Archive for the ‘artikel etika bisnis’ Category
“Perkembangan Teknologi Di Kantor Mengharuskan Karyawan Untuk Menghilangkan Kepentingan Pribadi Di Kantor, Dan Meningkatkan Pelayanan Berkualitas Kepada Perusahaan Dan Stakeholders.” – Djajendra
Sekarang ini semakin banyak perusahaan yang memiliki kebijakan untuk memantau aktivitas kerja karyawan mereka secara elektronik. Kemajuan teknologi membuat setiap orang dapat dipantau dari jarak jauh. Dengan sistem kerja yang terintegrasi semua orang yang berwenang di kantor dapat memonitor tentang apa yang dilakukan oleh bawahannya. Voice mail, email, internet dari setiap karyawan di kantor masuk ke dalam sistem yang dapat dipantau oleh atasan. Artinya, para atasan memiliki hak untuk membaca email karyawannya, mendengarkan voice mail karyawannya, dan mencek pemakaian atau pemanfaatan internet karyawannya di kantor.
Sisi positif dari pemantauan aktif terhadap karyawan oleh sistem di perusahaan adalah menciptakan disiplin terhadap etos kerja, sedangkan sisi negatifnya adalah para karyawan merasa tidak bebas dan takut dinilai buruk. Akibatnya, tingkat stres dapat meningkat tajam di lingkungan tempat kerja.
Pemantauan aktif terhadap karyawan umumnya dilakukan untuk tujuan menjalankan konsep good governance dengan benar. Di sini, pemantauan terfokus kepada pelaksanaan etika bisnis dan etika kerja.Sebab, kedua hal tersebut dianggap memiliki tingkat risiko penyimpangan yang cukup tinggi, sehingga harus dibuat sebuah sistem kerja yang terintegrasi dalam konsep pengawasan yang terbuka.
Melalui sistem pemantauan ini diharapkan karyawan menjadi lebih patuh pada etika bisnis; karyawan lebih patuh pada kewajiban kerja; kinerja karyawan dapat dipantau secara terbuka dan adil; produktivitas karyawan dapat diukur secara adil dan terbuka; dan dapat menjaga keamanan informasi perusahaan dari penyalahgunaan.
Kebijakan perusahaan untuk memantau karyawan harus dilakukan secara transparan dan bertanggung jawab. Hak-hak pribadi karyawan harus dijaga dan dihormati. Karyawan juga harus tahu bahwa mereka sedang dimonitor secara elektronik. Karyawan juga harus tahu hal apa dari perilaku mereka yang sedang dipantau dan untuk apa. Karyawan juga harus tahu apa yang dapat diterima dari perilaku mereka dan apa yang tidak dapat diterima oleh pimpinan dari perilaku mereka.
Pimpinan wajib memberikan pencerahan dan motivasi kepada setiap karyawan tentang manfaat positif dari kebijakan perusahaan untuk memantau perilaku kerja karyawan.
Untuk seminar/training hubungi www.djajendra-motivator.com

“Perilaku Anda Ditentukan Oleh Nilai-Nilai Keyakinan Yang Anda Percaya Dengan Keadaan Dan Tuntutan Kehidupan Anda Ditengah-Tengah Masyarakat.” – Djajendra
Dalam setiap hubungan setiap orang selalu menuntut komitmen terhadap hubungan tersebut. Komitmen adalah kata kunci positif untuk membangun hubungan pribadi, hubungan bisnis, hubungan kerja, dan hubungan-hubungan lainnya yang melibatkan dua orang atau lebih. Komitmen yang diberikan akan selalu diawasi dan dikawal secara etika dan moral, agar komitmen tersebut tidak lari dari kontrol yang mengontrol.
Selalu orang-orang dengan sangat mudah menuntut komitmen dari orang lain, apalagi dalam upaya membangun hubungan pribadi diantara dua orang untuk satu kepentingan bersama, dan semua ini dilakukan hanya melalui kata-kata, tanpa memahami kemampuan orang yang dituntut untuk jujur memberikan komitmen yang diharapkan.
