PT DJAJENDRA MOTIVASI UNGGUL

Leadership Organization Business Personal Interpersonal Entrepreneurs and Employed Professionals

Category: Good Corporate Governance (page 2 of 15)

Tata Kelola Perusahaan Yang Baik

MENCEGAH PERILAKU KORUPTIF

“Perilaku koruptif terjadi karena ketidakmampuan seseorang untuk menjalankan integritas, komitmen, tanggung jawab, dan kejujuran.”~Djajendra

Korupsi adalah tindakan ilegal yang memperdagangkan kekuasaan, kepercayaan, dan jabatan untuk keuntungan diri sendiri dan kelompoknya. Biasanya, korupsi terjadi karena ada kesempatan untuk memecahkan masalah bersama secara rahasia, dan mereka percaya bahwa tidak seorang pun yang melihat dan mengetahui perbuatan mereka. Di samping itu, perilaku koruptif sangat meyakini bahwa sistem dan pengawasan yang ada bisa mereka mengakali, sehingga tidak mampu mendeteksi korupsi yang mereka lakukan secara rahasia.

Siapa pun bisa jujur dan jauh dari perilaku koruptif, ketika tidak ada godaan, tidak ada peluang untuk korupsi, dan tidak ada budaya untuk korupsi di sana. Persoalannya, ketika keimanan dan integritas seseorang rendah, tetapi dia memiliki kekuasaan dan peluang untuk memperkaya diri, maka dia akan tergoda untuk melakukan korupsi dengan berbagai cara.

Perilaku koruptif sangat berani pasang badan dan tidak takut malu, mereka hanya takut kehilangan uang dan kekayaannya. Jadi, apapun hukumannya, selama uang dan kekayaannya utuh, perilaku koruptif akan bahagia dan damai-damai saja hidupnya. Hal ini terjadi, karena korupsi dilakukan bukan sekedar untuk memperkaya diri sendiri, tetapi untuk menjamin terpenuhinya kehidupan ekonomi dan keuangan keluarganya secara turun-temurun. Ingat, korupsi itu tujuannya hanya satu yaitu uang, bukan yang lain. Jadi, walaupun dia dihukum mati, tetapi selama uang dan hartanya utuh, maka itu tidak akan menjadi persoalan baginya. Oleh karena itu, selama tidak ada hukuman tegas untuk kekayaan yang dimiliki, perilaku koruptif akan terus tumbuh dan sulit diberantas ataupun dicegah dengan cara apapun. Miskinkan perilaku koruptif, maka dia akan takut, dan korupsi pun bisa turun drastis.

Bagi perilaku koruptif perbuatan mereka adalah benar dan tidak merasa bersalah, sehingga walaupun pernah dihukum bukan berarti mereka akan berhenti untuk melakukan korupsi. Mereka tetap akan melakukannya kalau ada peluang untuk dilakukan secara rahasia. Di samping itu, mereka juga memiliki seribu satu akal untuk mengelabui sistem dan pengawasan yang ada. Jadi, selama sistem, tata kelola, dan pengawasan tidak ditingkatkan kualitasnya secara terus-menerus, maka perilaku koruptif akan selalu mampu melampaui kemampuan yang dimiliki oleh sistem dan pengawasan tersebut.

Siapapun boleh dipercaya dan kepercayaan adalah sesuatu yang paling penting. Persoalannya, bila kepercayaan yang diberikan tidak dilengkapi dengan sistem, tata kelola yang terbaik, kepemimpinan yang tegas dan berani, serta pengawasan yang jujur dan bertanggung jawab. Maka, kepercayaan itu mudah tergoda untuk memiliki perilaku koruptif.

Rasa cinta yang berlebihan kepada sesuatu, apakah itu barang ataupun orang, dapat menjadi jalan untuk terciptanya perilaku koruptif. Sebagai contoh: si A sangat mencintai sebuah merek mobil, sudah lama dia terobsesi untuk memiliki mobil tersebut, dan sekarang dia memiliki kekuasaan untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin secara ilegal. Karena cinta sudah mengalahkan integritas dan keimanannya, maka dia akan mencari cara paling rahasia, untuk mendapatkan uang ilegal sebanyak mungkin agar dapat memiliki semua yang dia cintai. Cinta yang berlebihan berpotensi menciptakan perilaku koruptif.

Ketika integritas tidak menyentuh hati nurani; ketika tidak percaya bahwa jiwa yang kaya integritas di dalam rasa syukur mampu mendatangkan keberlimpahan; ketika tidak sadar atau tidak yakin bahwa Tuhan melihat segalanya; ketika tidak percaya adanya hukum sebab-akibat, hukum konsekuensi; ketika tidak percaya pada hukum karma. Maka, hati nurani akan kehilangan kemampuan untuk menemukan kebenaran sejati. Dan saat itu, perilaku koruptif akan hadir dan menghancurkan integritas diri.

Bagi perilaku koruptif, tertangkap dan dihukum hanyalah sebuah musibah. Walaupun sudah tertangkap dan dihukum berkali-kali, selama dirinya tidak memiliki integritas, perilaku koruptifnya tidak akan pernah sembuh, sehingga manipulasi dan kebohongan tetap menjadi perilaku sejatinya.

Integritas adalah sebuah nilai yang menerangkan tentang sifat dan perilaku seseorang yang jujur dan sangat kompeten dibidangnya. Artinya, dia berkualitas dan dapat diandalkan untuk menjalankan sebuah pekerjaan dengan jujur, bertanggung jawab, etis, berkualitas, berkinerja tinggi, dan sulit untuk menggantikannya. Seseorang yang memiliki integritas yang tinggi lahir dari kekuatan moralitas dan spiritualitas yang sangat tinggi. Seseorang yang memiliki integritas takut kepada hukum Tuhan, sehingga dia menjadi pribadi yang bersungguh-sungguh menjalankan amanah dengan kompetensi dan kualitas terbaik, tanpa mengambil apapun untuk keuntungan pribadi, apalagi untuk memperkaya diri sendiri ataupun keluarga.

Perilaku koruptif merupakan akar untuk terciptanya budaya korupsi. Kalau sudah menjadi budaya, maka tidak bisa lagi digunakan konsep pencegahan ataupun pemberantasan, harus digunakan konsep transformasi ataupun revolusi mental. Revolusi mental harus diikuti dengan sistem baru yang mengarahkan semua perilaku kepada disiplin untuk taat kepada sistem anti perilaku koruptif. Bila sistem mampu memaksa mental dan perilaku untuk menghindari perilaku koruptif, maka secara perlahan-lahan, perilaku koruptif akan berubah menjadi perilaku yang jujur dan penuh tanggung jawab. Dan, disinilah akan lahir budaya tanpa korupsi, dimana semua orang akan hidup dari kerja kerasnya yang halal.

