MOTIVASI DJAJENDRA

Leadership Organization Business Personal Interpersonal Entrepreneurs and Employed Professionals

Category: Cultural Collaboration (page 1 of 3)

Budaya Kolaborasi

SEKARANG INI ZAMAN KOLABORASI, BUKAN LAGI ZAMAN KOMPETISI

“Ketika orang hidup bersama tanpa saling memahami, naluri bertahan hidup mereka mengubah segalanya menjadi pertarungan.“~ Sadhguru

Bersama-sama kita kuat, bercerai-berai kita lemah. Orang yang tidak bisa kolaborasi adalah orang-orang yang sulit meraih hal-hal terbaik. Orang yang tidak terbiasa kolaborasi adalah orang yang tidak mengetahui keuntungan dari kolaborasi. Melalui kolaborasi kita mendapatkan rejeki, karir, dan kehidupan terbaik. Kolaborasi membuat kita mampu bekerja sama dengan orang lain, baik kerja sama langsung maupun yang tidak langsung, yang mendatangkan keuntungan bagi hidup kita.

Semangat kerjasama menghasilkan kesehatan dan kegembiraan bagi kita. Kolaborasi adalah pengabul keinginan, sebab hal-hal yang tidak mampu kita kerjakan atau hal-hal yang tidak kita miliki bisa kita dapatkan dari orang lain. Kehidupan yang berkualitas tidak mungkin tanpa kolaborasi. Tidak seorang pun yang dapat hidup tanpa semangat kerja sama. Walaupun secara pribadi kita tidak suka kepada seseorang, tetapi kita tetap membutuhkan kekuatan mereka agar tujuan kita dapat tercapai. Kolaborasi menyatukan yang tidak bisa bersatu. Kolaborasi adalah tanda kedewasaan dalam menyikapi realitas hidup.

Untuk prestasi individu, kita semua berhak memiliki semangat kompetisi, tetapi untuk mendapatkan hasil terbaik kita semua harus memiliki semangat kerja kooperatif agar pekerjaan besar dapat kita tuntaskan secara bersama-sama. Kemakmuran dan kesejahteraan adalah hasil dari kolaborasi. Walaupun kita berbeda paham dan keyakinan, tetapi untuk urusan kesejahteraan dan kemakmuran kita tidak mungkin bekerja sendiri-sendiri dengan memusuhi yang berbeda dengan kita. Bersatu dalam kolaborasi akan menciptakan kekuatan dan sumber daya yang besar untuk menghasilkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup bersama.

Semua pekerjaan besar tidak dicapai dengan seorang diri, tetapi dicapai dengan tim yang hebat dalam kolaborasi. Uang yang kita terima sebagai penghasilan adalah hasil kolaborasi. Semua kebesaran individual adalah hasil kolaborasi. Kolaborasi menjadikan kita mau bekerja sama dengan semua pihak untuk memajukan tujuan pribadi kita. Semangat persaingan harus digantikan oleh semangat kolaborasi agar kita mampu mendapatkan yang terbaik di dalam hidup kita. Bersaing terus-menerus atau bermusuhan terus-menerus hanya akan menjadikan kita kecil dan kalah di sepanjang hidup. Energi kita akan habis di dalam persaingan dan pemusuhan, sehingga kita tidak memiliki energi untuk bekerja menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran.

Kolaborasi meningkatkan keharmonisan dalam hubungan antar pribadi. Jadi, walaupun berbeda tetap dapat saling bermanfaat dan saling melengkapi. Kedewasaan berpikir dan jiwa besar sangat diperlukan dalam kolaborasi. Empati, toleransi, dan komunikasi positif merupakan fondasi dalam kolaborasi. Kolaborasi juga memberikan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas bagi setiap individu. Melalui kolaborasi, semua pengetahuan yang berbeda-beda itu dapat disatukan dan dimanfaatkan bagi kesejahteraan dan kemakmuran hidup bersama.

Untuk seminar/pelatihan hubungi 0812 1318 8899 / email: training@djajendra-motivator.com

MASA DEPAN MEMBUTUHKAN ORANG-ORANG YANG PINTAR BERKOLABORASI, KREATIF, UNIK DAN CERDAS

“Jangan menghabiskan waktu dan energi untuk memperdebatkan perbedaan, ini adalah jaman kolaborasi, bukan jaman memperuncing perbedaan. Walau kita semua tidak sama, tetapi kita semua harus bersatu untuk mengambil lompatan besar agar kemajuan dapat kita kuasai.”~Djajendra

Orang yang cerdas, kreatif, dan unik sangat mengenal dirinya sendiri. Mereka menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan pikiran mereka, sehingga pikiran tidak liar kesana-kesini. Mereka tenang dan fokus dalam mencari jawaban di dalam diri sendiri. Ide-ide hebat terakumulasi di alam bawah sadar mereka. Sifat mereka sebagai pembelajar yang rendah hati memungkinkan masuknya berbagai pengetahuan dari banyak sumber ke alam bawah sadar mereka.

Orang yang cerdas dan kreatif mampu menumbuhkan suara positif di dalam dirinya untuk terhubung dalam kolaborasi kehidupan. Mereka memiliki hubungan yang hebat dengan diri sendiri, dan hubungan dengan diri sendiri ini membentuk dasar untuk segala hal kreatif dalam hidup mereka. Mereka cerdas menggunakan waktu untuk memahami perubahan yang sedang terjadi. Mereka tidak mau membuang waktu dengan mencampuri kehidupan orang lain. Mereka memfokuskan waktu dan energi untuk menumbuhkan diri sendiri agar dapat beradaptasi dengan perubahan. Mereka rajin melakukan kontemplasi dan refleksi yang mendalam terhadap kemampuan diri sendiri untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Masa depan terwujud melalui perubahan dan kemampuan untuk beradaptasi. Siapa pun yang tidak mau berubah akan dimakan zaman, dan menjadi orang asing di dunia baru. Seperti kata filsuf Yunani Heraclitus, “Satu-satunya hal yang konstan adalah perubahan.” Jadi, perubahan itu pasti dan zaman baru sudah hadir untuk semua orang. Pikiran dan hati yang tidak mau berkolaborasi di dalam kehidupan besar akan terisolasi dalam kehidupan baru. Dunia baru membutuhkan orang-orang yang cerdas, kreatif, dan hebat dalam kolaborasi. Intinya, sekarang ini adalah zaman kolaborasi, bukan lagi jaman kompetisi. Bersatu dalam perbedaan adalah kunci sukses di masa depan.

