MOTIVASI DJAJENDRA

Leadership Organization Business Personal Interpersonal Entrepreneurs and Employed Professionals

Category: Business Ethics (page 11 of 11)

Etika Bisnis

Apakah Anda Pribadi Yang Bertanggung Jawab Dalam Pekerjaan?

“Tanpa Tanggung Jawab Terhadap Pekerjaan, Anda Hanya Mempersiapkan Diri Untuk Gagal.” – Djajendra

Apakah Anda seorang pribadi yang merasa bertanggung jawab penuh atas pekerjaan Anda? Bila Anda bingung dan ragu untuk menjawab pertanyaan di atas, maka sebaiknya Anda mulai melakukan interospeksi diri buat mengoptimalkan sikap dan perilaku tanggung jawab Anda kepada pekerjaan Anda.

Tanpa tanggung jawab Anda akan sulit mencapai puncak keberhasilan tertinggi. Tanpa tanggung jawab Anda hanya sibuk mengurusi aksi dan reaksi pekerjaan. Tanpa tanggung jawab Anda tidak akan memiliki antusias, motivasi, dan keberanian untuk menjadi lebih baik. Tanpa tanggung jawab Anda tidak akan dipercaya oleh orang lain.

Setiap pekerjaan membutuhkan tanggung jawab, membutuhkan perhatian dan kepedulian. Anda yang mampu memiliki tanggung jawab dan kepedulian total terhadap pekerjaan Anda, pasti akan menjadi pribadi yang berdedikasi secara total terhadap pekerjaan Anda.

Dalam sebuah acara pelatihan di sebuah perusahaan gas, di daerah Belilas, Riau. Seorang peserta bertanya tentang arti tanggung jawab. Sebuah pertanyaan yang cerdas. Apalagi sangat jarang orang-orang mau bertanya tentang tanggung jawab, kalau bisa orang-orang selalu berupaya untuk mengaburkan makna tanggung jawab. Tetapi, pertanyaan di Belilas ini membuat saya tersenyum, ternyata masih ada orang-orang yang ingin memperkuat integritas diri buat mempertanggungjawabkan semua tugas dan pekerjaan di kantor.

Tanggung jawab berarti memikul semua kewajiban dan beban pekerjaan sesuai dengan batas-batas yang ada di job diskripsi. Setiap karyawan wajib bekerja sesuai tanggung jawab, dan tidak melewati batas-batas tanggung jawab yang ada. Sebab, bila karyawan bekerja melampaui tanggung jawab, maka karyawan tersebut pasti akan melanggar internal control dan etika bisnis perusahaan. Jadi, setiap karyawan harus patuh dan bekerja sesuai dengan apa yang diberikan oleh perusahaan, sebatas tugas dan tanggung jawab yang diperbolehkan oleh perusahaan.

Perusahaan harus benar-benar melakukan evaluasi dan pengkajian kembali terhadap setiap tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada karyawan. Sebab, sering sekali perubahan menjadikan sebuah job diskripsi menjadi tidak efektif. Oleh karena itu, pemberian kepercayaan pada individu-individu karyawan dalam organisasi perusahaan haruslah dirancang agar para individu tersebut mampu bertanggung jawab dalam pekerjaan sesuai harapan perusahaan.

Semakin besar tanggung jawab yang diberikan perusahaan kepada seorang karyawan, maka semakin besar si karyawan harus membangun integritas diri dan sekaligus memiliki loyalitas dan keberanian untuk menerima tanggung jawab dari perusahaan.

Tanggung jawab bukanlah sekedar kata-kata yang memperkuat jati diri, tapi tanggung jawab adalah komitmen dan kewajiban untuk melaksanakan semua pekerjaan melalui kompetensi diri yang hebat.