Sistem yang baik dan kuat mampu mengelola wilayah resiko yang berpotensi dikendalikan oleh perilaku koruptif. Jadi, harus dengan tegas memetakan wilayah potensi korupsi, lalu wilayah yang dianggap sangat beresiko tersebut diperkuat pengawasannya, dan ditingkatkan revolusi mentalnya dengan intensitas yang lebih tinggi, secara terus-menerus, berulang-ulang, sampai perubahan itu terjadi.

Perilaku koruptif seperti penyakit menular yang sangat mudah ditularkan dari satu orang ke orang lain. Dia seperti kisah vampire yang bila menggigit langsung menjadikan orang sebagai vampire, lalu bisa hidup abadi di dalam kegelapan dengan kekuatan dahasyatnya, dan hanya terang atau sinar matahari yang ditakuti. Sebab, sinar terang bisa membakar dan memusnahkan vampire. Demikian juga dengan perilaku koruptif, sekali seseorang menikmati atau memiliki kekuatan lebih dari hasil korupsinya, maka dia akan menjadi contoh dan teladan yang mengundang minat orang lain untuk melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan.

Ketika perilaku koruptif sudah sangat kuat dengan kekuatan uangnya yang mampu membeli dan membayar apapun untuk membuatnya menang, maka realitas ini akan menjadi contoh bagi siapapun untuk memiliki perilaku koruptif. Persepsi orang akan mengatakan daripada jujur hidup miskin, lebih baik korupsi, walau tertangkap, anak-isteri masih bisa hidup kaya raya. Jadi, secara normatif bisa saja orang mengatakan tidak pada korupsi, tetapi secara perilaku dia sangat koruptif.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

INTEGRITAS TERCIPTA DARI KUALITAS MORAL YANG TANGGUH

INTEGRITAS 03032016

“Ketika Anda menanam pohon tidak jujur, pohon itu akan tumbuh dan berbuah tidak jujur di sepanjang hidup Anda.”~Djajendra

Menjadi pribadi dengan integritas yang tinggi membutuhkan keberanian. Sebab, realitas kehidupan selalu memunculkan ketidakjujuran dan orang-orang yang tidak bisa dipercaya. Mungkin Anda sudah sangat jujur, bisa dipercaya, taat hukum, taat aturan, taat prosedur, etis, berani, tegas, dan bertanggung jawab. Tetapi, dalam interaksi bisnis mungkin Anda harus berhadapan dengan orang-orang yang tidak punya integritas dan kejujuran. Bila dalam interaksi itu posisi Anda lebih kuat dan lebih berkuasa, maka Anda bisa bersikap tegas untuk menjaga integritas dan kejujuran di setiap tindakan. Sebaliknya, bila posisi dan kekuasaan dari orang yang tidak jujur itu lebih kuat dari Anda, maka Anda berada dalam posisi yang lemah ataupun tak berdaya untuk menjaga integritas dan kejujuran. Dilema integritas selalu ada, itulah tantangan terberat dalam menjalankan integritas.

Integritas berarti bersikap jujur dengan diri sendiri dan orang lain dalam setiap situasi dan kondisi. Jadi, walaupun Anda berada dalam posisi yang lebih lemah dan tak berdaya, disinilah kualitas moralitas Anda diuji. Keselarasan antara nilai-nilai pribadi Anda, keyakinan Anda, dan tindakan Anda sedang diuji. Integritas membutuhkan keberanian, keikhlasan, ketegasan, pengorbanan, dan keyakinan untuk menjalankannya dengan totalitas.

Integritas adalah jalan untuk menegakkan harga diri dan rasa hormat. Ketika tindakan Anda sesuai dengan keyakinan dan kejujuran Anda, maka Anda sudah memiliki integritas. Ketika Anda percaya pada kebenaran dan keadilan, maka Anda sudah mempunyai integritas. Ketika Anda tidak akan pernah melakukan apa pun yang membahayakan integritas perusahaan Anda, integritas pekerjaan Anda, integritas teman-teman kerja Anda, integritas pimpinan Anda, dan integritas pelanggan Anda. Maka, Anda sudah mempunyai integritas. Ketika Anda tidak akan pernah mau berkompromi dalam menegakkan kebenaran, keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab. Maka, Anda sudah memiliki integritas. Integritas tercipta dari sikap dan perilaku Anda yang konsisten dan tegas sesuai nilai-nilai moralitas yang sifatnya universal.

Siapapun yang mengambil jalan pintas dalam hidupnya, dia berpotensi mengorbankan kejujuran dan integritasnya. Misalnya, Anda ingin mendapatkan lebih banyak uang dan keberhasilan dengan jalan pintas yang mengabaikan kejujuran, maka Anda pasti akan mengorbankan integritas Anda. Mungkin dalam jangka pendek Anda merasa berhasil atau mendapatkan kesenangan dari cara-cara tersebut. Tetapi, dalam jangkan panjang, setelah uang Anda sudah terkumpul berlebihan, Anda akan masuk dalam perangkap konflik batin. Konflik batin ini terjadi karena Anda tidak jujur dengan diri sendiri. Seperti kita ketahui, integritas berarti menjadi sangat jujur dengan diri sendiri dan orang lain. Jadi, kalau selama ini Anda tidak jujur dengan diri sendiri, maka batin Anda atau hati nurani Anda pasti merasa malu dan menderita akibat tindakan Anda yang tidak terpuji tersebut. Disamping itu, pasti ada orang-orang yang mengetahui perilaku tidak jujur Anda, dan pada saat Anda kehilangan kekuasaan, kepercayaan orang kepada Anda akan hilang.

Membangun integritas dimulai dari niat untuk patuh terhadap prinsip-prinsip moral dan etika. Kepatuhan ini akan membentuk kebiasaan, dan kebiasaan akan membentuk karakter moral yang berperilaku sesuai nilai-nilai moralitas. Bila perilaku sesuai nilai-nilai moralitas sudah menjadi sebuah kebiasaan, maka dilihat atau tidak dilihat orang pun Anda akan bertindak sesuai integritas.  Jadi, Anda akan menjadi jujur pada diri sendiri dalam segala hal yang Anda lakukan.

Setelah Anda menjadi jujur dengan diri sendiri, maka dengan mudah Anda bisa berperilaku jujur dengan orang lain. Kalau Anda sudah jujur dengan orang lain, Anda bisa mengembangkan hubungan jangka panjang yang dipercaya. Jadi, Anda menjadi orang yang dipercaya, dan mudah mendapatkan persetujuan dari orang-orang dalam segala hal yang Anda lakukan sesuai nilai-nilai integritas.