Keberanian, ketenangan, dan mau belajar dari keadaan adalah cara terbaik dalam menerima perubahan. Jangan menjadikan perubahan sebagai sesuatu yang menakutkan hidup Anda, sebab perubahan itu pasti dan tidak seorang pun yang bisa menghindari perubahan. Ketika Anda mengalami perubahan, terimalah perubahan itu dengan berani dan penuh percaya diri untuk kehidupan yang lebih baik. Ingatlah selalu bahwa segala sesuatu dalam kehidupan ini akan mengalami perubahan. Dan, orang-orang kreatif adalah satu-satunya kekuatan yang dapat memutuskan dan mengelola perubahan untuk keuntungannya.

Sifat dari orang-orang cerdas dan kreatif adalah tidak membiarkan siapa pun yang mendorong mereka ke sebuah situasi yang membuat mereka tidak tumbuh bersama keunikannya. Mereka lebih suka mendengarkan suara hati dan mencoba menemukan cara baru untuk melakukan sesuatu atas tantangan yang dihadapi. Mereka mempertajam ide-ide baru dengan akal sehat, hati nurani, dan selalu bekerja di luar zona amannya. Orang cerdas dan kreatif tidak sekedar mempercayai semua yang mereka dengar. Mereka selalu mengevaluasi semua pengetahuan dan sistem agar siap beradaptasi dengan zaman baru.

Guru orang kreatif adalah dirinya sendiri. Orang cerdas dan kreatif selalu berbicara dengan dirinya sendiri. Mereka tidak akan mengikuti pendapat siapapun, mereka selalu mencari secara kreatif dari kehidupan yang sedang dijalani. Mereka membiarkan semua pengetahuan dari berbagai sumber hadir ke dalam wawasan mereka. Mereka tidak membatasi sumber pengetahuan, sehingga dari mana saja bisa hadir dan semuanya harus berhadapan dengan kekuatan kreatif yang ada di dalam diri mereka.

Sifat utama orang cerdas dan kreatif adalah selalu belajar dengan rendah hati dan terus-menerus mencari pengetahuan baru.Tidak ada hari tanpa belajar. Rasa ingin tahu yang besar terus-menerus memicu semangat mereka, untuk terlibat dalam proses belajar di semua tingkatan. Tidak pernah merasa puas dengan apa yang mereka ketahui, rasa ingin tahu membuat mereka terdorong ke dalam proses lebih lanjut dan mengalami lebih banyak. Mereka menikmati ketidakpastian dan tantangan. Pikiran mereka selalu terlibat dalam percakapan dengan hati nurani, sehingga mendapatkan kekuatan dari dalam diri untuk bertindak dengan berani ketika harus mewujudkan sesuatu yang baru.

Orang cerdas dan kreatif selalu berkolaborasi dan tidak akan memilih berkompetisi dengan siapapun. Mereka yakin bahwa mengubah pikiran kreatif menjadi tindakan memerlukan orang-orang yang hebat di lapangan. Dalam hal ini, mereka percaya bahwa kolaborasi adalah sebuah kekuatan untuk mewujudkan semua hasil kreativitas. Rencana besar dengan energi kreatif membutuhkan dukungan dari semua pihak, kolaborasi mampu mewujudkan rencana besar dengan sempurna.

Untuk seminar/training hubungi 081213188899 / email:training@djajendra-motivator.com

MENINGKATKAN KERJASAMA ANTAR DIVISI DI TEMPAT KERJA

“Ketika hati para pemimpin divisi dikuasai energi kegelapan, maka tidak ada terang yang bisa mengharmoniskan hubungan kerja. Nyalakan cahaya agar terang menemani kerja sama antar divisi untuk kinerja terbaik.”~Djajendra

Semua divisi dalam struktur organisasi bertanggung jawab untuk bergerak ke satu arah, yaitu ke arah visi yang sama. Walaupun fungsi dari masing-masing divisi berbeda, mereka tidak diciptakan untuk menjadi berbeda. Semua divisi diciptakan untuk bersatupadu melalui kolaborasi agar dapat menghasilkan kinerja terbaik. Intinya, tidak boleh ada penghalang untuk kolaborasi di tempat kerja. Setiap devisi harus memiliki kesadaran untuk beradaptasi dengan cara kerja masing-masing fungsi yang berbeda. Perbedaan masing-masing divisi sesungguhnya untuk memperkuat keamanan dan memperkecil resiko organisasi, bukan untuk menonjolkan ego sektoral atau ego fungsinya.  

Sebuah kenyataan bahwa semua divisi dibentuk untuk menjadi kekuatan eksekusi dalam mencapai kinerja terbaik. Ini adalah kenyataan yang harus bekerja di dalam organisasi, bukan setiap divisi saling menonjolkan ego dan melemahkan proses pencapaian kinerja. Produktivitas dan kinerja adalah dua hal yang harus dimiliki dan diperjuangkan secara bersama-sama oleh setiap divisi. Kesadaran para pemimpin divisi untuk bersatupadu di dalam kolaborasi yang solid dan kompak, adalah sebuah tanggung jawab yang harus dijalankan dengan integritas.

Manajemen difokuskan untuk menyatukan semua kekuatan divisi dalam mencapai produktivitas kerja yang tinggi. Saling mendukung, saling tolong menolong, proaktif, dan saling membantu menyelesaikan semua prioritas kerja, haruslah menjadi etos dari semua divisi. Kurangnya kerja sama dan empati antara divisi berdampak negatif terhadap pencapaian kinerja. Semua pimpinan divisi harus meninggalkan ego masing-masing, serta mampu mengalir di dalam kolaborasi dan koordinasi yang produktif bagi pencapaian terbaik.

Koordinasi dan kolaborasi adalah kekuatan yang tidak boleh diabaikan. Bila diabaikan, maka perusahaan berpotensi kehilangan produktivitas kerja. Akibatnya, proses kerja menjadi tidak efektif dan produktif; masalah akan menumpuk tanpa mendapatkan solusi yang tepat. Di samping itu, moralitas dan disiplin kerja akan turun, dan semua orang bekerja seadanya tanpa memiliki fokus dan gairah untuk mencapai target.

Mengembangkan sikap positif dan menciptakan budaya kerja yang fokus pada pencapaian terbaik. Untuk itu, setiap divisi harus dibukakan hati dan pikirannya agar mereka sadar tentang keberadaan mereka di tempat kerja. Semangat untuk selalu bekerja sama, melayani, berkontribusi, dan menyumbangkan ide-ide atau solusi yang tepat, haruslah menjadi perilaku kerja sehari-hari. Kebersamaan di dalam perbedaan fungsi kerja harus dijaga demi menciptakan budaya kerja yang unggul. Kesadaran untuk mengembangkan sikap rendah hati dan ikhlas melayani yang lain menjadi sesuatu yang penting.