Good Values Good Moral Good Ethics

“ Saudara-Saudara Sekalian, Saya Sebagai Pimpinan Anda Tidak Begitu Mempersoalkan Masalah Kejeniusan Dan Kepintaran Anda. Buat Saya Hal Yang Paling Penting Adalah Etika, Moral, Dan Kepatuhan Anda Semua Kepada Nilai-Nilai Kerja Perusahaan. Sepintar Apa Pun Anda, Jika Anda Melanggar Etika, Moral, Dan Nilai-Nilai Kerja Perusahaan; Saya Pasti Akan Mengeluarkan Surat Peringatan, Dan Mungkin Juga Meminta Anda Untuk Segera Meninggalkan Perusahaan.” – Direktur Sdm Sebuah Perusahaan Swasta

Dengan memiliki nilai-nilai etos kerja terbaik,perusahaan akan mendapatkan peluang untuk menuju pada keberhasilan. Dengan memiliki panduan etika bisnis dan code of conduct terbaik, perusahaan akan memiliki integritas untuk memenangkan kompetisi secara total di semua aspek. Berbisnis itu tidak sekedar butuh kepintaran dan kejeniusan saja, tapi bisnis yang baik selalu lebih mementingkan etika terpuji.

Dalam sebuah acara pelatihan perusahaan. Saat salah satu direktur dari perusahaan peserta pelatihan itu memberikan kata sambutan. Si direktur berkata, “ saudara-saudara sekalian, saya sebagai pimpinan Anda tidak begitu mempersoalkan masalah kejeniusan dan kepintaran Anda. Buat saya hal yang paling penting adalah etika, moral, dan kepatuhan Anda semua kepada nilai-nilai kerja perusahaan. Sepintar apa pun Anda, jika Anda melanggar etika, moral, dan nilai-nilai kerja perusahaan; saya pasti akan mengeluarkan surat peringatan, dan mungkin juga meminta Anda untuk segera meninggalkan perusahaan.”

Kata-kata si direktur itu begitu lugas, tegas, dan jelas. Saya pikir pesan-pesan seperti itulah yang harus di sampaikan oleh para pimpinan perusahaan kepada para karyawannya. sebab, saya sangat yakin bahwa ketika etika, moral, dan nilai-nilai kerja perusahaan didukung dengan disiplin yang tinggi; energi positif akan mengisi batin terdalam para karyawan, untuk kemudian mendorong semangat juang para karyawan secara total buat keberhasilan perusahaan dengan cara-cara yang terhormat dan beretika.

Perusahaan yang baik pasti akan memiliki semangat yang luar biasa untuk menjalankan etika bisnis dengan nilai-nilai organisasi yang terpuji di semua aspek kerja perusahaan. Demikian juga dengan kepemimpinan yang terpuji di perusahaan, pasti akan membangun iklim dan suasana kerja perusahaan dengan berlandaskan etika bisnis dengan nilai-nilai profesionalisme terbaik.

Salah satu cara terbaik untuk menjadikan etika bisnis, code of conduct, core value perusahaan, dan moral terpuji sebagai bagian dari perilaku kerja sehari-hari, adalah melalui proses memodifikasi karakter para karyawan dan pimpinan perusahaan. Proses memodifikasi ini harusnya menjadi sebuah proses menginternalisasian nilai-nilai perusahaan ke dalam karakter pribadi dan karakter kerja karyawan. Sehingga perusahaan mampu menjalankan setiap nafas dari core value perusahaan dengan bijak dan profesional.

Nilai-nilai terpenting yang harus ada dalam core value perusahaan adalah nilai-nilai yang dapat membuat karyawan menjadi loyal untuk berdedikasi secara utuh dan total terhadap visi dan misi perusahaan. Intinya, diperlukan nilai-nilai integritas yang tinggi, nilai-nilai profesionalisme, nilai-nilai kecintaan dan kepedulian kepada perusahaan, nilai-nilai untuk menjaga kebersamaan dalam komunikasi positif yang efektif, dan nilai-nilai untuk melayani semua kepentingan customer, shareholder, dan stakeholder lainnya dengan sikap dan perilaku terpuji.

Loyalitas Anda Pada Perusahaan Atau Manajer?

