SUPERVISOR MENGGERAKKAN DAN MENGAWASI OPERASI BISNIS SEHARI-HARI

MOTIVASI SUPERVISOR 09062016

“Supervisor adalah motivator yang bertugas untuk mengawasi, mengarahkan, dan menggerakkan setiap staf dalam mencapai kinerja yang lebih produktif.”~Djajendra

Setiap fungsi di dalam struktur organisasi membutuhkan seorang supervisor yang andal, untuk memastikan kualitas terbaik dari proses kerja. Supervisor bertanggung jawab terhadap rutinitas kerja, dan mengawasi setiap staf dibawahnya dalam melakukan eksekusi kerja.

Supervisor harus cerdas berkomunikasi dan mengkoordinasi staf-stafnya untuk mencapai target dan tujuan. Supervisor bergerak aktif di dalam proses kerja, dan tidak berhak membuat keputusan atau kebijakan apapun. Fungsi supervisor adalah untuk mengoptimalkan kualitas kerja dan kinerja di unit kerja masing-masing.  

Di level unit kerja, seorang supervisor bertugas untuk menjalankan peran motivator dan pengawasan. Supervisor bertanggung jawab untuk memotivasi dan menegakkan disiplin terhadap staf-stafnya. Supervisor bertugas menghadirkan energi positif di lingkungan kerja, serta menghindari konflik, menghindari gosip, menghindari marah, menghindari malas, dan meningkatkan perilaku produktif dari setiap staf.

Supervisor adalah tulang punggung operasional bisnis sehari-hari. Supervisor adalah energi yang menggerakkan roda bisnis dan memungkinkan bisnis tumbuh. Supervisor adalah penjaga kualitas dan bertanggung jawab untuk mengawasi produktivitas individu di unit kerja. Supervisor adalah motivator yang memastikan setiap staf bekerja sesuai uraian tugas. Supervisor bertugas untuk mengawasi, mengarahkan, dan menggerakkan setiap staf dalam mencapai kinerja yang lebih produktif.

Supervisor tidak bertanggung jawab terhadap pekerjaan manajerial, dia bertugas untuk memastikan job deskripsi atau uraian tugas dijalankan secara profesional dan disiplin. Seluruh urusan manajerial menjadi tanggung jawab manajer, bukan tanggung jawab supervisor. Intinya, supervisor fokus untuk menghasilkan kualitas kerja terbaik di dalam rutinitas dan operasional sehari-hari.

Dalam hierarki kepemimpinan, supervisor berada dalam level terendah. Sesungguhnya, supervisor tidak termasuk di dalam hierarki kepemimpinan, supervisor hanya fokus untuk mengawasi dan mengarahkan staf untuk bekerja sesuai tanggung jawab. Tetapi, karena supervisor menjadi atasan dari staf-stafnya, maka supervisor juga harus menjadi pemimpin yang memperkuat hubungan antar staf, termasuk memperlancar proses kerja lintas fungsional di dalam struktur organisasi.  

Seorang supervisor menentukan kekuatan fondasi budaya organisasi. Tanggung jawab dan etos kerja supervisor yang berbudaya kuat, menjadi dasar bagi terciptanya budaya organisasi yang unggul. Di semua aspek bisnis dan organisasi di perlukan peran supervisor yang kuat dan berkualitas tinggi. Supervisor yang hebat dibagian pelayanan, pengawasan, produksi, pemasaran, keuangan, akuntansi, dan lain sebagainya, menjadi fondasi yang mengantar perusahaan untuk mencapai kinerja terbaik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MANAJER HARUS CERDAS MENGELOLA EMOSI POSITIF KARYAWAN

DJAJENDRA PROFILE“Manajer yang andal pasti selalu sadar untuk mengelola emosi positifnya, serta mempengaruhi semua orang yang dikelola untuk beremosi positif dan cerdas.” ~ Djajendra

Manajer adalah orang yang mengelola orang dan pekerjaan. Harus ada keseimbangan dalam mengelola orang dan pekerjaan. Bila manajer gagal menciptakan keseimbangan antara mengelola orang dan pekerjaan, maka kinerja yang diharapkan sulit tercapai.

