PT DJAJENDRA MOTIVASI UNGGUL

Leadership Organization Business Personal Interpersonal Entrepreneurs and Employed Professionals

Category: Corporate Culture (page 2 of 21)

Budaya Perusahaan

MENINGKATKAN BUDAYA KERJA KERAS

“Jangan hanya melamun dalam mimpi yang indah, sadarlah dari lamunan Anda, lalu mulailah bertindak dengan kerja keras yang penuh antusias dalam mencapai keberhasilan.”~Djajendra

Kerja keras adalah jalan untuk mencapai keberhasilan. Sifat malas tidak akan mengantar Anda untuk mencapai keberhasilan, hanya kerja keras yang mampu mengantar Anda untuk mencapai keberhasilan.

Biasakan diri Anda untuk selalu antusias dan penuh percaya diri dalam melakukan pekerjaan. Yakinkan diri untuk selalu produktif dan termotivasi untuk memberikan lebih dari seharusnya. Ketika Anda mencintai pekerjaan dan menyukai lingkungan kerja Anda, maka Anda akan termotivasi dan memiliki antusiasme yang tinggi untuk bekerja lebih keras.

Perusahaan yang baik selalu sadar untuk menyiapkan sebuah budaya organisasi yang mampu membangkitkan antusiasme dan gairah kerja karyawannya. Karena di tempat kerja, tidak mungkin berharap antusiasme muncul begitu saja tanpa menyiapkan budaya organisasi terbaik. Penyiapan tata kelola terbaik, pedoman tentang praktik terbaik, gaya kepemimpinan yang jelas dan tegas, lingkungan kerja yang profesional dan bersahabat, kompetensi dan kualitas yang diandalkan, serta perilaku kepemimpinan yang adil dan memperhatikan karyawan, akan menjadikan lingkungan kerja sebagai tempat yang subur untuk menumbuhkan antusiasme kerja karyawan.

Ketika karyawan sudah mampu menikmati apa yang mereka lakukan di tempat kerja, maka mereka pun menjadi kekuatan yang hebat untuk menghasilkan kinerja dan prestasi terbaik. Antusiasme, motivasi yang tinggi, kepercayaan diri, dan keyakinan yang kuat akan mendorong karyawan untuk berkarya dan melayani organisasi dengan cara terbaik. Dalam hal ini, pihak manajemen dan kepemimpinan harus selalu sadar diri agar tidak mempraktekkan hal-hal buruk yang bisa mengurangi semangat kerja karyawan. Jadi, dari waktu ke waktu, manajemen dan kepemimpinan harus mampu merawat dan memperbaiki semua situasi dan realitas, yang berpotensi mengurangi budaya kerja keras di tempat kerja.

Budaya organisasi yang kuat menciptakan lingkungan kerja yang mendorong antusiasme dan kepercayaan diri karyawan untuk melayani dengan sepenuh hati. Manajemen dan kepemimpinan perusahaan harus mampu menginternalisasikan tujuan dan prinsip-prinsip organisasi, lalu menginternalisasi dan menyatukan semua karyawan ke dalam visi yang dapat membuat mereka antusias untuk bekerja keras. Visi perusahaan harus dapat berkomunikasi dengan etos kerja yang dimiliki karyawan. Semua karyawan harus merasa senang dan bangga dengan pekerjaannya, serta tergerak hatinya untuk memberikan pelayanan prima bagi proses kerja dan semua stakeholders.

Gaji dan kompensasi yang adil dan profesional dapat menjamin kebutuhan hidup karyawan. Dan yang paling penting, membangun pola pikir karyawan untuk hidup sederhana dan tidak menjalani kehidupan ekonomi yang melebihi dari penghasilan yang diterima. Bila cara berpikir dan gaya hidup tidak sederhana dan kurang bersyukur, maka karyawan akan hadir ke tempat kerja sambil membawa beban berat kehidupan sehari-hari, dan semua itu pasti merusak budaya kerja keras.

Budaya perusahaan yang memperlakukan semua orang secara adil, tegas, jelas, pasti, dan terukur, akan menciptakan rasa percaya karyawan kepada perusahaan. Dan, hal ini merupakan modal yang baik untuk mendorong karyawan agar mereka melakukan pekerjaan dengan kinerja dan prestasi terbaik. Dan juga, kolaborasi kerja akan semakin menguat melalui persahabatan dan hubungan kerja yang penuh kualitas.

Semangat kerja keras karyawan harus dirawat dengan kesadaran yang tinggi. Jelas, hal ini merupakan tanggung jawab dari manajemen perusahaan. Secara fisik, semua perlengkapan kerja dan ruang kerja harus diciptakan untuk membangkitkan semangat kerja. Secara batin, semua perilaku dan aturan kerja harus dapat menciptakan rasa cinta karyawan kepada perusahaan. Secara ekonomi, gaji dan kompensasi dapat diterima karyawan dengan rasa syukur dan terima kasih. Di samping itu, manajemen harus mampu mempraktekkan cara mengelola yang tidak pilih kasih dan selalu cerdas berkomunikasi dengan semua kepentingan di dalam organisasi.