Suatu ketika saya mendengar curhat seorang teman, yang menggerutu karena teman bisnisnya mengabaikan komitmen yang dibuat. Menurut dia namanya komitmen pastilah tidak mungkin tertulis hitam di atas putih, kalau sudah tertulis namanya perjanjian bisnis. Sekarang dia sangat menyesal karena semua komitmen awal tersebut tidak di notariskan, dan dia merasa sangat dirugikan oleh temannya tersebut.
Setelah mendengar gerutu teman ini, saya teringat dengan salah satu nasehat bisnis dari Warren Buffett, “Anda tidak dapat membuat kesepakatan yang baik dengan orang yang buruk.”
Komitmen itu sesungguhnya mirip-mirip etika. Walaupun secara etika salah, tapi bila tidak ditulis dan dibuatkan sanksi atas pelanggaran etika, maka etika juga akan menjadi sekedar kata-kata moral, yang terserah kejujuran orang-orang yang terlibat dalam hubungan tersebut. Demikian juga dengan komitmen, bila komitmen tersebut tidak dirinci dalam sebuah perjanjian tertulis dengan saksi notaris, maka komitmen itu hanya akan menjadi sebuah kata-kata moral yang terserah kejujuran orang-orang yang terlibat.
“Semakin tidak hati-hati orang lain dalam melaksanakan urusan mereka, semakin kita harus lebih berhati-hati dalam melaksanakan urusan kita.” Kata Warren Buffett
Setiap orang adalah berbeda, dan tidak boleh Anda merasa bahwa setiap orang itu sama jujurnya dengan Anda. Perilaku setiap orang ditentukan oleh nilai-nilai keyakinan yang dia percaya dengan keadaan dan tuntutan kehidupan dirinya ditengah-tengah masyarakat. Artinya, manusia itu sangat labil dalam hal komitmen, dan sangat tergantung kepada banyak faktor tuntutan hidup yang harus mereka hadapi. Oleh karena itu, lebih etis bila semua komitmen yang serius itu di buat hitam di atas putih, biar sama-sama enak.

“Saat Anda Tidak Memahami Kultur Stakeholders, Maka Komunikasi Anda Dengan Stakeholders Akan Saling Menghancurkan. “ – Djajendra
Beberapa waktu yang lalu saat saya sedang memberikan pelatihan di sebuah perusahaan batu bara di daerah Kalimantan. Saya mendapat pertanyaan dari seorang peserta tentang cara membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat di sekitar lokasi pertambangan. Sebab, dia merasa sangat sulit memahami mind set masyarakat di sekitar areal tambang. Saat itu saya mengatakan bahwa hal yang paling benar untuk membangun hubungan baik dengan masyarakat di sekitar tambang (stakeholders) adalah dengan cara memahami kultur, emosional, dan perilaku sehari-hari. Setelahnya, melakukan komunikasi dengan cara-cara persuasif yang penuh empati.
Hubungan interpersonal yang positif dengan para stakeholders akan terwujud saat niat dan sikap baik mampu untuk tidak saling merugikan, serta menjaga kehormatan dan kenyamanan masing-masing pihak. Termasuk, menjaga dan merawat keberhasilan, kepuasan, dan kebahagiaan setiap orang dalam hubungan yang harmonis.
Keberhasilan hubungan interpersonal akan terjadi saat Anda mampu memperlakukan orang lain dengan cara yang Anda ingin diperlakukan. Artinya, dalam setiap hubungan cobalah miliki empati dengan cara menempatkan diri Anda di tempat orang lain dan melihat diri Anda dalam kehidupan orang lain tersebut.
Jangan pernah bersikap diskriminatif dengan stakeholders, tapi miliki ketulusan hati untuk memberikan yang terbaik dari yang Anda miliki. Pahami juga cara untuk mendorong terciptanya hubungan positif yang saling menghargai, memaafkan, mendengarkan, dan memahami satu sama lain dalam sebuah keharmonisan hubungan baik.