Untuk mengelola pekerjaan, biasanya tidak sulit, sebab sistem dan tata kelola yang profesional pasti memudahkan manajer untuk mengelola pekerjaan. Tetapi, untuk mengelola orang tidak sederhana, membutuhkan kecerdasan emosional untuk dapat memahami suasana hati dan pikiran dari orang-orang yang sedang dikelola.

Sering sekali, dalam rutinitas kerja, manajer terlalu fokus untuk mengurusi pekerjaan. Manajer menghabiskan waktu dan energi untuk mengoptimalkan performa pekerjaan. Dan, selalu kehilangan waktu dan energi, untuk mengelola suasana hati positif karyawan agar mereka bisa mengoptimalkan performa kerjanya.

Untuk mendapatkan kualitas kerja yang baik, tidak hanya ditentukan oleh sistem dan tata kelola yang profesional. Tetapi, sangat ditentukan oleh suasana hati yang positif, juga karakter kerja yang gesit dan kreatif. Intinya, semakin positif emosi karyawan, semakin hebat mereka merespon tanggung jawabnya dengan sepenuh hati dan totalitas.

Keberadaan seorang manajer adalah untuk membangun hubungan yang positif agar dapat terhubung secara berkualitas dengan semua pihak. Oleh karena itu, manajer haruslah selalu berada dalam suasana hati yang positif, lebih tenang dan lebih mampu menerima informasi secara efektif. Dan juga, lebih merespon dengan gesit, cepat, tepat waktu, produktif, dan kreatif. Manajer yang andal selalu sadar untuk mengelola emosi positifnya, serta mempengaruhi semua orang yang dikelola untuk beremosi positif dan cerdas.

Emosi positif adalah akar kinerja terbaik. Keterampilan dan kompetensi yang hebat saja masih belum cukup. Kemampuan untuk menguatkan kompetensi dan keterampilan dengan emosi positif yang cerdas, akan menjadikan manajer lebih andal dan produktif.

Tugas terpenting seorang manajer adalah membawa keluar performa terbaik dari orang-orang yang dipimpin dan dikelola. Bila ada pekerja yang kurang baik, maka manajerlah yang harus sadar diri untuk meningkatkan kualitas si pekerja. Menyalahkan pekerja yang tidak produktif dan efektif bukanlah solusi. Pekerja yang tidak berkualitas merupakan tanda tidak andalnya si manajer. Jadi, sekarang ini, bukan zamannya untuk menyalahkan orang-orang yang dikelola, tetapi harus meningkatkan kemampuan manajerial diri sendiri agar dapat mengelola orang-orang dengan lebih berkualitas.

Membangun sistem manajemen berkinerja tinggi haruslah dengan kemampuan untuk berinvestasi dalam sumber daya manusia. Manusia adalah elemen terpenting dalam pencapaian kinerja terbaik. Oleh karena itu, sangatlah penting buat perusahaan untuk melakukan investasi agar sumber daya manusianya menjadi lebih andal dan berkualitas. Khususnya, investasi diaspek peningkatan kualitas emosi baik, pikiran baik, dan perilaku kerja yang baik, supaya sumber daya manusia perusahaan dapat menjadi aset yang produktif.

Kecerdasan manajer untuk mengelola emosi positif pekerja akan menghasilkan kualitas moral kerja yang tinggi. Bila kualitas moral kerja mencapai titik optimal, maka perilaku kerja karyawan akan mengalir di dalam keterbukaan, akuntabilitas, integritas, dan loyalitas.

Manajer harus bertanggung jawab untuk membentuk kehidupan emosional positif di tempat kerja. Menjadikan tempat kerja sebagai energi positif, menghidupkan harapan setiap insan perusahaan untuk hidup bahagia di tempat kerja. Emosi baik yang menyebar dari setiap insan perusahaan, akan menjadikan perusahaan memiliki kekuatan positif, untuk menghasilkan kinerja dan karya terbaik.