Orang yang hidup dengan integritas, tidak punya alasan untuk berbohong, tidak perlu menyembunyikan sesuatu, tidak perlu hidup dalam ketakutan dan kerumitan, dan tidak ada alasan untuk hidup dalam stres ataupun tekanan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

BENTURAN ANTARA ETIKA DAN ETIKET MENCIPTAKAN DILEMA

[wpdevart_youtube]hmV78yrj5TU[/wpdevart_youtube]

“Saat Anda tegas menegakkan etika, etiket sulit berfungsi.”~Djajendra

Memiliki kemampuan untuk menjaga etika dan etiket secara bersama-sama tidaklah mudah. Dalam realitas bisnis, etika selalu dihadapkan pada pilihan yang sulit. Sering sekali muncul dilema etika yang bersumber dari kepentingan. Ketika dilema etika muncul, maka persoalan juga bisa muncul di etiket.

Contoh, untuk memperlancar proses bisnis, A menjaga hubungan baik dengan B. B adalah orang yang berpengaruh dalam membuat keputusan kepada siapa proyek diberikan. B selalu memprioritaskan A untuk mengerjakan proyek-proyeknya. A merasa B sangat membantu dan banyak menolong. Rasa terima kasih dan sopan-santun A kepada B ditunjukkan dengan cara memberikan hadiah dan fasilitas. Dalam hal ini, A ingat bahwa dia harus memiliki etiket agar hubungannya dengan B baik selalu. A pun berusaha memaksimalkan kenyamanan pribadi B dan hubungan yang saling menghargai. Ya, memang, memiliki etiket berarti harus mampu berperilaku tahu diri, menyamankan hati orang yang membantu, serta merawat hubungan bisnis yang saling menghargai.

Etiket bersumber dari konsensus sosial dan budaya tentang perilaku dan penampilan yang sopan-santun. Etiket bisa berubah dari waktu ke waktu sesuai kemajuan peradaban. Etiket terlihat melalui kepantasan perilaku, sikap, dan penampilan. Etiket adalah tentang memaksimalkan kenyamanan pribadi dan hubungan sosial yang saling menghargai. Seseorang yang beretiket berarti memiliki keterampilan sosial dan keterampilan diri yang tahu diri dan sopan-santun. Etiket tidak hanya mengatur perilaku dan sikap mulai dari gaya pribadi, bahasa tubuh, cara berpakaian, perilaku di meja makan, cara menyapa, dan banyak lagi yang berkaitan dengan sopan-santun. Tetapi, etiket juga mengatur bagaimana cara berterima kasih kepada orang-orang yang sudah membantu dan memperlancar kehidupan kita.

Jadi, A memikirkan tentang perasaan B yang sudah membantunya, sehingga hati nuraninya berkata bahwa sangatlah wajar bila dia memberikan sesuatu buat B. Benar memang bahwa etiket bukanlah tentang prinsip-prinsip moral, etiket adalah tentang prinsip-prinsip menjaga hubungan baik dengan tata krama yang tinggi. Etiket berarti menghormati, menghargai, dan selalu berbaik hati kepada orang lain. Apalagi bila orang yang membantu kita, maka haruslah tahu diri dan tahu terima kasih. Ini biasanya yang ada dipikiran dunia nyata kehidupan, dan sangat berbeda dengan dunia pikiran normatif.   

Lain etiket, lain lagi etika. Etika sifatnya normatif dan dipaksakan menjadi terapan di dunia bisnis. Etika berisi tentang penilaian moral dan kriteria apa yang benar dan apa yang tidak benar. Etika diperusahaan dipandu dengan pedoman etika bisnis dan kode perilaku yang etis. Etika adalah alat untuk menjaga tata kelola perusahaan yang baik, yaitu: tata kelola bisnis yang mengedepankan isu-isu moral.

Dalam dunia nyata, etika menjadi beban etiket. Etika diatur secara normatif dan melihat segala sesuatu dari sisi benar dan salah. Tidak boleh ada banyak warna dalam etika. Hanya boleh hitam atau putih, benar atau salah. Etika tidak memiliki kemampuan untuk merespon situasi yang berubah dan berbeda dari sikap manusia. Sebagai contoh, dalam bisnis yang banyak saingan, terjadi kompetisi memperebutkan pelanggan. Biasanya, orang yang mengendalikan pelanggan sangat menentukan kepada siapa dia akan memberikan bisnis tersebut. Di sini, pihak yang paling pintar mengambil hati dan menyenangkan hati pengendali pelanggan berpotensi mendapatkan bisnis. Artinya, hubungan baik dan sopan-santun menjadi lebih penting daripada aturan-aturan moral yang diatur secara normatif dalam etika bisnis.

Dalam konsep hubungan baik, perilaku yang melayani dan menghormati selalu menjadi lebih bekerja daripada perilaku etis yang terikat pada norma-norma moralitas. Intinya, dunia bisnis adalah dunia etiket, dan etika tetap dijadikan sebagai hal-hal normatif yang sering sekali malas diterapkan menjadi perilaku.

Perlu konsensus sosial yang penuh integritas untuk membuat etika dan etiket hidup berdampingan dan saling mengisi. Bila etika dan etiket saling mengisi menjadi etos di tempat kerja. Maka, kebiasaan, karakter, perilaku, watak, adat, budaya, dan sikap akan menjadi kekuatan untuk praktik tata kelola perusahaan yang terbaik (good corporate governance).

Benturan antara etika dan etiket selalu menciptakan dilema, yang membuat hati ragu dan takut bertindak. Dunia bisnis bukanlah dunia moralitas. Dunia bisnis adalah dunia hubungan baik. Dunia bisnis adalah dunia yang harus pintar etiket agar mudah mendapatkan bisnis.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

IMPLEMENTASI GOOD CORPORATE GOVERNANCE MEMBUTUHKAN KEPEMIMPINAN YANG KUAT, TEGAS, DAN DIAKUI

GOOD CORPORATE GOVERNANCE 2016“Hubungan kerja antara para direksi dengan tim manajemen tidak hanya di sekitar meja rapat, tetapi harus dari hati ke hati dan saling melengkapi.”~Djajendra

Praktik good corporate governance akan berjalan sempurna bila kepemimpinannya fokus dan peduli untuk menjalankan tata kelola perusahaan yang terbaik. Tata kelola perusahaan yang terbaik secara formal mudah diwujudkan. Tetapi, di dalam praktik dibutuhkan kepemimpinan yang kuat, tegas, dan diakui. Bila kepemimpinan perusahaan lemah, maka sangat sulit untuk mencegah pelanggaran atas tata kelola. Pemimpin yang kuat dan produktif mampu membangun hubungan kerja yang sehat dan produktif dengan tim manajemennya ataupun dengan CEO nya. Pemimpin yang kuat memiliki keberanian dan pengetahuan untuk mengkoordinasikan tim manajemen secara efektif dan produktif, lalu memiliki intuisi dan keberanian untuk proses pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.

