MOTIVASI DJAJENDRA

Leadership Organization Business Personal Interpersonal Entrepreneurs and Employed Professionals

Category: Stress Management (page 12 of 15)

Manajemen Stres

KECERDASAN EMOSIONAL MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS

DJAJENDRA2013“Ketika budaya tempat kerja tidak cocok dengan kepribadian, maka pilihannya hanya dua, yaitu: meninggalkan tempat kerja atau mencerdaskan emosi agar dapat menerima budaya tempat kerja dengan ikhlas.”~Djajendra

Sudah bahagiakah Anda di tempat kerja?

Menjadi bahagia di tempat kerja adalah syarat utama untuk dapat meminimalkan stres dan juga untuk meningkatkan produktivitas kerja. Dan hal ini, dapat diwujudkan bila Anda mampu meningkatkan kualitas kecerdasan emosional di tempat kerja.

Intinya adalah bahwa setiap orang di tempat kerja harus lebih cerdas emosinya agar dirinya bisa lebih efektif dan efisien dalam memaksimalkan kinerja seperti yang diinginkan.

Pilihan untuk meninggalkan tempat kerja bukanlah tindakan yang bijak, sebab tempat kerja yang lain juga belum tentu bisa cocok dengan batin Anda. Jadi, pilihan yang paling baik adalah dengan mencerdaskan emosional Anda, sehingga apapun keadaan dan budaya di tempat kerja, Anda pasti mampu menyesuaikan diri, karena emosi Anda sudah cerdas untuk hal tersebut.

Budaya kerja yang peduli kepada keseimbangan emosi kerja dan emosi kehidupan, adalah budaya kerja yang mampu meminimalisir penurunan kinerja. Kepedulian dan perhatian kepemimpinan terhadap kemampuan adaptasi para karyawan dalam lingkungan kerja, serta kemampuan mereka untuk secara alami menjadikan diri mereka sebagai bagian dari budaya kerja, akan memicu bakat dan potensi mereka untuk memenuhi semua harapan dan keinginan perusahaan. Dengan demikian, para karyawan mampu mengelola karir mereka dan mencari cara untuk memajukan diri sendiri, serta menjadikan dirinya sebagai energi yang berkontribusi untuk memenuhi keinginan pencapaian kinerja yang lebih produktif.

Bila tim manajemen dan para pemimpin mengabaikan pentingnya kecerdasan emosional ataupun menganggap hal ini sebagai urusan pribadi karyawan, maka perusahaan tidak akan pernah memiliki sumber daya manusia yang berkualitas untuk mencapai kinerja yang lebih produktif.  

Kepemimpinan wajib mengambil tanggung jawab penuh untuk masalah kecerdasan emosional. Sebab, keberadaan setiap karyawan bertujuan untuk melayani dan berkontribusi pada visi dan tujuan yang telah direncanakan oleh kepemimpinan. Karyawan sebagai energi peningkat kinerja dan produktivitas, haruslah disiapkan untuk selalu dalam performa terbaik, sehingga keterlibatan mereka secara total dan sepenuh hati dapat memenuhi harapan dan tujuan perusahaan.

Emosi karyawan yang cerdas akan menjadi aset yang sangat membantu perusahaan dalam peningkatan kinerja, reputasi, dan kredibilitas. Karena emosi baik yang cerdas ini adalah aset, maka secara rutin, perusahaan wajib melatih dan menginternalisasikan nilai dan pengetahuan agar karyawan menjadi lebih  memahami cara untuk mengoptimalkan kecerdasan emosional mereka.

Bila perusahaan ingin mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi; maka perusahaan haruslah merawat mereka dengan pelatihan, pencerahan, motivasi, harapan, cinta, perhatian, penghargaan, kemajuan, dan kasih sayang. Tetapi, dalam realitas, sering sekali para pemimpin menganggap sumber daya manusia yang berkualitas itu bisa dibeli, sehingga dengan gaji yang tinggi dan fasilitas yang mewah dianggap sudah dapat memiliki para profesional yang hebat.  Pemikiran seperti ini, pada akhirnya akan memberikan rasa kecewa kepada hasil akhir perusahaan.

Karyawan memiliki emosi yang selalu mudah jenuh dan bosan; karyawan juga memiliki aliran pikiran kreatif yang selalu berontak untuk keluar dari sebuah situasi yang tidak disukai; karyawan juga setiap hari tumbuh bersama kematangan jiwa spiritualnya; dan karyawan juga selalu bahagia bila dirinya dihargai dan dipercaya dengan sepenuh hati. Jadi, diperlukan budaya organisasi yang mampu menunjukkan kematangan bersama dengan semangat kebersamaan, dalam empati yang menyeimbangkan antara apa yang diperlukan oleh pekerjaan dengan apa yang diperlukan oleh jiwa manusia.

Semakin otentik perilaku positif orang-orang di dalam perusahaan, semakin cerdas emosional mereka untuk saling merangkul dan menciptakan landasan bersama agar dapat menumbuhkan inovasi dan peluang yang lebih baik.

Kecerdasan emosional karyawan akan menghargai dan mengalami pengalaman kemanusiaan untuk menjadikan dirinya lebih sadar berkontribusi dan melayani. Emosi yang cerdas akan menjadikan seseorang sadar siapa dirinya di tempat kerja; memahami apa fungsi dan perannya; mampu memanajemani diri sendiri dengan memanfaatkan waktu secara berkualitas, untuk semua aspek dan dimensi kehidupan kerja dan pribadi; mampu memotivasi diri sendiri dan menjadi mandiri di dalam semua tindakan, serta mampu bersikap proaktif; mampu menghargai perbedaan dan keanekaragaman dari pola pikir, sifat, sikap, keyakinan, kepercayaan, persepsi, dan logika berpikir; serta selalu cerdas emosi untuk mengalirkan potensi dan bakat diri ke dalam sumber daya dan budaya perusahaan.

Orang-orang yang cerdas emosi selalu menjadi lebih bertanggung jawab di tempat kerja. Dan juga, lebih berintegritas terhadap segala sesuatu tentang pekerjaannya, sehingga mereka lebih mudah menyatu ke dalam tim kerja. Dampaknya, mereka menjadi energi perusahaan yang sangat bertanggung jawab, sangat mudah menjadi solid di dalam kolaborasi dan kerja sama, dan semakin dapat dipercaya untuk menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang penuh tantangan.

Kecerdasan emosional pastilah akan meningkatkan kinerja dan produktivitas individu; kecerdasan emosional pastilah akan meningkatkan kesadaran diri untuk memperkaya kapasitas diri dengan kompetensi dan kualitas yang tinggi; dan kecerdasan emosional pastilah akan meningkatkan sensitivitas keberadaan diri di dalam kebersamaan kerja.