“Ingatlah Selalu Bahwa Tekad Kita Sendiri Untuk Meraih Sukses Adalah Jauh Lebih Penting Daripada Apapun Juga.” – Abraham Lincoln

Pekerjaan adalah sebuah tanggung jawab. Dan kalau Anda melalaikan tanggung jawab itu, Anda akan kehilangan komitmen untuk berdedikasi kepada pekerjaan Anda. Hasilnya, Anda sulit mendapatkan prestasi dan karir kerja yang terbaik.

Dalam beberapa kasus yang saya temui di tempat kerja, ada orang-orang yang sangat bergantung kepada figure manajer. Loyalitas orang-orang tersebut tidak pada perusahaan, tapi pada manajer. Bila manajer pindah kerja, mereka pun segerombolan pindah kerja mengikuti si manajer. Dan hal ini selalu menjadi pola dan cara mereka memperlihatkan loyalitas mereka kepada si manajer.

Suatu waktu ketika saya sedang berbincang-bincang dengan beberapa karyawan. Salah seorang dari mereka berkata, “Saya masih bekerja disini karena saya tidak bisa meninggalkan manajer saya, saya menemukan kembali gairah kerja karena motivasi dan kepercayaan yang diberikan manajer kepada saya. Untuk itu saya harus menunjukkan kesetiaan saya pada manajer.”

Saya pribadi sangat kagum kepada loyalitas si karyawan tersebut kepada manajernya, tapi saya ragu, apakah si manajer mampu mewujudkan semua impian dan harapan si karyawan tersebut. Sebab, si karyawan begitu menggantungkan dirinya kepada si manajer, sehingga dirinya kehilangan motivasi untuk menjadi pribadi mandiri yang bekerja secara profesional.

sering sekali seorang manajer yang hebat mampu menyelamatkan para karyawan yang hampir putus asa dengan pekerjaannya. Kondisi ini membangkitkan kembali rasa percaya diri si karyawan, dan pada akhirnya si karyawan mampu menemukan kembali gairah kerja bersama perusahaan.

Kemampuan manajer untuk menemukan kembali gairah kerja karyawan, merupakan hasil kerja manajer yang sangat mulia. Tetapi, manajer tidak boleh memanfaatkan kelemahan si karyawan tersebut sebagai keuntungan buat petualangannya dalam meraih karir kerja tertinggi.

Manajer yang baik pastinya menjadi pemimpin yang mulia, pemimpin yang memperlihatkan reputasi dan kredibilitas diri yang kuat, agar para karyawan yang kehilangan gairah kerja itu bisa bangkit kembali dengan sikap optimistis. Untuk kemudian menyiapkan diri sedemikian rupa, untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri, dan lebih profesional dalam pendakian ke puncak karir.

Stakeholder Dalam Sebuah Bisnis

”Bisnis Itu Seperti Air Yang Selalu Mengalir Dengan Caranya Sendiri, Tanpa Perduli Pada Apapun, Dan Terus Mengalir Menerobos Setiap Hambatan Untuk Mencapai Hasrat Dan Kepentingan Dari Yang Lebih Kuat Dan Lebih Cerdik. ” – Djajendra

Dunia bisnis adalah dunia komitmen, di mana para stakeholder yang terkait dalam sebuah bisnis wajib untuk saling terikat secara moral dan etika, serta memelihara komitmen untuk tidak melalaikan dan merugikan stakeholder yang lain.

Setiap stakeholder wajib menjaga kehormatan melalui integritas demi kepentingan para stakeholder yang lain. Sebab, bisnis hidup dari hubungan saling percaya dan saling mendukung.

Hubungan bisnis yang tidak tidak beretika biasanya cendrung merugikan para stakeholder yang posisi tawarnya lemah di bisnis tersebut. Hal ini disebabkan, para profesional yang mengelola bisnis tersebut tidak memiliki integritas dan niat baik pada stakeholder secara keseluruhan.

Pada dasarnya setiap stakeholder memiliki kebutuhan yang berbedah, kecuali dalam hal pelayanan, di mana semua stakeholder memiliki kebutuhan yang sama, yaitu mengharapkan mereka dilayani secara jujur, terbuka, penuh tanggung jawab, wajar, berkualitas, dan adil.

