kerja yang rendah hati dan terus-menerus meningkatkan kompetensi; etos kerja yang memperbaiki kelemahan dan meningkatkan kekuatan, adalah bagian dari budaya kerja keras. Intinya, budaya kerja keras harus dilengkapi etos kerja yang membuat budaya kerja keras tersebut unggul dan bersaing di pasar dunia yang bebas.

Dalam budaya kerja keras, setiap karyawan harus unggul dengan kompetensi inti. Ini adalah dasar untuk menghasilkan kualitas kerja terbaik. Setelah kompetensi inti sudah berkualitas tinggi, selanjutnya setiap individu secara berkelanjutan dimotivasi untuk pengembangan kualitas soft skill diberbagai aspek dan dimensi individu. Nantinya, soft skill inilah yang menjadi inti dari budaya kerja keras tersebut.

Soft skill sangat menentukan budaya kerja keras. Sebab, budaya kerja keras tidak akan ada bila soft skill karyawan dan pimpinan lemah atau kurang. Jadi, untuk menciptakan budaya kerja keras dalam harmoni, loyalitas, integritas, dan akuntabilitas. Maka, perusahaan harus menyiapkan anggaran untuk penguatan soft skill karyawan secara berkelanjutan dan terus-menerus di sepanjang zaman. Siapapun yang meremehkan tentang pentingnya soft skill diberbagai dimensi individu akan kecewa dengan kinerja individunya.

Pemimpin harus mengkoordinasikan budaya kerja keras. Pemimpin harus menjadi teladan yang menghormati setiap potensi individu, untuk dimaksimalkan menjadi energi kolektif organisasi. Pemimpin harus menetapkan kebijakan yang menginternalisasikan nilai-nilai untuk mendukung budaya kerja keras. Pemimpin tidak boleh hanya menuntut, berharap, dan menunggu karyawan untuk bekerja keras. Tetapi, membangun budaya kerja keras dan menciptakan gaya manajemen yang berorientasi pada budaya kerja keras.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

CARA MANAJER MENGELOLA KINERJA DI SEMUA BIDANG PEKERJAANNYA

DJAJENDRA MOTIVATION“Bisnis yang baik adalah yang dicari dan dihargai oleh pelanggan. Manajer yang andal adalah energi positif untuk bisnis yang baik.”~Djajendra

Manajer adalah orang yang bertanggung jawab pada manajemen orang, proyek, anggaran, sistem, budaya, konflik, prosedur, administrasi, bisnis, etika, dan kepemimpinan. Begitu banyak tugas dan tanggung jawab seorang manajer. Diperlukan energi, kesehatan, waktu, kompetensi, dan kecerdasan untuk mengelola semua tugas dan tanggung jawab tersebut supaya dapat menghasilkan kinerja terbaik.

Peran manajer sangat luas dan juga harus bisa fokus pada rincian operasional. Tantangan terberat manajer adalah tidak boleh terjebak di sebuah titik pekerjaan, dia harus taktis dan memiliki strategi yang tepat dalam mengelola semua bidang pekerjaannya dengan kinerja penuh.

Manajer harus mampu mengelola waktu dan energinya secara tepat dan benar. Mampu memberikan perhatian penuh pada hal-hal prioritas. Mampu menjalankan fungsi-fungsi pekerjaan secara kreatif dan cerdas.

Manajer harus cerdas memahami bisnis perusahaan sehingga semua fungsi, peran dan tanggung jawabnya mampu memberikan kontribusi yang besar untuk kesuksesan bisnis. Dalam hal ini, manajer haruslah menjadi seorang intrapreneurship sejati. Artinya, dia harus mampu memiliki mindset layaknya seorang wirausaha. Dia harus merasa bisnis perusahaan seperti miliknya sendiri, mampu bertanggung jawab penuh bersama kreativitas dan inovasi yang berkelanjutan.

Pengetahuan dan wawasan yang lebih mendalam tentang bisnis perusahaan, akan memudahkan manajer untuk membuat keputusan dengan intuisi dan logika. Keputusan logika selalu berdasarkan realitas dan perhitungan yang matang, sedangkan keputusan intuitif selalu berdasarkan gerak hati oleh pengalaman. Biasanya, keputusan intuitif ada unsur spekulasinya, sebab tidak dengan perhitungan yang pasti, lebih oleh perasaan dan keyakinan atas dorongan kepercayaan diri yang tinggi. Intuisi hanya boleh digunakan ketika manajer sudah sangat berpengalaman dan menguasai seluk-beluk bisnis secara utuh.

Bisnis yang baik adalah yang dicari dan dihargai oleh pelanggan. Manajer yang andal adalah energi positif untuk bisnis yang baik. Dalam hal ini, manajer harus memiliki nilai-nilai bisnis yang dihormati dan dihargai oleh pelanggan. Manajer harus mampu menghasilkan dan memasarkan jasa atau produk sesuai harapan pelanggan. Intinya, jasa dan produk perusahaan harus tampil untuk mempesona dan menjadi sesuatu yang dihargai di sepanjang jaman.