“Fakta Integritas Hanya Akan Berfungsi Dengan Baik, Bila Pengawasan Terhadap Fakta Integritas Juga Dilakukan Dengan Integritas Tinggi.” – Djajendra
Setelah diberikan pencerahan dan motivasi tentang cara menjalankan etika bisnis di perusahaan, para karyawan dan pimpinan akan diminta untuk menandatangani Fakta Integritas. Pertanyaannya, kenapa masih perlu menandatangani Fakta Integritas, padahal dalam Panduan Etika Bisnis dan Code of Conduct telah secara jelas mengatur apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, semuanya telah diatur dengan sangat jelas dan sangat sederhana?
Fakta Integritas adalah surat pernyataan dari masing – masing individu karyawan dan pimpinan perusahaan, untuk memiliki kesadaran etika dan moral yang sesuai dengan Panduan Etika Bisnis dan Code of Conduct perusahaan terhadap semua kepentingan stakeholders.
Biasanya, setelah selesai pelatihan etika bisnis atau good corporate governance, perusahaan akan menyiapkan selembar kertas bermaterai, yang merupakan surat pernyataan peserta pelatihan tentang kepahaman mereka terhadap Panduan Etika Bisnis dan Code of Conduct di perusahaan. Selain telah mengetahui, peserta juga harus berkomitmen untuk patuh dan jujur dalam menjalankan semua ketentuan perusahaan yang telah ada di dalam Panduan Etika Bisnis dan Code of Conduct.
Setiap kali saya memberi pencerahan dan motivasi terhadap pimpinan dan karyawan untuk menjalankan Etika Bisnis dan Code of Conduct dengan sepenuh hati; setiap kali saat saya melihat para pimpinan dan karyawan menandatangani Fakta Integritas sesuai peraturan dan ketentuan di perusahaannya. Harapan saya hanya satu, setelah menandatangani Fakta Integritas, semua peserta semoga mampu mengendalikan diri dengan kecerdasan emosional, untuk menjadi pribadi dengan integritas tinggi buat melayani semua kepentingan stakeholders secara jujur dan profesional.
Integritas sejati hanya dapat lahir dari hati yang tulus, ikhlas, bersih, dan penuh tanggung jawab untuk menjalankan sebuah kepercayaan yang diberikan oleh para stakeholders. Tanpa sikap tulus, ikhlas, bersih, dan tanggung jawab, maka sebuah Fakta Integritas hanya akan menjadi sebuah formalitas dari pelaksanaan tata kelola perusahaan yang bebas KKN. Dan hasil akhirnya, KKN akan tetap akan berjaya dalam kemasan good corporate governance palsu.
Fakta Integritas merupakan alat untuk melakukan pengawasan terhadap perilaku kerja yang harus sesuai dengan Panduan Etika Bisnis dan Code of Conduct perusahaan. Artinya, setelah pimpinan dan karyawan menandatangani Fakta Integritas, maka mereka dianggap telah sangat memahami Etika Bisnis dan Code of Conduct di perusahaan. Dan bila mereka melanggar, maka mereka juga harus siap menerima hukuman yang telah ada di dalam peraturan perusahaan.
Fakta Integritas tidak boleh sekedar menjadi alat pengawasan yang bersifat formalitas untuk memperlihatkan keseriusan perusahaan dalam menjalankan good corporate governance kepada stakeholders. Tetapi, harus menjadi alat pengawasan yang secara konsisten mengawasi semua perilaku dan etos kerja dari karyawan dan pimpinan dengan integritas.

“Nilailah Integritas Karyawan Melalui Ukuran-Ukuran Yang Jelas Dan Terukur. Jangan Pernah Memiliki Inisiatif Liar Di Luar Ukuran-Ukuran Yang Disepakati Manajemen Puncak.” – Djajendra
Di dalam sebuah acara pelatihan untuk sebuah perusahaan migas di hotel Abadi Suite, kota Jambi. Seorang peserta bertanya tentang cara mengukur integritas. Dan, memang betul bahwa mengukur integeritas selalu bersifat suka-suka si penilai. Dari pengalaman saya, memang tidak ada sebuah ukuran yang seragam dan pasti dalam menentukan integritas seseorang terhadap perusahaan dan pekerjaan.