Pada akhirnya, para karyawan yang cerdas emosional akan sadar untuk mencapai potensi penuh mereka, juga memiliki kemampuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja dan produktivitas mereka. Dan, semua itu akan terjadi oleh dorongan diri sendiri, dan juga dari umpan balik yang mereka terima dengan ikhlas dan sepenuh hati.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENGURANGI STRES DI TEMPAT KERJA DENGAN EMOSI CERDAS

DJAJENDRA2013“Stres bersumber dari rendahnya kecerdasan emosional. Batin dan pikiran yang tidak terawat dalam kecerdasan emosional akan dikalahkan oleh stres. Bila stres sudah menguasai pikiran dan batin, maka hasil akhirnya adalah penurunan kinerja yang merugikan diri sendiri dan perusahaan. Temukan obat penghilang stres di dalam pengetahuan kecerdasan emosional.” ~ Djajendra

Stres adalah kondisi batin yang dapat merusak etos kerja karyawan. Perusahaan harus dengan kesadaran yang tinggi terlibat dalam mengelola dan mengendalikan stres di tempat kerja. Cara perusahaan terlibat adalah dengan membangun budaya organisasi, yang peduli untuk mengendalikan aliran emosi dan energi negatif  dari para insan perusahaan, serta menjadikan budaya sebagai energi positif yang mengantar perusahaan dan para insannya untuk mencapai kinerja terbaik.

Kompetensi, keterampilan, pengetahuan, dan pengalaman seseorang sangatlah penting untuk meningkatkan kualitas kerja. Tetapi, bila semua itu diserang dengan stres, maka hilanglah kualitas yang diimpikan. Jadi, stres harus dihentikan bukan saja oleh orang yang diserang stres, tetapi juga oleh perusahaan dengan kebijakan dan pelatihan, yang sifatnya berkelanjutan, untuk membangun kesadaran terhadap diri sendiri yang lebih baik.

Stres bersumber dari rendahnya kecerdasan emosional seseorang. Penguatan emosi cerdas dari setiap individu insan perusahaan, akan menjadikan mereka unggul dan berdaya tahan tinggi. Dalam hal ini, mereka berpotensi menjadikan dirinya tidak kusut atau stres oleh berbagai perubahan yang tidak menentu di tempat kerja, ataupun di dalam kehidupan pribadi mereka.  Emosi cerdas yang baik memungkinkan seseorang tetap tenang dan bersyukur di bawah tekanan kerja yang berat, ataupun di bawah tekanan kehidupan yang penuh tantangan berat.

Kesadaran perusahaan untuk lebih memperhatikan kualitas batin dan pikiran karyawan, sangatlah menentukan keberhasilan perusahaan di dalam pencapaian kinerja yang lebih produktif. Jadi, sudah bukan zamannya lagi menyerahkan urusan peningkatan kualitas batin dan pikiran karyawan menjadi urusan pribadi mereka masing-masing. Tetapi, diperlukan campur tangan yang intensif dari perusahaan untuk mencerdaskan emosional agar kualitas batin dan pikiran dapat terbebaskan dari stres. Semakin berkualitas batin dan pikiran sumber daya manusia perusahaan, semakin mereka akan menjadi tak tertahankan untuk melayani dan mengkontribusikan kinerja terbaik.

Kecerdasan emosional akan menjadikan setiap karyawan mampu tetap tenang di bawah berbagai tekanan yang berpotensi menghadirkan stres. Untuk itu, perusahaan harus membangun budaya organisasi dengan lingkungan kerja yang lebih manusiawi, sehingga setiap insan perusahaan dapat menemukan kebahagiaan dengan pekerjaannya, walau jiwa sedang dalam kelelahan ekstrim dan merasa di luar kendali.

Bila perusahaan sudah menyiapkan lingkungan kerja seperti layaknya rumah yang mendamaikan batin dan pikiran, maka sangatlah mudah untuk membangun kesadaran setiap orang di dalam perusahaan untuk menguatkan diri dengan ilmu kecerdasan emosional, sehingga mereka dapat secara konsisten menjalankan pengetahuan kecerdasan emosional dalam upaya mengendalikan hidupnya dari bahaya stres.  

Stres yang dibiarkan atau dianggap sebagai urusan pribadi karyawan, akan mengakibatkan kelelahan yang berkepanjangan, sehingga menjadi penyebab penurunan kinerja dan prestasi. Oleh karena itu, perusahaan harus selalu tampil proaktif untuk melakukan penilaian terhadap tingkat stres karyawan, termasuk memperhatikan dan merawat suasana hati karyawan agar mereka mampu berkinerja dan berprestasi dengan lebih maksimal.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

DEMORALISASI LINGKUNGAN KERJA DAN MENGUATNYA BUDAYA KONFLIK

“Kepemimpinanlah yang paling bertanggung jawab atas efek demoralisasi di tempat kerja. Ketidakdewasaan pola pikir kepemimpinan, rendahnya kecerdasan emosional, serta lemahnya pengetahuan moral dan etika, akan menjadikan kepemimpinan sebagai sumber penyebab demoralisasi karyawan di tempat kerja, termasuk sebagai akar masalah dari penurunan kualitas kerja dan budaya kerja.”~ Djajendra

Lingkungan kerja yang penuh dengan perang dingin sangatlah tidak sehat. Nama besar dan kantor yang mewah bukanlah sebuah jaminan, akan adanya kehidupan kerja yang bahagia dan harmonis. Selama pikiran negatif, emosi buruk, perilaku tidak etis, serta perasaan paling benar dan paling pintar menguasai batin individu di dalam perusahaan; maka selama itu mereka akan menyebarkan virus yang melemahkan budaya kerja, serta menjadi penyebab konflik berkelanjutan di internal perusahaan.

Di dalam perusahaan yang tidak saling menghormati, serta terbiasa dengan perilaku paling tahu dan paling berhak, maka penurunan harga diri dan moral kerja berpotensi menjadikan proses kerja tidak efektif. Selanjutnya, hal ini akan terus memburuk di dalam konflik perang dingin, yang pada akhirnya akan menghilangkan potensi dan peluang luar biasa dari keunggulan sumber daya manusia.

Semua sikap, sifat, perilaku, dan kebiasaan negatif di tempat kerja adalah penyebab rendahnya produktivitas, dan tingginya perasaan tidak bahagia di tempat kerja. Energi negatif yang dikeluarkan oleh setiap individu di tempat kerja, akan menyebar seperti virus untuk memperlemah daya tahan budaya kerja. Apalagi bila energi negatif ini dikeluarkan oleh para manajer yang berada di dalam struktur organisasi, maka dampak kerusakan budaya kerja akan sangat luar biasa.

Lingkungan kerja adalah ruang dan waktu yang mempertemukan orang-orang, yang wajib berurusan satu sama lain, setiap hari. Jadi, bila di dalam hubungan setiap hari ini, energi negatif menjadi bagian yang paling berkuasa, maka pastilah lingkungan kerja tersebut akan menjadi beracun, dan merusak suasana hati orang-orang didalamnya untuk berkontribusi dengan sepenuh hati.

Kesadaran untuk mengenali lingkungan kerja sangatlah penting. Bila setiap orang hanya mengikuti kemauan ego dirinya sendiri, serta mengabaikan hal-hal positif pembentuk keharmonisan dan soliditas kerja, maka tidaklah mungkin lingkungan kerja akan memberikan kedamaian dan kebahagiaan. Jadi, realitas lingkungan kerja saat ini adalah sebuah cerminan yang memperlihatkan wajah asli dari kualitas moral sumber daya manusia perusahaan.