Salah satu penyebab perusahaan menjadi tidak sehat karena rasa tinggi hati dari masing-masing pimpinan divisi terhadap pemimpin divisi yang lain. Saling berkompetisi untuk mendapatkan tempat istimewa di hati dewan direksi menjadikan kerja divisi kurang berkolaborasi. Bila hal ini terus-menerus berlangsung, maka perusahaan berpotensi menderita kerugian dan kehilangan peluang untuk mencapai kinerja terbaik. Oleh karena itu, peran direksi untuk mengkoordinasi semua divisi secara adil dan profesional, serta memotivasi semua pimpinan divisi untuk selalu bekerjasama dan berkolaborasi dengan baik, akan meningkatkan kinerja divisi.

Para pimpinan divisi harus saling percaya satu sama lain, dan menyatukan staf-stafnya di dalam hubungan kerja yang saling melengkapi. Semua pimpinan divisi harus bersama-sama bergerak secara efektif dan produktif untuk mencapai tujuan perusahaan. Hindari konflik sejauh mungkin, sebab konflik dari pimpinan divisi bisa mempengaruhi dan menarik karyawan dan manajemen ke dalam konflik. Dan harus diingat bahwa konflik hanya memperbesar masalah dan menyulitkan penyelesaian pekerjaan. Dampaknya, produktivitas akan turun dan etos kerja menghilang.

Hubungan kerja yang produktif tidak pernah dibangun dari hubungan antagonis; hubungan yang penuh cinta dan peduli di dalam perusahaan akan meningkatkan produktivitas.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENGKOORDINASI DAN TERKONEKSI SECARA SOLID UNTUK BISA MENGEKSEKUSI RENCANA MENJADI TINDAKAN YANG TEPAT

VISI 29022016

“Visi adalah harapan. Visi adalah masa depan. Tanpa visi yang jelas sulit melangkah menuju masa depan.”~Djajendra

Dengan mengkomunikasikan visi, pemimpin menempatkan dirinya untuk bekerja sesuai arah, serta mampu menghubungkan karyawan dengan tujuan perusahaan yang lebih besar. Pemimpin menyediakan nilai-nilai yang tepat bagi karyawan untuk menjadi perilaku kerja yang menguatkan budaya kerja. Pemimpin menyediakan misi yang jelas agar setiap karyawan mampu bertindak dan membantu rutinitas yang ditargetkan. Nilai-nilai budaya kerja yang tepat mampu menciptakan perilaku kerja yang menggeser fokus dari ketakutan akan kegagalan menjadi fokus pada keyakinan untuk mencapai kemenangan. Pada saat nilai-nilai budaya kerja menyatu dengan suara hati, maka setiap karyawan mampu saling bekerja bersama dalam misi mereka. Mereka dengan mudah saling terkoneksi, dan pemimpin dapat melakukan koordinasi secara tepat.

Cara menggunakan visi, nilai-nilai, dan misi hanya efektif pada saat koordinasi dan koneksi dijalankan secara tepat dan produktif. Hal inilah yang bisa menciptakan budaya eksekusi yang kuat dan produktif. Hubungan antar manusia dalam ikatan nilai-nilai budaya kerja menciptakan keunggulan kompetitif dalam proses. Proses kerja yang berkualitas dihasilkan dari budaya koneksi yang meningkatkan kolaborasi bersama, serta semua bagian kerja harus mampu memperlihatkan keunggulan melalui fungsi dan perannya masing-masing.

Pemimpin bekerja dengan menciptakan budaya yang menghubungkan satu sama lain di dalam visi bersama. Visi bersama dikomunikasikan, serta dimotivasi kepada semua karyawan agar mereka terinspirasi untuk bekerja sepenuh hati dalam mencapai tujuan. Setiap karyawan dalam budaya koneksi dan koordinasi mampu bekerja dengan lebih produktif karena mereka bisa terhubung satu sama lain dengan mudah. Tidak ada penghalang. Tidak ada penghambat. Dalam hal ini, seluruh kepemimpinan di dalam perusahaan, di semua level kepemimpinan, harus tegas dan peduli untuk berkoordinasi dan terkoneksi dari hati ke hati agar tindakan yang tepat dapat segera dilakukan, untuk mencapai target yang telah ditetapkan.

Koordinasi dan koneksi dari hati ke hati mempererat hubungan kerja, yang pada akhirnya meningkatkan kinerja masing-masing individu. Hubungan kerja antar pribadi yang positif meningkatkan kualitas empati dan toleransi. Semua orang dalam hubungan kerja yang sehat merasakan bahagia, tenang, sehat, dan bisa fokus pada pencapaian prestasi terbaik. Persatuan dan koordinasi yang tepat adalah kunci untuk mencapai kesuksesan di dalam organisasi.

Visi membutuhkan persatuan dan koordinasi yang solid dan tepat, hanya dengan persahabatan kerja yang solid dapat mencapai kinerja terbaik. Oleh karena itu, seseorang sebelum bergabung dengan perusahaan, dia harus bisa meyakinkan dirinya sendiri untuk menjadi pribadi yang tunduk dan bekerja sesuai dengan nilai-nilai budaya kerja. Hubungan antar pribadi yang positif adalah salah satu bagian terpenting dalam membangun budaya organisasi yang kuat. Hubungan yang terkoneksi dengan sempurna dapat meningkatkan keterlibatan karyawan, meningkatkan suasana kerja yang harmonis dan penuh semangat, meningkatkan kinerja, meningkatkan produktivitas, meningkatkan inovasi, serta meningkatkan kesehatan dan kebahagiaan setiap individu.

Koordinasi kepemimpinan tidak hanya menyatukan orang secara fisik, tetapi juga mampu mengartikulasikan visi yang jelas berdasarkan fondasi nilai-nilai inti organisasi, sehingga karyawan dapat menggunakan nilai-nilai inti perusahaan sebagai fondasi perilaku dan karakter kerja sehari-hari. Di samping itu, pernyataan misi juga harus sederhana dan jelas sehingga mudah dipahami dan dapat ditindaklanjutkan dengan aksi yang tepat.

Visi adalah harapan. Visi adalah masa depan. Tanpa visi yang jelas sulit melangkah menuju masa depan. Tugas pemimpin adalah menjelaskan visi dan memotivasi karyawan agar tidak mengabaikan misi, serta mengajari karyawan untuk menjadikan nilai-nilai budaya kerja sebagai perilaku sejati di tempat kerja. Dan, untuk semua ini, membutuhkan koordinasi dan koneksi yang solid dan utuh dari hati ke hati.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENINGKATKAN KUALITAS HUBUNGAN KERJA

LOGO“Hierarki boleh sangat berlapis-lapis dan itu bagus, tetapi mental kerja harus tunduk pada kolaborasi kerja yang cepat dan produktif.”~Djajendra

Empati, akuntabilitas dan kolaborasi adalah kata-kata yang sangat penting untuk peningkatan kualitas hubungan kerja. Empati menghubungkan dan menyatukan hati, akuntabilitas meningkatkan rasa tanggung jawab dan membuat orang bertanggung jawab penuh, kolaborasi membuat orang bergerak secara sadar untuk melayani proses kerja dengan sepenuh hati dan saling membantu mempercepat pencapaian.