Untuk pelatihan hubungi www.djajendra-motivator.com

KEKUATAN PUJIAN UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI DAN KINERJA

SG004KEKUATAN PUJIAN UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI DAN KINERJA

“ Pujian Tulus Bila Tidak Diikuti Dengan Kompensasi Ekonomi, Maka Semua Pujian Itu Tidak Akan Bertahan Lama. Sebab, Kebutuhan Hidup Bisa Mengalahkan Semua Pujian Dan Niat Baik.” ~ Djajendra

Pujian adalah bagian terpenting dalam menjaga karyawan untuk tetap termotivasi, dan terlibat dalam pekerjaan mereka. Karyawan yang selalu diberikan semangat dan kepercayaan diri melalu pujian yang tulus, akan menjadi orang-orang yang produktif bersama pekerjaan mereka.

Manajer yang cerdas pasti akan menggunakan kekuatan pujian untuk membangun hubungan kerja yang baik dengan karyawan. Bila manajer tulus memberikan pujian dan selalu menghargai hasil kerja karyawan, maka karyawan akan selalu patuh dan taat dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka dengan efektif.

Pujian yang tulus akan menunjukkan penghargaan. Bila manajer selalu tulus memberikan penghargaan atas kinerja baik karyawan, maka hal itu sudah merupakan sebuah pujian, yang akan membangkitkan semangat, dan merawat motivasi karyawan untuk kemajuan perusahaan.

Dari hasil pengamatan kami terhadap beberapa perusahaan, kami menemukan sangat banyak manajer menjadi sulit untuk memberikan pujian kepada karyawan. Mereka berpikir sudah membayar karyawan dan sudah memberikan job diskripsi, berarti karyawan harus mandiri, dan tidak perlu lagi diberikan pujian.

Para manajer sering lupa bahwa selain dia sebagai manajer, dia juga seorang pemimpin yang seharusnya cerdas memimpin, dan tidak hanya cerdas mengelola fungsinya. Cerdas memimpin berarti cerdas berinteraksi melalui sisi kemanusiaan, untuk membangkitkan rasa percaya diri dari orang-orang yang dia pimpin. Termasuk, selalu menjaga yang dipimpin, agar termotivasi dengan tugas dan tanggung jawab mereka. Hal ini membutuhkan penghargaan dan pengakuan tulus dari pemimpin kepada orang-orang yang dipimpin.

Bila manajer secara teratur memberikan pujian atas prestasi, kinerja, kecepatan, sikap baik, etika, integritas, dan daya tahan karyawan; maka karyawan akan merasa dihargai dan dihormati. Dan selanjutnya, hal ini akan membuat karyawan lebih termotivasi untuk mengerjakan berbagai tantangan, untuk kemajuan dan kesuksesan perusahaan.

Pujian yang tulus juga harus diikuti dengan perhatian terhadap gaji, bonus, atau kompensasi yang sesuai dengan prestasi dan kinerja. Bila pujian tulus tidak diikuti dengan kompensasi ekonomi, maka semua pujian itu tidak akan bertahan lama. Sebab, kebutuhan hidup bisa mengalahkan semua pujian dan niat baik. Bila kebutuhan hidup terus meningkat, dan penghasilan tidak meningkat, maka karyawan pasti hidup dalam tekanan ekonomi. Dan saat mereka hidup dalam tekanan ekonomi, fokus dan perhatian mereka akan lebih condong kepada hal-hal yang sifatnya pragmatis, contohnya fokus kepada cara untuk mendapatkan uang dengan mudah.

Pujian tulus dengan diikuti kompensasi dan penghargaan yang adil, akan meningkatkan perasaan positif, seperti kegembiraan, kebanggaan, kepuasan, dan kesejahteraan.

Ketika manajer memuji karyawan dengan tulus dan jujur, maka karyawan akan merasa berguna dan bermanfaat bersama perusahaan, dan hal ini akan membuat mereka ingin berkontribusi secara terus-menerus untuk prestasi dan kinerja terbaik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

BRIEFING SEBELUM KERJA

PROFILE DJAJENDRA CORPORATE TRAINING 01“Membudayakan Briefing Sebagai Rutinitas Yang Menyatukan Persepsi Dan Semangat Sebelum Kerja, Akan Membuat Karyawan Dan Pimpinan Sadar Akan Tanggung Jawab.” ~ Djajendra

Komunikasi dan motivasi yang jelas akan membuat karyawan mengerti tentang apa yang harus dilakukan hari ini. Tindakan setiap hari melakukan briefing terhadap tim atau unit kerja yang dipimpin, akan dapat menyatukan persepsi dan semangat bersama. Briefing yang efektif akan membuat karyawan terkomunikasi dan terhubung satu sama lain, untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan dan misi hari ini.