Budaya kerja keras memerlukan dorongan kerja sama, komunikasi positif, keramahan dan persahabatan, penerimaan terhadap tantangan dan resiko, serta selalu bekerja sesuai aturan dan sistem yang disepakati bersama. Setiap perbedaan harus dapat diselesaikan dengan landasan kasih sayang, empati, dan toleransi, sehingga tidak menimbulkan konflik yang bisa menghambat antusiasme untuk bekerja lebih keras.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MEMBUDAYAKAN RASA SYUKUR DAN TERIMA KASIH DI TEMPAT KERJA

“Ketika setiap pagi Anda memancarkan rasa syukur dan terima kasih di tempat kerja, maka energi baik Anda itu akan menginspirasi orang-orang di sekitar Anda menjadi lebih bersemangat untuk meningkatkan kinerja.”~Djajendra

Memiliki pekerjaan adalah sebuah anugerah yang wajib disyukuri. Tidak semua orang bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji bulanan yang tetap. Sangat banyak orang berharap dan berdoa untuk mendapatkan sebuah pekerjaan dengan gaji tetap. Tetapi, kita semua tahu bahwa jumlah pekerjaan di perusahaan dan di instansi pemerintah itu terbatas, orang-orang yang mencari pekerjaan jumlahnya sangat banyak sehingga diperlukan kompetisi yang ketat untuk bisa memiliki pekerjaan dengan gaji tetap. Intinya, tidak semua orang yang sudah sekolah tinggi-tinggi bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji tetap. Jadi, apakah tidak seharusnya Anda bersyukur dan berterima kasih untuk pekerjaan dengan gaji tetap yang sudah Anda miliki sekarang?

Adalah sebuah kenyataan bahwa orang-orang sering kehilangan rasa syukur di tempat kerja. Padahal untuk mendapatkan pekerjaan tersebut mereka sudah mengikuti berbagai proses seleksi yang ketat, dan sudah memenangkan di langkah pertama. Sayangnya, di langkah-langkah selanjutnya, mereka seperti menjadi orang yang kalah dengan realitas kerja, menjadi orang yang tidak bahagia di tempat kerja. Menjadi seperti orang yang kehilangan akal sehat untuk unjuk kinerja, dan lebih sering unjuk rasa. Semua ini terjadi karena hilangnya rasa syukur dan terima kasih dengan pekerjaan yang sudah didapatkan dengan tidak mudah.

Ketidakmampuan untuk bersyukur dan berterima kasih dengan pekerjaan yang dimiliki membawa dampak buruk bagi budaya kerja. Memang tidak semua orang memiliki hati nurani yang positif untuk mensyukuri dan berterima kasih dengan kebaikan yang didapatkan dari pekerjaan tersebut. Perilaku buruk seperti keluh kesah dan hitung-hitungan untuk berkontribusi menjadi energi negatif bagi penguatan budaya kerja. Di sinilah diperlukan peran kepemimpinan untuk membudayakan rasa syukur dan terima kasih di dalam perilaku kerja setiap karyawan.

Ketika setiap pagi Anda memancarkan rasa syukur dan terima kasih di tempat kerja, maka energi baik Anda itu akan menginspirasi orang-orang di sekitar Anda menjadi lebih bersemangat untuk meningkatkan kinerja. Jelas, kondisi ini meningkatkan kehebatan budaya kerja dan sekaligus mempromosikan budaya kerja yang sehat di tempat kerja.

Ketika rasa syukur dan terima kasih hilang, maka semua kekuatan tidak baik pasti menguasai lingkungan kerja. Dampaknya, orang-orang memiliki kebiasaan bekerja dengan rasa takut, khawatir, hitung-hitungan, marah, kesal, merasa diperlakukan tidak adil, merasa gaji terlalu kecil, dan suka mengekspresikan perilaku tidak terpuji di lingkungan kerja. Jadi, hal ini menjadi perusak budaya kerja, dan perusahaan juga sulit meningkatkan kinerja bersama orang-orang yang tidak bersyukur dan berterima kasih.

Sangat banyak orang-orang yang berpendidikan tinggi bekerja tanpa gaji tetap, dan mereka tidak pernah berhenti mencari pekerjaan untuk mendapatkan gaji tetap. Kadang-kadang, mereka mau menerima pekerjaan bergaji tetap yang disiapkan untuk level pendidikan rendah. Bekerja dengan gaji tetap dan fasilitas yang memenuhi kebutuhan hidup haruslah disikapi dengan rasa syukur yang tinggi. Ingat, bahwa sangat banyak orang yang berharap dan berdoa untuk sebuah gaji tetap dan fasilitas terbaik, dan Anda yang sudah memilikinya jangan menyia-nyiakannya dengan perilaku yang tidak bersyukur dan tidak berterima kasih.

