MOTIVASI DJAJENDRA

Leadership Organization Business Personal Interpersonal Entrepreneurs and Employed Professionals

Category: Corporate Culture (page 1 of 22)

Budaya Perusahaan

MEWUJUDKAN NILAI-NILAI ORGANISASI MENJADI PERILAKU

“Siapa pun yang bercita-cita mencapai prestasi dan kebahagiaan dalam lingkungan kerja wajib mewujudkan nilai-nilai inti menjadi perilaku sehari-hari. Memiliki kesadaran untuk melakukannya dengan gigih dan tidak pernah menyerah.”~Djajendra

Organisasi yang sukses telah melakukan upaya yang sangat besar, untuk mewujudkan nilai-nilai inti organisasi menjadi perilaku setiap orang dalam lingkungan kerja. Keberhasilan ini terletak pada tekad, konsistensi, keyakinan, dan upaya terus-menerus yang tak pernah menyerah oleh gangguan apa pun. Ketika nilai-nilai inti menjadi perilaku, maka nilai-nilai tersebut menyatukan setiap orang untuk membentuk cara kerja yang benar dan etis.  Setiap nilai inti memberikan energi sukses untuk menguatkan organisasi dalam proses mencapai kinerja terbaik. Nilai-nilai inti menjadi keyakinan mendasar organisasi dalam setiap aspek operasional dan strategi menuju visi. Nilai-nilai inti membentuk kepribadian dan karakter kerja yang tak tergoyahkan oleh kesulitan dan tantangan.

Nilai-nilai inti membentuk perilaku dan sikap kita untuk melakukan uraian tugas dan strategi yang mengantar kita ke tujuan. Di samping itu, nilai-nilai inti juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas etos kerja kita dan menyatukannya dengan kualitas etos kerja setiap orang dalam organisasi. Jika etos kerja setiap individu terhubung melalui nilai-nilai inti organisasi, maka praktik kolaborasi yang setiap saat harus terjadi di dalam organisasi mampu menghasilkan proses kerja yang efektif dan produktif. Jadi, nilai-nilai inti organisasi wajib mendasari etos kerja yang digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan kualitas dan kinerja terbaik.  

Mewujudkan nilai-nilai inti organisasi menjadi perilaku memerlukan latihan setiap hari; memerlukan kesadaran untuk menginternalisasi nilai-nilai tersebut, hari demi hari, dengan tekad dan semangat perubahan. Memiliki panggilan hati untuk berlatih menanamkan sikap dan perilaku kerja sesuai dengan nilai-nilai inti tanpa merasa membosankan. Setiap hari memiliki semangat dan motivasi untuk perubahan dari dalam diri. Mau berlatih setiap hari, tahun demi tahun, sampai semua nilai-nilai tersebut sudah berada dalam alam bawah sadar, sehingga secara otomatis membentuk sikap dan perilaku sesuai nilai-nilai inti tersebut. Memiliki kesadaran yang tinggi untuk menyempurnakan internalisasi nilai-nilai inti, serta secara konsisten melakukan upaya yang besar agar nilai-nilai tersebut dapat dipraktikkan dengan sempurna.

Jika kita ingin mewujudkan perilaku kerja berdasarkan nilai-nilai inti, kita tidak boleh merasa bosan dan tidak boleh menyerah. Ada proses dan jalan panjang untuk terjadinya perubahan di dalam diri. Sebab, meskipun nilai-nilai inti tersebut sudah ada di dalam diri kita, mungkin jarang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita harus menemukan cara terbaik untuk menggunakannya setiap saat. Pada dasarnya, semua nilai-nilai inti organisasi itu bersifat universal, dan sudah ada di dalam diri setiap orang. Persoalannya, dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menggunakan nilai-nilai tersebut sebagai perilaku. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran untuk menenangkan pikiran dan melatih pikiran agar 100%  fokus dalam waktu yang lama terhadap nilai-nilai inti organisasi. Biarkan pikiran menciptakan emosi yang hebat untuk merubah nilai-nilai inti tersebut menjadi perilaku. Biasanya, ketika kita fokus untuk menginternalisasi sesuatu, gangguan dan halangan berpotensi merusak fokus kita. Jadi, ketika ada hal-hal yang menghambat upaya kita untuk mewujudkan nilai-nilai inti menjadi perilaku, kuatkan diri dan mental dengan kesadaran yang tinggi, serta jangan membiarkan hal-hal tidak penting menarik perhatian kita sehingga fokus kita gagal.

Mewujudkan nilai-nilai inti menjadi perilaku dalam lingkungan kerja bukanlah proses yang instan. Diperlukan upaya dan latihan yang terus-menerus dalam jangka waktu lama. Setiap orang harus menyediakan cara untuk menyempurnakan kemampuan dirinya sehingga dapat menemukan perilaku dari nilai-nilai inti tersebut. Melalui ketenangan pikiran, kita menyempurnakan kemampuan kita untuk merubah nilai-nilai inti menjadi perilaku. Kita harus meningkatkan konsentrasi terhadap makna dari nilai-nilai inti tersebut. Kita harus belajar memahami nilai-nilai inti tersebut dengan kesabaran dan ketekunan. Kita harus mau bersikap rendah hati untuk membangun pengertian terhadap nilai-nilai inti dengan realitas kehidupan dalam lingkungan kerja kita. Ini semua membutuhkan latihan, kerja keras, disiplin, kesungguhan, dan mental yang tidak mungkin menyerah untuk mewujudkan nilai-nilai menjadi perilaku sejati dalam lingkungan kerja.

Menerangi diri dengan nilai-nilai inti dan memasukkan nilai-nilai inti ke dalam suara batin. Saat membayangkan nilai-nilai inti, kita dapat mengalami energi positif yang dipancarkan oleh nilai-nilai tersebut. Ketika kita sudah mampu merasakan energi positif dari nilai-nilai inti tersebut, maka setiap hari kita akan mengalami panggilan hati untuk meningkatkan kemampuan terhadap perilaku terbaik berdasarkan nilai-nilai inti. Dengan berlatih hal ini setiap hari, kita akan menemukan peningkatan kualitas perilaku dan pembentukan karakter kerja kita berdasarkan nilai-nilai inti. Dari hari ke hari, latihan yang terus-menerus ini akan menjadi kebiasaan, sehingga kita memiliki kebiasaan kerja yang sesuai dengan nilai-nilai inti organisasi.

Tidak boleh ada mental yang mudah menyerah dalam proses mewujudkan nilai-nilai inti menjadi perilaku. Mungkin kerja keras dan latihan kita tidak memberikan hasil yang maksimal, sehingga kita kehilangan kepercayaan diri untuk memiliki perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai inti organisasi. Dalam hal ini, kita seharusnya tidak membiarkan ketidakmampuan kita menguasai jalan hidup kita. Kegagalan adalah sesuatu yang biasa, tetapi kegagalan tidak boleh menyebabkan kita menyerah. Jika sekarang ini kita masih belum berhasil dalam mewujudkan nilai-nilai inti menjadi perilaku, kita seharusnya tidak berhenti atau menyerah. Kita harus membangkitkan kembali keyakinan dan motivasi kita untuk berlatih kembali. Jika kegagalan kita berulang kali terjadi, kita harus kembali membangkitkan keyakinan dan motivasi kita berulang kali. Hari demi hari, jika kita terus-menerus berlatih tanpa pernah menyerah, kita akhirnya mampu mewujudkan nilai-nilai inti organisasi menjadi perilaku kita.