Dalam briefing manajer harus menjelaskan misi dan tujuan hari ini dengan tegas dan tepat sasaran. Memulai penjelasan dengan garis besar yang memotivasi, lalu secara terinci menjelaskan peran dan fungsi setiap orang, untuk bertindak dengan fokus pada tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Perhatian yang terfokus pada misi dan tujuan hari ini akan memudahkan setiap orang, untuk mengkonsentrasikan semua energi dan waktu, buat menyelesaikan tugas dan tanggung jawab hari ini dengan berkinerja.

Manajer yang memimpin briefing harus tampil penuh percaya diri. Kecerdasan emosional dan intelektual manajer dalam menjawab dan mengajukan pertanyaan, akan menjadikan dirinya sebagai seorang panutan yang didengar oleh setiap karyawan.

Semua hal yang terlalu kompleks harus disederhanakan agar dapat dikomunikasikan dengan baik. Manajer harus membiasakan diri untuk berbicara dan mendiskusikan setiap hal dalam bahasa yang memvisualisasikan materi yang dibahas. Karyawan harus dibuat sangat nyaman dan sangat mudah mengerti tentang hal-hal yang diinginkan manajer untuk dikerjakan oleh karyawan.

Berbahasa dinamis yang dapat menjaga perhatian karyawan adalah hal yang paling menentukan tingkat penyerapan karyawan atas hal-hal yang disampaikan dalam briefing. Nada suara dan bahasa tubuh, serta suara yang jelas dan tegas harus digunakan saat melakukan briefing.

Dalam sebuah briefing yang efektif diperlukan jiwa sejati seorang pemimpin yang etis dan berintegritas tinggi. Bila kepribadian pemimpin tersebut etis dan penuh integritas, maka dia akan berbicara dari hati nurani yang paling jujur, dan dapat segera menempatkan hati dan pikiran karyawan untuk berjuang menyelesaikan tugas dan tanggung jawab dengan penuh semangat.

Setiap briefing harus dimulai dengan awal yang penuh antusias dan akhir yang penuh keyakinan dalam kepercayaan diri yang tinggi. Manajer harus berdiri digaris paling depan, dan memberikan perhatian penuh terhadap semua kebutuhan karyawan dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab. Kesiapan dan ketegasan manajer dalam melakukan briefing yang berkualitas, akan menjadikan setiap orang bahagia dan merasa berguna dengan briefing tersebut.

Manajer harus selalu memperjelas pemahaman yang akan disampaikan kepada karyawan. Kemudian,  mampu sepenuhnya bersikap positif dan memiliki empati yang tinggi, agar dapat menyatukan persepsi terhadap misi dan tujuan yang harus dijalankan secara bersama-sama, melalui kolaborasi yang bersinergi antara berbagai pihak secara lintas fungsional di tempat kerja.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KUALITAS SEORANG MANAJER

002“Manajer Yang Berkualitas Tidak Hanya Akan Peduli Pada Kompetensi Dan Kontribusi Karyawan, Tapi Juga Sangat Peduli Untuk Meningkatkan Semangat Dan Gairah Kerja Karyawan.” ~ Djajendra

Kualitas seorang manajer akan terlihat dari kemampuan dirinya untuk menyiapkan kualitas dan kompetensi diri, agar dapat terhubung dengan semua staf. Termasuk, menyiapkan kemampuan untuk terhubung secara fungsional dengan semua departemen lain; menyiapkan diri untuk dapat melayani perusahaan dan semua perilaku manusianya; menyiapkan diri untuk membuat dirinya berkontribusi secara berkelanjutan, tanpa terputus oleh tantangan apapun, untuk keberhasilan dari tujuan yang dia pimpin.