Budayakan dan biasakan kata terima kasih di tempat kerja. Ucapkan kata terima kasih dalam semua interaksi dan proses kerja kepada kolega, bawahan, atasan, pelanggan, dan semua stakeholder lainnya. Sering-seringlah mengucapkan kata terima kasih. Ucapan terima kasih dari hati yang tulus menguatkan energi baik di tempat kerja. Energi baik ini menjadi dasar untuk penguatan budaya kerja.

Budaya bersyukur dan berterima kasih di tempat kerja meningkatkan produktivitas dan kinerja. Orang-orang yang bersyukur selalu sadar dan termotivasi untuk bekerja tanpa hitung-hitungan dan selalu memberi lebih dari yang diharapkan. Rasa syukur meningkatkan suasana hati menjadi lebih positif. Rasa syukur dan terima kasih menjadikan hidup Anda selalu sehat secara fisik, mental, dan spiritual. Rasa syukur dan terima kasih adalah obat anti stres yang paling hebat, sehingga hidup Anda memiliki ketahanan mental yang lebih hebat dan kuat di tempat kerja.  

Membudayakan rasa syukur dan terima kasih di tempat kerja berarti menghilangkan budaya negatif di tempat kerja. Artinya, emosi negatif, seperti: kebencian, iri hati, dengki, malas, dan kurang tanggung jawab akan lenyap oleh budaya rasa syukur.

Budaya rasa syukur di tempat kerja menularkan energi baik sehingga dalam kehidupan kerja sehari-hari terlihat saling menghargai, saling membantu, saling berterima kasih, saling bertanggung jawab, dan saling menginspirasi dengan keteladanan yang terpuji.

Membangun budaya rasa syukur dan terima kasih di tempat kerja harus dimulai dari semua pihak dengan kesadaran yang tinggi untuk mencapai kinerja terbaik. Para pemimpin di semua level dan para karyawan di semua level harus memberikan kontribusi untuk terwujudnya budaya rasa syukur di tempat kerja. Semua pihak di internal perusahaan harus dengan tulus dan sepenuh hati mengungkapkan rasa syukur dan rasa terima kasih di lingkungan kerja. Semua orang di tempat kerja harus mampu meningkatkan kepuasan kerja. Perilaku dan sikap yang bersyukur selalu memiliki kekuatan untuk menunjukkan penghargaan kepada yang lain. Perilaku dan sikap yang bersyukur selalu memiliki kekuatan untuk mencintai dan menghargai pekerjaan yang dimiliki dengan kerja keras.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENGUBAH POLA PIKIR KARYAWAN UNTUK MEMPERKUAT BUDAYA KERJA

“Budaya kerja yang buruk seperti kapal yang retak, sehingga mudah tenggelam. Budaya kerja yang baik seperti kapal yang kuat menahan badai seganas apapun.”~Djajendra

Budaya kerja yang kuat membuat perusahaan lebih tangkas dan lebih berdaya saing tinggi. Dunia kerja adalah dunia yang sangat dinamis, perubahan yang tak terduga selalu harus dihadapi. Kompetisi yang keras dalam dunia yang serba cepat membuat setiap karyawan wajib memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan, tidak ada waktu untuk tidak produktif. Semua orang di dalam perusahaan wajib memiliki kesadaran untuk mengembangkan diri agar tidak tertinggal oleh perubahan.

Budaya kerja yang baik mampu melancarkan bisnis dan menguatkan budaya organisasi. Budaya kerja yang baik membuat karyawan mampu memanfaatkan sistem, teknologi, dan strategi untuk mencapai kinerja bisnis terbaik. Budaya kerja yang baik membangun kebiasaan positif untuk melindungi semua aset perusahaan dengan tanggung jawab dan integritas. Budaya kerja yang baik menguatkan daya tahan perusahaan untuk menghadapi bisnis yang dinamis. Budaya kerja yang baik meningkatkan semangat, optimisme, pola pikir positif, dan kreativitas di dalam rutinitas kerja sehari-hari.

Ketika perusahaan tidak mampu meningkatkan budaya kerja karyawan untuk beradaptasi dengan perubahan, maka perusahaan pasti kalah bersaing di dalam kompetisi bisnis. Keunggulan budaya kerja sangatlah menentukan kemenangan dalam bisnis. Ciri-ciri budaya kerja yang unggul adalah karyawan bekerja dengan mental pemenang; bekerja dengan etos dan integritas yang tinggi; bekerja dengan etika dan moralitas yang tinggi; bekerja untuk misi, tujuan, dan visi perusahaan; bekerja dengan hati dan tanggung jawab; bekerja dengan empati untuk keharmonisan lingkungan kerja; serta bekerja dengan kualitas dan kompetensi terbaik.