Good corporate governance tidak hanya tentang kepatuhan dan kesesuaian perilaku dengan tata kelola yang terbaik, tetapi juga tentang hubungan dan komunikasi yang baik antara para direksi dengan tim manajemennya. Dewan direksi perusahaan harus memiliki kekuasaan dan kewenangan penuh untuk menciptakan arah pencapaian. Para direktur harus mampu memberdayakan tim manajemen untuk menjalankan kekuasaan, membuat keputusan, mengawasi perusahaan, dan bertanggung jawab penuh atas setiap peristiwa. Garis tanggung jawab antara para direktur dengan tim manajemen perusahaan harus jelas dan profesional. Tidak boleh ada benturan kepentingan. Setiap pihak harus memperkuat kompetensi perilaku untuk mendorong terciptanya hubungan kerja yang produktif dan kreatif.

Tata kelola yang terbaik dimulai dari kepercayaan Rapat Umum Pemegang Saham untuk memberikan tanggung jawab kepada dewan direksi. Setelah menerima tanggung jawab dari RUPS, para direktur harus menentukan tim manajemen yang tangguh, untuk menjalankan arah strategis perusahaan dan mencapai tujuan. Selain kemampuan teknis, hubungan direksi dengan tim manajemen sangatlah penting agar tata kelola yang terbaik dapat berfungsi dengan optimal.

Kesesuaian perilaku dengan undang-undang, peraturan, kode etik, dan praktik bisnis yang terbaik menjadi fondasi dalam menciptakan tata kelola yang terbaik. Perilaku kerja yang baik selalu beradaptasi dengan proses kerja yang nyata. Apapun realitas di lapangan, perilaku baik mampu berfungsi untuk menjalankan tata kelola yang terbaik. Setiap orang mengetahui siapa dirinya, apa tugasnya, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, bagaimana menjaga hubungan kerja yang produktif, dan bagaimana menjadi energi positif di dalam proses manajemen.

Tujuan implementasi good corporate governance adalah untuk memaksimalkan kinerja perusahaan dengan cara-cara etis. Karena yang berproses dalam tata kelola adalah fungsi-fungsi manajemen dan peran yang diberikan perusahaan kepada setiap individu karyawan, maka para direksi harus memiliki kepemimpinan yang kuat, untuk memastikan bahwa bisnis dan operasional perusahaan dijalankan dengan mematuhi aturan dan hukum yang berlaku. Peran monitoring para direksi harus dijalankan dengan konsisten agar tata kelola yang terbaik dapat diimplementasikan sesuai harapan. Para direksi harus terus-menerus memantau melalui laporan dan juga fakta di lapangan untuk memastikan bahwa semua prinsip-prinsip good corporate governance dijalankan dengan baik.

Karena RUPS memberikan tanggung jawab perusahaan kepada para direksi, maka seluruh risiko menjadi tanggung jawab penuh dewan direksi. Agar risiko dapat dikelola secara baik, maka fungsi pengawasan internal harus diperkuat dan menjadi lebih mandiri. Pengawasan internal harus mampu memberikan laporan dan informasi yang tepat kepada para direksi, agar para direksi secepatnya dapat mengambil keputusan yang benar dan tepat.

Dalam tata kelola yang baik, informasi haruslah yang benar sesuai fakta, tidak boleh sebuah informasi menciptakan asumsi. Sebab, asumsi tidak bersumber dari fakta, dia hanya bersumber dari persepsi dan keyakinan. Sedangkan tata kelola yang baik menganut prinsip kepatuhan, ketaatan, dan kesesuaian. Jadi, sebuah informasi yang bersifat asumsi berpotensi merusak tata kelola yang baik.

Kepemimpinan yang kuat dan berani adalah kunci sukses implementasi good corporate governance. Para direksi bertanggung jawab untuk semua tindakan dan keputusan perusahaan. Para direksi tidak boleh melempar kesalahan kepada pihak manapun. Sebab, mereka secara sah telah menerima tanggung jawab untuk menjalankan perusahaan dari para pemegang saham. Oleh karena itu, dewan direksi harus mengembangkan budaya perusahaan yang kuat untuk memandu perilaku organisasi yang sehat dan andal. Proses organisasi yang baik tumbuh dan berkembang melalui sistem dan prosedur yang tepat. Bila sistem dan prosedur tidak berkualitas, maka proses organisasi juga menjadi tidak berkualitas. Hal ini akan menghasilkan tata kelola yang buruk.

Kepemimpinan dewan direksi yang kuat dihasilkan dari perilaku dan sikap yang tepat. Para direksi harus mampu menjadi bijak dan mewakili keseimbangan yang tepat dengan tim manajemen. Pengalaman dan pengetahuan para direksi harus bisa mempengaruhi peningkatan kinerja tim manajemen. Hubungan kerja antara para direksi dengan tim manajemen tidak hanya di sekitar meja rapat, tetapi harus dari hati ke hati dan saling melengkapi.

Kepemimpinan yang kuat selalu memahami kelemahan yang ada di dalam diri mereka ataupun yang ada di sekitar mereka. Oleh karena itu, mereka selalu sadar dan memiliki persepsi positif untuk pengembangan diri sendiri. Mereka selalu rendah hati untuk belajar dan memperbaiki yang kurang.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

COMPLIANCE OFFICER MENJAGA MANAJEMEN TIDAK BERBUAT KESALAHAN

MOTIVASI 17 JAN 2016“Compliance Officer bekerja untuk memulihkan kesalahan dan tidak boleh menuduh kesalahan kepada pihak manapun.”~Djajendra

Compliance Officer diprogram untuk menjaga keberlangsungan tata kelola yang baik. Dia tidak boleh berpersepsi ataupun berasumsi. Dia harus fokus bekerja untuk menjaga kepatuhan, ketaatan, dan kepatutan dalam pemenuhan keinginan aturan.

Tata kelola yang baik (Good Corporate Governance) dibangun dari kepatuhan terhadap etika, aturan, undang-undang, kebijakan, dan sistem. Semua ini dimulai dari komitmen top manajemen untuk mematuhi dan mentaati etika, dan semua aturan yang wajib dijalankan dengan sepenuh hati. Untuk bisa menjalankan komitmen top manajemen diperlukan sebuah unit kerja yang membantu top manajemen dalam menjalankan fungsi compliance secara profesional. Fungsi compliance dijalankan oleh para pegawai yang disebut sebagai Compliance Officer, yaitu petugas  yang memastikan bahwa semua orang di dalam perusahaan sudah taat dan patuh dalam menjalankan tata kelola yang baik. Compliance Officer bertugas memenuhi keinginan top manajemen agar tata kelola yang baik terimplementasi dengan sempurna. Mengingat sangat beragam karakter dan perilaku dari orang-orang yang bekerja di sebuah perusahaan, maka independesi dan fairnes dari seorang Compliance Officer menjadi penting. Compliance Officer tidak boleh memberikan respon atas persepsi atau asumsinya; dia hanya boleh memberikan respon atas dasar aturan, etika, dan undang-undang. Sifat dari keberadaan Compliance Officer adalah mandiri dan profesional, tidak boleh berdiri di atas kepentingan pihak manapun, hanya berdiri di atas kepentingan tata kelola yang baik sesuai kebijakan perusahaan.