Jadi, saya suka dengan pertanyaan si peserta itu. Pertanyaan yang sederhana tapi memiliki dampak yang sangat besar di dalam pengelolaan kualitas dan mutu sumber daya manusia. Oleh karena itu, menurut saya pertanyaan si peserta itu sangat bagus dan sangat cerdas. Memang betul bahwa integritas tidak boleh dinilai secara asal-asalan atau suka-suka. Integritas adalah identitas kepribadian seseorang. Integritas adalah kualitas, mutu, kompetensi, kemampuan, kehormatan diri, kejujuran, dan kepatuhan seorang pribadi terhadap tugas dan tanggung jawabnya. Artinya, persoalan integritas tidaklah boleh dinilai secara sembarangan atau secara asal-asalan. Lantas bagaimana cara sebuah perusahaan menghitung atau menilai integritas para pegawainya? Pertama, perusahaan harus terlebih dahulu membuat definisi integritas yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Setelah definisi integritas tersebut disepakati melalui keputusan manajemen level tertinggi, maka selanjutnya menentukan hal-hal yang menjadi ukuran di dalam penentuan integritas karyawan. Semua hal-hal yang bersifat kualitatif harus diberi bobot agar bisa dijadikan kuantitatif. Sebab, selama hal-hal tersebut masih di dalam ukuran kualitatif, maka akan sangat sulit untuk melakukan penghitungan yang bersifat jujur dan adil. Oleh karena itu, setiap bobot yang diberikan kepada setiap kalimat yang mendukung penilaian integritas tersebut haruslah disetujui dan disepakati secara bersama oleh setiap kekuatan diperusahaan. Dan selanjutnya, hasil yang disepakati tersebut wajib dilaksanakan dengan komitmen yang tinggi di dalam konsistensi yang sempurna.
Para manajer di perusahaan wajib melakukan penilaian integritas karyawan melalui ukuran-ukuran yang jelas, ukuran-ukuran yang telah disepakati secara bersama di level manajemen puncak. Tidak boleh ada manajer yang memperlihatkan sikap pribadi di dalam penilaian integritas karyawan. Para manajer juga wajib memperlihatkan integritas diri masing-masing secara lebih sempurna di dalam melakukan penilaian integritas si karyawan.
Agar para karyawan memiliki integritas yang tinggi terhadap perusahaan, pekerjaan, dan tanggung jawabnya, maka para manajer wajib secara proaktif menginspirasi, memotivasi, dan mendorong energi sukses para karyawan dengan visi dan strategi kerja yang jelas. Para manajer juga harus mampu berpikir berorientasi jangka pendek dan jangka panjang, melalui pengorganisasian, mengalokasikan, pengendalian, dan pemantauan sumber daya secara efektif dan efisien. Termasuk menjadi teladan yang memberi contoh tentang integritas terbaik kepada para karyawan.
”Saya Tidak Pernah Menjalani Satu Hari Kerja Selama Hidup. Semuanya Hanya Bersenang-Senang.” – Thomas Edison
Mengapa ada orang yang beranggapan bahwa pekerjaan adalah beban, bukan sebagai permainan yang menyenangkan? Padahal untuk meraih sukses dan sekaligus merasa bahagia, wajib menyukai pekerjaan dengan sepenuh hati!
Thomas edison yang luar biasa itu berkata bahwa dia tidak pernah menjalani satu hari kerja selama hidup, dia hanya bersenang-senang dengan pekerjaannya. Artinya, untuk sukses seperti Thomas edison, Anda harus menikmati setiap proses kerja dengan perasaan senang dan bahagia.
Pekerjaan adalah aktivitas nilai tambah yang terus tumbuh dan berkembang sesuai kreatifitas. Pekerjaan juga membangun fondasi untuk menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran dalam hidup. Pekerjaan yang berkualitas muncul dari kecerdasan intelektualitas, kecerdasan etika, kecerdasan emosional, kecerdasan motivasi, dan kecerdasan spiritual.