Para pengelola bisnis seharusnya bersikap profesional untuk memberikan yang terbaik buat kepentingan para stakeholder.

Seorang  pendiri bisnis pasti bermaksud untuk mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin buat dirinya. Keuntungan yang maksimal ini sangat tergantung dari loyalitas stakeholder kepada perusahaan. Khususnya, pelanggan, pemasok, dan karyawan.

Keberadaan stakeholder merupakan bagian dari mata rantai bisnis yang hadir dengan beragam misi, target, dan kepentingan. Dan untuk melayani semua kepentingan yang berbeda tersebut, para pengelola bisnis wajib menjalankan praktik bisnis berdasarkan etika bisnis yang berintegritas.

Dalam dunia bisnis hubungan antara para pengelola bisnis dengan pemegang saham adalah hubungan pegawai dan majikan, sedangkan hubungan antara pengelola bisnis dengan stakeholder adalah hubungan etika dan moral untuk tidak merugikan kepentingan masing-masing dalam bisnis.

Persoalan muncul pada saat pengelola bisnis memprioritaskan keinginan dan tujuan dari para pemegang saham mayoritas. Mengingat kekuatan pemegang saham mayoritas sangat kuat untuk memberi perintah pada manajemen secara langsung, sedangkan stakeholder di luar shareholder adalah kepentingan yang tidak dapat langsung memiliki pengaruh pada manajemen.

Hubungan harmonis antara stakeholder adalah sebuah obsesi yang wajib diwujudkan oleh para pengelola bisnis, dan harus menjadi komitmen untuk menjaga kepentingan dari para stakeholder dalam sebuah lingkaran bisnis yang harmonis dan seimbang.

Menjaga kepentingan stakeholder haruslah menjadi kunci kekuatan dalam sebuah hubungan bisnis yang berintegritas tinggi. Sikap independen dan profesional dari pengelola bisnis untuk bertindak jujur dan adil kepada stakeholder adalah sebuah tindakan yang akan membuat perusahaan mendapatkan reputasi dan kredibilitas yang tinggi.

Pengabdian para pengelola bisnis pada pemegang saham mayoritas adalah mutlak. Sebab, shareholder dengan kekuatan RUPS (rapat umum pemegang saham) secara absolut menentukan eksistensi dari para pengelola bisnis. Bila para pengelola bisnis tidak patuh pada pemegang saham, maka mereka berpotensi kehilangan jabatan dan fasilitas. Tetapi, hal ini bukanlah berarti para pengelola bisnis boleh melalaikan para stakeholder dan bertekuklutut pada setiap permintaan shareholder.

Para pengelola bisnis harus selalu ingat bahwa suksesnya bisnis sangat dipengaruhi oleh stakeholder, khususnya para konsumen dan penyuplai. Jadi, pengelola bisnis tidak boleh kehilangan akal sehatnya dalam menjaga semua kepentingan shareholder dan stakeholder secara utuh dalam sebuah integritas yang adil dan bermoral tinggi.

Shareholder dan stakeholder adalah dua kekuatan terpenting  dalam dunia bisnis, yang harus dipahami secara jujur dan adil oleh para pengelola bisnis, tanpa merugikan siapapun.

Etika Bisnis Menyelamatkan Para Karyawan Dan Pimpinan Dari Perangkap Masalah

“Etika Bisnis Menentukan Perilaku Bisnis Yang Berintegritas, Tanpa Etika Bisnis, Integritas Perusahaan Akan Hilang.” – Djajendra

Aktifitas bisnis dilaksanakan dan ditujukan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia, dan  agar aktifitas bisnis mampu berjalan secara baik diperlukan etika bisnis.  Etika bisnis diperlukan untuk memagari perilaku pimpinan dan karyawan agar tidak terperangkap dalam masalah.

Bila etika bisnis mampu dijalankan secara tegas dan konsisten, maka nilai-nilai yang ada dalam etika bisnis tersebut dapat menciptakan sebuah aktifitas bisnis yang sehat dan berkualitas tinggi. Yaitu,Sebuah praktik bisnis yang bebas dari konspirasi, korupsi, kolusi, dan nepotisme, sehingga mampu mengoptimalkan shareholders value perusahaan.