Hubungan kerja melekatkan kewajiban sosial terhadap satu sama lain dalam struktur organisasi. Ketika kesadaran sosial meningkat di tempat kerja, setiap orang akan menyatu dalam kolaborasi kerja dengan empati dan akuntabilitas yang tinggi.

Struktur organisasi bila dikuasai oleh kepentingan pribadi, gila hormat dan haus kekuasaan; maka, mereka akan menciptakan hierarki dengan birokrasi berlapis yang dengan sengaja memperlambat dan mempersulit. Sesungguhnya, hierarki dalam struktur organisasi bermaksud untuk menguatkan sistem pengawasan di dalam organisasi. Persoalannya, kekuasaan yang dimiliki bisa membuat seseorang sesuka hatinya, sehingga dia lupa bahwa hierarki yang berlapis-lapis itu harus dijalankan secara efektif dan produktif. Oleh karena itu, di setiap level manajemen, seperti: di level bawah (first line), menengah (middle management), dan top manajemen (senior management) harus bekerja dengan empati yang tinggi, kreatif, akuntabilitas yang tinggi, terbuka, dan mengalir cepat dalam kolaborasi kerja.

Hierarki boleh sangat berlapis-lapis dan itu bagus, tetapi mental kerja harus tunduk pada kolaborasi kerja yang cepat dan produktif. Struktur organisasi dengan hierarki berlapis bukanlah bertujuan untuk memperlambat, tetapi bertujuan agar setiap orang bertanggung jawab penuh dalam setiap tindakannya. Hierarki berlapis dimaksudkan agar kesalahan dan risiko dapat dicegah melalui proses kerja, sehingga hasil akhir bebas dari masalah.

Sekarang ini, muncul tren baru untuk meninggalkan hierarki dan menjalankan holacracy. Holacracy bekerja dalam kelompok dan bukan hierarki, tujuannya agar birokrasi berlapis itu bisa dihapus dan diganti dengan kecepatan kerja tanpa birokrasi. Baik dan buruknya Holacracy dalam struktur organisasi dapat ditemukan melalui pengalaman dan waktu.

Kualitas hubungan kerja haruslah dibangun di atas empati, akuntabilitas dan kolaborasi. Bila ke tiga pilar ini menguat dalam jaringan kerja atau dalam struktur organisasi, maka setiap orang mampu fokus pada tugas dan tanggung jawabnya secara efektif dan produktif.

Struktur oraganisasi haruslah menjadi komitmen di internal untuk membangun jaringan organisasi yang kuat dan solid. Jaringan organisasi internal yang kuat dapat menjadi alat sosial perusahaan untuk menyatukan dan menemukan bakat-bakat terbaik. Dan, ini semua haruslah menjadi alat kolaborasi untuk pencapaian terbaik.

Dalam organisasi selalu ada pemimpin formal dan informal. Pemimpin formal pasti menduduki posisi dan jabatan dalam struktur organisasi, biasanya mereka menjadi bagian dari birokrasi berlapis. Sebaliknya, pemimpin informal muncul oleh kebutuhan orang-orang di sekitar. Pemimpin informal muncul dari jaringan, lalu memimpin kolaborasi tanpa memiliki kekuasaan apapaun dalam hierarkis organisasi.

Peningkatan hubungan kerja harus diawali kesamaan visi dan energi. Bila semua orang berada dalam satu visi dan satu frekuensi energi, maka hubungan kerja menjadi harmonis di dalam kolaborasi yang efektif dan produktif.

Kualitas hubungan kerja yang baik haruslah mengalir melalui etos dan budaya organisasi yang kuat. Hubungan kerja yang baik membangun kesadaran untuk bekerja dan terlibat dalam pekerjaan bersama. Setiap individu yang sadar untuk berkolaborasi secara ikhlas dan penuh tanggung jawab menjadi kekuatan yang menciptakan etos kerja yang kuat di dalam budaya organisasi yang kuat dan andal.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KOLABORATOR MEMBUAT STRUKTURAL DAN INTERPERSONAL BERADA DALAM FREKUENSI YANG SAMA

[wpdevart_youtube]UawlGpqsFe4[/wpdevart_youtube]

“Kolaborasi merajut kekuatan internal menjadi sangat kuat dan bergerak bersama solusi untuk pencapaian terbaik.”~Djajendra

Kolaborasi adalah dasar untuk mengeksekusi sebuah proyek dengan tepat. Kolaborasi berarti semua orang bersatupadu di dalam kerja sama yang terikat untuk mencapai tujuan. Tidak ada kepentingan apapun selain kepentingan pencapaian tujuan. Oleh karena itu, kolaborasi mampu mengatasi konflik, mengatasi kepentingan pribadi atau kelompok, serta mampu mengatasi ego individu dan ego sektoral. Kolaborasi yang baik dapat meningkatkan pencapaian dan mengurangi potensi kegagalan.

Organisasi bisnis memiliki berbagai fungsi dan peran yang dibutuhkan untuk menjalankan strategi. Walaupun setiap fungsi dan peran memiliki perbedaan orientasi pekerjaan, tetapi harus menyatu melalui kolaborasi untuk mencapai tujuan inti bisnis. Setiap perbedaan harus menyatu dan mengalir dengan sempurna di dalam aliran kolaborasi.

Kolaborasi meningkatkan kecepatan, mengoptimalkan kapasitas dan memperbanyak peluang. Ketika orang-orang sudah mengalir sempurna di dalam kolaborasi, mereka menjadi pabrik penghasil ide-ide terbaik yang dapat diimplementasikan dengan sempurna. Tidak akan muncul kesulitan saat semua orang bersatupadu secara ikhlas di dalam aliran kolaborasi yang produktif.

Dalam aliran kolaborasi; semua bakat, pengetahuan, wawasan, pengalaman dan energi positif menyatu untuk menghasilkan kinerja. Kolaborasi merajut kekuatan internal menjadi sangat kuat dan bergerak bersama solusi untuk pencapaian terbaik. Semua masalah dan tantangan selalu dapat dituntaskan di tempat munculnya masalah tersebut, sehingga semua rintangan dan tantangan dapat dimatikan sejak dia masih kecil.

Kolaborasi membuat organisasi bergerak dengan cepat, efektif, lincah, produktif, kreatif dan selalu berbagi di dalam kerjasama yang solid. Kolaborasi menjadikan setiap individu dan tim sebagai mitra berharga yang saling membantu dengan ikhlas untuk mencapai tujuan.