Kepemimpinan di dalam perusahaan, mulai dari tingkatan manajemen atas, tengah, dan bawah, sangatlah menentukan proses penguatan lingkungan kerja yang positif, yang kadar konfliknya rendah. Dalam hal ini, kepemimpinan dari semua tingkatan di struktur organisasi harus tampil proaktif dengan perilaku etis dan sikap baik.  Bila kepemimpinan di dalam perusahaan ikut-ikutan berkontribusi di dalam konflik yang saling merobek budaya kerja, maka perang dingin bisa meningkat menjadi perang terbuka. Yang hasilnya, setiap hari diisi dengan pertengkaran oleh kerusakan etika dan integritas.

Lingkungan kerja berbudaya konflik biasanya terlihat dari disiplin kerja yang rendah; dari tingginya aliran gosip kantor yang merusak moral kerja; politik kerja oleh komplotan yang saling bergerombol untuk memenangkan kepentingannya; kepemimpinan yang ragu dan tidak tegas untuk menjalankan kode etik kerja; serta moral kerja manajemen yang rendah, yang menyebarkan perilaku tidak sopan, dan tidak etis diantara karyawan di dalam lingkungan kerja.

Perilaku dan penampilan seorang manajer yang sombong dan tidak mengerti tata krama komunikasi, bahkan penampilan seorang supervisor yang ketus dan pedas, akan menjadi energi negatif yang secara perlahan-lahan merusak dan memperlemah budaya kerja.  

Kepemimpinanlah yang paling bertanggung jawab atas efek demoralisasi di tempat kerja. Ketidakdewasaan pola pikir kepemimpinan perusahaan, rendahnya kecerdasan emosional, serta lemahnya pengetahuan moral dan etika, akan menjadikan kepemimpinan sebagai sumber penyebab demoralisasi karyawan di tempat kerja, termasuk sebagai akar masalah dari penurunan kualitas kerja dan budaya kerja.

Ditingkatan pelaksana kerja, karyawan hanya memiliki kemampuan untuk mengontrol tindakan dan reaksi dirinya sendiri. Mereka tidak memiliki kuasa untuk mengontrol reaksi, tindakan, dan apa yang orang lain katakan dan lakukan. Sebab, mereka hanyalah karyawan pelaksana yang tidak memiliki kekuasaan atau otoritas. Mereka hanyalah fungsi proses kerja, yang menjalankan rutinitas pekerjaan untuk diakumulasikan ke dalam hasil akhir. Jadi, peran karyawan pelaksana hanyalah sebatas tukang yang menjalankan perintah dari pekerjaan dan kepemimpinan. Oleh karena itu, kepemimpinan perusahaan harus menjadi contoh dan teladan yang memperlihatkan perilaku etis dan tata krama di dalam menciptakan budaya kerja yang harmonis dan unggul. Sebab, hanya para pemimpinlah yang memiliki kekuasaan dan otoritas untuk mengatur setiap perilaku, sikap, sifat, tindakan, dari siapapun di dalam organisasi. Menjadi pemimpin yang kuat dengan integritas, etika, dan profesionalisme kerja; akan menjadikan pemimpin tersebut sebagai energi positif yang memperkuat budaya kerja, serta memperkuat lingkungan kerja menjadi lebih produktif dan harmonis.

Kepemimpinan dan manajemen yang cerdas, pasti tidak akan menginginkan lingkungan kerja, yang bermoral rendah dan penuh konflik. Semakin cerdas kepemimpinan dan manajemen melengkapi lingkungan kerja perusahaan dengan sikap, perilaku, sifat, dan tata krama yang etis; semakin kuat dan berkualitas lingkungan kerja tersebut. Setiap langkah yang terlambat untuk memperbaiki lingkungan kerja, akan menjadikan semakin rusak budaya kerja oleh efek demoralisasi, yang dampaknya pasti merugikan kepemimpinan dan manajemen.

Tidaklah boleh seorangpun yang membenarkan perilaku buruk, apalagi perilaku yang menyakiti atau merugikan orang lain di tempat kerja. Setiap ketidakjujuran dan ketidakaslian jati diri hanya akan menjadi energi negatif, yang mengkontribusikan hal-hal buruk ke dalam sistem kerja. Oleh karena itu, penguatan integritas dan etika yang terus-menerus haruslah menjadi pekerjaan yang tidak boleh dilupakan oleh manajemen perusahaan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

TINGGALKAN ZONA NYAMAN AGAR BISA MERAIH YANG LEBIH BAIK

DJAJENDRA“Zona kenyamanan adalah ruang mental dalam perilaku sesuai rutinitas. Diri yang merasa terbiasa dan mudah dengan rutinitas yang sama setiap hari, akan takut keluar dari zona nyaman. Dan, perubahan pasti akan ditolak, karena perasaan belum terbiasa atau takut dengan risiko. Hal ini akan membuat dirinya selalu ngotot untuk tetap di zona nyaman. Hasilnya, dia akan tertinggal oleh kemajuan, dan sulit menemukan jalan untuk kesejahteraan hidup yang lebih.” ~ Djajendra

Setiap orang sukses pastilah terbiasa untuk keluar dari zona nyaman, dan selalu mencari tantangan baru untuk menghasilkan sesuatu yang lebih dari sebelumnya. Zona nyaman bagi orang sukses adalah perubahan, dan mereka akan terus – menerus  terlibat dari satu perubahan menuju ke perubahan berikutnya, sehingga mereka selalu hidup dengan sejahtera di sepanjang  kehidupan. Perubahan adalah sesuatu yang pasti, karenanya mereka tidak akan diam dalam batas mental,  dan selalu akan mencari jalan keluar untuk melewati batas mental mereka.

Orang-orang yang suka dengan zona kenyamanan adalah mereka yang suka hidupnya terprediksi dalam ruang aman, tanpa risiko. Dan, hal ini akan membuat mereka tahu persis tentang apa yang akan terjadi di dalam hidupnya. Padahal, kehidupan itu sendiri berada dalam ketidakpastian, dan juga tidak bisa diprediksi untuk semua hal. Mungkin hal-hal tertentu dapat diprediksi, tetapi dalam realitas, lebih banyak hal-hal dalam kehidupan yang sulit untuk diprediksi.

Keluar dari zona nyaman berarti berani mendorong batas sendiri, lalu memperluas wilayah mental agar dapat berpikir dan bersikap di luar  kebiasaan. Semakin berani Anda keluar dari kotak nyaman Anda, semakin akan memicu potensi sukses Anda menuju kebesaran diri Anda.

Orang-orang yang kurang kreatif paling takut dengan perubahan, apalagi kalau dipaksa untuk keluar dari zona nyaman mereka. Bukannya kinerja yang akan didapatkan, tetapi penurunan produktivitas oleh kecemasan dan perasaan tidak aman. Diperlukan motivasi dan inspirasi secara berkelanjutan untuk membuka pikiran mereka, lalu memberikan keyakinan dan akal sehat agar mereka mau keluar dari batas mental mereka.