Sangat mudah untuk membangun sistem, teknologi, prosedur, dan tata kelola yang terbaik di semua bagian organisasi perusahaan. Tetapi, ketahanan bisnis sangat tergantung dari budaya kerja dan mental pemenang karyawan. Untuk membangun budaya kerja dan mental pemenang membutuhkan waktu, dan hal ini tidak sederhana. Diperlukan sebuah proses panjang untuk mengubah pola pikir dan persepsi karyawan dalam memahami realitas yang dihadapi perusahaan. Biasanya, diperlukan kesadaran yang luar biasa dari masing-masing individu karyawan untuk menumbuhkan kepribadian yang sesuai dengan kehendak budaya kerja.

Dunia bisnis dan dunia kerja adalah dunia yang tak terduga, apapun bisa terjadi. Sukses dan gagal selalu beriringan menuju visi. Tidak ada yang pasti, sehingga tak seorang pun yang boleh santai di zona nyaman kerja. Setiap karyawan dan pimpinan harus terbiasa dan terlatih untuk menghadapi tantangan baru. Mental pemenang dan emosi yang cerdas harus selalu disiapkan untuk menghadapi hal-hal terburuk, sehingga selalu mampu bekerja di segala situasi dan keadaan untuk mencapai yang terbaik.  

Mengubah pola pikir karyawan untuk memperkuat budaya kerja. Karyawan harus dibangkitkan untuk memiliki kemampuan dan kepribadian yang tangguh dalam menghadapi perubahan. Tidak peduli sesulit apapun realitas yang dihadapi, setiap karyawan harus tetap gembira dan berenergi positif untuk mengatasi kesulitan. Dalam hal ini, peran kepemimpinan dan manajemen menjadi penting untuk membimbing dan memotivasi pola pikir positif karyawan. Jadi, saat masa-masa sulit mengganggu bisnis; maka, setiap karyawan harus tampil lebih tangguh, lebih gesit, lebih percaya diri, lebih ikhlas, lebih disiplin, lebih bekerja keras, dan lebih yakin untuk mencapai keberhasilan. Tidak boleh seorang pun yang mengkontribusikan energi pesimis ke dalam lingkungan kerja, setiap orang harus fokus dan disiplin untuk mengerjakan bagiannya masing-masing dengan mental pemenang.

Hanya orang-orang yang mudah beradaptasi yang bisa berlari kencang untuk menyatu dengan perkembangan baru. Bila tidak mampu beradaptasi dengan cepat, maka jangan berharap bisa memenangkan kompetisi bisnis. Jadi, orang-orang yang ngotot bekerja di zona nyaman dan marah kalau diajak bekerja di luar zona nyaman, adalah orang-orang yang sedang mempersiapkan perusahaan untuk gagal.

Perusahaan tidak mungkin tumbuh dan sukses di tangan orang-orang yang cinta zona nyaman. Membiarkan operasional perusahaan di tangan orang-orang yang sulit beradaptasi dengan perubahan, akan menjadikan budaya kerja lemah dan rapuh. Hal ini, akan menghadirkan resiko yang sangat besar, sehingga perusahaan sulit menghadapi realitas bisnis di masa depan.  

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KEBERHASILAN DIKARENAKAN TIDAK PERNAH BERHENTI BEKERJA KERAS, DISIPLIN, TEKUN, DAN OPTIMIS

“Kalau hari ini Anda gagal, masih ada hari esok untuk berhasil.”~Djajendra

Tidak selalu harus menang, kalah pun adalah kemenangan bagi mental pemenang. Kekalahan bagi mental pemenang adalah kemenangan untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik agar dapat meraih kemenangan yang lebih hebat.

Kalau hari ini Anda gagal, masih ada hari esok untuk berhasil. Mungkin kesempatan hari ini hilang, tapi Anda masih bisa menyiapkan segalanya untuk tampil di kesempatan yang lebih tinggi. Selama Anda bekerja dan hidup dengan semangat tinggi, Anda selalu mampu menciptakan banyak kesuksesan di sepanjang perjalanan hidup Anda.

Membangun karir kerja tidak terlepas dari keberhasilan dan kegagalan. Karir kerja berjalan dalam proses belajar, dan Anda harus terus-menerus belajar untuk beradaptasi dengan hal-hal tak terduga. Mungkin saja Anda merasa dianggap oleh pimpinan tidak berprestasi di tempat kerja, tetapi bila Anda ingin berhasil, Anda tidak boleh berhenti berusaha untuk menjadi yang terbaik. Tetaplah tampil penuh semangat walau Anda dipandang kurang berkinerja di tempat kerja. Jangan biarkan peristiwa yang paling suram di tempat kerja menjadikan Anda kalah dan tak berdaya selamanya. Fokuskan perhatian pada hal-hal positif, dan belajarlah dari pengalaman untuk meningkatkan kualitas dan keterampilan Anda.