Karena kolaborasi menyatukan semua energi organisasi untuk fokus pada tujuan dan kepentingan organisasi, maka semua orang harus mendapatkan kejelasan dan kepastian. Tidak boleh ada kebingungan di dalam kolaborasi, semua orang harus tahu dan sadar tentang pentingnya hubungan kerja dengan etos yang menjadikan semua orang cepat dan produktif.

Kolaborasi harus diikuti dengan tanggung jawab penuh. Setiap bantuan, kontribusi, informasi, pengetahuan, wawasan, pengalaman dan aliran kerja harus di dalam rasa tanggung jawab yang tinggi. Tanggung jawab yang tinggi mengurangi konflik, dan juga mengurangi ketergantungan.

Bisnis membutuhkan kecepatan dan ketepatan. Bisnis membutuhkan waktu dan tempat yang tepat untuk meraih keuntungan. Bisnis membutuhkan momen yang paling tepat untuk mengeksekusi strategi. Bisnis yang hebat selalu memiliki tindakan yang membuat pesaing tidak berkutik. Oleh karena itu, kolaborasi harus menjadi kekuatan yang memastikan keberhasilan dari semua ketidakpastian di dalam organisasi. Setiap kolaborator harus cerdas mengidentifikasi semua potensi risiko dan menyiapkan energi bersama untuk mengambil langkah-langkah tepat bagi pencapaian terbaik.

Kolaborasi berarti secara struktural dan interpersonal harus berada dalam frekuensi yang sama, sehingga jarak organisasi dan jarak relasional sangat dekat, serta menyatu di dalam soliditas bersama yang produktif.

Para kolaborataor yang cerdas selalu siap berkeringat untuk sukses yang lebih baik daripada menangis selama kegagalan. Menyatukan dan mengalirkan proses bisnis dengan sempurna, serta mengatasi hambatan dan perbedaan untuk sebuah hasil akhir terbaik.

Tujuan utama kolaborasi adalah menguatkan keyakinan dan meminimalkan keraguan. Kolaborator terbaik selalu sadar untuk menyatukan jiwanya di dalam misi organisasi. Mereka menyiapkan dirinya untuk bisa hidup bahagia di dalam satu visi dan satu budaya. Mereka membangun strategi bersama untuk mencapai hasil akhir dengan kecepatan tinggi. Mereka menyatu ke dalam kelompok berenergi positif dan mengalir dengan produktif di setiap batas wilayah proses kerja. Mereka menjadi kekuatan yang mempercepat aliran bisnis dan membersihkan semua penyumbat dengan segera.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

INTEGRITAS MENGHASILKAN SOLIDITAS KERJA

DJAJENDRA 2015INTEGRITAS MENGHASILKAN SOLIDITAS KERJA

“Organisasi tanpa integritas menjadi mudah dipecah dan diruntuhkan oleh orang-orang dari dalam.”~Djajendra

Menurut keyakinan kuno orang Yunani dan Mesir, manusia digambarkan lebih rendah dari dewa dan lebih tinggi dari binatang. Karena manusia berada diantara dewa dan binatang, maka manusia harus memiliki integritas agar bisa lebih mirip dewa daripada binatang.

Apa itu integritas? Integritas merupakan sebuah perilaku kehidupan yang keluar dari kepribadian asli seseorang. Biasanya, perilaku dan kebiasaan baik, seperti: ketulusan hati, ikhlas, jujur, adil, utuh, tidak serakah, terhormat, beretika, tidak korupsi, dan semua perilaku mulia yang sifatnya konsisten dan bersumber dari hati nurani.

Di tempat kerja, integritas merupakan sebuah perilaku yang sangat penting dan menentukan keberhasilan misi dan visi organisasi. Sikap dan perilaku integritas menciptakan keadilan dan kebaikan untuk semua orang. Ketika integritas menjadi budaya kerja, maka semua orang di tempat kerja akan bekerja keras, melakukan yang terbaik, dan memberikan loyalitas secara ikhlas dan tulus kepada perusahaan mereka. Integritas adalah kunci untuk menciptakan keharmonisan dan keadilan di tempat kerja.

Biasanya, di tempat kerja, implementasi integritas dimulai dari nilai-nilai perusahaan (corporate values), untuk menciptakan insan korporasi yang bisa dipercaya dan diandalkan. Dalam hal ini, nilai-nilai tersebut haruslah ditaati dan dihormati oleh semua orang. Dan, semua orang harus meyakini dan menyetujui nilai-nilai tersebut dari hati terdalam mereka. Setiap insan perusahaan harus memberi kepercayaan yang tinggi terhadap nilai-nilai tersebut. Selain itu, perusahaan harus membuat kode etik untuk semua unit kerja, untuk setiap fungsi dan peran kerja, dan juga membuat etika bisnis untuk dipatuhi oleh semua stakeholdernya.

Integritas membentuk soliditas kerja yang hebat dan andal. Ketika integritas sudah membudaya dan menjadi perilaku sehari-hari di tempat kerja. Maka,  semua orang menjadi mudah berkolaborasi dan berbagi kebaikan di tempat kerja. Semua orang akan memperlihatkan sikap baik, penuh senyum, tegur sapa yang sopan, dan saling menjaga kemuliaan masing-masing. Ketika masalah datang, kekuatan kolaborasi mampu bersinergi untuk menuntaskannya. Soliditas, kebersamaan, keterikatan batin, dan perasaan ingin membantu akan  menjadi kekuatan yang menyatukan semua orang dalam satu visi, satu budaya kerja, dan satu misi.

Integritas menciptakan para teladan, para model yang bermoral mulia. Integritas menciptakan cara kerja dan cara hidup bermoral mulia; serta mampu menularkan kepada orang lain melalui keteladanan sikap, perilaku, kebiasaan, dan gaya kehidupan yang terhormat.

Integritas menciptakan perilaku kerja yang hati-hati, rendah hati, waktu yang terkelola dengan produktif, emosi yang terkendali, serta meningkatkan reputasi dan kredibilitas dari masing-masing individu. Dan hal ini, menjadi kekuatan untuk meningkatkan keyakinan pada rekan kerja, atasan, bawahan, dan stakeholder lainnya. Pada akhirnya, setiap individu atau insan perusahaan menjadi orang-orang yang dapat dipercaya oleh siapapun di lingkungan tempat kerja.