Bekerja dengan berkualitas berarti tidak sekedar sibuk bekerja dalam rutinitas tanpa visi yang jelas, tapi diperlukan rencana, etika, dan sikap yang berintegritas kepada visi yang jelas. Tanpa visi yang jelas, Anda pasti akan sulit memahami setiap proses kerja dengan baik, akibatnya Anda tidak mungkin bisa mengerjakan tugas dan tanggung jawab dengan fokus yang terarah pada hasil terbaik.
Ketika Anda kehilangan kesadaran untuk bekerja sesuai etika, maka Anda akan kehilangan kekuatan untuk mengetahui nilai apa yang sedang Anda kerjakan. Oleh karena itu, pahami visi, misi, dan nilai yang ada pada pekerjaan Anda. Lalu, komunikasikan visi, misi, dan nilai pekerjaan Anda kepada diri sejati Anda, dan jadikan pekerjaan Anda sebagai permainan yang menghasilkan perasaan senang dan bahagia. Kehidupan yang baik memerlukan pekerjaan yang menyenangkan, dan yang menghasilkan nilai tambah terbaik.
“Mengcopy Ide Lama Dengan Kreativitas Akan Menghasilkan Ide Baru Yang Lebih Unik.” – Djajendra
Salah satu jalan termudah untuk membangun bisnis sendiri adalah dengan mengcopy ide dari bisnis orang lain yang sudah sukses. Mengcopy bisnis orang lain merupakan sebuah perilaku yang lazim dan sangat membumi dikalangan para pebisnis. Biasanya hasil copyan ini dimodifikasi sedemikian rupa sehingga terlihat seperti ide baru atau pun konsep baru. Walaupun etika dan moralitas perilaku bisnis merupakan bagian dari pada good corporate governance, tetapi dunia bisnis adalah dunia yang selalu tidak akan pernah mau peduli pada hal-hal yang menghalangi sumber uang.
Saat Anda ingin mengcopy ide bisnis orang lain, Anda terlebih dahulu perlu terjun langsung kedalam bisnis tersebut. Mungkin Anda bisa bekerja sebagai pegawai dibisnis yang Anda sukai itu, atau kalau tidak bisa menjadi pegawai, cobalah menjadi pelanggan yang rajin dan tekun mengamati semua detail praktik dan kebiasaan kreatif yang dilakukan bisnis tersebut. Amati semuanya dalam bahasa yang paling sederhana, lalu visualisasikan didalam mind set Anda, miliki semangat dan motivasi yang kuat untuk melakoni bisnis tersebut sesuai dengan model bisnis yang Anda anggap cocok dengan kepribadian Anda. Model Bisnis yang Anda gunakan tersebut harus memudahkan diri Anda untuk melakukan pengawasan, perencanaan, pengoperasian, inovasi, dan pengembangan. Pastikan model bisnis Anda itu tidak membuat Anda terjebak dalam kesulitan dan kerumitan. Buatlah model bisnisnya menyatu ke dalam batin terdalam Anda, lalu nikmati setiap proses bisnis dengan penuh antusias dalam kebahagian tertinggi Anda.
Jangan pernah sedikitpun menganggap remeh pada kondisi keuangan bisnis Anda. Kondisi keuangan terutama yang terkait dengan cash flow adalah hal yang paling menentukan keberhasilan bisnis Anda di masa depan. Jika sejak awal Anda selalu terlilit masalah cash flow, maka bisnis Anda hanya akan berjalan ditempat dan selalu melambat.
Walaupun Anda mengcopy ide bisnis orang lain, tapi bisnis Anda itu suatu hari akan menjadi jati diri Anda. Oleh karena itu, pastikan untuk segera menciptakan kredibilitas dan reputasi yang memperkuat keberadaan bisnis Anda tersebut di tengah-tengah konsumen Anda. Anda wajib mendukung ide bisnis copyan Anda tersebut dengan karyawan yang memahami visi bisnis Anda dengan sempurna, dan karyawan Anda juga harus memahami misi mereka masing-masing di dalam mempertanggungjawabkan hasil kerja mereka. Miliki kata-kata sakti sebagai kekuatan ritual untuk meningkatkan etos kerja karyawan Anda. Lalu, ciptakan motto sebagai mantra bisnis yang mampu menyatukan setiap orang didalamnya untuk berjuang menghasilkan kinerja dan pelayanan terbaik.