Pribadi pemenang tidak peduli dengan keadaan sulit, dia mampu bersikap menang di atas kesulitannya. Dia sadar bahwa keberhasilan dan kegagalan hanyalah warna dari perjalanan hidup. Dia sadar bahwa kegagalan pada hari ini bukan akhir, tetapi awal untuk kesuksesan di waktu yang lain. Bagi pribadi pemenang, kehidupan adalah perjalanan yang optimis di segala situasi dan kondisi. Dia selalu menyiapkan diri dengan disiplin yang tinggi untuk mengatasi tantangan melalui tanggung jawab dan integritas.

Jangan pernah berhenti untuk bekerja dengan cara yang lebih baik. Jangan pernah berhenti untuk mengasah keterampilan dan kemampuan Anda. Belajar dengan lebih rajin dan tambahkan keterampilan baru untuk meningkatkan kualitas Anda. Jadilah energi positif untuk menciptakan budaya kerja yang unggul. Miliki kemauan untuk berprestasi dan berkinerja tinggi. Miliki intuisi dan keterampilan dalam menerjemahkan segala situasi dan kondisi untuk menemukan sukses. Keberhasilan dan kegagalan adalah sesuatu yang biasa saja, dan Anda tidak perlu berlebihan menanggapi keduanya. Fokuskan semua energi dan waktu untuk menjadikan diri Anda lebih baik dan lebih produktif di sepanjang hidup.

Kunci keberhasilan adalah tidak pernah berhenti bekerja keras, tekun, disiplin, rajin, optimis, yakin, dan bermental pemenang. Keberhasilan ada di pikiran Anda. Keberhasilan ada dalam keyakinan Anda. Keberhasilan ada dalam tindakan Anda yang tidak pernah berhenti dan menyerah untuk mewujudkan sukses.

Mental pemenang melahirkan perilaku kerja yang selalu berjuang untuk menjadi yang terbaik. Walaupun sudah menjadi yang terbaik pada saat ini, mental pemenang tidak akan berhenti untuk menjadikan dirinya lebih baik lagi. Kebiasaan hidupnya tidak pernah berhenti untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan. Setiap hari belajar dengan rendah hati dan menyerap pengetahuan dari semua dimensi kehidupan kerja.

Keberhasilan tidaklah gratis, ada banyak hal yang harus diberikan untuk mendapatkan keberhasilan. Anda harus memberikan kerja keras, ketekunan, kerajinan, disiplin, dan juga mau belajar dengan ikhlas dari pelajaran yang diberikan oleh kegagalan. Anda juga harus sadar bahwa berjuang dan bekerja keras untuk sukses bukanlah cukup satu kali, tetapi Anda harus siap mental untuk berjuang dan bekerja keras berkali-kali, tanpa pernah berhenti dan menyerah di sepanjang hidup Anda.

Saat Anda memulai karir di tempat kerja, tidak mungkin semua hal berjalan dengan sempurna. Banyak hal-hal yang tak terduga dan yang tidak Anda inginkan dapat terjadi. Bila Anda bermental pemenang, maka Anda tidak pernah berkeluh-kesah untuk hal-hal yang merugikan Anda, juga tidak terlalu gembira untuk hal-hal yang menguntungkan Anda. Mental pemenang selalu tenang dan menerima segala sesuatu dengan rendah hati. Setiap kegagalan disikapi dengan tenang, lalu mencari solusi agar cepat pulih dari kegagalan, dan segera bangkit dengan optimis untuk mencoba lagi.

Keberhasilan membutuhkan sistem yang kuat untuk menjaga konsistensi tindakan di dalam proses yang tidak pasti. Sistem diperlukan karena dalam proses kadang ada situasi yang tidak bekerja dengan cara Anda. Mungkin Anda sudah berpikir dan menyusun rencana yang hebat, tetapi tantangan datang di luar dugaan Anda, dan kadang bisa juga tantangan itu di luar kendali Anda. Dalam hal ini, sistem akan menjaga standar dan proses yang normal, dan Anda tinggal menjadi lebih kreatif untuk mengatasi tantangan yang di luar dugaan itu dengan solusi terbaik. Menghadapi hal-hal tak terduga dan di luar kemampuan membutuhkan sikap tenang dan penuh percaya diri. Hal yang pasti, Anda harus mampu mengeksekusi dengan sistem Anda yang hebat itu, lalu dengan kreatif mampu menghasilkan kinerja dan prestasi terbaik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

BEKERJA DALAM SATU BUDAYA YANG SAMA UNTUK MENCEGAH KESALAHPAHAMAN DI TEMPAT KERJA

“Budaya perusahaan itu satu, tetapi orang-orang yang bekerja di dalam perusahaan suka membawa budaya pribadinya masing-masing ke dalam rutinitas kerja, sehingga budaya perusahaan menjadi tidak satu.”~Djajendra

Bekerja dalam satu budaya haruslah menjadi komitmen dan kewajiban dari setiap insan perusahaan. Bila setiap insan perusahaan memiliki cara berpikir yang tidak sejalan dengan misi perusahaan; nilai-nilai pribadi dan keyakinan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan keyakinan perusahaan; kepemimpinan diri sendiri yang tidak sesuai dengan kepemimpinan perusahaan; maka, konflik batin muncul dari akibat benturan antara budaya pribadi dengan budaya perusahaan. Dampaknya, budaya perusahaan tidak pernah kuat dan setiap saat dikecilkan oleh ego dari budaya pribadi masing-masing insan perusahaan.

