HASIL AKHIR BERADA DALAM KUASA TUHAN

HASIL AKHIR BERADA DALAM KUASA TUHAN

“Hidup itu lebih cerdas dari kecerdasan kita.”~Djajendra

Salah satu kelemahan manusia adalah begitu yakin bahwa apa pun yang dipikirkan dan direncanakan akan berhasil. Cita-cita dan impian adalah anugerah bagi kita, ia seperti panggilan dari keberadaan kita. Kita wajib memiliki cita-cita, impian, keinginan, dan obsesi; tetapi, kita juga wajib menyadari bahwa keberhasilan ditentukan oleh kehendak Tuhan. Manusia harus bertindak dalam upaya maksimal melalui perjuangan, kerja keras, tekad, gairah, dan upaya yang tidak pernah menyerah. Tetapi, semua upaya maksimal harus berdasarkan pada kesadaran bahwa hasil akhir tidak berada dalam kuasa atau kemampuan manusia, hasil akhir hanya milik Tuhan. Jika kita sangat yakin dengan strategi dan kecerdasan kita, maka kita harus siap setiap saat untuk menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan.

Ketika hidup kita tidak seperti yang diinginkan, maka perasaan tidak puas akan menghilangkan semua kebahagiaan dan kedamaian. Seperti kata orang bijak bahwa semua kedamaian, sukacita, kebahagiaan dan kesenangan telah datang sejak kita menyerah pada kehendak Tuhan. Persoalannya, kesadaran untuk menyerah pada kehendak Tuhan bukanlah sesuatu yang mudah. Tidak semua orang mengerti dan mampu untuk menjalani kehidupan dengan etos yang hebat, dan untuk hasil akhirnya menyerah pada kehendak Tuhan. Pada umumnya; kita semua secara konsiten terjebak dalam memenuhi kebutuhan fisik, ego, pikiran, emosi, dan jiwa. Selama kita terjebak dalam kehidupan sesuai panduan panca indera, selama itu perasaan tidak puas menjadi sesuatu yang abadi. Semakin kesadaran kita meningkat untuk menyerah pada kehendak Tuhan, semakin diri kita berpotensi mengalami pertentangan yang hebat dari keberadaan kita dalam kehidupan. Di sinilah dibutuhkan kesadaran untuk tetap menyerah pada kehendak Tuhan, tetapi tidak pernah menyerah berupaya dan bekerja keras dengan etos terbaik untuk mendapatkan hasil terbaik. Semoga akal dan pikiran kita dibukakan Tuhan agar kita memahami maksud dari kalimat di atas.

Penyerahan total kepada Tuhan tidak sama dengan kita menunggu dan tidak melakukan apa-apa. Sikap menunggu dan tidak melakukan apa-apa adalah sikap orang malas. Kita tidak boleh malas, kita harus rajin dan sangat produktif. Penyerahan total adalah keyakinan di dalam diri bahwa apa pun yang kita kerjakan dengan sepenuh hati perlu mendapatkan pertolongan dari Tuhan. Dalam sehari-hari, kita harus proaktif, bekerja dengan sangat rajin dan tekun. Keberadaan kita harus mengalir dalam kreativitas dan inovasi, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai perubahan yang pasti kita alami. Kita harus menyiapkan diri dengan kualitas, pengetahuan, etos, dan keterampilan untuk bertindak. Jika setiap hari kita malas dan pasif sambil berharap Tuhan melakukan segalanya untuk kita, maka kita akan semakin terpuruk dalam kesulitan.

Rasa syukur dan perasaan puas pada setiap momen kehidupan adalah kunci untuk mencapai hal-hal terbaik. Kita harus memiliki etos untuk melakukan usaha yang sungguh-sungguh dalam totalitas. Kita harus menggunakan kecerdasan kita sebagai alat pencarian yang sangat kreatif. Kita harus memiliki pengabdian yang penuh gairah dan motivasi terhadap pekerjaan yang kita tekuni. Semua upaya dan usaha terbaik wajib kita lakukan, barulah kemudian kita menyerahkan hasil akhirnya pada kehendak Tuhan. Jadi, tidak boleh ada keraguan dan kegelapan dalam hal apa pun yang kita tekuni sebagai pekerjaan. Pekerjaan sebagai panggilan hidup harus mendapatkan arah dari cahaya pengetahuan yang benar.

Mengatasi perasaan tidak puas dengan kehidupan sehari-hari adalah tanggung jawab kita. Perasaan puas bersumber dari dalam diri. Oleh karena itu, kita harus fokus pada penguasaan diri sendiri dari dalam. Tidak perlu menghabiskan waktu untuk berharap rasa puas dari luar diri. Pemenang sejati dalam hidup adalah ia yang mampu menguasai dirinya sendiri di dalam energi positif. Musuh perasaan tidak puas tidak berada pada orang lain, tetapi berada di dalam diri sendiri. Walaupun semua upaya dan usaha terbaik kita menghasilkan kegagalan, tidaklah perlu kecewa. Kekuatan manusia adalah dalam perjuangan yang tidak pernah menyerah untuk berhasil. Kita tahu bahwa hasil akhir itu ditentukan oleh kehendak Tuhan. Jadi, kegagalan haruslah disikapi dengan tenang, tabah, sabar, upaya yang lebih hebat, tidak goyah atau menyerah karena gagal berkali-kali, selalu optimis dan konsisten dengan kerja kerasnya, rendah hati untuk mempelajari kenyataan, dan selalu meningkatkan semangat untuk mengatasi semua rintangan.

Untuk mengundang Djajendra hubungi: 0812 1318 8899/ email: admin@djajendra-motivator.com