Compliance Officer harus berani memutuskan dengan tegas demi menjaga etika dan aturan yang benar. Tidak boleh ragu. Tidak boleh setengah hati. Berperilaku rendah hati dan menjaga komunikasi dengan semua pihak di internal perusahaan. Berpenampilan dengan gaya kerja yang sopan, tenang, sabar, menjaga emosi, berpikir positif, berjiwa besar, dan bekerja sesuai aturan. Dia juga harus terlatih untuk mendengarkan suara hati baiknya, serta mampu menolak suara hati yang takut untuk menegakkan kepatuhan dan ketaatan. Harus berani mengambil risiko dan bertanggung jawab atas pekerjaan compliance, serta memahami semua konsekuensi sebagai pelaksana compliance di perusahaan.

Compliance Officer bekerja untuk memulihkan kesalahan dan tidak boleh menuduh kesalahan kepada pihak manapun. Pada dasarnya orang tidak suka mengakui kesalahan ataupun tidak suka menerima penilaian tentang kekurangan dan kesalahannya. Di sinilah Compliance Officer harus dapat memahami tentang orang lain. Pengetahuan tentang orang lain menjadi sangat penting bagi pekerjaan compliance. Bila Compliance Officer tidak mampu memahami orang lain dengan empati yang tinggi, maka keberadaannya berpotensi tidak disukai oleh banyak orang di perusahaan. Sebaliknya, bila dia memiliki empati untuk membantu memulihkan dan menyadarkan orang ke arah tata kelola yang baik, maka keberadaannya berpotensi mendapatkan dukungan.

Pekerjaan compliance tidak boleh menyebabkan kepanikan, semua tindakan dan perilaku dilakukan dengan tertib sesuai prosedur. Pekerjaan compliance adalah memastikan kepatuhan dan perbaikan atas hal-hal yang keliru. Fokusnya adalah hari ini patuh dan taat, serta mempengaruhi peningkatan kinerja jangka panjang perusahaan. Untuk itu semua, petugas compliance harus menguatkan kredibilitas dan reputasinya dengan integritas yang tinggi, sehingga dia dipercaya dan didengarkan oleh semua orang di dalam perusahaan.

Seburuk apapun realitas kepatuhan manajemen atas tata kelola yang baik, Compliance Officer harus bersikap tenang dan tidak menyebarkan rasa tidak puasnya. Lebih baik mengambil langkah mundur, jangan menyerang dengan argumentasi. Pahami konsekuensi dari ketidakpatuhan tersebut, dan berikan kesadaran melalui kalkulasi manajemen risiko. Berkomunikasilah untuk mengambil hati manajemen, dan yakinkan manajemen tentang kerugian yang bakal dihadapi mereka saat keadaan memburuk.

Tata kelola yang baik (Good Corporate Governance) membutuhkan orang-orang berjiwa besar yang mau mengakui kesalahan dan sadar untuk memperbaikinya. Tidak malu meminta bantuan orang lain untuk memandu memperbaikinya. Sikap yang menunjukkan integritas dan kekuatan untuk memperbaiki akan mempercepat pemulihan.

COMPLIANCE OFFICER DJAJENDRA

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

ETIKA BISNIS MEMBUTUHKAN AKUNTABILITAS DAN HATI NURANI YANG JUJUR

ETIKA BISNIS 14 JAN 2016

“Etika bisnis dalam prakteknya membutuhkan akuntabilitas dan hati nurani yang jujur.”~Djajendra

Etika bisnis mengatur proses bisnis agar tidak melanggar aturan, moral, dan kejujuran untuk bisa mendapatkan keuntungan. Intinya, siapapun boleh mencari keuntungan asal keuntungan didapatkan melalui kejujuran dan tanggung jawab. Bisnis yang etis lebih dipercaya oleh pemangku kepentingan, sehingga berpotensi tumbuh dengan kinerja terbaik. Praktik bisnis membutuhkan hati nurani yang bersih dan tanggung jawab agar perilaku bisnis yang etis dapat terwujud.

Bila moralitas dan etika hilang dari bisnis, hal-hal buruk pasti muncul untuk menghilangkan kejujuran dan tanggung jawab. Apalagi saat integritas berada di jalan buntu dan tujuan bisnis untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal, maka di saat inilah kekuatan moral harus muncul secara kuat untuk menjaga Anda agar tidak tergelincir dalam perilaku tidak etis. Bisnis yang sehat membutuhkan manajemen risiko yang diperhitungkan secara baik untuk dapat menciptakan bisnis yang etis.

Meskipun diakui bahwa etika bisnis adalah bagian terpenting dari tata kelola perusahaan yang baik, tetapi etika bisnis selalu dalam dilema, sehingga menjadi perilaku sehari-hari tidaklah mudah. Tidak jarang dilema etika suka mengganggu integritas, sehingga kepentingan bisa mengalahkan integritas.

Etika bisnis dalam prakteknya membutuhkan akuntabilitas dan hati nurani. Akuntabilitas bersumber dari integritas. Akuntabilitas bermuara dari tanggung jawab yang ikhlas dan tulus. Ketika perusahaan dikendalikan dan dikelola oleh orang-orang yang bertanggung jawab, maka perusahaan dengan mudah dapat memenuhi etika bisnis yang telah disepakati. Sebaliknya, ketika perusahaan dikendalikan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, mereka selalu mencoba mengakali etika bisnis untuk mendapatkan jalan pintas dalam setiap proses bisnis.

Praktek etika bisnis yang baik selalu berani mengambil tanggung jawab dan memiliki respon yang cepat untuk menemukan solusi atas setiap dilema. Tidak pernah menyalahkan orang lain atau membuat alasan atas sesuatu yang salah. Bersikap profesional dan menerima konsekuensi atas kejadian dari pilihan dan tindakan yang dibuat.

Hanya orang-orang yang terbiasa menjadi akuntabel yang bisa menjalankan etika bisnis. Dalam hal ini, peran dan tanggung jawab harus digunakan secara tepat dan benar. Jangan terjebak dalam wilayah kerja orang lain. Jadilah jujur dengan diri sendiri dan orang lain; jadilah jujur untuk menjalankan tata kelola yang baik; jadilah jujur ketika Anda salah, lalu mau memperbaiki dan membiasakan perilaku etis di setiap proses bisnis.