Sudah menjadi kodrat dalam kehidupan bahwa setiap orang berbeda satu sama lain. Setiap orang yang datang ke kantor atau pabrik berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Perbedaan latar belakang budaya ini harus menyatu di dalam budaya perusahaan yang kuat. Bila budaya perusahaan tidak kuat dan tidak menjadi dominan di dalam rutinitas kerja, maka kondisi ini menciptakan kesalahpahaman dalam hubungan kerja. Akibatnya, kolaborasi dan koordinasi menjadi lemah, serta produktivitas tidak bisa menjadi optimal. Sebab, insan perusahaan hidup dalam lingkungan kerja yang saling tersinggung dan sulit memahami satu sama lain.

Manajemen dan kepemimpinan yang kuat selalu bekerja dalam satu budaya yang sama dan mencegah kesalahpahaman di tempat kerja. Dalam hal ini, nilai-nilai dan keyakinan perusahaan dikuatkan dan diinternalisasi ke dalam diri setiap insan perusahaan agar mereka menyatu dalam satu budaya kerja yang kuat. Setiap perbedaan dikelola dan diambil keunggulan untuk memperkuat organisasi dan bisnis perusahaan. Setiap insan perusahaan dilengkapi dengan kompetensi yang profesional dan dikelola menjadi lebih berguna bagi daya saing perusahaan. Kepemimpinan dan manajemen yang kuat bekerja menggunakan budaya organisasi yang kuat, sehingga mampu mencegah semua potensi resiko yang bersumber dari budaya negatif yang terbawa oleh karyawan.

Ketika manajemen dan kepemimpinan perusahaan sudah mampu mengelola dan bekerja berdasarkan budaya organisasi yang kuat, maka operasional budaya kerja tidak akan terpengaruh oleh perbedaan budaya perusahaan. Semua budaya pribadi karyawan tidak akan mampu mempengaruhi kekuatan budaya perusahaan yang formal. Setiap orang di dalam perusahaan mampu berkomunikasi dan berinteraksi berdasarkan nilai-nilai dan keyakinan perusahaan. Nilai-nilai dan keyakinan pribadi karyawan disatukan oleh nilai-nilai dan keyakinan perusahaan, sehingga keharmonisan kerja terwujud dengan baik. Setiap orang yang berbeda budaya dan latar belakang mampu disatukan oleh budaya perusahaan yang kuat, sehingga mereka bisa menjadi tim yang solid di dalam rutinitas kerja.

Budaya perusahaan yang kuat terbentuk dari nilai-nilai dan keyakinan yang kuat, aturan dan kebijakan yang tegas, etika dan kepatuhan pada hukum, perilaku kerja yang adil dan menghormati karir setiap orang, kepemimpinan yang berani dan tegas, kompetensi dan kualitas karyawan yang tinggi, bisnis yang tumbuh terus-menerus, serta terpenuhinya kebutuhan ekonomi dan spiritual karyawan.

Dalam budaya yang kuat manajemen perusahaan membangun hubungan kerja berdasarkan nilai-nilai dan keyakinan perusahaan dengan tegas. Dalam hal ini, tidak ada kompromi terhadap nilai-nilai dan keyakinan perusahaan. Setiap orang, suka tidak suka, wajib untuk mematuhi dan mengikuti nilai-nilai dan keyakinan perusahaan. Tidak boleh menduakan hati terhadap nilai-nilai dan keyakinan perusahaan. Semua ini tidak berhenti sebatas keyakinan dan nilai-nilai secara normatif, tetapi harus ditunjukkan melalui tindakan yang tegas dan nyata di lapangan. Jadi, manajemen wajib memberikan prosedur dan instruksi yang jelas dan pasti agar nilai-nilai dan keyakinan perusahaan bisa digunakan oleh setiap insan perusahaan di dalam proses kerja.

Budaya yang kuat memberi ruang bagi kreativitas dalam menghadapi bisnis yang dinamis. Karena situasi dan kebutuhan bisa berubah setiap waktu, maka budaya harus terbuka dan menjadi lebih fleksibel untuk mengalir dalam perubahan. Dalam hal ini, budaya harus mampu memahami dan melayani kebutuhan setiap insan perusahaan dalam menghadapi kedinamisan organisasi dan bisnis.