Integritas menjadikan insan perusahaan tidak lagi menyembunyikan kekurangan dan kelemahan. Tidak lagi ada tempat untuk ketidakjujuran. Semua orang menjadi jujur dengan realitas dirinya, serta mengakui kelemahan dan keterbatasan yang dimiliki. Hal inilah yang akan menjadi fondasi untuk memperkuat soliditas kerja. Sikap rendah hati akan menjadi dasar untuk saling menghargai kejujuran.  Di sini, akan ada kesadaran bahwa tidak ada seorangpun yang sempurna atau paling pintar. Hanya sikap rendah hati dan kejujuran bersama yang mampu menciptakan perilaku integritas.

Perilaku integritas akan membuat orang-orang fokus pada kekuatan, kompetensi, dan kemampuan masing-masing. Setiap orang sadar untuk mengerjakan bagiannya dengan sempurna dan berkualitas. Mereka tidak akan fokus untuk menyalahkan orang lain atas masalah yang timbul. Mereka akan membantu untuk menuntaskan masalah dan menemukan solusi yang tepat. Mereka akan bekerja dan bertindak dalam standar pribadi yang berkualitas tinggi. Mereka tidak akan asal kerja, selalu menunjukkan konsistensi karakter kerja yang diekspresikan melalui kejujuran, transparansi, akuntabilitas, dan komitmen untuk menjalankan etika secara profesional.

Walaupun seseorang memiliki bakat dan keterampilan yang lebih dari yang lainnya, dalam budaya integritas hal ini tidak akan dijadikan untuk menyombongkan diri. Tidak akan ada obsesi atau kecendrungan untuk menempatkan dirinya menjadi yang pertama, atau yang paling hebat. Tidak akan ada sikap saling mencurigai. Tidak ada perilaku saling menjatuhkan.

Memang betul. Manusia hadir membawa kekuatan baik dan kekuatan buruk di dalam dirinya. Dimana, kekuatan baik dan buruk ini kapan saja bisa saling bergantian tampil untuk mengekspresikan dirinya, seperti siang dan malam, seperti gelap dan terang. Tetapi, dalam budaya integritas, hanya hal-hal baik di dalam kerendahan hatilah yang akan muncul.

Integritas menyatukan semua sikap, perilaku, perbedaan, dan keragaman. Integritas menjaga agar semuanya bersatupadu di dalam keharmonisan kerja. Di mana, hal ini tidak mungkin dapat diwujudkan tanpa integritas. Biasanya, organisasi tanpa integritas menjadi mudah dipecah dan diruntuhkan oleh orang-orang dari dalam.

Integritas diperlukan untuk membangun dan mengelola praktek bisnis atau proses kerja yang berkualitas tinggi. Di sini, kejujuran dan kebenaran selalu hadir untuk mengharmoniskan berbagai sikap dan perilaku berbeda; mengharmoniskan berbagai keyakinan dan kepercayaan yang berbeda; mengharmoniskan berbagai persepsi dan logika berpikir yang berbeda. Integritas adalah tentang konsistensi perilaku etis yang memberdayakan sumber daya untuk menghasilkan kinerja terbaik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENGELOLA TIM: MENYATUKAN SIFAT, KEBIASAAN, DAN PERSEPSI ANGGOTA TIM

LEADERSHIP 2014“Bersatu semakin kuat dan tangguh, bercerai-berai semakin kehilangan kekuatan untuk meraih sukses.”~Djajendra

Setiap individu hadir dengan sifat dan kebiasaan hidup yang beragam. Ketika para individu ini disatukan ke dalam sebuah tim, maka perlu diperhatikan tentang sifat dan kebiasaan dari masing-masing orang. Sifat dan kebiasaan hidup beragam yang dibiarkan berpotensi merusak kebersamaan dalam tim. Penyatuan persepsi di dalam tim sifatnya mutlak. Selama persepsi belum menyatu, selama itu, dari waktu ke waktu, berpotensi menciptakan kebingungan dan konflik di dalam tim. Tim yang profesional dan kuat selalu cair di dalam proses kerja, selalu solid dan fokus pada tujuan tim.

Pengelolaan tim harus fokus untuk menumbuhkan semangat kerja, meningkatkan potensi sukses, memelihara kebersamaan dan soliditas, dan melibatkan semua individu untuk menguatkan tim dalam menghadapi berbagai kemungkinan di depan.

Pengelolaan tim tidak hanya bertugas mengawasi sifat, kebiasaan, dan menyatukan persepsi, tetapi juga perlu mengelola realitas dengan cerdas. Realitas adalah kebenaran yang sedang dihadapi. Anggota tim tidak boleh membiarkan pikirannya dan realitas tumpang tindih. Mereka harus mampu memisahkan mana realitas, mana impian, mana harapan, mana imajinasi. Kemampuan memetakan realitas akan memudahkan tim, untuk menemukan solusi dan membuat keputusan yang tepat.

Strategi yang tepat dan rinci dapat mengarahkan tim. Fungsi dan peran masing-masing individu harus dapat dioptimalkan untuk mencapai tujuan tim. Tim dikelola agar para individu tidak terjebak dalam niat yang sangat berbeda. Semuanya harus disadarkan bahwa kerja tim adalah kerja di dalam kebersamaan. Ego individu harus dihilangkan, soliditas dan kebersamaan persepsi harus dikuatkan.  

Bersama-sama dalam satu arah, dalam satu fokus, dalam satu kekuatan sikap, dan dalam satu eksekusi untuk sukses. Soliditas dan jiwa korsa tim menentukan kualitas eksekusi tim. Mengelola merupakan tugas pemimpin tim. Pemimpin tim yang baik pasti mampu menyatukan semua perbedaan individu untuk penguatan soliditas kerja.

Manajemen tim harus selalu fokus pada kekuatan intinya, yaitu: hubungan, soliditas, kolaborasi, komunikasi, sinergi, jiwa korsa, toleransi, empati, dan menjadi satu jiwa. Pengelolaan tim tidak hanya bertujuan untuk mencapai target dan tujuan organisasi. Ini adalah proses menciptakan satu jiwa dari banyak jiwa. Ini adalah mengubah individu menjadi tim yang kuat dan unggul. Ini adalah proses pembentukan kekuatan besar dari akumulasi kekuatan-kekuatan kecil. Ini adalah tentang menarik energi dan potensi sukses individu ke dalam energi dan potensi sukses kelompok besar. Ini adalah tentang penyatuan kekuatan agar organisasi bisa menjangkau ke wilayah kerja, yang tak mungkin bisa diselesaikan oleh seorang diri.

Anggota tim harus mampu mengkonversi sifat dan kebiasaan kerja sesuai budaya organisasi. Hal ini akan menyempurnakan hubungan kerja berbasis budaya kerja yang kuat. Budaya yang kuat dan profesional akan membiasakan individu untuk memiliki sifat, sikap, perilaku, dan karakter kerja sesuai dengan nilai-nilai inti budaya kerja.