Manajer yang cerdas pasti berkemampuan untuk mempengaruhi staf yang dia pimpin, dan berkemampuan untuk mengarahkan staf menuju tujuan yang harus dicapai dengan berkualitas. Ketegasan sikap dan kecerdasan dalam memberikan instruksi yang jelas kepada para staf, akan menjadi kunci sukses dari kepemimpinannya.

Manajer harus menjadi tempat bertanya dan tempat menimba ilmu buat para karyawan. Untuk itu, manajer harus selalu menyiapkan diri, setiap hari menyiapkan diri dengan latihan dan belajar secara berkelanjutan untuk memperkuat pengetahuan, keterampilan, wawasan, kesadaran terhadap tugas dan tanggung jawab sebagai manajer.

Persiapan dan kemampuan manajer untuk menjalankan fungsi dan perannya sebagai manajer sangat menentukan sukses tidaknya sebuah tujuan. Bila manajer tidak siap sebagai seorang manajer, maka para staf pasti akan berpikir bahwa manajer mereka tidak mengerti apa-apa, dan tidak bisa melakukan apa-apa. Dan, sekali karyawan berpikir manajernya tidak berfungsi, maka fungsi dan peran manajer akan kehilangan kepercayaan dari para karyawan. Dampaknya, perjalanan menuju tujuan dan sasaran bisa terhambat.

Menjadi manajer berarti telah memiliki wawasan, pengetahuan, kompetensi, dan visi yang kuat untuk melakukan apa pun, agar dapat menemukan tujuan yang diinginkan dengan sempurna dan tepat waktu.

Manajer harus mengarahkan semua staf untuk selalu fokus pada target, membimbing dan mengarahkan semua karyawan dalam perhitungan bisnis yang benar.

Manajer harus dapat memperlakukan semua staf secara adil dan terbuka. Dan, memonitor kemajuan dari rencana dan tindakan yang dilakukan, bila ada penyimpangan, maka segera harus berkoordinasi untuk melakukan tindakan perbaikan.

Manajer harus menyiapkan kualitas keberanian yang terkalkulasi risikonya untuk bertindak menuju tujuan. Semua sikap dan perilaku yang penuh keraguan harus dihentikan, dan digantikan dengan sikap dan perilaku yang penuh keyakinan dalam kepercayaan diri yang tinggi, agar dapat mewujudkan semua tujuan sesuai waktu yang telah ditetapkan.

Manajer adalah pemimpin dan sekaligus koordinator yang harus memanfaatkan semua bakat dan potensi dari orang-orang yang dipimpin, untuk kemudian diubah menjadi bakat dan potensi organisasi.

Kualitas seorang manajer ada pada mindset dan perilaku untuk mau bertindak sesuai rencana; untuk mau bertindak sesuai komitmen; untuk mau bertindak sesuai misi dan visi; untuk mau bertindak bersama empati yang menyatukan semua orang dalam aliran energi kolaborasi yang bersinergi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PEMIMPIN TIM BERTANGGUNG JAWAB UNTUK MEMBUAT TIM LEBIH BERFUNGSI DAN LEBIH BERKINERJA

SEMI OUTBOUND MOTIVASI DAN TEAMWORK - DJAJENDRAPEMIMPIN TIM BERTANGGUNG JAWAB UNTUK MEMBUAT TIM LEBIH BERFUNGSI DAN LEBIH BERKINERJA

“Pemimpin Tim Yang Berkualitas Pasti Melibatkan Semua Anggota Untuk Mengembangkan Solusi Tim, Dan Memfungsikan Setiap Anggota Untuk Menghasilkan Kinerja Tim.” ~ Djajendra

Ketika membentuk tim untuk menyelesaikan sebuah proyek atau pekerjaan, tim harus dipimpin untuk menjalankan fungsinya secara benar. Pemimpin tim harus menjadi orang yang paling tahu untuk memfungsikan timnya, agar tim dapat menjalankan perannya di bawah koordinasi yang baik.