Dalam setiap sesi latihan internalisasi nilai-nilai inti organisasi, kita harus menjaga pikiran dan perilaku kita tetap tenang pada nilai-nilai inti. Kita harus mampu menjaga fokus dan perhatian kita pada nilai-nilai inti tersebut. Kita tidak boleh membiarkan perhatian dan fokus kita terganggu. Kita harus selalu sadar bahwa kegagalan bukanlah hasil yang kita perjuangkan. Jika kegagalan terjadi, kita tidak boleh menyerah dengan situasi. Kita boleh berhenti sejenak, tetapi bukan berhenti untuk selamanya. Motivasi kita harus mendorong kepercayaan diri kita untuk terus menerus mencoba lagi dan mencoba lagi. Tidak ada kata tidak mampu. Tidak ada kata tidak mungkin. Tidak ada kata menyerah sebelum kita betul-betul mewujudkan nilai-nilai inti menjadi perilaku kita dalam lingkungan kerja.

Untuk mengundang Djajendra hubungi: 0812 1318 8899/ email: admin@djajendra-motivator.com

MENGATASI PERILAKU BURUK DI TEMPAT KERJA DENGAN BUDAYA SOPAN SANTUN

“Harus ada upaya dan kerja keras dari dalam diri Anda untuk membangun budaya sopan santun di tempat kerja, tanpa berharap atau menggantungkan perilaku Anda pada perilaku orang lain.”~Djajendra

Ketika Anda berbicara dengan nada suara yang cendrung tinggi, bersikap kurang sopan, memperlihatkan sikap egois yang sangat tinggi, tidak peduli dengan hubungan kerja antar bagian; maka, Anda telah menciptakan luka dihati banyak orang. Mereka yang terluka oleh sikap buruk Anda tidak mungkin melupakan keburukan Anda. Selain Anda telah melukai banyak orang, Anda juga sudah menciptakan kerugian dalam perusahaan, karena orang-orang yang terluka biasanya menjadi kurang produktif. Mereka yang terluka merasa memiliki banyak hambatan dalam hubungan kerja, sehingga akhirnya masa bodoh dengan kinerja dan prestasi.

Proses kerja membutuhkan sikap sopan santun yang selalu menghormati dan menghargai setiap orang di tempat kerja. Sikap yang sopan santun dengan kualitas dan kompetensi diri yang baik akan memberikan dampak yang luar biasa untuk pencapaian terbaik. Jika Anda menginginkan kinerja dan prestasi terbaik, termasuk mencapai target-target dengan mudah, maka sikap yang saling menghormati dan saling menjaga kebaikan haruslah diutamakan.

Setiap orang yang merasa memiliki kekuatan dan dukungan, atau pun merasa paling senior, haruslah menjadi contoh yang baik untuk mempromosikan budaya sopan santun di tempat kerja. Kekuatan, kekuasaan, dan senioritas Anda sangat dibutuhkan untuk mengkontribusikan hal-hal positif dalam pekerjaan. Anda harus memperlihatkan kepada semua orang tentang budaya kerja yang kompak, disiplin, rendah hati, peduli, saling tolong-menolong, dan selalu proaktif untuk menjaga hubungan kerja antar bagian dalam kinerja terbaik.

Hilangkan energi buruk dari dalam diri dengan cara mulai melihat sisi baik setiap orang; mulai membuka hati untuk berkomunikasi dengan cara yang sopan; mulai memperlihatkan perilaku etis; mulai melihat hal-hal yang positif di semua aspek kerja; mau terlibat dalam perubahan dan mudah beradaptasi dengan perubahan; menjadi pribadi positif yang sadar akan energi negatif di dalam diri sendiri. Jadi, ada upaya dan kerja keras dari dalam diri Anda untuk membangun budaya sopan santun di tempat kerja, tanpa berharap atau menggantungkan perilaku Anda pada perilaku orang lain.

Ketika kepribadian positif tumbuh dari dalam diri, maka terbentuk kekuatan yang hebat di dalam diri. Kekuatan hebat ini menjadikan diri sendiri yang asli dengan integritas yang kuat. Dampaknya, Anda benar-benar mampu menampilkan kepribadian yang tenang, sabar, tidak mudah termakan gosip, hoaks, fitnah, atau semua energi buruk dari luar diri sudah tidak mampu merusak kedamaian dan ketenangan hidup Anda. Anda menjadi pribadi yang mudah mengalir dalam hubungan dan komunikasi, serta selalu tampil dengan gembira dan bugar.

Ketika energi positif Anda sudah kuat dari dalam diri, maka Anda mampu mengendalikan emosional dan pikiran-pikiran yang tidak diperlukan dalam sebuah hubungan. Emosional yang baik dengan pikiran yang tenang mampu membangun hubungan yang baik dengan pelanggan, supplier, dan semua stekaholders yang lainnya. Sikap positif Anda akan meningkatkan reputasi perusahaan di persepsi stekaholders. Pikiran yang tenang dan emosi positif Anda mampu memilih dengan cerdas untuk bereaksi terhadap berbagai karakter orang. Reaksi dan tindakan Anda tidak akan melukai perasaan orang lain. Anda senantiasa mampu menjaga hubungan dan komunikasi dengan sopan santun yang produktif.

Setiap pelayanan dalam perusahaan haruslah ditangani dengan cepat, semuanya harus dilayani dengan sikap baik dan penuh sopan santun. Tidak boleh bersikap semena-mena kepada pelanggan, supplier, dan stakeholders yang lain. Layani pelanggan dengan kualitas terbaik, layani dan bayar tagihan supplier tepat waktu dengan sikap sopan. Jangan pernah berbicara dalam sikap yang ketus dan kata-kata yang membuat supplier sakit hati. Jika Anda kehilangan supplier, maka perusahaan juga akan kewalahan di masa depan. Intinya, semua sikap dan perilaku yang tidak baik akan menciptakan biaya tinggi dalam operasional bisnis.  

Perubahan adalah sesuatu yang pasti. Mungkin Anda berpikir bahwa sesuatu hal yang baru atau perubahan yang sedang diterapkan sebagai sebuah omong kosong, tetapi perubahan pasti terjadi. Jika Anda ikhlas untuk memberikan energi positif dalam proses perubahan, maka kebaikan dan keindahan akan Anda rasakan dari hasil perubahan tersebut. Jika Anda berpikir bahwa budaya sopan santun tidak mungkin diterapkan dalam perusahaan Anda, maka Anda sendiri yang memutuskan untuk menderita dalam kehidupan kerja yang penuh energi negatif. Jika Anda menolak memilih untuk membangun budaya sopan santun, maka Anda akan merasakan semacam emosi negatif yang bersumber dari pikiran Anda yang kacau dan sulit dikendalikan. Tanpa budaya sopan santun; energi negatif dari dalam diri Anda akan menciptakan kemarahan, kesedihan, kebosanan, kepahitan, dan menjadikan Anda kurang produktif di tempat kerja.

Saling menghargai, saling mendengarkan, dan saling membantu haruslah menjadi karakter kerja sehari-hari. Hal ini juga akan menghambat emosi negatif masuk ke dalam hari kerja Anda. Jika emosi negatif masuk ke hari kerja Anda, maka energi negatif akan menciptakan stres, serta menghabiskan waktu dan kecerdasan Anda untuk sesuatu yang kurang produktif dan tidak positif.  Kebahagian dalam pekerjaan datang dari memilih pikiran dan emosi, Anda mungkin harus berhadapan dengan berbagai peristiwa yang kurang menyenangkan hati Anda. Tetapi jika Anda memilih pikiran positif, emosi positif, dan sikap baik untuk menghadapi peristiwa tersebut; maka, kebahagiaan dan kedamaian Anda di tempat kerja tidak akan hilang.