Secara prinsip etika bisnis itu mengatur agar para pemimpin dan karyawan di perusahaan tidak menjadi korban dari kegiatan bisnis tersebut. Oleh karena itu, pemahaman etika bisnis harus diikuti dengan kekuatan sifat baik yang didukung oleh nilai-nilai moral kehidupan yang tinggi.

Etika bisnis wajib diimplementasikan secara baik oleh setiap orang di perusahaan, agar mampu memainkan peran dan fungsi manajemennya secara profesional, tanpa keluar dari aturan main yang ada di perusahaan, serta mampu memahami apa yang baik dan apa yang tidak baik secara bijaksana.

Etika bisnis itu seperti cahaya yang menerangi semua fungsi dan peran kerja karyawan dan pimpinan. Semakin terang pikiran si karyawan dan pimpinan untuk memahami dan mematuhi etika bisnis, akan semakin tinggi kualitas integritas dan kinerja mereka.

Bila karyawan dan pimpinan mampu mematuhi etika bisnis secara sempurna, maka secara otomatis mereka akan menjadi energi positif perusahaan;  mereka akan menjadi pribadi yang membangun kebaikan di organisasi; mereka akan menjadi pribadi istimewa yang berpotensi meraih sukses tertinggi.

Etika bisnis tidak sekedar aturan yang mengikat para karyawan dan pimpinan di perusahaan, tapi etika bisnis harus menjadi sebuah energi yang mampu menciptakan nilai tambah buat organisasi.

Good Corporate Governance Perlu di Motivasi ke Mind Set Karyawan

“Sebelum Menganugerahi Anda Dengan Kesuksesan Besar, Kesempatan Biasanya Menguji Keteguhan Hati Anda Melalui Kesulitan.” – Napoleon Hill

Ketika tulisan ini di buat saya sedang berada di kota Jambi. Saya sedang melakukan sebuah perjalanan mengelilingi pulau Sumatra bersama tim good corporate governance dari sebuah perusahaan besar, yang memiliki banyak cabang di pulau Sumatra. Saya diajak tim good corporate governance tersebut untuk memberikan motivasi kepada para pegawai mereka. Motivasi untuk menjalankan good corporate governance, yaitu dalam wujud menginternalisasikan pedoman etika bisnis dan code of conduct perusahaan.

Pelatihan yang saya lakukan bersama tim GCG ini sifatnya kolaborasi, kami semua menjadi satu tim yang saling melengkapi. Konsep pelatihan kolaborasi memang masih sangat jarang dipraktikan di Indonesia, tapi saya sangat kagum dengan kekompakkan dan kemenyatuan tim GCG bersama diri saya dalam perjalanan yang sangat membahagiakan hati ini. Tidak ada rasa lelah, tidak ada keluh-kesah, tidak ada wajah tanpa senyum. Setiap orang mampu memainkan peran dan fungsi masing-masing dengan luar biasa hebat. Saya benar-benar menemukan kekuatan energi positif yang luar biasa dari tim GCG tersebut.

Sudah tidak zamannya lagi pelatihan pegawai bersifat satu arah, semua pelatihan pegawai harus bersifat multi arah. Artinya, setiap individu wajib secara proaktif berpartisipasi untuk mengutarakan pendapat dan ide mereka buat kemajuan perusahaan dan kemajuan diri mereka sendiri.

Diperlukan pencerahan untuk menerangi batin dan pikiran para pegawai, sebab dalam kegelapan batin dan pikiran para pegawai tidak akan mampu melihat apa pun. Mereka hanya mampu mendengar suara tanpa mampu melihat, dan bila suara yang mereka dengar itu suara negatif, maka mereka akan menjadi pribadi negatif, walaupun dalam batin dan pikiran mereka ada benih-benih untuk berpikir dan bertindak positif.