Ketidakberanian atau mental yang malas berpikir kreatif, akan menjadikan seseorang tidak mudah untuk ditarik ke ruang perubahan. Diperlukan pencerahan dan bukti yang meyakinkan agar mereka mau melakukan sesuatu dengan cara-cara baru. Zona nyaman bukanlah hal yang baik atau buruk, tetapi akan membuat pikiran tidak berkembang, lalu membentuk kepribadian yang takut dengan risiko.

Ketika Anda mampu berpikir di luar kota nyaman mental Anda, maka setiap kendala yang menghalangi pilihan hidup Anda, dapat Anda temukan solusinya. Karena, di luar zona nyaman atau di luar wilayah batas mental Anda, ada pengetahuan yang tidak terbatas banyaknya dan tidak terbatas dalamnya untuk Anda jadikan sumber dalam pencarian solusi yang tepat. Bila Anda tetap ngotot dalam zona nyaman Anda, maka semua masalah hidup pastilah pemikirannya sebatas wilayah mental Anda. Hal ini akan membuat Anda tidak memiliki kapasitas untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih dari luar wilayah mental Anda. Oleh karena itu, jadilah pribadi yang terus-menerus memperbaiki dan memperluas batas wilayah mental Anda, gunakan kekuatan kreativitas Anda untuk menemukan hal-hal luar biasa dari kehidupan yang lebih luas.

Zona nyaman Anda tidaklah buruk, tetapi dia hanya membuat Anda tidak berkembang untuk menjadi lebih baik. Dia akan membatasi pola pikir Anda sebatas praktik yang selama ini Anda gunakan; membatasi Anda sebatas pengalaman dan kepercayaan yang Anda jadikan andalan hidup Anda; dan membatasi Anda sebatas pemahaman yang sama, yang selalu berulang dalam rutinitas sebab-akibat hidup Anda.

Anda pasti memiliki potensi-potensi yang belum dimaksimalkan, dan bila wawasan Anda lebih luas dari sekarang, maka Anda pasti akan lebih mengetahui untuk mengoptimalkan potensi Anda. Oleh karena itu, segeralah keluar dari kotak nyaman Anda. Jadilah lebih terbuka untuk belajar sesuatu yang baru, dan siapkan diri untuk bekerja bersama perubahan. Jangan takut dengan risiko, sebab saat Anda berani menerima risiko, saat itu mental Anda akan mendorong Anda dengan visi yang lebih besar, sehingga Anda akan menjadi lebih terang melihat masa depan, serta mampu bekerja dengan lebih cerdas untuk terlepas dari masalah yang harus dihadapi.  

Yakinkan diri Anda bahwa ketika Anda mampu berpikir di luar kotak, maka semua tujuan Anda akan lebih mudah dicapai. Dan yakinkan juga bahwa berada di luar wilayah mental akan lebih menguntungkan pertumbuhan diri Anda. Berpikir di luar wilayah mental saja tidak cukup, Anda harus bertindak dan memerlukan dukungan dari orang-orang di sekitar Anda. Pastikan Anda mampu menciptakan lingkungan yang secara proaktif membantu dan terlibat dalam proses perubahan Anda.

Gunakan rasa takut untuk lebih menguasai hal-hal di luar wilayah mental Anda. Dan, jangan biarkan rasa takut terhadap realitas di luar wilayah mental Anda, membuat Anda kehilangan keberanian untuk melakukan sesuatu dengan lebih kreatif. Keluarlah segera dari zona nyaman Anda, karena di luar zona nyaman Anda ada lebih banyak hal-hal hebat yang dapat membantu kemajuan dan kesejahteraan hidup Anda.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KECERDASAN EMOSIONAL UNTUK MENGATASI TRAUMA


DJAJENDRA PROFILE
“Ketika jiwa terluka, maka pengalaman terluka itu bisa menjadi trauma yang menyakitkan. Ketika fisik terluka, maka pengalaman terluka itu, walau secara medis sudah sembuh, tetapi secara kejiwaan masih trauma, artinya masih belum sembuh. Ketika kemanusiaan seseorang  tertindas oleh ketidakbaikan, maka pengalaman itu bisa menjadi trauma yang dirasakan seumur hidup. Trauma adalah pengalaman masa lalu yang sampai hari ini masih hidup di dalam jiwa, pikiran, dan emosi. Trauma adalah persoalan kejiwaan yang hanya bisa diobati dengan cinta, kasih sayang, dan kepedulian. “~ Djajendra

Trauma adalah sebuah peristiwa yang menyakitkan secara fisik, mental, emosional, dan kejiwaan yang membuat seseorang sulit melupakannnya, dan peristiwa yang menyakitkan itu terus-menerus dirasakan sampai hari ini.

Seorang olahragawan yang pernah mengalami cedera lutut, bila secara mental dan emosional ia tidak merasa sembuh, walau secara fisik sudah sembuh, maka dia sedang dalam kondisi trauma. Trauma adalah persoalan mental, kejiwaan dan emosional. Jadi, trauma hanya bisa diobati dengan meningkatkan keyakinan dan rasa percaya diri bahwa kejadiaan yang menyakitkan itu sudah berlalu. Dan sekarang, dirinya sudah menjadi lebih kuat lagi sehingga dirinya boleh kembali hidup tanpa rasa takut dengan peristiwa yang sudah berlalu.

Mengobati trauma memerlukan kecerdasan emosional dan kekuatan akal sehat. Emosional yang cerdas dengan akal sehat akan menjadi jalan tercepat untuk pemulihan trauma. Sebab, ketika emosional seseorang cerdas, dia akan memiliki kesadaran untuk mengelola diri sendiri agar dirinya segera terlepas dari peristiwa masa lalu yang menyakitkan. Kesadaran yang diperkuat dengan motivasi untuk lebih bersyukur dan berterima kasih dengan keadaan hari ini, akan menjadi awal yang baik untuk proses pemulihan trauma.

Kesadaran diri yang baik akan dengan cerdas memetakan dirinya, dan menjadikan konsep diri sebagai prinsip untuk memulai langkah-langkah yang praktis dalam pemulihan trauma. Jadi, orang yang sadar diri pastilah dengan mudah dapat memberikan pencerahan kepada dirinya sendiri, sehingga ia dengan mudah dapat mengatasi semua trauma, dan dengan penuh percaya diri melangkah menuju masa depan tanpa dibayangi trauma.

Kesadaran diri akan merubah trauma menjadi pengalaman berharga untuk mencegah risiko yang tidak diinginkan di masa depan. Jadi, selama diri sadar untuk bersikap dan berpikir positif pada semua peristiwa terburuk, juga mampu menjadi lebih ikhlas dan memaafkan kejadian yang menyakitkan, maka diri akan lebih mudah untuk melupakan peristiwa masa lalu yang menyakitkan itu.

Trauma tidak saja dihasilkan dari pengalaman pribadi seseorang dengan berbagai interaksi dan kejadian yang sifatnya masih di ruang pribadi. Tetapi, trauma juga sering sekali dihasilkan dari ruang publik. Sebagai contoh, trauma yang disebabkan oleh kehidupan sosial yang tidak cerdas sosial. Di dalam kehidupan sosial yang miskin empati, toleransi, kasih sayang, peduli, cinta, dan kemanusiaan; akan menghasilkan kekerasaan, pelecehan, diskriminasi, dan perilaku-perilaku buas yang tidak manusiawi. Di mana, semua realitas tersebut akan menjadi energi yang menciptakan trauma sehingga akan meninggalkan luka fisik, luka jiwa dan luka emosi yang sulit untuk dilupakan. Hal ini akan menjadi energi negatif yang merusak masa depan dan kedamaian hidup seseorang.