Untuk mengundang Djajendra hubungi: 0812 1318 8899/ email: admin@djajendra-motivator.com

MENCIPTAKAN BUDAYA PELAYANAN

“Budaya pelayanan berkualitas berarti kita mampu memanfaatkan semua yang terbaik dari dalam diri kita, kemudian menyebarkan sukacita dan keikhlasan pelayanan tanpa syarat ke seluruh kehidupan.”~Djajendra

Pelayanan yang baik menarik keberuntungan, kesehatan, kemakmuran, dan kebahagiaan. Pelayanan yang baik menghilangkan semua hal yang tidak baik. Pelayanan yang baik menangkal semua rasa tidak puas. Jika kita memiliki keyakinan yang kuat untuk memberikan pelayanan tanpa pamrih dari hati yang ikhlas dan penuh cinta, maka kita sudah mulai menciptakan budaya pelayanan yang berkualitas. Setiap saat kumpulkan semua perhatian dan kepedulian untuk menciptakan momen pelayanan yang lebih indah pada hari ini, berikan senyum dari kedamaian hati. Ketika semua sikap dan sifat baik bersatu dalam budaya pelayanan berkualitas, maka tidak akan ada perilaku buruk dan perkataan tinggi hati pada siapa pun.

Jangan membiarkan kekuatan baik kita digunakan dengan cara yang salah, tetapi digunakan untuk membangun budaya pelayanan yang penuh sukacita dan yang memberikan manfaat bagi siapa pun. Semua kekuatan baik yang kita keluarkan setiap saat untuk memberikan pelayanan berkualitas, membawa kebahagiaan ke dalam diri kita. Pelayanan kita yang berkualitas dari hati yang ikhlas memberikan kehidupan yang indah bagi kita. Budaya pelayanan terbentuk ketika kesatuan yang solid bekerja dengan kreatif di dalam organisasi. Kesatuan energi positif yang membawa kebahagiaan dan kelincahan dalam proses pelayanan. Kesatuan dalam organisasi yang memahami bahwa kita semua adalah satu dalam energi positif, bahasa positif, perilaku, ucapan, pikiran positif, dan semua keberagaman kita yang menyatu dalam kebahagiaan bersama.

Dimanapun kita semua berada, mari kita memulai hari ini dengan pelayanan berkualitas dari keikhlasan hati terdalam. Apa pun hal yang tak menyenangkan hati; mungkin yang kita dengar, baca, tonton; jangan dibiarkan merusak suasana hati kita. Kita bertanggung jawab untuk menjaga suasana hati yang penuh sukacita agar mampu memberikan pelayanan berkualitas. Jangan membiarkan ketenangan dan kebahagiaan hati kita dirusak oleh hal-hal negatif dari luar diri kita. Jika kita melihat, mendengar, atau membaca sesuatu yang negatif coba segera aktifkan persepsi positif untuk melihat hal-hal baik dari sumber negatif tersebut. Kita harus fokus bersama energi positif dan bergerak maju dengan pola pikir positif. Jadi; berikan pelayanan terbaik, berkualitas, dan tidak ternoda oleh hal-hal buruk, baik yang bersumber dari dalam diri maupun yang bersumber dari luar diri.

Budaya pelayanan berkualitas berarti kita mampu memanfaatkan semua yang terbaik dari dalam diri kita, kemudian menyebarkan sukacita dan keikhlasan pelayanan tanpa syarat ke seluruh kehidupan. Kita mampu menampilkan diri kita yang terbaik dengan kekuatan pendorong dari dalam diri untuk memberikan pelayanan berkualitas. Kita memperlihatkan sikap dan perilaku yang murni dari keikhlasan hati, tidak tercemar oleh emosi dan pikiran negatif, serta tampil bugar dan cerah di sepanjang hari. Kita mampu merawat dan menjaga tingkat energi positif yang tinggi, sehingga energi positif kita mampu menarik keberuntungan ke dalam pelayanan berkualitas yang kita berikan.

Ketika kita menerima sikap, perilaku, ucapan, dan bahasa yang pahit atau tidak positif dari orang yang kita layani; maka, kita harus terlatih untuk menerimanya dengan ikhlas dan memberikan yang termanis untuk orang yang kita layani. Pikiran positif kita dan suara hati kita yang bersikap manis mampu menghilangkan semua kotoran yang dikirim dari luar ke dalam diri kita. Kita harus berkomitmen dengan disiplin yang tinggi, untuk tidak membiarkan hal-hal kotor dan buruk dari luar diri kita masuk ke dalam diri kita. Keikhlasan dan perilaku positif untuk memberikan pelayanan berkualitas kepada orang-orang berenergi negatif akan menyelamatkan diri kita sendiri. Sikap positif kita ini menarik energi sukses ke dalam organisasi kita, kita pun telah bertindak sebagai magnet untuk menciptakan budaya pelayanan berkualitas. Semua yang baik ini membawa kesejahteraan dan kebahagiaan di lingkungan kerja. Hal ini juga sekaligus menguatkan keyakinan kita bahwa tidak ada hal-hal buruk dari luar yang memasuki diri kita, jika kita menjaga diri kita dan organisasi kita dengan energi positif yang kuat.

Untuk mengundang Djajendra hubungi: 0812 1318 8899/ email: admin@djajendra-motivator.com

PERILAKU POSITIF SAMA PENTINGNYA DENGAN KOMPETENSI BERKUALITAS UNTUK MENGHASILKAN KINERJA TERBAIK

“Tanpa perilaku positif reputasi Anda menjadi buruk.”~Djajendra

Perilaku baik menjadi kunci keberhasilan dalam proses kerja. Pengetahuan dan kompetensi yang berkualitas membutuhkan perilaku baik agar dapat berkolaborasi dalam sistem kerja yang berintegritas. Perilaku baik tidak akan melanggar kebijakan kode etik perusahaan. Perilaku baik tidak akan melanggar prosedur kerja. Perilaku baik selalu sadar untuk menjaga keharmonisan dan kedamaian di tempat kerja. Tanpa perilaku positif reputasi Anda menjadi buruk. Perilaku positif dengan kompetensi yang berkualitas mampu meningkatkan reputasi diri Anda dan perusahaan Anda.

Kecerdasan, kemampuan, dan pengetahuan tanpa dilengkapi perilaku positif menjadi tidak berguna. Bagi organisasi yang ingin memiliki tata kelola yang baik, maka salah satu syarat terpenting adalah mengelola masalah perilaku dengan sungguh-sungguh. Perilaku positif menjadi kunci untuk memastikan bahwa tata kelola yang baik sudah berjalan. Perilaku positif harus tunduk pada kode etika dan memiliki energi integritas dalam setiap tindakannya. Setiap orang, apa pun jabatan dan kekuasaannya, wajib memiliki perilaku positif dalam menjaga tata kelola yang baik. Membangun kesadaran secara terus-menerus untuk menguatkan perilaku positif harus menjadi pekerjaan dari kepemimpinan.

Perilaku positif harus tumbuh dari sisi optimisme. Setiap individu harus memiliki keyakinan dan kompetensi yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan dengan berkualitas. Setiap dinamika dalam tim membutuhkan komunikasi yang etis. Setiap perbedaan dan ketidaksepakatan harus dilayani dengan perilaku positif. Perilaku positif tidak hanya menjadi tanggung jawab dari masing-masing individu, tetapi juga harus terlibat secara proaktif untuk mempromosikan perilaku positif di setiap situasi dan peristiwa.

Setiap pribadi harus menjadi teladan dan mencontohkan perilaku positif sesuai dengan nilai-nilai organisasi dan nilai-nilai etika yang bersifat universal. Etos yang hebat akan terbentuk ketika perilaku etis, kompetensi berkualitas tinggi, pengetahuan dalam wawasan luas, dan daya tahan fisik yang hebat selalu terjaga di dalam kondisi terbaik. Etos yang hebat dapat menciptakan kinerja seperti yang diinginkan. Jelas, semua ini fondasinya perilaku etis dan kompetensi berkualitas. Jadi, tidak pernah membiarkan perilaku buruk hadir untuk merusak semua potensi keberhasilan organisasi.