Dalam budaya organisasi yang kuat setiap individu adalah aset perusahaan. Oleh karena itu, setiap insan perusahaan wajib dirawat dan diperhatikan dengan empati. Memberikan penghargaan yang tepat untuk kinerja masing-masing individu. Memberikan kompetensi agar setiap individu terbiasa bekerja dengan menggunakan inisiatif yang tepat. Membangunkan jiwa spiritual, mental pemenang, dan daya tahan fisik yang kuat agar mereka menjadi kekuatan nyata di dalam organisasi. Memberikan rasa percaya diri untuk menjadi kreatif, inovatif, dan membiasakan diri selalu rendah hati untuk bisa belajar dari kesalahan dan kekurangan yang ada.

Membiasakan individu bekerja dalam kelompok dan menjadi kekuatan kerja sama di dalam tim. Semua insan perusahaan bekerja untuk satu visi, satu budaya, dan satu tujuan perusahaan. Jadi, semua orang adalah satu untuk perusahaan. Loyalitas dalam kolaborasi dan kerja sama di dalam proses kerja menjadi sangat penting. Kehebatan dan keunggulan individu hanya bermanfaat bagi kemajuan perusahaan bila mampu membantu orang lain di dalam perusahaan. Intinya, kehidupan di tempat kerja adalah kehidupan yang menyatu dan melebur dengan orang lain untuk mencapai misi, visi, dan tujuan perusahaan.

Berpikir positif dan mengelola emosi positif adalah cara untuk memperkuat budaya organisasi. Insan perusahaan yang cerdas emosional mampu menjaga suasana hati yang baik di setiap situasi dan keadaan di tempat kerja. Jadi, apapun realitas di tempat kerja, setiap insan perusahaan mampu mengendalikan emosi dan pikiran dengan bijak. Tidak akan ada unjuk emosi negatif, semua orang akan bekerja dalam kesadaran untuk memperkuat komunikasi dan interaksi. Intinya, budaya perusahaan yang kuat terbentuk dari kedewasaan emosi, sikap, pikiran, dan jiwa yang bijak dari setiap insan perusahaan.

Bekerja dalam satu budaya yang sama membutuhkan perilaku kerja yang saling hormat dan tidak menantang keputusan dari otoritas yang lebih tinggi. Otoritas tertinggi berada pada kepemimpinan tertinggi. Dalam hal ini, kepemimpinan tertinggi harus bekerja dengan integritas  agar dipercaya atas keputusan yang diambil, serta menjadi kekuatan untuk mencegah kesalahpahaman.

Setiap individu di tempat kerja berkaitan dengan individu yang lain, setiap divisi di tempat kerja berkaitan dengan divisi yang lain, setiap departemen di tempat kerja berkaitan dengan departemen yang lain, setiap insan perusahaan berkaitan dengan lingkungan kerja. Jadi, tidak boleh ada ego individu, ego kelompok, ego fungsi, ego peran, dan ego kepentingan. Setiap orang harus menjadi sel yang memperkuat budaya organisasi, bukan sel yang merusak atau merongrong kekuatan budaya organisasi. Setiap insan perusahaan harus mampu mengendalikan ego dan nafsu yang berpotensi merusak lingkungan kerja yang positif. Setiap insan perusahaan harus mampu menjadi budaya perusahaan yang kuat dan mengatur semangat kerja untuk mencapai kinerja terbaik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KEPEMIMPINAN DENGAN STANDAR ETIKA YANG TINGGI

“Pengabaian etika bisnis menimbulkan proses bisnis berbiaya tinggi, dan juga potensi resiko hukum atas ketidakjujuran.”~Djajendra

Kepemimpinan perusahaan adalah kekuasaan dan tanggung jawab di tempat kerja. Agar kekuasaan dan tanggung jawab ini dapat dijalankan dengan cara-cara yang benar dan baik, serta kemampuan untuk menghindari cara-cara tidak benar dan tidak baik; maka, para pemimpin di perusahaan memiliki tanggung jawab untuk membangun budaya kerja yang etis. Membangun standar etika yang tinggi, model perilaku yang tepat, integritas dan akuntabilitas yang konsisten.

Dalam proses bisnis, sangat banyak peristiwa yang memungkinkan terjadinya pengabaian etika. Sering sekali, kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok bisa memicu perbuatan yang mengabaikan etika. Sebagai contoh: seorang staf dari bagian pembelian menerima komisi dari penjual, dan komisi tersebut masuk ke kantong pribadi. Contoh yang lain, seorang staf dari bagian pembayaran meminta komisi agar pembayaran bisa dipercepat. Dan, sangat banyak wilayah dalam proses bisnis yang berpotensi mengabaikan etika.

Pertanyaannya, apa yang akan terjadi kalau etika bisnis selalu diabaikan? Jawabannya jelas, pengabaian etika bisnis menimbulkan proses bisnis berbiaya tinggi, dan juga potensi resiko hukum atas ketidakjujuran.   