Diperlukan pencerahan secara berkelanjutan untuk membuat para pegawai benar-benar memahami prinsip-prinsip positif dibalik praktik good corporate governance. Diperlukan kalimat-kalimat positif yang menegaskan nilai-nilai kebaikan yang ada dalam good corporate governance. Diperlukan pribadi-pribadi yang berpikiran luas dan dewasa untuk menyampaikan kalimat-kalimat baik tentang good corporate governance dan etika bisnis. Dan, saya sangat beruntung dapat ditemani oleh sebuah tim GCG yang luar biasa cerdas, dewasa, dan menguasai semua seluk beluk permasalahan secara bijaksana.

Pelatihan yang baik tidak hanya tergantung kepada sang pelatih atau pembicara, tapi sangat tergantung kepada pengetahuan, pengalaman, kedewasaan, dan kebesaran hati dari para pribadi yang bertanggung jawab kepada pelatihan tersebut.

Di sepanjang perjalanan saya bersama tim GCG ini, saya menemukan pribadi-pribadi dewasa yang bijaksana dan sangat berpengalaman di bidang pekerjaan mereka, sehingga aura dan intuisi mereka lebih berbicara daripada kata-kata yang terucap.

Perjalanan saya bersama tim GCG ini masih tersisa satu minggu lagi, perjalanan bahagia yang sulit terlupakan. Saya menulis tulisan ini di bulan Oktober 2009, dari lobi Abadi Hotel & Convention Center, kota Jambi, di jalan Jend Gatot Subroto No.92-98.

Menginternalisasi Etika Bisnis ke Mind Set Karyawan dan Pimpinan

“Bila Karyawan Dan Pimpinan Patuh Menjalankan Kegiatan Bisnis Perusahaan Dengan Berpedomankan Pada Etika Bisnis Dan Code Of Conduct, Maka Perusahaan Pasti Terhindarkan Dari Berbagai Bencana Risiko.” – Djajendra

Saat ini para pemegang saham di perusahaan-perusahaan besar sangat mewajibkan manajemen untuk mensosialisasikan etika bisnis kepada setiap lapisan pimpinan dan karyawan. Setelah mengikuti program internalisasi etika bisnis, para karyawan dan pimpinan juga wajib menandatangani semacam pakta integritas untuk bekerja berdasarkan etika bisnis. Intinya, pihak pemegang saham sangat serius untuk membangun kualitas sumber daya manusia perusahaannya agar mampu berhubungan secara profesional dengan setiap stakeholders.

Perkembangan saat ini menunjukkan bahwa etika bisnis sudah tidak sekedar menjadi teori dan wacana, tapi telah menjangkau kepada program internalisasi ke mind set karyawan dan pimpinan. Jelas, semua ini adalah program lanjutan dari implementasi prinsip-prinsip good corporate governance.

Saya menyerap dari berbagai pembicaraan dan pelatihan good corporate governance yang saya berikan. Di mana, pemegang saham bersama-sama manajemen perusahaan sangat menginginkan praktik-praktik bisnis yang bersih dan jujur. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan – perusahaan di Indonesia sedang menuju kepada praktik-praktik bisnis yang sehat dan penuh tanggung jawab. Dan Semua ini adalah titik terang untuk terciptanya sistem ekonomi Indonesia yang berkredibilitas tinggi.

Setiap langkah menginternalisasi etika bisnis kepada sumber daya manusia perusahaan menjadi semacam konfirmasi kuat bagi stakeholders, akan keseriusan perusahaan untuk berbisnis dengan cara-cara yang penuh etika dan tanggung jawab.

Proses implementasi good corporate governance di Indonesia ternyata berjalan sangat  luar biasa. Bila saya membandingkan situasi kerja di tahun 1997 an, di mana saat itu bisnis dijalankan tanpa mengenal good corporate governance, maka di hari ini saya melihat ada niat dan kekuatan yang luar biasa untuk menjalankan bisnis dengan prinsip-prinsip good corporate governance. Walaupun semua ini masih dalam tahap proses. Tetapi, semenjak good corporate governance di perkenalkan di Indonesia sekitar tahun 2000 an, hasilnya cukup baik, dan good corporate governance saya anggap cukup sukses memberikan banyak  hal-hal positif  buat dunia korporasi di Indonesia.