Kompetensi dan integritas harus bersatupadu dalam tanggung jawab dan hati nurani yang bersih. Anda tidak hanya cukup membuktikan kualitas kompetensi di tempat kerja, tetapi juga harus membuktikan kualitas integritas yang tinggi. Dengan integritas yang tinggi Anda terhindar dari ketidakjujuran, sehingga terhindar risiko jeratan hukum akibat perilaku tidak etis. Kuatkan etika dan nilai-nilai perusahaan ke dalam perilaku kerja, lalu yakinlah bahwa reputasi profesional Anda akan terus meningkat untuk menjamin arah positif dari karir Anda.

Ketika Anda ingin secara jujur menjalankan etika bisnis, Anda harus jujur dengan karakter Anda. Dalam hal ini, karakter Anda harus dibentuk kembali dengan cara menganalisa isi pikiran inti Anda, niat dan perilaku Anda. Pastikan hal-hal tidak baik, seperti: keserakahan, iri hati, dan emosi negatif lainnya mampu terhapus dari karakter Anda.

Ingat, potensi ketidakjujuran tidak hanya bersumber dari dalam diri, tetapi juga dari luar diri Anda. Saat Anda sudah mampu melatih diri sendiri untuk berperilaku etis, Anda juga harus sadar bahwa setiap hari orang-orang dengan perilaku tidak etis berpotensi di sekitar Anda. Jadi, miliki ketenangan dan kesabaran dalam setiap interaksi, hadapi setiap situasi dengan sikap profesional. Hal terpenting, jangan pernah melanggar aturan, dan setiap tindakan harus sesuai dengan aturan yang benar.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

IMPLEMENTASI GOOD CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI ETOS BISNIS

MOTIVASI 11012016 DJAJENDRAIMPLEMENTASI GOOD CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI ETOS BISNIS

“Ketika Anda memberikan bukti transparansi dan akuntabilitas di setiap proses kerja, Anda sedang mempraktikkan tata kelola perusahaan yang baik.”~Djajendra

Good corporate governance menjadi kebutuhan bisnis. Ada cerita dari klien saya bahwa mereka mendapatkan pembeli besar (buyer) dari luar negeri, pembeli tersebut meminta bukti bahwa perusahaan sudah menjalankan praktik good corporate governance. Good corporate governance adalah wujud dari trust (kepercayaan). Perusahaan yang menjalankan good corporate governance (tata kelola yang baik) dianggap bisa dipercaya dan memiliki reputasi baik.

Bisnis tumbuh dan berkembang dari kepercayaan. Globalisasi bisnis dan kecepatan perkembangan teknologi internet telah membuat setiap perusahaan mampu terhubung dari mana saja untuk melakukan bisnis. Karena siapapun bisa berbisnis secara global dan bisa menjual atau membeli produk dari manapun, maka diperlukan sebuah sistem kerja yang dipercaya. Salah satu sistem kerja yang bisa dipercaya adalah yang menggunakan prinsip-prinsip good corpoarte governance. Menjalankan good corpoare governance dengan jujur dan penuh tanggung jawab, seperti sedang menguatkan dan menyehatkan organisasi dan proses bisnis untuk pencapaian terbaik.

Prinsip-prinsip good corporate governance layak dianut menjadi bagian dari etos bisnis. Akuntabilitas, keadilan, keterbukaan, tanggung jawab, dan kemandirian selayaknya dirangkum di dalam integritas bisnis yang tinggi agar kepercayaan dan reputasi dapat dimiliki perusahaan. Etos bisnis dan etos organisasi berdasarkan good corporate governance menghasilkan praktik manajemen yang baik.

Menjalankan bisnis dengan sukses bukan hanya tentang penguasaan pasar, produk unggulan, nilai pemegang saham, kreativitas dan inovasi. Juga, sistem dan proses kerja atau mekanisme kerja yang baik menjadi sangat penting untuk bisa menjalankan bisnis dengan suskes. Struktur organisasi yang efektif dalam kolaborasi kerja mampu menghasilkan proses bisnis dan proses kerja yang profesional.

Berbisnis di jaman sekarang ini harus memperhitungkan kekuatan global. Secara pasti dunia sudah terhubung melalui bisnis. Bisnis global tidak hanya oleh perusahaan dengan perusahaan, negara dengan negara, tetapi juga sudah di level individu dengan individu. Perkembangan teknologi internet dan jasa pengiriman barang telah membuat hubungan bisnis global menjadi semakin mudah dan murah. 

Tantangan ke depan dalam persaingan bisnis global adalah menjadi yang dipercaya. Bila bisnis Anda dipercaya oleh para pebisnis global, maka dengan mudah Anda bisa menjual lebih banyak dan mengembangkan bisnis. Untuk bisa dipercaya, Anda harus mengelola bisnis dengan tata kelola yang baik. Gunakan praktik bisnis terbaik. Gunakan prinsip-prinsip good corporate governance sebagai fondasi untuk pengembangan budaya perusahaan. Semakin sempurna tata kelola perusahaan yang baik, semakin sempurna reputasi perusahaan di persepsi stakeholders.

Tata kelola yang baik memberikan tanggung jawab dan peran yang jelas kepada pemilik perusahaan, dewan direksi, dewan komisaris, dan karyawan. Masing-masing pihak memainkan perannya dari integritas yang tinggi. Semua proses kerja dan proses pengambilan keputusan berdasarkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Akuntabilitas dan transparansi untuk semua pemangku kepentingan diberlakukan secara adil. Semua ini bertujuan untuk mengharmonisasikan hubungan kerja di internal organisasi, sehingga kolaborasi kerja dapat menjadi energi yang memperlancar semua proses bisnis dan proses kerja.

Implementasi good corporate governance sebagai etos bisnis diawali dengan penguatan moral dalam menjalankan bisnis. Diperlukan pengembangan standar tata kelola berbasis moralitas bisnis dalam seluruh aktivitas dan operasional bisnis. Budaya kerja dengan moralitas yang tinggi memudahkan terciptanya perilaku kerja yang berintegritas tinggi.

Internalisasi dan sosialisasi etika bisnis dan kode etik perilaku dilakukan secara terus-menerus. Perlu dipahami bahwa etika terwujud dari kesadaran dan moralitas yang tinggi. Setiap insan perusahaan harus terbiasa dan terlatih untuk menjalankan bisnis perusahaan secara etis. Dalam hal ini, diperlukan pelatihan dan pencerahan yang sifatnya berkelanjutan, tidak boleh terhenti atau merasa cukup. Sebab, dilema etika dapat muncul kapan saja dalam berbagai wujud yang berpotensi menciptakan keraguan terhadap implementasi etika di perusahaan.