Perilaku positif selalu akan mendapatkan tantangan dari perilaku negatif. Positif dan negatif adalah kenyataan yang tidak bisa dihapus. Jadi, sebelum energi perilaku negatif berkuasa di lingkungan kerja Anda, maka kendalikan mereka dan kecilkan pengaruh mereka di dalam organisasi. Jika perilaku negatif dibiarkan, mereka pasti melukai organisasi dan menjadi penghambat untuk mencapai kinerja terbaik. Fokuskan semua perhatian organisasi untuk menguatkan perilaku positif. Lakukan promosi secara terbuka dan terus-menerus agar perilaku positif menjadi kuat dan menguasai setiap inci di lingkungan kerja. Jangan membiarkan perilaku negatif berkutik dan menemukan jalannya di dalam organisasi untuk tumbuh.

Untuk mengundang MOTIVATOR hubungi: 0812 1318 8899/ email: training@djajendra-motivator.com

MENJALANKAN LOYALITAS DENGAN PERILAKU ETIS

“Kepemimpinan yang baik menuntut ikatan kesetiaan dari kekuatan etis dan integritas, bukan sekedar setia dan mengabaikan kebaikan demi melayani kesetiaan itu.”~Djajendra

Kadang-kadang loyalitas membuat orang tidak mampu melihat apa yang baik dan apa yang tidak baik. Ikatan kesetiaan dan perasaan berutang budi jika tidak tunduk pada perilaku etis, maka realitas ini akan menyebabkan timbulnya berbagai persoalan pelanggaran etika. Loyalitas tanpa tunduk pada nilai-nilai etika akan menciptakan kerusakan pada organisasi. Kepemimpinan yang baik akan menuntut ikatan kesetiaan dari kekuatan etis dan integritas, bukan sekedar setia dan mengabaikan segala kebaikan demi melayani kesetiaan itu. Loyalitas akan menjadi sebuah kebaikan jika loyalitas tersebut tercipta dari budaya yang etis dan kaya integritas. Loyalitas yang etis mampu menjadi energi positif yang hebat untuk mendukung tata kelola organisasi yang kuat dan sehat.

Loyalitas seseorang dapat dimanfaatkan untuk menjalankan sebuah rencana yang baik maupun sebuah rencana yang tidak baik. Jadi, tidak selamanya loyalitas berada dalam barisan energi positif. Jika niat dan rencana tidak baik, maka loyalitas akan berada dalam barisan energi negatif. Loyalitas itu sendiri adalah pengabdian tanpa syarat, yang sudah tidak mampu membedakan apa pun, kecuali menyerahkan diri secara total untuk melayani ikatan kesetiaan tersebut. Di dalam persepsinya, ikatan kesetiaan tersebut adalah sebuah ikatan suci dan kebaikan yang tidak boleh diperdebatkan di dalam hati. Suara hati, pemikiran, dan perasaan terikat dalam kesetiaan yang buta terhadap kebenaran sejati. Kondisi ini telah menciptakan banyak skandal yang merugikan organisasi dan stakeholders. Ketika loyalitas tidak mampu membedakan apa yang baik dan apa yang tidak baik, maka kerugian dan kerusakan menjadi hasil akhir yang akan disesali kemudian.

Loyalitas yang baik dihasilkan dari kesadaran untuk menjalankan nilai-nilai etis di tempat kerja. Ikatan kesetiaan harus mampu mengabaikan perilaku dan niat buruk. Kesetiaan hanya diberikan kepada nilai-nilai positif dan tata kelola organisasi yang bersih dan sehat. Para pengikut yang setia harus berani mengabaikan pemimpinnya yang tidak jujur. Kesetiaan ditumbuhkan untuk memperkuat integritas, akuntabilitas, perilaku etis, tindakan etis, keputusan etis, dan tidak menoleransi semua perilaku atau tindakan yang berlawanan dengan integritas. Loyalitas di tempat kerja harus berdasarkan prinsip-prinsip yang mencakup integritas, etis, transparansi, akuntabilitas, dan pelayanan sepenuh hati.

Ketika kesetiaan berada dalam kekuasaan energi negatif, maka ia akan menjadi kekuatan yang siap melawan semua aturan dan kebijakan positif. Keserakahan, keegoisan, kepentingan sempit, dan ketidakjujuran akan menjadi bagian dari karakter dan kepribadian. Dalam kondisi ini, ikatan kesetiaan akan membuat konspirasi dan kolaborasi untuk keuntungan diri sendiri dan kelompok. Mereka sudah tidak pernah peduli untuk melayani kepentingan semua stakeholders dengan adil dan jujur. Mental dan perilakunya hanya bekerja untuk menguntungkan kepentingan mereka. Loyalitas seperti ini kadang menjadi sangat solid dan membudaya di dalam organisasi, sehingga sangat sulit untuk mengharapkan perilaku etis dan integritas. Kekuasaan dan manajemen yang baik pun sulit untuk diwujudkan. Ikatan kesetiaan dalam kekuasaan energi negatif membuat individu-individu yang tetap loyal dalam energi positif, akan tersingkir dan menjadi bagian dari orang-orang yang terkoyak dalam organisasi. Kekuatan loyalitas energi negatif kadang menjadi sangat kuat, sehingga tidak ada yang mampu mengungkapkannya. Realitas ini secara perlahan-lahan akan menjadikan organisasi tidak mampu menjalankan fungsi dan tujuan dengan baik. Visi, misi, dan nilai-nilai hanya akan jadi pajangan di sepanjang kehidupan organisasi tersebut. Kekuatan loyalitas energi negatif mampu menjaga kerahasiaan mereka dengan baik, sehingga tidak mudah ditemukan bukti untuk memperbaiki kekurangan yang ada.

Untuk mengundang MOTIVATOR hubungi: 0812 1318 8899/ email: training@djajendra-motivator.com

MENJALANKAN NILAI-NILAI PERUSAHAAN

“Nilai-nilai perusahaan memberikan kemampuan kepada setiap karyawan untuk memiliki energi menuju tujuan.”~Djajendra

Setiap perusahaan memiliki nilai-nilai, visi, dan misi untuk dipahami oleh setiap karyawan. Nilai-nilai dimaksudkan agar karyawan memiliki perilaku kerja seperti yang diinginkan oleh nilai-nilai tersebut. Visi dimaksudkan agar karyawan fokus bekerja menuju ke masa depan perusahaan. Misi dimaksud agar karyawan memiliki kecerdasan, energi, dan integritas untuk melakukan tugas dan tanggung jawab yang diberikan dengan sepenuh hati pada momen sekarang. Memahami nilai-nilai, visi, dan misi perusahaan membantu setiap individu untuk menciptakan budaya kerja yang etis. Tidak akan ada lagi benturan nilai-nilai, karena setiap orang sudah sadar untuk mengutamakan nilai-nilai perusahaan sebagai inti dari profesionalisme kerja mereka. Selanjutnya, perilaku keja yang etis akan muncul dari kesadaran masing-masing karyawan, sehingga sistem dan budaya kerja mampu digerakkan melalui perilaku kerja berdasarkan nilai-nilai perusahaan.

Sebelum menjalankan nilai-nilai perusahaan, karyawan terlebih dahulu harus mengenal diri sendiri dengan baik. Kenali dulu siapa saya? Apa pemikiran saya? Apa etos saya? Setelah mengenal diri sendiri dengan baik, selanjutnya internalisasikan nilai-nilai perusahaan ke dalam diri, kemudian dijadikan kebiasaan dan perilaku sehari-hari di lingkungan kerja. Menjalankan nilai-nilai perusahaan adalah bagian terpenting untuk bisa menyatu dalam kerja sama di dalam organisasi. Nilai-nilai akan menyatukan setiap orang untuk bekerja secara profesional. Nilai-nilai menciptakan perilaku dan kebiasaan untuk membangun budaya kerja yang kuat dan konsisten. Nilai-nilai memberikan kemampuan kepada setiap karyawan untuk memiliki energi menuju tujuan; memiliki pemikiran kehidupan kerja yang harmonis; dan kemampuan pengambilan keputusan yang baik.

