PEMIMPIN BARU TERHALANG BAYANG-BAYANG PEMIMPIN LAMA

006“Cerita hebat tentang pemimpin lama sudah tamat, dan setiap orang harus fokus untuk membangun cerita hebat tentang pemimpin baru. Pemimpin menjadi hebat atau tidak hebat semuanya tergantung dari totalitas dan kerja keras semua karyawan.” ~ Djajendra

Pemimpin akan datang dan pergi. Setiap orang suatu hari pasti harus pergi dari organisasi yang dia pimpin. Walau dirinya sangat dicintai dan dikagumi oleh para bawahan, tapi saat waktunya tiba, dan diharuskan pensiun, maka pemimpin tersebut wajib angkat koper dari organisasi yang dia pimpin selama ini.

Dalam dunia kerja, secara fisik seseorang tidak mungkin bisa abadi, walau dirinya seorang pemimpin yang sangat dicintai. Tapi, hal-hal di luar fisik selalu berpotensi hidup abadi. Kecerdasan pemimpin untuk membangun kepercayaan dan menularkan pengaruh dalam bentuk budaya kerja yang kuat, akan selalu menjadikan dirinya sebagai fondasi hidup yang memperkuat rasa percaya diri para bawahan.

Pemimpin yang karismatik mampu menanamkan pengaruh yang kuat ke para pengikutnya. Nilai-nilai karismatik dari dalam diri pemimpin membuatnya menjadi seorang pemimpin yang mudah membangun kepercayaan, dan mudah menanamkan nilai-nilai kerja ke para bawahan. Kepemimpinan karismatik memiliki energi dan kecerdasan, untuk mengkoordinasikan setiap bawahan ke dalam budaya kerja yang saling bekerjasama dan mendukung.

Sering sekali di dunia kerja, ketika seorang pemimpin karismatik yang telah hidup di hati dan rasa percaya diri karyawan harus pensiun karena faktor usia atau peraturan perusahaan, maka akan terjadi reaksi dari para karyawan. Saat karyawan sadar bahwa pemimpinnya harus berpisah dari mereka, karena sudah waktunya untuk pensiun, maka rasa takut akan merayap ke semua sendi-sendi organisasi, dan pikiran para karyawan menjadi lumpuh, seolah-olah mereka tidak mampu menjadi mandiri untuk nasib mereka sendiri.

Tingginya kepercayaan kepada pemimpin karismatik yang penuh pengaruh dalam membangun budaya kerja dan karakter kerja, menjadikan dirinya sebagai pemimpin yang tidak tergantikan. Bila seorang pemimpin sudah benar-benar hidup di hati para bawahan, maka hal ini akan menjadi tantangan yang sangat berat buat pemimpin yang akan menggantikan pemimpin tersebut.

Pemimpin baru yang menggantikan pemimpin lama yang karismatik dengan pengaruh yang kuat, akan mengalami tekanan dari para karyawan. Rasa curiga dan tidak percaya akan membuat pemimpin baru harus menyiapkan dirinya dengan sabar dan penuh empati. Energi penolakan dari kekuatan sumber daya manusia yang berbudaya dari pengaruh pemimpin lama, tidaklah bisa ditaklukkan dalam waktu singkat. Diperlukan kecerdasan emosional dari pemimpin baru, untuk merangkul dan meyakinkan semua kekuatan sumber daya manusia di dalam perusahaan.

Pemimpin baru pasti membutuhkan waktu untuk menularkan pengaruh dan membangun kepercayaan di dalam organisasi terhadap dirinya. Sikap yang terbuka dan dapat bekerja sama dengan setiap individu, akan menjadi modal awal untuk mengimbangi kekuatan bayang-bayang karismatik dan pengaruh dari pemimpin sebelumnya.

Kepercayaan adalah sesuatu yang harus diciptakan dari sikap yang penuh empati dan toleransi. Bila pemimpin baru sudah mampu menerima realitas akan kekuatan bayang-bayang pemimpin lama, maka secara perlahan-lahan dirinya harus menciptakan perubahan, dan menghadirkan rasa nyaman dalam perasaan dan pikiran setiap individu, untuk bekerja dan mengambil peran masing-masing dengan lebih efektif dan produktif.

