Cara Mengembangkan Etos Kerja Di Perusahaan

”Tipe Orang Yang Saya Cari Untuk Mengisi Pos Manajemen Tingkat Atas Adalah Pekerja Keras, Orang Yang Tidak Bersikap Seperti Kebanyakan Orang, Orang Yang Berusaha Melakukan Lebih Daripada Yang Diharapkan. Mereka Selalu Menargetkan Sasaran Yang Lebih Tinggi.” – Lee Iacocca

Pada umumnya kehidupan di perusahaan lebih banyak dihabiskan untuk melakukan aktifitas perencanaan, operasional, pengawasan, dan evaluasi. Sangat jarang ada aktifitas pencerahan batin karyawan untuk memahami budaya perusahaan, etika kerja, visi, misi, dan nilai-nilai perjuangan perusahaan. Padahal sebagian besar kegagalan perusahaan diakibatkan oleh rendahnya etos kerja karyawan.

Etos kerja yang rendah membuat semua strategi dan rencana kerja perusahaan yang hebat itu, tidak mampu dijalankan oleh karyawan dengan maksimal. Akibatnya, perusahaan akan kekurangan energi sukses dari para karyawannya. Oleh karena itu, sudah saatnya perusahaan peduli kepada pengembangan etos kerja secara berkelanjutan dalam semua aspek aktifitas perusahaan.

Salah satu cara terefektif untuk pengembangan etos kerja, adalah melalui penginternalisasian budaya perusahaan ke mind set setiap karyawan. Budaya perusahaan yang wajib diwujudkan dalam berbagai macam kebijakan, aturan, sistem, dan prosedur kerja. Termasuk di dalamnya, seperti panduan etika bisnis, panduan code of conduct, dan panduan sop yang jelas.  Di mana, nilai-nilai perjuangan yang ada dalam budaya perusahaan tersebut harus dieksplorasi untuk dicerahkan kepada setiap karyawan.

Proses penginternalisasian nilai – nilai etos kerja ini harus dilakukan dengan sikap tegas dan konsisten, untuk menghasilkan karyawan-karyawan yang beretos kerja unggul dan berkualitas. Sikap tegas dan konsisten ini harus berkelanjutan, tak boleh terhenti di satu titik, dan bersifat terus-menerus melalui evaluasi dan perbaikan.

Tidak ada salahnya bila perusahaan mau memberikan pencerahan melalui konsep doktrin kepada setiap karyawan. Sebab, dipercaya konsep doktrin bisa lebih memaksa pikiran bawah sadar untuk menerima nilai-nilai yang diharuskan oleh perusahaan, untuk dimiliki oleh para karyawannya. Perlu diingat, tidak semua orang bisa menerima pencerahan, kadang diperlukan doktrin yang tegas untuk membangun etos kerja yang unggul.

Pengembangan etos kerja dapat dimulai dari aksi pencerahan atau pun aksi doktrinisasi terhadap mind set karyawan; untuk menjalankan rencana dan strategi bisnis perusahaan sesuai sasaran; untuk menjalankan birokrasi administrasi yang efektif dan efisien; untuk melakukan  prosesing yang telitih dan telaten; untuk melakukan efisiensi di semua aspek biaya; untuk memanfaatan teknologi secara efisien dan efektif; mampu melayani pelanggan dengan sikap baik dan profesional; mampu memaksimalkan kualitas aset-aset produktif untuk menjadi mesin uang; dan mampu bekerja untuk mempercepat perputaran bisnis dengan kualitas etos kerja terbaik.

Etos kerja yang berkualitas tinggi haruslah menjadi jati diri, etika, budaya, dan moralitas perusahaan dalam relasinya dengan stakeholder. Tanpa adanya etos kerja berkualitas, perusahaan hanya akan menjadi beban buat stakeholdernya, dan tidak pernah menjadi aset yang menguntungkan stakeholder.