Implementasi nilai-nilai perusahaan dalam kegiatan sehari-hari sebaiknya disatukan dalam kesadaran untuk menjalankan etika yang baik di lingkungan perusahaan. Etika menyadarkan setiap orang untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, atau mana yang boleh atau mana yang tidak boleh. Perilaku etis yang digerakkan oleh energi nilai-nilai perusahaan mampu menciptakan budaya kerja, yang saling percaya dan saling bekerja sama untuk mewujudkan tujuan perusahaan. Realitas ini akan menciptakan budaya kerja yang beretika. Perusahaan yang beretika mampu bersikap terbuka untuk merangkul setiap kepentingan di dalam kebenaran kerja. Hal ini juga mampu membangun kesadaran dan ketulusan  di hati setiap individu untuk membantu perusahaan dalam setiap situasi.

Nilai-nilai, visi, dan misi harus ditumbuhkan dari kesadaran dan menjadikannya sebagai keyakinan di ruang kerja. Jika sudah menjadi keyakinan di dalam rutinitas kerja, maka setiap orang mengerti apa tugas mereka, seperti apa cara kerja mereka, dan ke arah mana mereka harus bergerak untuk bisa mencapai tujuan. Realitas ini menciptakan budaya kerja yang lincah, proaktif, energik, dan cepat mengambil keputusan. Ini juga menjadikan rutinitas kerja setiap hari mampu mencapai target dan menghasilkan kinerja terbaik.

Nilai-nilai perusahaan haruslah menjadi fondasi untuk membentuk model perilaku kerja. Karena nilai-nilai ini dipahami oleh setiap individu, maka perilaku kerja setiap orang bisa berada dalam level energi yang sama, sehingga setiap orang mau saling menghargai dan saling membantu untuk pencapaian target kerja. Hal ini juga berlaku terhadap orang-orang yang memiliki karakter yang berlawanan. Walaupun karakternya berlawanan, tetapi nilai-nilai yang disadari secara bersama mampu menghindarkan konflik di internal perusahaan.

Menjalankan nilai-nilai perusahaan membutuhkan kesadaran dan ketulusan hati yang tinggi. Apalagi di tempat kerja setiap orang sudah sangat dewasa dan karakternya sudah terbentuk. Jelas, hal ini menjadi tantangan yang tidak mudah. Tanpa memiliki kesadaran dan ketulusan hati dari setiap individu untuk menjalankan nilai-nilai perusahaan dengan sepenuh hati, maka menjadi tidak mudah untuk diimplementasikan nilai-nilai perusahaan. Realitas ini semakin menyulitkan perusahaan untuk membangun organisasi dan budaya kerja yang etis. Oleh karena itu, kesadaran dan ketulusan hati untuk menjadi etis dan mengkontribusikan moral positif di lingkungan kerja menjadi sesuatu yang prioritas.

Untuk mengundang MOTIVATOR hubungi: 0812 1318 8899/ email: training@djajendra-motivator.com

MENGABAIKAN ETIKA MENYEBABKAN ORANG LAIN TERLUKA DAN MERUGI

“Perilaku etis adalah jalan lurus dan kelurusan hati nurani untuk melakukan pekerjaan sesuai nilai-nilai organisasi, kode etik, kode moral, dan tata kelola yang terbaik.”~Djajendra

Seseorang yang beretika memiliki perbuatan baik untuk menghasilkan kesejahteraan dalam hidupnya. Etika adalah tuntunan untuk melakukan perbuatan mulia. Etika diwujudkan melalui pemikiran, perbuatan, ucapan, dan tindakan yang membawa kehidupan ke jalan kebenaran. Seseorang yang bertindak tanpa etika merupakan energi untuk perbuatan salah. Di mana, perbuatan salah ini akan berakumulasi untuk menciptakan kesalahan ke berbagai urusan lainnya. Kesadaran bahwa perilaku tidak etis dapat menyebabkan kerusakan dan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain, haruslah menjadi pemahaman bersama di tempat kerja.

Nilai-nilai organisasi, etika, dan moralitas, tidaklah dapat dipisah-pisahkan, semuanya saling terkait erat dan tak terpisahkan. Nilai-nilai organisasi memiliki kekuatan untuk membentuk perilaku kerja sesuai budaya yang diinginkan oleh perusahaan. Etika di tempat kerja bersumber dari kode etik atau prinsip yang menjadi dasar untuk menentukan apa yang benar dan apa yang tidak benar. Etika sendiri bertujuan untuk menjaga kualitas integritas kerja, sehingga saat karyawan menghadapi situasi sulit dan penuh dilema, mereka tetap berperilaku sesuai kode etik yang diberikan perusahaan. Moralitas atau nilai-nilai moral dimaksudkan agar setiap individu karyawan mampu menemukan jati dirinya yang asli, sehingga mengenal diri sendiri secara baik untuk bisa memberikan kontribusi etis bagi perusahaan. Intinya, nilai-nilai organisasi, etika, dan moralitas adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam membentuk budaya kerja dan budaya organisasi yang kuat.

Etika membantu karyawan untuk mengikuti kode etik dengan pengabdian yang tulus di semua proses kerja. Ini juga mempersiapkan pola pikir untuk menerima apa yang diperbolehkan dan apa yang dilarang di sepanjang proses kerja hingga mencapai kinerja terbaik. Ini juga mengubah pemikiran, ucapan, perilaku, dan tindakan yang membentuk kebiasaan etis di lingkungan kerja, sehingga menjadi bagian yang penting untuk mengekspresikan budaya organisasi yang kuat. Perilaku etis adalah fondasi dari budaya kerja. Perilaku etis adalah jalan lurus dan kelurusan hati nurani untuk melakukan pekerjaan sesuai nilai-nilai organisasi. Perilaku etis berarti menyelaraskan pemikiran dan perbuatan sesuai dengan standar etika di perusahaan. Perilaku etis berarti bekerja tanpa syarat untuk mempraktikkan tata kelola perusahaan yang terbaik.

Penampilan dari orang-orang beretika terlihat dari pemikirannya yang sesuai dengan nilai-nilai perusahaan, selalu bijaksana, selalu menjaga kebenaran dari tata kelola, mengendalikan emosi, rendah hati, berani, adil, bersyukur, puas dengan perusahaan, menjaga ucapan yang benar, menjaga tindakan yang benar, bekerja keras dengan disiplin dan sangat tekun, mencari penghidupan di tempat kerja di jalan yang benar dan etis. Jadi, orang-orang beretika tidak pernah mau berurusan dengan nilai-nilai yang berkaitan dengan perilaku negatif. Mereka selalu bertindak sesuai adab, sopan santun, kelakuan yang baik, tata krama yang luhur, dan kebenaran yang ditentukan di tempat kerja. Jadi, mereka tidak akan melanggar semua ketentuan dan kebijakan yang sudah disepakati secara bersama di tempat kerja mereka.

Internalisasi nilai-nilai organisasi, etika, dan moralitas mampu menciptakan langkah-langkah yang efektif untuk menuju pertumbuhan pribadi yang hebat dan pembentukan karakter kerja yang diandalkan. Saat semuanya terinternalisasi dengan baik, saat itu terbentuk kesadaran untuk bertanggung jawab atas semua tindakan dan membuang egoisme untuk menumbuhkan kolaborasi agar bisa mencapai kinerja tertinggi. Setiap karyawan wajib hadir untuk memberikan kontribusi bagi penguatan etika di tempat kerja. Setiap karyawan wajib memimpin dirinya sendiri untuk kehidupan kerja yang etis. Kehidupan kerja yang tidak etis menciptakan kesalahan yang menjadi penyebab utama rasa takut di tempat kerja. Orang-orang yang lalai menjalankan etika di sepanjang proses kerjanya, hidupnya selalu ketakutan dan kehilangan ketenangan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

ETOS KERJA: MEMULIAKAN DAN MENGHORMATI PEKERJAAN ANDA

“Etos kerja terbaik dihasilkan dari kualitas diri yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk pekerjaan yang ditekuni, tanpa syarat.”~Djajendra

Bekerja yang baik itu datang dari hati yang luhur untuk mencapai tujuan dan visi. Memuliakan pekerjaan dan menghormati apa yang sedang Anda kerjakan adalah jalan untuk mencapai hasil terbaik. Memandang dan menganggap pekerjaan Anda sebagai hadiah terbaik dari Tuhan, akan membuat Anda bekerja tanpa pamrih dengan sepenuh hati. Rasakan panggilan hati untuk melaksanakan pekerjaan Anda dengan totalitas dan penuh kualitas terbaik. Miliki tanggung jawab, disiplin, rasa cinta, dan kejujuran dalam setiap proses kerja. Jadilah diri sendiri yang totalitas untuk menerima dan melakukan pekerjaan Anda dengan penuh semangat.