Memahami dan mengerti karyawan, kolega dan atasan. Dalam perusahaan, soliditas dan kolaborasi merupakan inti kekuatan. Seorang manajer hanya menjalankan salah satu fungsi organisasi, tetapi dia sangat tergantung dan memerlukan dukungan dari manajer-manajer lainnya. Oleh karena itu, diperlukan sikap rendah hati untuk mengenal manajer-manajer lain secara individu. Memahami kekuatan dan kelemahan dari masing-masing manajer. Memahami cara berkomunikasi dan bekerja sama dengan masing-masing manajer. Mampu mengenal kualitas, kompetensi dan keandalan dari masing-masing karyawan pendukung. Mampu memotivasi dan mengarahkan karyawan untuk menjadi lebih produktif dan berkinerja.  

Seorang manajer harus tumbuh dan berkembang dari akuntabilitas. Semangat bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan hasil sesuai misi dan tujuan. Manajer yang andal berorientasi pada kinerja terbaik, dan mampu melakukan hal-hal yang tepat dan benar di setiap situasi.

Selalu sadar dan terjaga di setiap keadaan. Mampu dengan cerdas memperhitungkan risiko dan menjadi lebih produktif dalam tindakan. Memahami visi besar perusahaan dan gambaran besar dari tujuan yang sedang dikerjakan. Menjadi seorang kolaborator yang kreatif dalam dinamika organisasi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

EKSEKUSI ADALAH PROSES MEWUJUDKAN

HASIL AKHIR“Eksekusi itu seperti permainan, bermainlah untuk menang.” ~Djajendra

Ada waktunya kita harus fokus pada pikiran untuk menghasilkan ide, konsep dan strategi yang hebat. Tetapi, ada saatnya seluruh energi, waktu, sumber daya, perhatian dan fokus harus dicurahkan untuk eksekusi. Untuk mewujudkan rencana dan strategi hanya bisa di wilayah eksekusi. Wilayah eksekusi adalah wilayah proses mewujudkan, bukan wilayah hasil.

Tidak semua orang memiliki bakat dan energi untuk bertarung di wilayah eksekusi. Dalam realitas, sangat banyak orang pintar yang berani membuat rencana dan strategi, tetapi tidak berdaya saat di wilayah eksekusi. Juga, sangat banyak orang pintar yang berani dan tegas mengambil keputusan, tetapi tak mampu berbuat apa-apa di wilayah eksekusi.

Wilayah eksekusi adalah wilayah dunia nyata, bukan wilayah dunia pikiran ataupun perasaan. Di sini, kita harus memiliki intuisi yang tajam terhadap realitas yang ada, dan juga harus cerdas sosial dalam memahami sikap dan perilaku dari orang-orang yang terlibat di dalam proses mewujudkan tersebut.

Salah satu penyebab kegagalan eksekusi adalah budaya organisasi yang suka berputar-putar walau prioritas sudah mendesak. Dari pengalaman, kami melihat sebuah keputusan yang sudah diambil masih suka diputar sampai berbulan-bulan, dan hal ini berdampak pada terlambatnya eksekusi. Komunikasi yang buruk, kepercayaan yang rendah, takut mengambil risiko, takut bertanggung jawab, adalah sebagian dari penyakit kronis yang menghambat sebuah eksekusi.  

Eksekusi yang baik dihasilkan dari pimpinan, karyawan dan anggota tim yang merasa bertanggung jawab kepada satu sama lain. Mereka bergerak bersama hati dan pikiran positif untuk berkinerja tinggi. Mereka bergerak menyiapkan kualitas, kompetensi dan karakter kerja untuk bisa menjadi profesional yang penting bagi siapapun. Mereka menjadikan eksekusi sebagai permainan yang dimainkan untuk menang. Mereka menciptakan energi, semangat untuk menang, dan selalu berkolaborasi dengan sangat fleksible agar tidak ada yang macet oleh hirarki ataupun struktur.

Eksekusi adalah proses mewujudkan. Untuk itu, diperlukan fokus, perhatian penuh, keterlibatan, kolaborasi, komunikasi, akuntabilitas, energi positif yang besar, kemampuan untuk berbagi informasi dan pengetahuan. Di samping itu, karyawan dan pimpinan harus berada dalam soliditas bersama; dalam satu visi, satu jiwa, dan satu budaya. Dan, ini semua adalah kekuatan penting untuk eksekusi yang berkinerja tinggi.

Kekuatan eksekusi ada pada perilaku dan sikap yang mudah beradaptasi dengan realitas. Dunia ilusi(strategi/rencana) akan bertemu dengan dunia realitas ( eksekusi). Begitu terjun ke dalam wilayah eksekusi: pikiran akan diisi oleh data, fakta, dan informasi dari dunia realitas. Bagi yang senang tantangan pasti akan menikmatinya, bagi yang takut tantangan pasti mengalami stres. Eksekusi bisnis yang hebat membutuhkan cara-cara luar biasa dari orang-orang biasa.