“Bantulah Selalu Orang Lain Untuk Meningkatkan Rasa Percaya Diri Mereka Sendiri. Kembangkanlah Keahlian Anda Dalam Membuat Orang Lain Merasa Penting. Sangat Jarang Ada Pujian Yang Lebih Bisa Anda Berikan Pada Seseorang Daripada Membantunya Untuk Menjadi Berguna Dan Untuk Menemukan Kepuasan Karena Ia Berguna.” – Donald Laird.
Salah satu penyebab terjadinya konflik di pekerjaan adalah kurangnya perasaan saling menghargai. Perasaan untuk saling menghargai ini sangat penting dan sangat menentukan kinerja dan keberhasilan perusahaan dalam mencapai target tertinggi. Jika perusahaan bersama-sama pimpinan dan karyawan tidak mampu mengendalikan diri untuk saling menghargai dalam sebuah keharmonisan hubungan kerja yang baik, maka dapat dipastikan semua hubungan kerja di manajemen perusahaan akan terganggu dan akan tidak berjalan seperti seharusnya.
Setiap fungsi, peran, dan perilaku kerja wajib di atur dalam sebuah panduan etika bisnis dan code of conduct perusahaan. Etika bisnis dan code of conduct harus menjadi alat yang melindungi setiap pimpinan dan karyawan dari risiko apa pun.
Bila masing-masing orang saling melanggar etika kerja dan etika bisnis perusahaan, maka secara otomatis semua hal baik pun akan hilang dan akan tergantikan oleh hal-hal yang tidak baik. Oleh karena itu, setiap pimpinan dan setiap karyawan harus bekerja dengan kesadaran tertinggi untuk selalu patuh menjalankan standard operating procedure, etika bisnis, code of conduct, dan semua aturan, sistem, kebijakan, dan peraturan perusahaan secara profesional dan bijaksana.
Hubungan kerja yang saling menghargai hanya dapat terwujud saat perusahaan, pimpinan, dan para pegawainya menjadi satu energi positif untuk menjalankan etika kerja dan etika bisnis perusahaan secara sempurna.
Sikap dan perilaku untuk saling menghargai harus dimulai dari tekad perusahaan untuk menjalankan prinsip-prinsip kerja yang berlandaskan kepada integritas, kinerja, dan membebaskan perusahaan dari konflik kepentingan siapa pun. Artinya, perusahaan benar-benar dijalankan dengan sistem, prosedur, aturan, kebijakan, peraturan, dan energi yang terfokus kepada nilai-nilai yang saling menghargai dan yang saling melengkapi.
Rekan kerja Anda ingin merasa dihargai dan demikian juga dengan diri Anda pasti ingin dihargai. Oleh karena itu, pastikan Anda mampu menjadi pribadi yang berpikir, bertindak, bersikap, dan berperilaku dengan mengedepankan nilai-nilai moral dan nilai-nilai kehidupan yang baik dan positif. Hanya melalui nilai-nilai kebaikan yang positif, Anda dan rekan kerja Anda bisa saling menyatu untuk menghasilkan kinerja dan prestasi terbaik.
“Karyawan Adalah Modal Terpenting Perusahaan Untuk Menghasilkan Nilai Tambah Perusahaan.” – Djajendra
Karyawan adalah sumber daya yang sangat penting dan sangat menentukan suksesnya perusahaan. Karyawan juga selalu disebut sebagai human capital, yang artinya karyawan adalah modal terpenting untuk menghasilkan nilai tambah perusahaan.
Sebagai modal terpenting, fungsi dan peran karyawan selalu bertujuan untuk memaksimalkan produktivitas dan efisiensi perusahaan melalui cara kerja yang efektif. Sebab, bila karyawan tidak produktif dan tidak efisien, maka karyawan mungkin tidak lagi menjadi modal terpenting, tapi menjadi beban buat perusahaan.