Sangatlah tidak etis mengungkapkan ketidakmampuan Anda untuk melaksanakan pekerjaan dengan sepenuh hati. Dalam kondisi dan situasi tersulit pun, Anda harus percaya diri dan berani untuk melaksanakan pekerjaan Anda dengan tanpa pamrih. Resiko dan rintangan haruslah menjadi bagian dari tanggung jawab Anda untuk dilewati dengan solusi yang tepat. Integritas dan akuntabilitas haruslah menjadi senjata batin Anda saat pekerjaan mendapatkan tantangan. Fokuskan energi dan perhatian Anda hanya untuk melakukan apa yang diminta dari Anda pada momen itu. Anda tidak boleh bekerja dengan beban dan rasa khawatir dengan tindakan Anda. Kerjakan saja pekerjaan Anda sesuai aturan dan SOP dengan suasana hati yang selalu gembira dan penuh sukacita.

Hak seorang profesional adalah melakukan tugas dan mengambil tanggung jawab penuh atas pekerjaannya, serta tidak menuntut atau berharap pujian atas hasil tindakan. Dalam hal ini, hati yang ikhlas dan tanpa pamrih sangat diperlukan, agar Anda tidak menjadikan pekerjaan hanya untuk memuaskan egoisme Anda. Intinya, Anda tidak boleh terikat dengan ambisi, nafsu, dan egoisme dalam menjalankan pekerjaan Anda. Anda harus menjadi orang bebas yang selalu menggunakan energi kreatif untuk menemukan berbagai solusi terbaik, sehingga semua resiko dan rintangan dapat Anda atasi dengan cara kerja yang profesional.

Proses kerja selalu menghadapi begitu banyak perubahan dan ketidakpastian, disinilah Anda harus memiliki ketenangan dan kepercayaan diri untuk mengatasinya. Jangan pernah memiliki kebiasaan mengeluh atau melihat kekurangan dari situasi yang Anda hadapi. Miliki pola pikir positif dan optimis untuk bisa bekerja dengan sepenuh hati dalam setiap situasi yang penuh ketidakpastian. Miliki tekad dan niat yang kuat, untuk melakukan tugas Anda dengan sungguh-sungguh, dan tidak pernah berhenti sebelum mencapai hasil terbaik. Tidak pernah mengkhawatirkan tentang pilihan cara kerja Anda tersebut. Jangan pernah membiarkan pikiran Anda lari ke sana dan ke sini, tanpa arah yang jelas. Kendalikan pikiran dan disiplinkan pikiran untuk fokus pada momen sekarang, untuk bisa menghasilkan tindakan terbaik di momen sekarang, sehingga Anda bisa menghasilkan pekerjaan yang hebat dan berkualitas tinggi.

Satu-satunya kemampuan mutlak yang ada dalam kuasa Anda di tempat kerja, adalah kesediaan Anda untuk memberikan yang terbaik melalui etos kerja Anda. Jadi, di tempat kerja, jangan terlalu memikirkan tentang sikap dan perilaku orang lain, jangan terlalu banyak memikirkan tentang etos kerja orang lain. Anda hanya mempunyai satu pilihan, yaitu: memberikan yang terbaik dari dalam hati Anda untuk hasil kerja terbaik. Oleh karena itu, miliki pola pikir bahwa kehadiran Anda ke tempat kerja adalah untuk memberikan yang terbaik dari kualitas integritas dan akuntabilitas tertinggi. Anda tidak boleh memiliki pola pikir dan niat untuk meminta ataupun memiliki sesuatu dari pekerjaan Anda. Etos kerja terbaik dihasilkan dari niat dan pola pikir untuk memberi dan melayani tanpa pamrih. Bila Anda pamrih dan berharap sesuatu, dan yang Anda harapkan itu tidak didapatkan, maka Anda akan menjadi marah dan malas. Jelas, orang yang marah dan malas tidak pernah memiliki etos kerja terbaik, mereka hanya menjadi energi perusak di setiap proses kerja.

Orang-orang dengan etos kerja yang hebat tidak pernah bekerja untuk hadiah atau gaji sesuai harapan. Mereka bekerja karena sangat mencintai dan menyukai pekerjaan yang dilakukan. Mereka sangat fokus dan antusias untuk terlibat dengan sepenuh hati di setiap momen proses kerja. Mereka tidak memiliki mind set ‘worth it (worthed) dalam melakukan sesuatu. Artinya, mereka tidak pernah menganggap layak atau patut untuk menerima sesuatu yang lebih besar dari pekerjaan yang mereka lakukan. Jadi, etos kerja terbaik dihasilkan dari kualitas diri yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk pekerjaan yang ditekuni, tanpa syarat. Kalau mental worth it selalu memiliki syarat dari egoismenya. Intinya, etos kerja terbaik dihasilkan dari diri yang bebas dan mandiri untuk melakukan pekerjaan terbaik di setiap momen. Biasanya, orang-orang dengan etos kerja terbaik percaya pada filosofi tabur-tuai. Hal ini, membuat mereka fokus sepenuhnya untuk memberikan dan melayani dengan cara terbaik. Mereka percaya bahwa apa yang ditabur akan dituai, sehingga tidak pernah khawatir atau takut dengan masa depannya. Kabar baiknya, siapa pun yang memiliki etos kerja terbaik, pasti memiliki kehidupan materi dan spiritual yang sangat kaya.  

Anda tidak perlu menunggu perintah dan menunggu motivasi dari orang lain untuk melakukan pekerjaan Anda dengan hebat. Anda tidak perlu membungkuk dan minta dikasihani untuk kesuksesan Anda. Ingat, tidak seorang pun yang bisa memberikan kesuksesan untuk Anda, hanya Anda sendirilah yang bisa memberikan kesuksesan untuk Anda melalui etos Anda yang hebat. Ukuran sukses Anda ada di dalam etos kerja Anda yang hebat, bukan karena pemberian dari orang lain. Orang lain hanya akan memberikan yang terbaik untuk Anda, kalau Anda memiliki etos kerja yang luar biasa. Oleh karena itu, bila Anda ingin karir dan prestasi Anda hebat, maka satu-satunya jalan adalah dengan memiliki etos kerja terbaik. Ketika pekerjaan Anda dihasilkan dari ketulusan dan usaha sepenuh hati, maka pekerjaan Anda akan berbicara sendiri melalui kualitas dan kehebatannya. Anda cukup berlatih terus-menerus untuk rendah hati dan melayani dengan sepenuh hati, pekerjaan Anda pasti mengundang pujian dan kekaguman orang lain.