Sikap dan perilaku yang merasa paling benar dalam sebuah kelompok sosial, serta sikap dan perilaku yang menganggap kelompok lain lebih rendah dari kelompoknya, juga dapat menjadi pemicu peristiwa-peristiwa negatif yang menghasilkan trauma. Trauma juga bisa bersumber dari sikap superior atas kelompok lain. Bila sebuah kelompok merasa superior, maka kelompok superior ini pasti menganggap rendah kelompok-kelompok yang berbeda dengannya. Mindset yang menganggap kelompoknya yang paling benar dan paling berhak dari yang lainnya, berpotensi menghasilkan energi kehidupan sosial dalam bentuk diskriminasi, rasisme, kekerasan, dan perilaku-perilaku anti sosial lainnya.

Trauma sangatlah tidak menguntungkan siapapun. Sebab, trauma akan menghasilkan pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok yang hidupnya tertekan dalam rasa takut yang berlebihan, sehingga mereka tidak bisa fokus secara total untuk menjadi energi produktif dan kreatif. Bila dalam sebuah komunitas masyarakat terlalu banyak orang-orang yang memiliki trauma, maka dapat dipastikan komunitas tersebut tidak akan pernah bisa tumbuh dan berkembang menuju masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu, trauma haruslah menjadi tanggung jawab bersama untuk pemulihannya. Diperlukan penguatan rasa percaya diri, keyakinan, dan kecerdasan emosional untuk melakukan pemulihan atas trauma seseorang. Dan juga, hanya dengan cinta dan kepedulian dari hati yang ikhlas dan tulus, trauma dapat dipulihkan secara total.

Setiap keluarga, sekolah, dan lingkungan kehidupan sosial haruslah menjadi pihak-pihak yang cerdas meningkatkan rasa percaya diri anak-anak untuk meyakini bahwa kehidupan dengan cinta, kasih sayang, kepedulian, toleransi, empati, dan berpikir positif terhadap semua peristiwa, akan menjadi kekuatan untuk meningkatkan daya tahan mental dan emosional dalam menghindari trauma. Bila sejak anak-anak seseorang terbiasa hidup dalam pikiran positif, toleransi, cinta, empati, dan kepedulian, maka kalau sudah besar dia akan menjadi pribadi tangguh yang tidak mudah diserang oleh trauma atas peristiwa atau pengalaman menyakitkan apapun. Sebab, mentalnya yang selalu berpikir positif akan dengan cerdas melakukan perubahan untuk perbaikan atas semua kejadian yang berpotensi menimbulkan trauma.

Trauma bersumber dari semua hal-hal negatif.  Sikap, perilaku, kebiasaan, pola hidup yang negatif dan penuh emosional dapat menjadi jalan untuk menghasilkan trauma. Diperlukan kepribadian dan karakter yang unggul bersama integritas pribadi, serta kepribadian yang unggul dalam kecerdasan emosional agar dapat terhindar dari trauma. Trauma yang kronis dapat menghasilkan sakit mental, sakit emosional, dan sakit fisik yang dipicu oleh emosional negatif.

Trauma adalah sesuatu yang sangat berbahaya buat kemajuan dan pencapaian yang lebih tinggi. Masyarakat yang trauma pasti pola kehidupan sehari-harinya penuh dengan stres kronis dan tidak memiliki kesehatan emosional yang baik. Akibatnya, sebagian besar hidup dihabiskan untuk menghadapi kecemasan dan ketakutan, sehingga tidak memiliki waktu untuk menjadi lebih produktif dan kreatif.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KETENANGAN KARYAWAN ADALAH AKAR KEMENANGAN ORGANISASI

DjajSCN9599“Sabar dan tenang adalah kekuatan untuk meraih kemenangan. Bila Anda sabar dan lebih tenang dalam menghadapi hidup, maka Anda akan memiliki kekuatan untuk mencapai semua yang Anda inginkan. Walau semua itu harus berjalan sangat lambat, tetapi Anda yang terus bekerja tanpa henti, dalam situasi dan kondisi apapun, akan meraih yang Anda inginkan. Sabar dan tenang adalah kekuatan untuk menang.”~ Djajendra

Setiap kali kehilangan ketenangan, gelisah akan menguasai diri. Ketenangan adalah akar kemenangan. Semakin tenang menghadapi persoalan yang mengesalkan, semakin diri akan mencapai keseimbangan batin. Tenang adalah menang. Jadilah tenang, agar Anda menang dalam mengatasi semua persoalan hidup.

Organisasi yang kuat adalah yang dipimpin oleh orang-orang yang tenang dan sabar bersama rencana kerjanya. Sikap tenang pemimpin akan menular menjadi sikap tenang para bawahan. Bila setiap bawahan mampu bekerja dengan tenang dan sabar; maka produktivitas, kualitas, dan efektivitas kerja akan tercapai dengan sempurna.

Sikap tenang dalam kekuatan kompetensi dan sumber daya yang kuat, akan menjadi kekuatan yang tak tertandingi saat harus berhadapan dengan tantangan besar. Kemampuan untuk mempertahankan sikap tenang, akan menjadi jalan menuju kemenangan atas semua hal yang dihadapi.

Ketika pemimpin kehilangan ketenangan, maka hal ini akan menjadi kelemahan, dan sekaligus menjadi tantangan dalam menciptakan organisasi dengan kinerja terbaik. Dalam kepribadian yang tenang, sabar, dan cerdas ada kekuatan untuk mencapai kinerja terbaik.

Ketika karyawan kehilangan ketenangan di tempat kerja; maka organisasi berpotensi kehilangan efektivitas, moral, reputasi, kualitas, dan semua itu pada akhirnya akan mengurangi kinerja organisasi. Ketenangan di dalam organisasi adalah sesuatu yang wajib diciptakan, agar organisasi bisa meningkatkan kredibilitas dan reputasi kepada stekeholders.

Kesadaran untuk mengembangkan dan menciptakan energi tenang dalam organisasi, akan menguntungkan organisasi. Ketika setiap eksekutif puncak sadar untuk tidak kehilangan ketenangan, dan tetap unggul dalam pengendalian diri, maka organisasi akan terlihat kuat, dan para mitra organisasi akan menikmati kredibilitas organisasi.

Ketenangan tidak akan didapat ketika semua orang di dalam organisasi hanya mampu mengasihani diri sendiri. Ketenangan akan dicapai ketika setiap orang mampu mengembangkan kepribadiannya dengan kecerdasan emosional dan pikiran positif, kemudian bekerja dengan totalitas, dalam perasaan cinta pada tugas dan tanggung jawab.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PETAKAN DAN TUNTASKAN MASALAH

PROFILE DJAJENDRA“Jangan pernah kondisi Anda menjadi masalah hidup Anda; jangan pernah masalah hidup Anda menjadi karakter hidup Anda. Anda ada untuk berfungsi sebagai energi yang menuntaskan masalah, bukan sebagai energi yang tak berfungsi menghadapi masalah.” ~ Djajendra

Masalah ada karena diri tidak mampu menyesuaikan dirinya dengan realitas yang terjadi. Siapapun pasti pernah menghadapi masalah, tetapi orang-orang berkualitas tidak akan pernah membiarkan masalah tumbuh menguat dalam hidupnya. Orang-orang berkualitas tidak akan membiarkan kondisi dan realitasnya menjadi masalah yang membuat hidupnya tidak bahagia.