Tujuan bisnis diselaraskan dengan praktik-praktik bisnis yang baik, sehingga tujuan dicapai secara tepat, dan setiap pengambilan keputusan tidak merugikan stakeholders. Disamping itu, proses strategi juga menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik, dan memasukkan nilai stakeholder untuk memudahkan hubungan bisnis. Struktur organisasi menjalankan peran dan fungsinya berlandaskan prinsip-prinsip good corpoarte governance. Di dalam struktur, setiap insan perusahaan harus bertindak dengan tujuan yang jelas dan yang dapat dicapai; memiliki strategi dan taktik yang layak untuk mencapai tujuan; menciptakan etos kerja yang sesuai untuk memberikan kinerja yang produktif; serta memiliki administrasi dan pelaporan untuk memandu atau memonitor kemajuan kerja.

Ketika Anda memberikan bukti transparansi dan akuntabilitas di setiap proses kerja, Anda sedang mempraktikkan tata kelola perusahaan yang baik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

GOOD CORPORATE GOVERNANCE MENINGKATKAN RASA AMAN BAGI INVESTOR DI PASAR MODAL

MOTIVASI GCG 2016

“Perusahaan publik adalah investasi dari para investor.”~Djajendra

Kehilangan tata kelola perusahaan yang baik berdampak pada hilangnya kepercayaan investor pada perusahaan. Perusahaan publik wajib menjalankan good corporate governance dengan sempurna. Hal ini diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan dan rasa aman investor di pasar modal. Bila tata kelola perusahaan tidak baik atau berisiko tinggi, maka para investor akan menjauh dan tidak mau berinvestasi.

Kuatkan struktur dan proses kerja sehari-hari dengan good corporate governance. Jadikan perusahaan Anda sebagai perusahaan publik yang menjadi magnet untuk berinvestasi. Bila prinsip-prinsip GCG menjadi perilaku kerja sehari-hari, maka perusahaan menjadi kuat dan dipercaya. Perusahaan yang dipercaya oleh investor sahamnya selalu dibeli untuk tujuan investasi jangka panjang.

Bagi perusahaan yang ingin IPO atau Go Public wajib menyiapkan mekanisme kerja di internalnya dengan good corporate governance. Sebab, tanpa tata kelola yang baik, perusahaan publik pasti merugikan investor di pasar modal. Perusahaan yang merugikan investor di pasar modal akan kehilangan reputasi, dan hal ini membuat investor tidak mau percaya lagi dengan semua tindakan perusahaan di masa depan.

Integritas adalah jiwa bagi Good corporate governance. Good corporate governance ditentukan oleh kualitas integritas. Bila kualitas integritas di semua aspek organisasi dan bisnis baik, maka akan menghasilkan akuntabilitas dan transparansi yang kuat. Menjalankan Good corporate governance dengan integritas meningkatkan akuntabilitas dan transparansi bagi semua stakeholders maupun investor di pasar modal. Tata kelola yang baik memberikan fondasi yang kuat untuk etos kerja yang profesional. Ketika etos kerja berfondasikan integritas pribadi yang unggul, maka semua insan perusahaan akan fokus bekerja dengan prinsip kehati-hatian dan menghindari skandal.

MOTIVASI 4 JAN 2016

Penguatan pasar modal tergantung dari antusiasme perusahaan-perusahaan publik untuk menguatkan praktik good corporate governance. Saat praktik GCG atau tata kelola perusahaan yang baik terwujud, maka saham perusahaan tidak hanya diperebutkan oleh investor dalam negeri, juga pasti diperebutkan oleh investor global. Bila perusahaan publik tidak serius menjalankan GCG, maka mereka berpotensi berada di bawah tekanan dan kehilangan kepercayaan dari investor.

Good corporate governance terus berkembang melalui etos kerja. Sekarang ini, kode GCG tidak hanya diingat atau dibaca, tetapi diinternalisasikan menjadi perilaku dan karakter kerja. Setiap insan perusahaan wajib memenuhi tanggung jawab untuk mengelola perusahaan dengan cara-cara profesional. Harus diingat bahwa perusahaan publik adalah investasi dari para investor. Setiap insan perusahaan wajib bertanggung jawab untuk mengelola investasi dari para investor, yang sudah menginvestasikan uang mereka di dalam saham perusahaan yang Anda kelola.

Kelolalah perusahan publik dengan transparan, demokratis, dan tanggung jawab penuh. Jangan pernah berpraktik GCG dalam tataran normatif, dan melupakan tataran perilaku. Internalisasikan dan praktikkan good corporate governance di setiap proses kerja dan proses bisnis melalui struktur organisasi yang dinamis dan efektif.

Gunakan prinsip-prinsip good corporate governance untuk membangun etos dan budaya kerja. Lalu, integrasikan lingkungan kerja, kehidupan sosial di internal perusahaan, dan nilai-nilai inti perusahaan ke dalam tata kelola yang baik (GCG).

Pekerja dan pengelola perusahaan publik adalah pengelola aset ataupun investasi dari para investor. Investor selalu menginginkan transparansi dan tanggung jawab dari para pengelola perusahaan. Mereka ingin harga saham naik terus, dividen dapat terus, dan masa depan perusahaan selalu lebih baik.

Good corporate governance haruslah dikembangkan dengan strategi yang mendorong peningkatan keyakinan dan kepercayaan investor pada para pengelola perusahaan. Pengelola perusahaan juga harus mampu terhubung dan melayani investor secara teratur dalam sikap baik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

ETIKA PERLU KETELADANAN DARI PEMIMPIN

MOTIVATOR DJAJENDRA 23122015“Orang yang tidak etis memiliki akal negatif untuk mengakali aturan dan mengakali etika itu sendiri.”~Djajendra

Etika adalah tentang perilaku yang sadar tentang apa yang baik dan apa yang tidak baik. Seseorang yang beretika selalu menghormati apa yang baik, dan ikhlas berkorban demi menegakkan etika. Sedangkan seseorang yang tidak beretika selalu mencoba berbagai akal untuk membenarkan yang tidak benar.

Dalam kehidupan di tempat kerja diperlukan keteladanan dari para pemimpin untuk menegakkan etika. Bila pemimpin mengabaikan etika, maka para pengikutnya akan menganggap etika sebagai sesuatu yang normatif, dan bukan sebagai perilaku yang wajib. Bila perilaku etis sudah tidak ada di tempat kerja, maka berbagai akal negatif akan menggerogoti perusahaan.

Menjalankan etika menghindarkan perusahaan dari berbagai masalah yang merugikan dan yang menurunkan reputasi. Etika meningkatkan keharmonisan di lingkungan kerja. Etika mengubah potensi masalah menjadi tantangan dengan berbagai solusi kreatif yang etis.