Tim yang kuat selalu memiliki motif kerja yang jelas dan terang. Tidak ada seorang pun yang memiliki motif atau sifat-sifat tersembunyi. Semuanya bekerja secara terbuka, penuh tanggung jawab, jujur, dan saling memberikan atau mendapatkan umpan balik dari proses kerja bersama.

Nilai-nilai inti budaya kerja berfungsi untuk mengikat semua individu di dalam jiwa korsa dan soliditas kerja. Ketika nilai-nilai kerja menjadi pengawal dan pengawas sifat dan kebiasaan individu, maka nilai-nilai tersebut mampu menjadi alat untuk mengukur hasil akhir dari karakter kerja individu.

Nilai-nilai budaya yang dipatuhi dengan integritas dan tanggung jawab, akan menjadi penunjuk arah kerja terbaik. Membuat anggota tim tidak ragu, mampu mengelola kebersamaan, dan secara bersama-sama mampu mengambil tindakan yang tegas dan terarah menuju tujuan.

Mengelola tim untuk meningkatkan kualitas kebersamaan di dalam soliditas kerja.  Bersatu semakin kuat dan tangguh, bercerai-berai semakin kehilangan kekuatan untuk meraih sukses. Interaksi tim yang penuh tanggung jawab, serta kemampuan kepemimpinan tim untuk mengelola sebuah komunitas kerja yang solid dan kompak sebagai tim, adalah keunggulan yang menjadikan organisasi mencapai tujuan dengan sukses.

Pengelolaan tim yang baik dapat memotivasi dan meningkatkan integritas individu untuk lebih produktif. Semakin produktif dan berkinerja para anggota tim, semakin mampu mereka bekerja untuk meningkatkan reputasi organisasi. Pengelolaan tim tidak hanya fokus untuk hasil akhir terbaik, tetapi juga untuk membangun reputasi dan kredibilitas organisasi yang andal di persepsi stakeholders. Tim yang hebat adalah harta terbaik yang dimiliki oleh perusahaan atau organisasi bisnis.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MEMBIASAKAN YANG BAIK DI TEMPAT KERJA

DJAJENDRA“Di luar zona nyaman banyak peluang, banyak keajaiban. Di luar zona nyaman; Anda pasti merasa tidak nyaman, gelisah, takut, cemas. Tetapi, itu semua akan memaksa Anda untuk lebih kreatif, lebih cerdas, lebih disiplin, lebih tekun, lebih percaya diri, lebih fokus mencapai prestasi dan kinerja.”~Djajendra

Menjadi lebih produktif. Menjadi lebih terhubung. Menjadi lebih berkinerja. Kehidupan kerja membutuhkan orang-orang dengan kebiasaan kerja yang kaya kinerja.

Tidak peduli sepintar apa Anda, setinggi apa nilai-nilai akademis Anda. Anda hanya dianggap hebat, saat Anda menjadi produktif, terhubung, bertindak, berkinerja, dan menuntaskan pekerjaan sesuai waktu dan komitmen.

Setiap orang di tempat kerja merupakan bagian dari salah satu yang lain. Setiap orang di tempat kerja tidak boleh bekerja dengan maunya diri sendiri, tetapi bekerja sesuai budaya organisasi yang berorientasi soliditas dan kolaborasi. Setiap orang di tempat kerja harus mampu mengembangkan kebiasaan positif, untuk bisa memberikan kontribusi dan pelayanan bagi keberhasilan organisasi.

Kebiasaan yang baik dimulai dengan sifat, sikap, perilaku, karakter, dan kepribadian yang rendah hati, menerima budaya organisasi, mengalir bersama budaya organisasi, dan menjadi produktif bersama budaya kerja.

Perilaku kerja yang baik memprioritaskan apa-apa yang harus diselesaikan dalam delapan jam kerja. Intinya, jam kerja betul-betul difokuskan, untuk mencapai hal-hal yang paling penting, sehingga tidak ada pemborosan yang menjadikan Anda tidak produktif.

Musuh kolaborasi adalah keegoisan. Membiarkan sikap egois di tempat kerja, sama saja dengan membiarkan kolaborasi tidak berfungsi. Padahal, tanpa kolaborasi yang efektif, tidak mungkin semua orang bersatupadu dalam soliditas kerja. Dalam realitas, orang-orang pintar dikalahkan oleh keegoisan diri mereka sendiri, sehingga mereka menjadi tidak berharga di tempat kerja.

Kebiasaan-kebiasaan baik harus dengan rajin dikembangkan. Perilaku-perilaku kerja yang hebat harus terus-menerus diberdayakan. Organisasi yang hebat tercipta dari kebiasaan dan perilaku yang hebat. Tanpa kebiasaan dan perilaku yang hebat, organisasi tidak akan tumbuh menjadi yang berharga bagi stakeholdernya.

Kegagalan kerja selalu disebabkan oleh perilaku yang mengabaikan sistem, aturan, etika, dan hubungan baik. Sikap kerja yang kurang profesional, dan perilaku kerja yang saling menjatuhkan, akan menjadikan orang-orang marah, dan tidak berkinerja. Lingkungan kerja yang penuh marah, hanya akan menghadirkan energi negatif, untuk merusak produktivitas dan kinerja.

Ikhlas untuk menjadi terorganisir. Kehidupan kerja adalah kehidupan yang terorganisir. Apapun sifat, sikap, perilaku, karakter, keyakinan, dan kepribadian Anda; Anda harus ikhlas terorganisir di tempat kerja. Kehidupan kerja adalah kehidupan tim, kehidupan kerja sama, kehidupan kolaborasi. Di sini, tidak ada kata ‘saya’, tapi ‘kami’. Kehidupan kerja adalah ‘kami’, bukan ‘saya’ atau ‘kita’. Jadi, setiap orang harus terbiasa, atau membiasakan dirinya terorganisir, dan menjadi bagian dari yang lain.

Sikap rendah hati dan rasa ingin belajar, adalah cara untuk tumbuh. Jangan pernah merasa tahu semua, atau tahu banyak hal. Tetaplah rendah hati, dan dengarkan orang lain dengan penuh perhatian. Semakin tinggi kemampuan Anda untuk mendengarkan pendapat orang lain, semakin cepat Anda tumbuh, dan menjadi pribadi yang lebih profesional.

Zona nyaman itu membahayakan kemajuan. Semakin Anda terobsesi untuk mendapatkan realitas kerja yang nyaman, semakin Anda akan terjebak dalam proses kemunduran, dan sulit menemukan jalan untuk kemajuan. Jadilah pribadi yang selalu memaksakan diri untuk bekerja di luar zona kenyamanan. Anda yang terbiasa di luar zona nyaman, sangat mudah untuk menciptakan rekor-rekor pencapaian kinerja terbaik. Anda yang di luar zona kenyamanan berpotensi memaksimalkan potensi Anda. Anda yang bekerja di luar zona nyaman berpotensi mendapatkan keajaiban, dan hasil-hasil yang luar biasa. Jadi, biarlah hati sedikit tidak nyaman, sedikit gelisah, sedikit takut, sedikit cemas. Tetapi, itu semua membuat Anda lebih kreatif, lebih fokus untuk mencapai prestasi dan kinerja.