Hidup itu sempurna, tetapi kadang-kadang ketidaksempurnaan juga hadir dalam kehidupan. Saat ketidaksempurnaan itu hadir, saat itu kondisi kehidupan akan menciptakan masalah. Saat timbul masalah, hanya solusi yang dapat menuntaskan masalah tersebut. Diperlukan kecerdasan emosi dan ketenangan pikiran kreatif untuk menemukan solusi yang tepat.

Emosi yang tidak cerdas dan pikiran yang tidak tenang hanya  akan menjadi energi untuk menguatkan masalah atau membesarkan masalah yang ada. Oleh karena itu, sangatlah diperlukan kecerdasan emosi yang konsisten dalam menuntaskan masalah dengan solusi yang tepat dan efektif.

Saat masalah muncul, jangan panik dulu. Petakan semua realitas yang ada dengan jujur. Lalu, dengan emosi yang cerdas dan pikiran yang kreatif temukan solusi yang paling tepat. Jangan pernah membiarkan perasaan tidak puas menguasai pikiran Anda. Bila perasaan tidak puas lebih kuat dibandingkan solusi yang Anda temukan, maka masalah Anda tidak akan pernah tuntas. Masalah Anda akan tumbuh dan berkembang menjadi lebih besar hanya oleh dorongan dari perasaan tidak puas Anda. Hiduplah lebih bersyukur dan yakinkan diri Anda bahwa setiap masalah harus ada solusi yang tuntas. Untuk itu, hiduplah dengan ikhlas.

Setiap kondisi yang dipersepsikan dengan perasaan tidak puas akan berubah menjadi masalah. Hidupkan energi syukur dan terima kasih di dalam persepsi Anda, agar apapun kondisinya, Anda tetap dapat menuntaskan kondisi Anda, tanpa menganggapnya sebagai masalah dalam hidup.

Walaupun berbagai fakta menciptakan kondisi yang mengarah pada masalah. Tetapi, bila Anda percaya diri dan lebih ikhlas dengan realitas, maka kondisi Anda akan menjadi sesuatu yang sangat inspiratif, dan berfungsi sebagai suatu dorongan bagi kemajuan diri Anda.

Apapun kondisi Anda, jangan pernah menjadikan kondisi tersebut sebagai alat untuk melemahkan diri Anda. Hadapi semua tantangan dan rintangan dengan berani, ikhlas, percaya diri, dan dengan keyakinan untuk menemukan solusi yang menuntaskan.

Masalah muncul hanya untuk menguji keterampilan Anda dalam menemukan solusi. Semakin mudah Anda menemukan solusi untuk setiap kondisi, masalah, ataupun rintangan; semakin Anda sedang tumbuh untuk menjadi pemenang, yang selalu menang untuk kehidupan Anda yang penuh bahagia.

Anda terlahir bukan untuk menyiksa hidup Anda dengan masalah, tetapi untuk menyiapkan kualitas diri Anda dengan pengetahuan dan kemampuan, agar setiap hari Anda bisa menjadi pemenang yang selalu menang bersama solusi dan kebahagiaan.

Jadilah pemimpin berkualitas untuk diri Anda sendiri, dan setiap hari hiduplah dengan gairah untuk menjadi lebih bahagia dan sehat. Jangan pernah menutup diri dari perkembangan pengetahuan tentang kehidupan. Sebab, sekali Anda membatasi hidup Anda dari pengetahuan kehidupan, maka kehidupan akan mengalahkan Anda. Dan pada akhirnya, Anda akan hidup terpukul oleh berbagai kondisi, yang tidak mampu Anda tuntaskan, karena kurangnya ilmu dan pengetahuan yang Anda miliki.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

LINGKUNGAN KERJA YANG POSITIF MENINGKATKAN MOTIVASI KERJA

2013-04-221“Setiap orang suka dengan pujian, dan tidak suka dengan kritikan. Saat Anda harus memberikan tanggapan kepada seseorang, pastikan Anda merespon dengan positif. Bila ingin mengkritik, gunakan kata-kata positif dan jangan merendahkan dirinya.” ~ Djajendra

Lingkungan kerja yang positif akan membangun hubungan yang kuat dengan rekan kerja, bawahan, pimpinan, pelanggan, serta dengan semua pemangku kepentingan yang lainnya.

Perilaku kerja dengan tata kelola yang konsisten berdasarkan nilai-nilai organisasi yang kuat, akan memiliki dampak positif, untuk meningkatkan disiplin dan motivasi kerja setiap orang di dalam organisasi. Keberhasilan atau kegagalan di tempat kerja sangat ditentukan oleh soliditas di lingkungan kerja. Semakin antusias dan disiplin orang-orang melayani pekerjaan masing-masing, semakin kuat hubungan kerja yang akan terjalin di lingkungan kerja tersebut.

Setiap fungsi dan peran di tempat kerja tidaklah boleh saling menjauh, tetapi harus saling mengisi dengan berkomunikasi secara aktif, untuk mengumpulkan masukan sebelum mengambil keputusan. Perilaku kerja dalam kebebasan kreatif; dalam kemampuan untuk menahan diri; serta dalam kecerdasan untuk menghadapi tantangan dan risiko, akan menjadi modal yang kuat untuk menjaga lingkungan kerja selalu solid dan positif.

Setiap orang di tempat kerja harus mempersiapkan sebuah kebiasaan kerja yang fokus pada hal-hal penting dan prioritas. Sikap fokus pada prioritas ini akan membantu orang-orang untuk berkontribusi dan melayani tujuan dengan tepat sasaran. Membiasakan pola kerja dengan sebuah checklist, akan memudahkan dan membantu dalam menyelesaikan prioritas pekerjaan. Pimpinan harus selalu memperjelas harapan dan memastikan bahwa disiplin dan motivasi kerja yang tinggi selalu bersama perilaku kerja, dan tidak pernah bergeser ke arah negatif oleh alasan apapun.

Budaya kerja yang memberikan tanggapan positif  dengan toleransi untuk kemajuan bersama. Setiap orang di tempat kerja, apakah itu manajer, direksi, staf, dan semua pemangku kepentingan lainnya wajib untuk saling memberikan tanggapan positif.  Kesadaran masing-masing pihak untuk menyadiri kesalahan atau kegagalan yang disebabkan oleh dirinya atau unit kerjanya, akan membuat organisasi tumbuh sehat dan kuat.

Sikap saling salah menyalahkan hanya akan memperburuk hubungan kerja, dan pada akhirnya akan membahayakan keutuhan organisasi. Karena, konflik dari hubungan buruk tersebut dapat membuat setiap orang gagal merespon risiko dengan pengetahuan dan akal sehat.