Pemimpin tim harus menentukan tujuan yang jelas, menetapkan dan menyepakati mekanisme untuk membagi pekerjaan kepada masing-masing anggota tim sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Setiap anggota tim harus patuh kepada peran dan tanggung jawab. Setiap anggota tim harus tahu cara menyelesaikan tugas dan tanggung jawab. Pemimpin harus tampil sebagai koordinator yang dapat menarik sebanyak mungkin kontribusi dari para anggota tim. Dan juga memberikan kontribusi kepada para anggota tim, melalui motivasi dan pencerahan yang terarah pada tujuan keseluruhan.

Anggota tim harus bekerja melalui proses kerja yang terkoordinasi dalam kepemimpinan tim. Setiap anggota tim harus patuh pada prosedur yang digariskan oleh pimpinan tim, dan juga patuh dengan prinsip-prinsip dasar dalam pengambilan keputusan.

Pemimpin tim harus membuat aturan yang menciptakan keterlibatan semua anggota. Membangun budaya kolaborasi yang saling berkontribusi, dan yang saling membantu sesuai fungsi dan perannya. Pemimpin tim harus merawat nilai-nilai bersama, norma, keyakinan, prinsip, dan tata kelola tim yang membentuk perilaku kerja tim setiap hari.

Pemimpin tim harus mengukur kinerja dan kemajuan tim. Menyiapkan langkah-langkah untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja tim. Kemudian fokus untuk memenuhi tujuan tim, mempengaruhi anggota tim untuk berkinerja maksimal,  serta memberitahukan anggota tim tentang konsekuensi bila tidak memenuhi kinerja yang diharapkan.

Pemimpin tim harus bertindak secara efektif untuk meningkatkan efektivitas tim. Menyiapkan sistem kerja yang etis dan menghindarkan tim dari berantakan karena pertengkaran, pertikaian, atau kegagalan terhadap akuntabilitas bersama.

Pemimpin tim harus menjadi motivator yang selalu menjaga dan meningkatkan daya tahan anggota tim, serta menghindarkan anggota tim dari perasaan frustasi oleh rintangan dan tantangan.

Pemimpin tim harus dapat menghindarkan tim menjadi disfungsi, dan selalu bertindak proaktif untuk melakukan perbaikan tim. Membangun kepercayaan diantara anggota tim, dan menghindarkan hal-hal yang menciptakan tidak adanya kepercayaan. Termasuk, menghapus perasaan khawatir akan adanya konflik di dalam tim, meningkatkan komitmen dan akuntabilitas anggota tim, serta mencegah kelalaian anggota dalam memperhatikan tujuan tim.

Pemimpin tim harus menggunakan kekuasaan dan kewenangan, untuk membuat keputusan kelompok, dengan melibatkan semua anggota secara adil dan wajar. Memberikan solusi yang jelas dan tegas terhadap hal-hal kompleks, dan meminimalkan risiko dari potensi masalah.

Pemimpin tim harus memainkan peran sebagai koordinator dalam penyelesaian masalah. Memotivasi setiap anggota untuk melakukan brainstorming dan diskusi secara terbuka. Mengidentifikasi masalah yang mendasari persoalan,  mengembangkan proses pemecahan masalah. Lalu,  memilih arah dan mengembangkan solusi pilihan untuk dipatuhi oleh semua anggota.

Pemimpin tim harus menjadi pemimpin yang tegas dan berdisiplin tinggi, serta membuat semua anggota tim menjadi terbuka, saling berkontribusi dalam kesadaran tanggung jawab sebagai anggota tim, dan patuh pada nilai-nilai, norma, prinsip, tujuan, dan rencana tim.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENGELOLA RASA PERCAYA DIRI ANAK BUAH

Seorang manajer sedang marah memikirkan anak buahnya yang miskin rasa percaya diri.

“Berapa lama lagi sebelum aku kehilangan rasa sabarku, aku dapat bertahan dengan  staf-staf yang rendah diri?” Bisik manajer dalam hati.

Beberapa saat kemudian seorang staf masuk ke ruang manajer, dan melihat wajah manajernya sedang murka. Lalu, dia pun bertanya.” Pak, bapak kelihatan marah?”

“Marah? Aku tidak sedang marah, aku sedang memikirkan cara meningkatkan rasa percaya diri kalian semua, tahu!” Bentak manajer dengan suara marah kepada stafnya.