Sumber etos kerja terbaik berasal dari jiwa spiritual. Kesadaran untuk memberikan yang terbaik dan menyerahkan imbalannya kepada kehendak Tuhan, adalah jalan untuk melakukan pekerjaan dengan tanpa beban dan dengan perasaan merdeka. Keyakinan bahwa rejeki bersumber dari Tuhan adalah fondasi untuk membangun etos kerja terbaik. Jadi, orang-orang dengan etos kerja terbaik tidak mengikatkan dirinya dalam batas imbalan, mereka bebas dan hanya menikmati pekerjaan dengan melupakan arti materi yang dihasilkan dari pekerjaan tersebut. Rasa syukur dan terima kasih kepada kebaikan Tuhan selalu menjadi energi positif untuk bekerja dengan etos terbaik. Dengan doa dan rasa syukur, orang-orang beretos kerja terbaik selalu fokus untuk melakukan pekerjaan dengan kualitas terbaik, dan tidak terlalu peduli atau mengurusi apa yang diterima dari hasil terbaik itu. Niat mereka bekerja adalah melakukan yang terbaik melalui integritas dan akuntabilitas diri yang terpuji.

Orang-orang dengan etos kerja terbaik tidak menunggu pujian dan sanjungan dari manapun. Mereka bekerja karena panggilan hati dari kesadaran tertinggi untuk melakukan yang terbaik. Sanjungan ketika sukses, cacian ketika gagal, tidaklah menjadi bagian hidup dari orang-orang beretos kerja terbaik. Mereka mengoptimalkan semua potensi terbaik dari diri sendiri dan tidak pernah menampilkan perilaku imitasi. Mereka selalu tampil asli dan terus-menerus belajar untuk menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan. Mereka memiliki iman yang begitu suci dan tunduk dalam rasa cinta kepada Tuhan, sehingga memiliki perilaku kerja yang konsisten di jalan spiritual. Orang-orang dengan etos kerja terbaik selalu menjaga hati dan kata-kata di dalam energi positif. Ucapan selalu positif, niat selalu baik, pikiran selalu positif, perilaku selalu optimis dan positif, kerja keras selalu mengikuti aturan dan etika, serta selalu menjaga hati agar ikhlas dan tulus dalam melakukan pekerjaan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MEMPERHATIKAN SIFAT-SIFAT KARYAWAN YANG MEMBUAT BUDAYA PERUSAHAAN KUAT

“Sifat-sifat karyawan yang tidak diinginkan menciptakan budaya perusahaan yang tidak diinginkan. Jangan membiarkan budaya terjadi secara liar dari sifat-sifat yang tidak baik. Latihlah sifat-sifat karyawan yang mampu menguatkan budaya perusahaan yang diinginkan.”~Djajendra

Setiap karyawan harus membawa sifat-sifat yang dibutuhkan perusahaan untuk meraih kinerja terbaik. Sifat-sifat karyawan yang dibutuhkan perusahaan haruslah dirancang dan dikelola dengan baik oleh manajemen. Sifat-sifat karyawan yang dibutuhkan tersebut merupakan fondasi budaya yang diinginkan oleh perusahaan.

Manajemen yang kuat tidak akan membiarkan budaya terjadi oleh sifat-sifat karyawan yang tidak sesuai dengan strategi perusahaan. Sifat-sifat apa saja yang dibutuhkan untuk strategi pastilah dirancang dengan nilai-nilai yang diberikan narasi yang jelas, lalu dikelola secara sistematis untuk menjadi energi positif bagi budaya organisasi yang kuat.

Sifat-sifat karyawan yang membuat mereka terlibat secara total di setiap aspek bisnis dan aspek kerja, serta sifat-sifat karyawan yang menciptakan kebahagiaan dan keharmonisan di tempat kerja, adalah inti dari pembentukan budaya kerja yang kuat. Kegembiraan, kebahagiaan, ketenangan, keharmonisan, rasa syukur, kerja keras, antusiasme, tekun, rendah hati, optimisme, tanggung jawab, kejujuran, kesabaran, disiplin, dan fokus, adalah nilai-nilai yang mampu meningkatkan sifat-sifat positif untuk produktivitas kerja yang tinggi.

Budaya perusahaan yang kuat bekerja melalui sifat-sifat karyawan yang sesuai dengan misi, visi, nilai-nilai, dan strategi perusahaan. Jadi, pertama, top manajemen perusahaan harus memilih dan memutuskan siapa-siapa saja yang cocok untuk menjadi karyawan di perusahaan tersebut. Cocok artinya karyawan-karyawan tersebut sudah memiliki sifat-sifat untuk menggerakan misi, visi, nilai-nilai, dan strategi perusahaan. Bila karyawan belum memiliki sifat-sifat untuk menciptakan kinerja hebat di perusahaan, maka sudah menjadi tugas manajemen untuk mendidik dan melatih semua karyawan secara berkelanjutan agar sifat-sifat yang diinginkan tersebut dapat diberikan oleh karyawan. Jelas, hal ini, harus diawali dengan pembentukan nilai-nilai perilaku kerja yang diinginkan dan juga sistem yang sudah disesuaikan dengan nilai-nilai perilaku kerja.

Ketika perusahaan ingin mempekerjakan orang, pertama, harus selalu dimulai dengan sifat-sifat yang cocok dengan budaya yang diinginkan. Budaya selalu dimulai dari visi pemilik dan strategi pemimpin. Dalam setiap perekrutan, bukan kepintaran yang harus dijadikan pertimbangan utama, tetapi sifat-sifat yang sesuai dengan budaya yang diinginkan. Kepintaran dan kompetensi bisa dilatih dan ditingkatkan dengan mudah, tetapi melatih dan meningkatkan sifat-sifat yang sesuai dengan budaya yang diinginkan tidaklah mudah. Diperlukan kesadaran dan komitmen individu di dalam integritas yang tinggi untuk bisa menciptakan sifat-sifat yang sesuai dengan budaya yang diinginkan.

Sifat-sifat positif karyawan menciptakan energi besar pertumbuhan pada budaya perusahaan yang kuat. Budaya yang kuat menciptakan tempat kerja yang manusiawi untuk mendorong karyawan berkarya dan berkinerja tinggi. Sifat-sifat positif juga menciptakan sistem kerja yang dipercaya bersama, sehingga semua orang dengan gembira mampu berbagi sistem yang baik untuk mencapai kinerja tertinggi.

Setiap merekrut karyawan baru, maka harus dijaga jangan sampai mereka menyalahkan budaya yang diinginkan, lalu membanggakan budaya dari tempat kerjanya yang lama. Oleh karena itu, orientasi budaya merupakan sesuatu yang sangat penting. Setiap karyawan baru wajib menentukan sikap yang tepat dan benar sesuai budaya kuat yang perusahaan inginkan. Jadi, setiap karyawan baru wajib hadir dengan sifat-sifat untuk menguatkan budaya perusahaan yang diinginkan.

Selama proses wawancara, budaya haruslah menjadi hal terpenting. Pastikan calon karyawan memiliki sifat-sifat untuk memperkuat budaya yang diinginkan. Jadi, walaupun seorang kandidat memiliki kecerdasan, pengalaman, dan kompetensi yang hebat. Tetapi, bila sifat-sifat dia tidak sesuai dengan budaya kuat yang diinginkan oleh perusahaan, maka lebih baik tidak direkrut. Terimalah kandidat yang sesuai dengan budaya perusahaan yang Anda inginkan, dan latih mereka untuk berkinerja hebat.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENGUATKAN BUDAYA KERJA BERLANDASKAN CORE VALUES PERUSAHAAN

“Membangun nilai-nilai perusahaan menjadi budaya kerja membutuhkan niat, disiplin, energi positif, dan perilaku setiap hari sesuai nilai-nilai perusahaan.”~Djajendra

Nilai-nilai perusahaan atau biasa yang disebut dengan core values bertujuan untuk membentuk kebiasaan kerja yang baru. Sangat diyakini bahwa bila setiap orang di tempat kerja terbiasa bersikap dan bertindak berlandaskan core values, maka mereka telah turut serta membangun fondasi budaya perusahaan yang kuat. Memiliki budaya perusahaan yang kuat berarti telah menyiapkan strategi yang unggul untuk berkembang dengan kinerja terbaik. Kebiasaan kerja berlandaskan core values menciptakan kekuatan sumber daya manusia yang unggul dan yang siap memenangkan tujuan perusahaan.