Pemimpin wajib menjadi teladan untuk mempraktikkan etika dengan penuh integritas. Pemimpinlah yang mampu menumbuhkan perilaku etis dan mengembangkan budaya etika di dalam perusahaan. Oleh karena itu, pemimpin tidak cukup berbicara tentang etika, tetapi harus menjadi pemberi contoh perilaku etis. Pemimpin juga harus mampu memiliki perilaku moral di atas standar. Perilaku moral yang lebih baik dibandingkan pengikut-pengikutnya.

Salah dan benar atau baik dan tidak baik sering sekali tergantung pada persepsi. Ketika kesalahan terjadi, maka kesalahan tersebut harus segera disadari dan diperbaiki. Fungsi etika selain menegakkan yang benar, juga memperbaiki yang salah. Tidak semua pelanggaran etika dilakukan dengan sengaja. Kadang-kadang kesalahan yang tak terelakkan atau tak terduga dapat terjadi. Dalam hal ini, perlu penanganan secara bijak dan adil. Setiap pelanggaran etika haruslah diambil tindakan yang tegas, adil, dan bijak.

Perilaku etis di tempat kerja harus menjadi standar etos organisasi. Praktik-praktik terbaik sesuai good corporate governance haruslah menjadikan etika sebagai fondasi perilaku organisasi. Tata kelola perusahaan yang baik dihasilkan dari praktik bisnis yang etis. Tata kelola perusahaan yang baik dihasilkan dari perilaku kerja yang etis. Tata kelola perusahaan yang baik dihasilkan dari struktur dan proses kerja yang etis.

Etika menghasilkan orang-orang yang penuh integritas di dalam lingkungan kerja yang profesional. Ketika perilaku etis menjalankan semua peran dan fungsi di tempat kerja, maka kesetiaan setiap orang untuk berjuang bersama-sama dalam upaya menghasilkan kinerja terbaik, akan semakin menguat.

Budaya etis memperkuat tata kelola yang baik dan juga mengurangi potensi risiko perusahaan. Budaya etis menjadikan perusahaan semakin sehat dan kuat. Orang-orang di dalam budaya etis memiliki empati dan kepedulian terhadap kemajuan dan pencapaian kinerja perusahaan. Dalam budaya etis, benar adalah benar dan salah adalah salah. Tidak ada wilayah abu-abu, tidak ada dilema.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

GOOD CORPORATE GOVERNANCE MENGUATKAN BUDAYA PERUSAHAAN

GCG-MOTIVATOR DJAJENDRA 2015“Melalui budaya organisasi yang kuat perilaku kerja dapat diperbaiki menjadi lebih mampu dan berkualitas.”~Djajendra

Budaya perusahaan yang kuat menghasilkan perilaku dan kebiasaan dalam kegembiraan dan sukacita untuk menjalankan pekerjaan dan bisnis. Dalam budaya yang kuat semua orang memiliki kesadaran yang tinggi, profesionalisme yang andal, etos yang penuh semangat, kemampuan yang penuh kualitas, dan kepemimpinan diri yang ikhlas melayani pekerjaan dengan penuh tanggung jawab. Bila peraturan, aturan, etika, tata kelola yang baik tidak menjadi budaya, dan murni menjadi alat kepatuhan. Maka, orang-orang di dalam perusahaan sibuk untuk melihat apa yang salah, apa yang kurang, peraturan mana yang dilanggar, dan tidak fokus pada pembangunan bisnis yang berkelanjutan. Budaya perusahaan yang kuat menciptakan perilaku dan kebiasaan yang ikhlas, serta dengan senang hati menjalankan semua aturan dan tata kelola perusahaan.

Budaya sebagai bagian terpenting dalam tata kelola perusahaan haruslah diperkuat dan dibangun dengan antusiasme yang tinggi oleh warga perusahaan. Semua regulasi dan etika janganlah ditekankan pada kepatuhan, tetapi pada kesadaran untuk berperilaku sesuai regulasi dan etika. Intinya, perilaku etis tidak muncul karena perusahaan memiliki kode etik, tetapi muncul karena perusahaan memiliki budaya perusahaan yang kuat dan menjadikan kode etik sebagai bagian dari budaya.

Budaya perusahaan yang kuat dan yang didukung dengan good corporate governance yang konsisten akan menjadi kekuatan untuk membangun kepercayaan stakeholder, menghilangkan potensi krisis keuangan perusahaan, meningkatkan potensi pertumbuhan, dan meningkatkan kinerja di semua bidang kegiatan perusahaan.

Ketika prinsip-prinsip good corporate governance menjadi bagian dari etos bisnis, maka pelayanan kepada stakehodler menjadi sangat berkualitas. Hal ini secara otomatis meningkatkan reputasi perusahaan, dan perusahaan pun dapat menjalankan semua strategi bisnis dengan konsep berkelanjutan di dalam kekuatan inovatif dan kreatif.

Miliki kemampuan untuk menciptakan visi dari konsep dan kebijakan good corporate governance, lalu mengubahnya menjadi cara hidup perusahaan. Saat good corporate governance menjadi visi dan terimplementasi sebagai cara hidup di dalam perusahaan, saat itu perusahaan tampil sangat sehat dan kuat untuk melayani bisnis, organisasi, dan stakehodler. Good corporate governance harus menjadi nafas organisasi, lalu terekspresi atau terlihat di dalam budaya perusahaan.

Budaya perusahaan yang kuat dengan dukungan good corporate governance, akan menjadi budaya yang menyatukan kekuatan struktur organisasi untuk eksekusi bisnis yang baik. Nilai-nilai yang kuat dari tata kelola yang baik menyebabkan model bisnis semakin andal, dan menjadikan bisnis berkelanjutan di sepanjang jaman.

Good corporate governance mendorong terciptanya budaya kolaborasi. Budaya kolaborasi mendorong setiap orang untuk berpartisipasi secara aktif dalam jaringan struktur organisasi. Setiap orang di dalam budaya kolaborasi sadar untuk memberikan pelayanan terbaik, kontribusi maksimal, belajar dari yang lain, aktif dalam inovasi, menyediakan bakat dan kemampuan untuk pencapaian tujuan, menjaga soliditas bersama dalam perjalanan mencapai tujuan. Good corporate governance sebagai jantung budaya perusahaan mampu meningkatkan kesadaran setiap individu, untuk bermitra secara kolaboratif di dalam struktur organisasi, serta menjadi kekuatan yang melayani semua stakeholder secara adil dan setara.

Good corporate governance haruslah dijadikan nyawa dari sebuah budaya perusahaan. Bisnis yang baik selalu berusaha mendapatkan keuntungan yang maksimal, tetapi keuntungan yang maksimal ini dihasilkan dari proses bisnis yang etis terhadap semua stakeholder. Ketika semua stakeholder merasakan perilaku etis perusahaan, maka dewan direksi mendapatkan peluang untuk memimpin dalam pencapaian kinerja berkelanjutan yang lebih optimis.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Older posts Newer posts