Hubungan kerja yang saling memberikan informasi yang berguna, serta saling menjalankan manajemen risiko mulai dari pekerjaan masing-masing, akan menjadikan hubungan kerja tersebut lebih bertanggung jawab. Sikap rendah hati dalam kecerdasan emosional akan menempatkan setiap orang selalu bekerja dalam suasana hati yang bahagia. Sehingga, setiap kesalahan atau kelalaian akan dengan cepat dapat diperbaiki.

Lingkungan kerja yang positif dihasilkan dari energi kolaboratif  dan disiplin. Bila semua karyawan dan pimpinan dapat membangun hubungan yang harmonis, dan dapat bekerja dengan dukungan energi kolaboratif  tanpa pamrih, termasuk mendapatkan rasa hormat atas semua energi positif  yang mereka kontribusikan kepada organisasi; maka, lingkungan kerja tersebut akan menjadi sangat produktif, efektif, kreatif, efisien, dan penuh energi bahagia.

Pemimpin yang berkualitas pasti akan membantu setiap orang di tempat kerja untuk mendapatkan pola pikir yang benar. Mulai dengan bahasa komunikasi yang sopan dengan tatakrama yang etis, serta melakukan pengembangan kepribadian karyawan dengan konsisten dan berkelanjutan. Termasuk, mempersiapkan karyawan dengan pola berpikir yang dilengkapi kecerdasan emosional, untuk dapat mengatasi semua potensi konflik, akibat dari perbedaan persepsi yang ditimbulkan oleh perbedaan dari fungsi dan peran kerja masing-masing pihak.

Orang-orang yang bekerja dengan perasaan senang dan bahagia selalu berkontribusi lebih. Karyawan dan pimpinan yang bahagia dengan lingkungan kerja pasti bekerja lebih kreatif, menghasilkan hasil yang lebih berkualitas dan juga menjadi lebih produktif. Perasaan bahagia akan membuat hati ikhlas untuk bekerja ekstra, dan ikhlas untuk berbagi pengetahuan dengan yang lain.

Sikap positif dalam motivasi dan disiplin kerja yang tinggi akan menular; untuk menciptakan suatu lingkungan kerja yang kuat, unggul, terarah, dan melibatkan semua pihak dalam kolaborasi dan soliditas kerja yang produktif. Pimpinan dan tim manajemen harus mampu menjadi teladan yang memfokuskan semua energi organisasi ke arah positif. Lalu, mampu menjadi kekuatan yang membuat setiap individu di dalam organisasi bekerja menuju kebahagiaan, kesenangan, keterlibatan, dan masing-masing dapat memaknai pekerjaan dengan optimis.

Lingkungan kerja yang positif pasti membuat setiap orang menikmati hubungan kerja dan lingkungan tempat mereka bekerja. Setiap orang pasti mampu tertawa, bahagia, sehat, damai, dan merasakan energi positif di sekitar kehidupan kerja mereka. Dan hal ini, pasti akan memotivasi jiwa dan sikap ikhlas dari masing-masing hati, untuk mengisi peran kerja, yang sesuai dengan kompetensi dan keahlian masing-masing dengan antusias dan penuh optimistis.

Lingkungan kerja yang positif selalu dibangun dan dikembangkan dengan pengaruh positif dari kepemimpinan, budaya organisasi, dan manajemen. Sifat manusia tidak suka dipaksa atau didorong dengan ambisi, tetapi lebih suka dipengaruhi dan diyakinkan tentang manfaat dari terciptanya lingkungan kerja yang positif dan kuat. Jadi, ketika Anda memutuskan untuk membangun lingkungan kerja yang positif dan kuat, pastikan Anda sebagai pemimpin mampu menularkan pengaruh yang kuat, untuk mengajak setiap orang berkontribusi  dalam penguatan lingkungan kerja yang positif dan produktif.

Setiap penularan atau pengaruh akan merangsang terciptanya perubahan. Dalam perubahan orang-orang membutuhkan panduan dan bimbingan untuk mengubah perilaku, serta bimbingan untuk dapat beradaptasi dengan hal-hal baru dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif.

Pemimpin yang berkualitas selalu akan mendengarkan semua kebutuhan yang diperlukan selama masa adaptasi. Jadi, dia tidak akan sekedar berpidato berapi-api, lalu menyerahkan perubahan itu kepada masing-masing individu atau kelompok. Tetapi, dia akan terlibat di setiap momen untuk memahami, membantu, mendengarkan, belajar, menahan diri, dan menawarkan perbaikan-perbaikan yang cepat dan tepat sasaran. Dan, dia akan bekerja dengan totalitas untuk mewujudkan lingkungan kerja yang positif, serta selalu mengawal setiap kondisi dan situasi, agar para karyawannya mampu bekerja dengan disiplin dan motivasi yang tinggi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MEMOTONG KECIL-KECIL AKAR MASALAH, LALU DIHAPUS UNTUK SELAMANYA

DSCN9565

“Tidak semua masalah akan membuat orang-orang menjadi tidak bahagia, dan tidak semua solusi akan membuat orang-orang bahagia. Dalam hidup, masalah dan solusi selalu akan ada untuk memberikan beberapa jawaban bagi yang ingin terus bergerak bersama hidupnya, dan bagi yang ingin terus-menerus mengeksplorasi kehidupan.” ~ Djajendra

Ketika berhadapan dengan masalah, Anda harus menemukan metode terbaik buat menyelesaikan masalah tersebut.  Salah satu metode terbaik adalah menemukan akar persoalan dari masalah tersebut, lalu kombinasikan akal sehat dengan pengetahuan yang terbuka dan berkembang, untuk diterapkan secara kreatif terhadap masalah tersebut.

Sebuah masalah tidaklah boleh menyimpan atau menyembunyikan akar persoalan. Bila akar persoalan dari masalah tersebut pura-pura diabaikan, maka masalah tersebut akan terus-menerus hadir untuk menghapus semua solusi yang pernah dibuat. Hal terbenar dalam penyelesaian masalah adalah menemukan kekuatan tertinggi dari akar persoalan, kemudian memiliki komitmen dan disiplin yang tinggi, untuk membangun kekuatan yang lebih besar sebagai penyeimbang ataupun penghapus akar persoalan, agar akar persoalan menjadi tidak berdaya, dan tidak lagi terus tumbuh dalam berbagai wujud masalah.

Kemampuan untuk menghapus mata rantai dari akar persoalan akan menjadi awal dalam pengembangan solusi. Memotong kecil-kecil akar masalah, serta menghapus potongan kecil-kecil dengan kekuatan yang konsisten untuk menuntaskan mata rantai dari akar masalah, akan menjadikan masalah tersebut kehilangan daya dan energi untuk tumbuh kembali.

Solusi yang paling tepat untuk setiap masalah, adalah menjadikan masalah tersebut tidak memiliki kemampuan, untuk bangkit dengan berbagai wujud masalah baru. Miliki strategi dan taktik yang fokus pada akar masalah, lalu tuntaskan akar masalah dengan solusi yang paling kuat dan efektif.