Ketika kepercayaan tidak diberikan oleh para karyawan, maka pemimpin baru tidak boleh marah. Ketika rasa curiga terlalu diperlihatkan oleh para karyawan kepada pemimpin baru, maka pemimpin baru harus membuka diri dan memperlihatkan kualitas kepemimpinan yang lebih karismatik. Sikap kepemimpinan yang menunjukkan kejujuran dan kerendahan hati, akan dengan sangat mudah dapat mengambil hati dan perhatian dari semua karyawan. Dan selanjutnya, pemimpin baru tinggal membangun jembatan komunikasi untuk membuat semua unsur di dalam kepemimpinannya dapat terhubung dengan efektif kepada dirinya. Dan hal yang paling penting adalah merobohkan semua tembok di sekitar dirinya, yang berpotensi membatasi interaksi dirinya dengan semua pihak dan kepentingan di dalam organisasi.

Sikap sabar dan ketenangan pemimpin untuk merajut soliditas, serta menunjukkan jati dirinya sebagai pemersatu yang tidak pernah melepaskan tanggung jawab kepemimpinannya, akan menjadikan dirinya diterima dan dipercaya oleh semua kekuatan sumber daya manusia di dalam perusahaan.

Kekuatan bayang-bayang pemimpin lama dalam wujud budaya kerja sehari-hari haruslah direspek oleh pemimpin baru. Sebab, tidaklah mungkin bisa merubah atau melawan sebuah budaya yang telah membiasakan orang-orang di dalam perilaku kehidupan kerja. Pemimpin baru harus berjiwa besar dan ikhlas akan realitas bayang-bayang pemimpin lama. Dan mampu menjadi pengubah atau penambah hal-hal yang lebih baik, untuk menyempurnakan cara kerja dan budaya kerja yang sudah ada. Untuk ini semua, pemimpin harus membangun soliditas yang kuat dan unggul dalam menciptakan perubahan bersama menuju ke hal-hal yang lebih dari sebelumnya.

Perubahan ke arah visi pemimpin baru haruslah menyingkirkan semua rasa curiga dan tidak percaya. Dengan soliditas bersama, pemimpin baru dan setiap individu karyawan harus dibebaskan dari bayang-bayang pemimpin lama, agar setiap pihak dapat mengeksplorasi ide-ide baru dan menjadi lebih kreatif untuk menghasilkan hal-hal yang membuat mereka lebih sukses dari sebelumnya.

Setiap perbedaan bukanlah harus diselesaikan melalui pertempuran menang atau kalah, tapi harus dengan dialog untuk saling memenangkan. Kecerdasan setiap pihak untuk menjelajahi solusi dengan maksud untuk memecahkan masalah dalam soliditas, akan menjadikan semua perselisihan menjadi tidak pernah terjadi, dan setiap pihak akan mampu mengatakan yang sebenarnya.

Kehadiran pemimpin baru pastilah bertujuan untuk menciptakan kinerja dan prestasi yang lebih baik. Jadi, setiap karyawan yang selama ini telah merasa nyaman bersama pemimpin lama, tidaklah boleh menjadi penghalang ataupun mengekspresikan pesona dengan bayang-bayang pemimpin lama. Apalagi membangun kebiasaan untuk membanding-bandingkan setiap tindakan dan sikap pemimpin baru dengan pemimpin lama. Setiap pemimpin pasti memiliki gaya dan cara yang unik dan berbeda.

Homati dan hargai nilai-nilai baru dari pemimpin baru. Bila setiap karyawan sulit keluar dari zona kenyamanan bayang-bayang pemimpin lama, maka setiap orang akan bekerja dengan masa lalu. Padahal, semua orang harus bergerak cepat menuju masa depan.

Bila pola berpikir masih suka mencari kelemahan dari pemimpin baru, lalu membandingkannya dengan kekuatan pemimpin lama, maka setiap orang sedang bertarung untuk kalah.

Cerita hebat tentang pemimpin lama sudah tamat, dan setiap orang harus fokus untuk membangun cerita hebat tentang pemimpin baru. Pemimpin menjadi hebat atau tidak hebat semuanya tergantung dari totalitas dan kerja keras semua karyawan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

One thought on “PEMIMPIN BARU TERHALANG BAYANG-BAYANG PEMIMPIN LAMA

  1. Pingback: DARI INISNU KE UNISNU; TITIK STRATEGIS PEMBENAHAN INSTITUSIONAL | Teras Kita

Comments are closed.