Core values hanya bekerja saat karyawan terhubung secara emosional dan fisik dengan core values, lalu mampu memfokuskan perhatian pada setiap momen kerja dengan bantuan energi dari core values. Setiap keputusan dan pilihan di tempat kerja haruslah didapatkan dari energi core values. Core values harus benar-benar menjadi pengetahuan yang solid untuk melaksanakan proses kerja, termasuk dalam pencapaian hasil akhir. Intinya, core values adalah sebuah strategi yang menjadi kebutuhan dasar organisasi, untuk menjalankan operasional dan mendapatkan kinerja terbaik. Disiplin yang tinggi terhadap core values dapat mencegah godaan untuk bekerja di luar sistem dan nilai-nilai budaya yang kuat.

Core values harus sesering mungkin diinternalisasi dan dijadikan kebiasaan dalam perilaku kerja karyawan. Satu kali atau dua kali internalisasi tidak akan pernah cukup. Diperlukan program internalisasi yang terus-menerus di sepanjang waktu agar budaya kerja yang unggul betul-betul terintegrasi ke dalam kepribadian karyawan.

Peran manajemen perusahaan untuk menginternalisasi core values sangatlah penting. Dalam hal ini, core values harus didefinisikan dengan sangat jelas dan sederhana. Bahasa yang mudah dipahami dan kata-kata yang tidak terlalu panjang akan lebih mudah diserap. Menjelaskan core values harus menyentuh ke wilayah fisik dan wilayah rohani karyawan. Emosi dan pikiran harus terhubung ke wilayah rohani agar energi dari core values menyatu ke dalam kepribadian karyawan. Perusahaan harus mengartikulasikan core values dengan tepat agar benar-benar menjadi strategi yang dimengerti dan mampu dijalankan di wilayah eksekusi.

Core values harus betul-betul dijelaskan kepada setiap karyawan dengan bantuan berbagai alat dan cara. Perusahaan harus membuat deskripsi yang mudah dipahami oleh karyawan; perusahaan harus membuat gambar dan contoh dari etos kerja yang diinginkan berdasarkan core values; perusahaan harus membuat video pendek untuk menggambarkan perilaku yang diinginkan perusahaan dari core values tersebut; perusahaan harus membuat buku saku kecil buat setiap karyawan, untuk menjelaskan core values dalam bahasa tindakan yang sangat sederhana; perusahaan harus sesering mungkin mengundang motivator atau narasumber untuk menghidupkan core values ke dalam jiwa dan kepribadian karyawan; perusahaan harus memiliki program-program yang berkelanjutan, untuk membuat core values semakin mendalam pengaruhnya di dalam kekuatan kerja yang dimiliki perusahaan.

Organisasi yang terus-menerus belajar untuk menjadikan core values sebagai DNA organisasi. Artinya, core values menjadi energi genetika perusahaan yang dipergunakan untuk membentuk perusahaan yang kuat dan unggul. Dalam hal ini, manajemen perusahaan harus proaktif mendidik organisasi untuk menguasai core values secara sempurna. Ini semua adalah proses yang panjang, dan jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bila perusahaan dan sumber daya manusia tidak dididik terus-menerus, untuk menguasai core values sebagai perilaku kerja dan cara dalam pengambilan keputusan, maka core values hanya akan menjadi slogan tanpa bisa dijadikan budaya kerja. Jadi, tindakan yang serius dan terencana dari top manajemen, untuk mendidik karyawan dengan core values harus dilakukan dengan banyak cara. Cara-cara seperti: dialog, diskusi, role play, serta berbagai cara lainnya dapat dilakukan dengan disiplin tinggi  agar core values benar-benar terinternalisasi ke dalam jiwa dan kepribadian karyawan.

Core values harus dijadikan sebagai komponen terpenting dalam hal penilaian kinerja karyawan. Dalam hal ini, harus betul-betul dievaluasi apakah sikap dan perilaku karyawan sudah terbentuk dari core values. Jika sikap dan perilaku karyawan belum terbentuk dari core values, maka mereka belum menjadi bagian dari strategi perusahaan. Oleh karena itu, dalam setiap penilaian untuk promosi dan kenaikan gaji, syarat utamanya haruslah si karyawan sudah memiliki sikap dan perilaku sesuai core values. Mengabaikan core values berarti tidak serius untuk membentuk budaya organisasi yang kuat, dan cendrung akan melemahkan organisasi untuk mencapai kinerja dan prestasi terbaik.

Manusia itu dinamis dan suka tidak pasti. Pikiran manusia mudah terpengaruh oleh berbagai pendapat dan pengetahuan. Manusia itu tak terduga dan sangat kompleks persepsinya. Oleh karena itu, walaupun semua karyawan bersumber dari perbedaan dan keberagaman, tetapi semua orang harus disatukan ke dalam core values agar dapat menjadi kekuatan yang solid dalam menjalankan strategi perusahaan. Untuk itu, harus ada aturan yang tegas agar setiap orang dalam proses kerja betul-betul menjunjung tinggi core values. Setiap karyawan wajib menghormati core values dan hanya bertindak berdasarkan core values. Tidak boleh ada tindakan apapun di luar core values. Tidak seorang pun boleh mengubah nilai-nilai kerja sesuai maunya dia, semua orang harus patuh dan taat untuk menjalankan nilai-nilai perusahaan secara sungguh-sungguh, sesuai dengan deskripsi yang dibuat perusahaan.

Sifat core values adalah sebagai fondasi dan sekaligus sebagai tonggak budaya untuk melihat kekuatan budaya kerja. Apa pun situasi dan peristiwa yang dihadapi perusahaan, maka core values mampu menjadi kekuatan untuk melindungi perusahaan dan karyawan. Jadi, bila karyawan bersungguh-sungguh dan sepenuh hati bekerja berlandaskan core values, maka krisis dan kemerosotan bisnis tidak akan menjatuhkan perusahaan ke dalam kegagalan. Perusahaan tetap mampu memperkuat dirinya kembali dan mengatur langkah selanjutnya untuk mengatasi krisis yang dihadapi. Intinya, selama semua orang sangat disiplin menjalankan core values di perusahaan, maka bisnis akan selalu berkelanjutan walau berbagai kesulitan harus dilalui.

Core values harus hidup dan dihidupkan selalu agar mereka menjadi abadi dan konsisten di tempat kerja. Disiplin terhadap core values haruslah menjadi prioritas manajemen. Core values harus dihidupkan dalam realitas kerja, dihidupkan dalam praktek dan tindakan setiap hari. Penjelasan tentang core values dalam bahasa yang singkat dan mudah dimengerti haruslah didistribusikan kepada setiap karyawan dan pimpinan. Setiap orang harus memiliki makna tertulis dari core values perusahaan. Setiap orang harus diberi contoh tentang cara menggunakan core values dalam rutinitas kerja sehari-hari. Manajemen juga harus menyiapkan pemodelan perilaku secara visual atas core values agar core values dapat dipahami dan dijadikan landasan perilaku kerja.

Kemampuan perusahaan untuk membangun cerita melalui core values juga dapat menjadi cara yang efektif dalam proses internalisasi. Setiap nilai dari core values harus digambarkan melalui cerita yang heroik. Kisah-kisah karyawan yang mampu menjalankan setiap nilai dari core values dibuat film dan dijadikan cerita yang heroik. Hal ini juga akan menjadi motivasi dan pengaruh yang kuat untuk proses internalisasi core values. Kemampuan mendongengkan ataupun menceritakan kisah-kisah sukses karyawan bersama core values harus menjadi bagian yang penting dalam proses internalisasi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Older posts

© 2019 MOTIVASI DJAJENDRA

Theme by Anders NorenUp ↑