Sistem dan gagasan untuk menjalankan etika bisnis di perusahaan secara profesional akan menciptakan budaya korporasi yang mendukung keunggulan dalam kompetisi global. Dan, semua ini akan menciptakan efisiensi dan efektifitas di semua aspek kerja perusahaan.

Semangat pemegang saham untuk menginternalisasikan etika bisnis di semua kalangan pejabat dan pegawai dalam perusahaannya, dan juga terhadap para stakeholdersnya, akan menjadikan perusahaan semakin kuat, sehat, dan kompetitif. Di samping itu, setiap stakeholders juga harus saling mendukung untuk menjalankan etika bisnis secara profesional.

Pelaksanaan etika bisnis secara total hanya bisa dilakukan jika ada kesadaran dan kejujuran di antara setiap stakeholders untuk berkomitmen menjalankan praktik-praktik bisnis yang sehat, adil, bermoral dan jujur.

Artikel ini karya djajendra

Etika Bisnis Menyelamatkan Para Karyawan Dan Pimpinan Dari Perangkap Masalah

“Hitung Hari Yang Hilang Di Mana Matahari Yang Tenggelam Mendapati Anda Tanpa Perbuatan Baik.” – Napoleon Hill

Aktifitas bisnis dilaksanakan dan ditujukan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia, dan agar aktifitas bisnis mampu berjalan secara baik diperlukan etika bisnis. Di mana, etika bisnis mampu memagari perilaku pekerjaan sehari-hari di kantor untuk membuat para pemimpin dan karyawan agar tidak terperangkap dalam masalah.
Bila etika bisnis mampu dijalankan secara tegas dan konsisten, maka nilai-nilai yang ada di dalam etika bisnis tersebut dapat menciptakan sebuah aktifitas bisnis yang sehat dan berkualitas tinggi.

Menjadikan panduan etika bisnis dan code of conduct perusahaan sebagai pedoman kerja, akan menciptakan  praktik bisnis yang bebas dari konspirasi buruk, yang bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme, sehingga mampu mengoptimalkan shareholders value perusahaan.

Secara prinsip etika bisnis itu mengatur agar para pemimpin dan karyawan di perusahaan tidak menjadi korban dari kegiatan bisnis tersebut. Oleh karena itu, pemahaman etika bisnis harus diikuti dengan kekuatan sifat baik yang didukung oleh nilai-nilai moral kehidupan yang tinggi.
Etika bisnis wajib diimplementasikan secara baik oleh setiap orang di perusahaan, agar mampu memainkan peran dan fungsi manajemennya secara profesional, tanpa keluar dari aturan main yang ada di perusahaan, serta mampu memahami apa yang baik dan apa yang tidak baik secara bijaksana.
Etika bisnis itu seperti cahaya yang menerangi semua fungsi dan peran kerja karyawan dan pimpinan. Semakin terang pikiran si karyawan dan pimpinan untuk memahami dan mematuhi etika bisnis, akan semakin tinggi kualitas integritas dan kinerja mereka.
Bila para karyawan dan pimpinan mampu mematuhi etika bisnis secara sempurna, maka secara otomatis mereka akan menjadi energi positif perusahaan; mereka akan menjadi pribadi yang membangun kebaikan di organisasi; mereka akan menjadi pribadi istimewa yang berpotensi meraih sukses tertinggi; mereka akan menjadi pribadi yang dicari-cari oleh perusahaan lain untuk direkrut.
Etika bisnis tidak sekedar aturan yang mengikat para karyawan dan pimpinan di perusahaan, tapi etika bisnis menjadi sebuah energi yang mampu menciptakan nilai tambah buat organisasi.
Etika bisnis adalah perilaku moral dan sikap baik yang menjadi inti dari kekuatan sebuah manajemen, dan inti dari sebuah kekuatan bisnis.

Artikel ini karya djajendra

Newer posts

© 2019 MOTIVASI DJAJENDRA

Theme by Anders NorenUp ↑