“Heran, ni bos sudah gila kali ya.” Bisik stafnya dalam hati sambil cepat-cepat meninggalkan ruang manajernya itu.

Beberapa saat kemudian, seorang direksi masuk keruang manajer.

“Kenapa kamu? Kok kelihatan wajahmu bermasalah?” Tanya direksi

“Pak, silakan duduk pak! Aku sedang merencanakan untuk memberikan motivasi kepada staf-staf  dilingkunganku, agar rasa percaya diri mereka itu bisa meningkat.” Jawab manajer dengan gaya sopan santun.

“Oh, begitu. Aku kira kamu sedang mengalami masalah besar dengan hidupmu.” Kata direksi.

“Tugasmu sebagai manajer adalah mengelola rasa percaya diri setiap staf-stafmu. Bila masih ada staf mu yang belum percaya diri, berarti kamu gagal jadi manajer.” Kata direksi.

“Oh, baik pak. Semua staf saya sangat percaya diri, pak! Saya hanya ingin meningkatkannya menjadi lebih super lagi, pak.” Kata manajer dengan suara takut-takut.

“Oke! Menjadi manajer yang luar biasa berarti cerdas mengelola rasa percaya diri para staf .” Kata direksi sambil meninggalkan ruang manajernya.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

SUPERVISOR HARUS CERDAS DALAM MEMIMPIN, MENGAWASI, DAN MENGOPERASIONALKAN

“Supervisor Harus Menjadi Media Yang Unggul Untuk Mengalirkan Komunikasi Dari Atasan Ke Bawahan Atau Sebaliknya Dari Bawahan Ke Atasan.” – Djajendra

Sejatinya pekerjaan supervisor adalah mengawasi sebuah unit atau tim dalam sebuah kepemimpinan dari seorang manajer. Artinya, peran supervisor sangat terbatas yaitu membantu manajer yang memimpinnya untuk mengawasi aktivitas sehari-hari dari sebuah unit kerja. Dalam perkembangannya sekarang, supervisor tidak hanya dituntut untuk membantu manajer dalam mengawasi aktivitas sehari-hari dari sebuah unit kerja atau pun tim. Tetapi, supervisor juga dituntut untuk bisa memimpin, mengawasi, dan mengoperasionalkan orang, sistem, prosedur, organisasi, bisnis, dan aturan yang ada dibawah supervisinya. Artinya, peran supervisor semakin harus mengandalkan berbagai kekuatan untuk bisa mempengaruhi orang-orang yang disupervisi agar bisa memberikan hasil kerja yang berkualitas dan berkinerja tinggi.

Agar peran supervisor dihormati dan diakui oleh bawahan dan atasan, maka supervisor harus memiliki reputasi positif. Reputasi positif harus dimulai dari kemampuan supervisor untuk memperlihatkan kualitas dalam menjalankan fungsi pengawasan, kepemimpinan, dan operasional. Bila supervisor mampu menjalankan ketiga fungsi diatas dengan baik, maka kemampuan supervisor pasti akan memberikan pengaruh positif kepada organisasi secara keseluruhan.

Supervisor harus memiliki perilaku kerja yang mampu memanfaatkan potensi dari orang-orang di bawah supervisinya. Dia harus cerdas memahami bakat dan potensi dari staf-stafnya tersebut, dan mampu mengarahkan mereka semua untuk memimpin diri sendiri dan bekerja lebih baik dengan cara-cara yang lebih efektif dan produktif.

Supervisor dalam aktivitas rutin harus melibatkan semua staf dalam pengambilan keputusan; mampu mendelegasikan pekerjaan dengan batas tanggung jawab yang tegas dan jelas; mampu mengidentifikasi dan menyelesaikan risiko dan masalah dengan cara-cara yang terukur; mampu membuat pekerjaan menjadi lebih menarik dan bermanfaat buat semua pihak; mampu mengintegrasikan tujuan pribadi karyawan menjadi tujuan organisasi; mampu melakukan evaluasi atas semua kemajuan yang diraih oleh dirinya bersama timnya; dan mampu merayakan kesuksesan ketika semua tujuan kerja telah dipenuhi oleh para staf.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com