Membiasakan yang baik di tempat kerja. Semua kebiasaan-kebiasaan yang baik, akan menciptakan keindahan, menciptakan kebahagiaan. Temukan nilai-nilai terbaik untuk menjadi sahabat kerja Anda. Jaga dan rawat kebiasaan baik yang menjadikan Anda produktif, berkinerja, berprestasi, dan penuh persahabatan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENGHILANGKAN EGO SEKTORAL DENGAN KECERDASAN SOSIAL

DJAJENDRA“Fungsi dan divisi di tempat kerja adalah alat untuk mencapai tujuan. Bila alat ini dijaga dengan ego dan kepentingan yang sempit, maka alat ini sulit berfungsi untuk mencapai tujuan.”~Djajendra

Tidak mungkin sebuah visi dikerjakan sendiri; diperlukan kerja sama dan koordinasi yang cerdas melintasi perbedaan, keragaman, fungsi dan sektor. Jadi, diperlukan orang-orang yang cerdas sosial, supaya sebuah visi dapat dikerjakan dengan cepat dan tepat.

Orang-orang yang cerdas sosial sangat mudah berkomunikasi dan berinteraksi secara proaktif. Bila kecerdasan sosial sumber daya manusia rendah, mereka akan bekerja sendiri-sendiri, tidak mampu bersatupadu di dalam soliditas bersama. Sebaliknya, bila sumber daya manusia cerdas sosial, maka soliditas dan kolaborasi kerja akan menjadi budaya kerja, yang merangkul lintas sektoral dan lintas divisi di dalam satu visi.

Sepintar apapun seseorang; sehebat apapun seseorang; setinggi apapun pendidikan seseorang; sejenius apapun konsep dan pemikiran seseorang. Tetapi, bila dia tidak cerdas sosial, dia akan menjadi energi perusak soliditas organisasi.

Orang-orang yang tidak cerdas sosial hanya mampu bekerja sendiri. Walaupun mereka sangat cerdas dan sangat berbakat, mereka tetap sulit menyatu di dalam proses kerja. Dampaknya, mereka berpotensi membawa nilai dan benih konflik ke dalam proses kerja, sehingga kinerja terbaik akan sulit untuk diwujudkan.

Dunia kerja adalah dunia kerja sama. Manajemen berfungsi untuk mengelola semua sektoral, agar saling berkolaborasi dan berkoordinasi secara efektif dan produktif. Tidak ada kerja sendiri di dalam dunia kerja. Semua orang yang bekerja merupakan bagian dari pekerjaan yang lain. Dunia kerja adalah dunia yang saling menguatkan satu sama lain, yang saling mengkontribusikan kompetensi dan kemampuan, untuk sebuah pencapaian sesuai target.

Di dalam organisasi, tidak ada sebuah tujuan yang bisa dikerjakan sendiri. Bakat, profesionalisme, kecerdasan, dan potensi yang hebat; akan sia-sia bila tidak mampu bekerja sama.

Dunia kerja adalah dunia kolaborasi dan koordinasi. Sangat banyak fungsi dan divisi di dalam sebuah organisasi. Semua fungsi dan divisi tidaklah boleh berdiri di atas ego dan kepentingan masing-masing. Semuanya harus tunduk kepada visi, harus berkolaborasi dan berkoordinasi di dalam misi.

Seseorang yang cerdas sosial sangat mudah terlibat dalam tugas-tugas rutin yang membutuhkan kebersamaan. Mereka sangat mudah beradaptasi dengan ide-ide baru, dan mudah menerima solusi dari siapapun atau manapun. Mereka menguasai seni percakapan dan seni mendengarkan, dan sangat mudah mengintegrasikan dirinya dengan kelompok kerja.

Seseorang yang cerdas sosial tidak akan menjaga jarak, ataupun menjadi penyebab konflik. Dia adalah pribadi yang penuh empati dan kaya toleransi. Dia selalu membangun jembatan komunikasi yang positif, serta selalu merobohkan tembok penghalang di dalam organisasi dan proses kerja. Dia adalah orang yang selalu menghubungkan hati, emosi, pikiran, dan etos; dari setiap insan organisasi untuk bersatupadu di dalam soliditas bersama.

Seseorang yang tidak cerdas sosial biasanya sulit mempercayai kemampuan orang lain; menganggap dirinya yang paling pintar dan suka meremehkan orang lain; sangat sensitif, miskin toleransi, miskin jiwa besar, dan miskin empati; dia merupakan komunikator yang buruk, sehingga pilihan kata-kata dan ucapannya selalu menjauhkan hubungan baik; walaupun dia berbakat, berpendidikan tinggi, cerdas, kreatif, dan berpotensi, tetapi sulit menjadi andal di tempat kerja; dia selalu terjebak di dalam egonya, dan sulit memahami pentingnya sebuah kebersamaan di tempat kerja.

Orang-orang cerdas sosial biasanya cerdas emosional. Mereka mudah menyatu dan berkontribusi secara lintas sektoral. Emosi yang cerdas mampu menghilangkan ego dan kepentingan sempit. Mereka selalu bersinar dan menjadi aset yang diandalkan oleh organisasi. Mereka merupakan energi positif yang mampu menggerakan sebuah pekerjaan secara kreatif dan kolaboratif. Mereka mampu menghasilkan kinerja yang memuaskan. Mereka tidak terbatas oleh waktu dan ruang, mereka mampu terhubung dan berkoordinasi di segala kondisi untuk sebuah pencapaian terbaik.

Orang-orang cerdas sosial selalu mendorong komunikasi dan menyatukan semua kepentingan untuk fokus pada visi. Mereka selalu mengupdate kemajuan dan menghadiri semua rapat atau pertemuan lintas sektoral. Mereka selalu menyatu di dalam tujuan dan membuka pikiran untuk bisa saling mengerti.

Orang-orang cerdas sosial selalu mengikuti kejadian-kejadian; memiliki rasa ingin tahu yang besar; dan menjadwalkan pertemuan rutin untuk sebuah solusi terbaik. Mereka sangat rajin membuat pertemuan informal, untuk menguatkan hubungan kebatinan, dan penuntasan persoalan-persoalan kerja yang sulit secara formal.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Older posts

© 2018 MOTIVASI DJAJENDRA

Theme by Anders NorenUp ↑