Perusahaan yang kuat selalu berusaha untuk lebih memperkuat profitabilitas, juga terus memperkuat fondasi keuangan secara keseluruhan. Perusahaan yang kuat selalu memiliki kecepatan eksekusi mulai dari yang memiliki hak keputusan untuk eksekusi; kecepatan dari orang yang berhak memberi dan menyebarluaskan informasi yang tepat dan benar; kecepatan dari orang-orang yang berperan sebagai motivator di dalam eksekusi; dan kecepatan dari struktural organisasi, sehingga walaupun semua orang sudah dibatasi dalam kotak-kotak struktur organisasi, mereka bisa bersatupadu melalui kolaborasi untuk memberikan kecepatan dan pelayanan berkualitas agar eksekusi dapat menghasilkan yang terbaik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

TUGAS MANAJER ADALAH MENERJEMAHKAN VISI PEMIMPIN

DJAJENDRA“Visi membutuhkan logika untuk membuat pekerja berpikir secara benar, dan membutuhkan emosi positif untuk mendorong mereka bertindak menciptakan kinerja.”~Djajendra

Visi ditetapkan oleh pemimpin dan manajer yang menerjemahkan visi kepada pekerjanya. Manajer harus menemukan strategi yang tepat agar pekerja dapat bekerja secara optimal. Manajer harus menjaga motivasi pekerja dan mengkomunikasikan visi perusahaan secara jelas dan benar. Manajer tidak boleh menetapkan visi, sebab visi adalah urusan pemimpin. Tugas manajer hanyalah menerjemahkan visi dan mengarahkan pekerja supaya dapat bekerja sesuai visi, nilai-nilai, tujuan dan misi perusahaan.

Pemimpin fokus pada hal-hal besar dan umum, manajer fokus pada hal-hal kecil dan detail. Manajer harus cerdas mengkomunikasikan visi dilevel pekerja, dan memotivasi pekerja agar menjadi lebih produktif bersama visi yang dikerjakan. Nilai-nilai di dalam visi harus dirinci dan dijadikan etos kerja. Intinya, jangan pernah mengabaikan nilai-nilai dan energi yang terdapat di dalam visi. Manajer harus betul-betul memahami dengan hati tentang energi dan nilai yang terdapat di dalam visi.

Walau visi perusahaan itu satu, setiap fungsi dan peran di dalam perusahaan memiliki kebutuhan yang berbeda. Manajer yang andal biasanya mampu mengkomunikasikan visi perusahaan sesuai kebutuhan dan perbedaan yang ada. Tugas pemimpin menerjemahkan visi dalam satu bahasa yang sama, tetapi manajer bertanggung jawab untuk menerjemahkan visi yang sama itu ke dalam pesan yang berbeda sesuai kebutuhan dari fungsi dan peran yang dikelola. Dan juga, visi harus dikomunikasikan dengan penalaran logis yang tepat agar dapat melayani realitas dengan sebaik-baiknya.

Setiap mengkomunikasikan visi perusahaan; maka, para manajer harus mampu memetakan sudut pandang, kepentingan, kebutuhan, tindakan seperti apa dan manfaatnya, termasuk mampu mendengarkan realitas di lapangan dengan sepenuh hati. Realitas bisa memicu perubahan sikap dari waktu ke waktu. Bisnis itu sangat dinamis, perilaku orang-orang di dalam bisnis itu sangat dinamis sehingga apapun bisa terjadi. Oleh karena itu, menjadi pendengar yang baik akan memberikan lebih banyak informasi kepada manajer. Dengarkan kebutuhan pekerja, dengarkan kebutuhan pelanggan, dengarkan kebutuhan setiap pemangku kepentingan dengan keterbukaan sikap. Dan, cerdaskan logika agar mampu mengkomunikasikan visi untuk setiap kebutuhan tindakan individu dan tim.

Sudut pandang yang tepat dan selaras dengan visi akan mengubah visi ke dalam tindakan yang produktif. Setiap tindakan tidak harus langsung mengarah ke tujuan akhir, tetapi memiliki tolak ukur dan tenggat waktu yang tepat. Langkah-langkah tindakan harus fisik, waktunya jelas, dan terukur untuk pencapaian kinerja. Manajer harus mampu bekerja di tingkat individu, dan menghubungkan satu individu dengan individu yang lain di titik produktif. Visi harus digambarkan sesuai kebutuhan dari fungsi dan peran. Fokus individu harus melibatkan emosi positif dan bergerak untuk bertindak sesuai rencana. Manajer harus memotivasi individu agar mencerdaskan logika untuk membuat mereka berpikir secara cerdas, serta mendorong emosi positif untuk bertindak secara produktif dan berkinerja.

Setiap individu dengan kompetensi yang andal adalah kekuatan yang mampu mengkontribusikan nilai tambah. Manajer yang andal mampu membantu individu untuk merasa bangga dan bahagia dengan pekerjaannya. Manajer yang andal mampu menerjemahkan visi pemimpin kepada setiap individu dan tim. Dan, mampu membuat mereka menjadi lebih profesional di dalam setiap tindakan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com