Sejak dari proses rekrutmen sampai dengan proses evaluasi kinerja, para karyawan harus selalu diingatkan bahwa mereka adalah modal perusahaan, agar para karyawan memahami makna keberadaan mereka di dalam perusahaan.
Bila persoalan kepemimpinan, komunikasi, etika, dan etos kerja tidak dijalankan secara benar oleh perusahaan, maka karyawan berpotensi menjadi pekerja yang tidak efektif, dan mungkin juga berpotensi menjadi beban perusahaan.
Perusahaan yang hebat akan selalu merawat kualitas para karyawannya, apakah itu dari sisi emosi, intelektualitas, ataupun dari sisi keterampilan. Yang terpenting perusahaan yang hebat selalu berupaya untuk menjadikan setiap karyawannya sebagai modal, dan menghindarkan para karyawannya menjadi beban perusahaan.
“Perusahaan Yang Tidak Mampu Menggali Nilai-Nilai Luhurnya Untuk Tujuan Memuliakan Setiap Stakeholder, Akan Kehilangan Kebesarannya.” – Djajendra
Bagi saya, perusahaan adalah rumah tempat pimpinan dan karyawannya bekerja untuk menghasilkan kreasi bisnis yang unggul. Di mana, kreasi bisnis yang unggul ini harus menjadi sebuah kekuatan untuk menghasilkan nilai tambah ekonomi yang maksimal buat kesejahteraan stakeholdernya.
Pimpinan dan karyawan secara bersama-sama harus saling mencintai proses kreasi tersebut, melalui nilai-nilai kerja yang disepakati bersama dalam sebuah keharmonisan hati dan pikiran. Jadi, harus ada sebuah garis empati yang kuat, garis empati yang mampu menghubungkan setiap individu untuk bekerja bersama nilai-nilai kerja yang diperjuangkan tersebut.
Nilai-nilai inti perusahaan atau juga sering disebut dengan istilah core value, haruslah diinternalisasikan ke dalam karakter kerja setiap unit kerja, termasuk ke dalam perilaku kerja setiap individu. Sekali core value ini disepakati, maka proses implementasi harus dilakukan secara terus-menerus di sepanjang usia perusahaan. Tidak boleh terhenti, tapi lakukan evaluasi dan perbaikan secara terus-menerus hingga kapan pun.
Core value harus menjadi komitmen bersama dalam sebuah tindakan dan perilaku yang konsisten. Komitmen bersama ini, lebih lanjut di wujudkan dalam bentuk nilai-nilai kerja yang menyatu ke dalam perasaan dan pikiran pimpinan dan karyawan.
Setiap orang di perusahaan harus berada dalam satu tafsiran atau pun interpretasi terhadap setiap kalimat dan kata-kata core value. Tidak boleh ada perdebatan dan perbedaan tafsiran terhadap core value, yang boleh ada hanyalah sikap menyatu bersama core value perusahaan, untuk kemudian menghasilkan kinerja yang maksimal.
Core value perusahaan harus selalu di update bersama gagasan-gagasan baru, yang lebih menguatkan nilai-nilai perjuangan perusahaan dalam upaya menghasilkan kinerja dan kebahagiaan buat setiap orang di perusahaan.
Bekerja berdasarkan core value, berarti pimpinan dan karyawan sepakat untuk mewujudkan misi dan visi perusahaan melalui kerja keras yang berfondasikan core value perusahaan. Selanjutnya, core value harus mampu menciptakan energi kepemimpinan yang kuat dan konsisten; core value harus mampu menjadi sumber motivasi pimpinan dan karyawan untuk secara bersama-sama mewujudkan rencana dan target kerja; core value harus menjadi piala yang diperebutkan dalam kompetisi untuk menjadi yang terbaik; core value harus menjadi alat pengambil keputusan terbaik; core value harus menjadi kekuatan kebersamaan dalam sebuah reputasi, kredibilitas, integritas, dan komitmen yang bersifat konsisten.