Solusi terbaik akan muncul saat Anda bertindak dengan tegas, serta memiliki keinginan dan antusias untuk pencapaian  solusi yang berkekuatan pasti dalam menuntuskan masalah tersebut untuk selamanya. Dengan kerendahan hati dan langkah –langkah sederhana, Anda dapat langsung masuk dan fokus pada akar masalah, dan tidak sekedar mencari solusi untuk semua masalah yang terlihat dipermukaan saja, tetapi benar-benar bekerja pada solusi di akar masalah.

Jika Anda tidak benar-benar bertindak dan bekerja di titik akar terendah dari masalah tersebut. Maka, Anda tidak akan pernah mampu menyelesaikan masalah dengan tuntas, Anda hanya berkemampuan untuk meredam masalah yang tampak dipermukaan, dan di titik akar masalah, masalah itu tetap akan tumbuh, untuk kemudian kembali muncul kepermukaan. Artinya, semua solusi Anda sifatnya sementara, dan bukan menyelesaikan masalah sampai tuntas.

Setiap masalah haruslah dieksplorasi sampai pada kedalaman yang paling dalam. Lalu, dengan kesadaran dan tanggung jawab, masalah tersebut harus ditemukan solusinya, kemudian melakukan penyembuhan pada luka-luka yang ditimbulkkan oleh masalah tersebut, baik dalam kehidupan pribadi maupun pada kehidupan sosial.

Dalam proses penyelesaian masalah pasti ada pihak yang bahagia dan ada juga pihak yang kurang bahagia. Diperlukan sikap terbaik dan tegas untuk mendekati setiap masalah. Dan, diperlukan solusi yang kuat, agar yang tidak bahagia dengan solusi tersebut, tidak menyusun kekuatan kembali untuk bangkit dan menciptakan masalah yang lebih besar.

Kita semua hidup dalam dunia yang tercipta dari sudut pandang kita masing-masing. Sudut pandang dalam wujud perspektif  individu, kelompok, dan sosial; sudut pandang yang tercipta dari cara kita berpikir, cara kita berkeyakinan, cara kita menafsirkan makna, dan cara kita memahami diri sendiri. Artinya, dalam kehidupan yang sangat berwarna dan beragam ini, kita masing-masing akan selalu hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan. Selama semua perbedaan itu tumbuh dan berkembang di ruang toleransi dan cinta, maka sangatlah mudah untuk menyelesaikan semua akar masalah dari perbedaan itu. Tetapi, bila semua perbedaan itu tumbuh dalam ruang ego dan fanatisme kebenaran sepihak, serta tidak ada ruang bagi toleransi dan cinta, maka akar masalah akan menjadi sesuatu yang tidak mudah untuk dituntaskan dengan solusi yang adil.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KEDAMAIAN DUNIA ADA DALAM JIWA ANDA YANG DAMAI

“Dalam jiwa yang cerdas emosi, akan tercipta perdamaian  dan harga diri, untuk membuat jiwa itu abadi dalam sumber kebaikan.” ~ Djajendra

2013-04-221

Bila Anda ingin hidup di dunia yang damai dan harmoni, maka Anda harus membuat diri Anda hidup damai dengan diri sendiri. Dan kemudian, diri Anda yang damai harus bisa menjadi cerdas sosial untuk menularkan pengaruh damai ke jiwa-jiwa yang lain.

Kedamaian tidak dihasilkan dari ego dan ambisi untuk menjadi yang terbaik, tetapi dari jiwa yang melatih emosi dan pikirannya, untuk hidup damai dan harmoni dalam segala aspek kehidupan. Nyalakan energi damai di dalam diri, dan jaga terus energi damai tersebut, agar hidup Anda selalu dalam jiwa yang damai dan bahagia.  

Hidup ini milik semua yang hidup, karena semua yang hidup memiliki emosi, cara berpikir, cara bersikap, dan cara meyakini sesuatu dengan caranya sendiri; maka, muncullah perbedaan, bila perbedaan ini tidak disikapi dengan toleransi dan sikap baik, maka semua perbedaan itu akan menjadi sumber konflik, yang menghilangkan rasa damai dalam kehidupan.

Rasa aman dan nyaman dapat menciptakan ketenangan pikiran. Ketenangan pikiran akan menjadi dasar untuk merawat rasa damai di dalam diri. Semua kekacauan di dalam diri dapat menjadi energi negatif yang berkontribusi untuk kekacauan dunia. Dan, semua kekacauan sosial dapat berkontribusi untuk menghilangkan rasa damai di dalam diri Anda.

Temukan keheningan untuk merenungkan cara mendapatkan rasa damai di dalam diri; cerdaskan emosional agar selalu dapat menjalani kehidupan dalam ketenangan pikiran; siapkan kepribadian untuk menerima realitas hidup dengan lebih ikhlas dan jujur. Dan, jadikan diri sebagai sumber penghasil energi damai buat diri sendiri, dan buat kehidupan di sekitar diri Anda. Jadilah energi baik yang mengkontribusikan semua kebaikan kepada realitas hidup Anda.

Ketika Anda sulit menjadi cerdas emosi dan cerdas sosial, maka Anda akan menjadi pribadi yang sulit menemukan rasa damai di dalam hidup Anda. Dan, seseorang yang sulit menemukan rasa damai di dalam dirinya, dia juga akan sulit menemukan rasa damai dimanapun. Akibatnya, di sepanjang hidupnya, dia akan menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan perasaan tidak damai, serta kesehariannya akan dihabiskan untuk berkeluh-kesah tentang dunia yang tidak damai. Dampaknya, dia akan menghabiskan waktu dan potensi baik dirinya diberbagai tepian kehidupan, yang tak bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.

Perasaan tidak damai adalah bukti bahwa diri menderita kekurangan. Rasa gelisah dan pikiran takut akan membuat pertahanan diri tergeserkan. Akibatnya, diri akan kesulitan untuk hidup dengan keyakinan damai. Kehilangan keyakinan damai di dalam diri akan membuat diri kecanduan rasa curiga. Rasa curiga yang mencandu di dalam diri akan menjadi faktor awal, yang berpotensi menciptakan banyak gangguan kepribadian, sehingga diri tidak lagi mampu untuk mengelola emosi dan pikiran untuk kehidupan damai.

Jiwa yang tidak damai adalah sumber perusak keharmonisan kehidupan sosial. Sebab, di dalam jiwa yang tidak damai, ada pabrik energi negatif yang siap diproduksi secara masal, lalu didistribusikan kepada jiwa-jiwa lain di sekitarnya.  Jiwa yang tidak damai ini berpotensi menjadi pabrik penghasil energi benci dan dendam, termasuk cerdas berbohong dan menyakiti orang lain. Dan, semua ini hanya dilakukan dengan keyakinan bahwa dunia ini bukanlah tempat yang aman dan damai.

Perasaan tidak damai merupakan bagian dari penyakit emosi. Kemauan untuk melatih emosi dan membiasakan emosi di dalam kecerdasan realitas hidup, akan membuat diri dapat menemukan ketenangan pikiran, serta dapat menciptakan respon otomatis di dalam diri, untuk pemulihan atas gangguan dari energi negatif sosial dan pribadi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Older posts Newer posts

© 2019 MOTIVASI DJAJENDRA

Theme by Anders NorenUp ↑