Proses bisnis yang efektif dan efisien membutuhkan kepemimpinan yang tegas dan berani menjalankan etika bisnis dengan standar yang tinggi. Tanpa implementasi etika bisnis dan kode etik perilaku di tempat kerja, maka tata kelola perusahaan yang terbaik sulit diwujudkan. Tanpa internalisasi etika bisnis dan kode etik perilaku ke dalam mental dan perilaku pegawai, maka proses bisnis berpotensi berbiaya tinggi. Kepemimpinan yang etis berani mengambil tindakan dan menunjukkan kepada semua stakeholder bahwa organisasinya mematuhi isu-isu etis. Keberanian dan kepastian pemimpin untuk menjalankan nilai-nilai etika, akan meningkatkan kualitas budaya organisasi etis di tempat kerja.

Kepemimpinan dengan standar etika yang tinggi tidak hanya membuat tata kelola bisnis yang terbaik, panduan etika bisnis, panduan kode etik perilaku, prosedur kerja yang profesional, aturan, peraturan, dan kebijakan yang mempromosikan etika sebagai fondasi budaya perusahaan. Mereka juga merupakan kepemimpinan yang membentuk perilaku dan karakter kerja dengan nilai-nilai inti perusahaan. Nilai-nilai inti (core values) perusahaan merupakan jati diri dan identitas unik dari perusahaan. Oleh karena itu, kepemimpinan dengan standar etika yang tinggi merasa bertanggung jawab untuk mengatur perilaku karyawan agar selalu selaras dengan nilai-nilai inti perusahaan. Bila ada karyawan yang perilaku kerjanya tidak selaras dengan nilai-nilai inti perusahaan, maka dia akan menjadi kekuatan negatif yang merusak implementasi dan internalisasi etika bisnis.

Kepemimpinan dengan standar etika yang tinggi wajib menjadi contoh dan memberikan keteladanan melalui sikap dan perilaku etis. Intinya, kepemimpinan etis memberitahu kepada semua stakeholder tentang cara menjalankan etika bisnis dan kode etik perilaku melalui kepribadian dan karakter kerjanya.

Nilai-nilai inti pribadi dan nilai-nilai inti perusahaan harus menyatu. Misalnya, nilai-nilai inti pribadi tidak mempercayai transparansi, sedangkan nilai-nilai inti perusahaan mempercayai transparansi. Kondisi ini akan membuat nilai-nilai inti pribadi bertentangan dengan nilai-nilai inti perusahaan. Akibatnya, karyawan tidak mungkin bisa bekerja dengan sepenuh hati bersama perusahaan. Padahal, setiap orang di tempat kerja harus mampu menjadi kekuatan dari budaya organisasi yang unik dan sesuai dengan napas perusahaan.

Untuk mendapatkan nilai-nilai inti pribadi karyawan yang selaras dengan nilai-nilai inti perusahaan dimulai dari perekrutan dan pelatihan. Dalam proses perekrutan jangan terjebak dengan tingginya nilai akademik calon karyawan, tetapi berikan perhatian pada nilai-nilai inti pribadi calon karyawan. Tingginya nilai akademik calon karyawan tidak menjamin bahwa dia akan menjadi kekuatan positif bagi budaya kerja yang etis. Jadi, begitu seseorang diterima sebagai pegawai, sudah tidak ada lagi urusannya dengan nilai-nilai akademik, urusannya sekarang adalah kemampuannya untuk bekerja bersama budaya etis di perusahaan.

Penguatan budaya etis di setiap aspek di dalam organisasi menjadikan perusahaan kuat dan mampu beradaptasi di setiap situasi yang tidak pasti. Benar dan salah bukanlah dihasilkan dari persepsi, tetapi dari standar etika dan sistem yang dapat dipercaya.

Pemimpin etis harus memiliki mental yang etis agar dapat melakukan tindakan yang benar, pada waktu yang tepat, untuk alasan yang tepat. Etika harus menjadi dasar pemikiran dan tindakan dalam melakukan apa saja di tempat kerja. Pemimpin dan karyawan harus hidup dalam satu jiwa dan satu napas bersama prinsip-prinsip kerja yang jujur, bertanggung jawab, adil, melayani, menepati janji, menghormati orang lain, mematuhi aturan-aturan, dan berkepastian hukum.

Kepemimpinan dengan standar etika yang tinggi mampu mengenali dan mengelola dilema etika secara profesional. Dilema etika berarti dihadapkan dengan pilihan sulit untuk menjalankan etika secara benar. Seperti dipahami oleh banyak pemimpin perusahaan bahwa di tempat kerja sangat banyak kepentingan, apalagi bila kepentingan itu datang dari orang-orang yang lebih tinggi kekuasaannya dari para pemimpin di perusahaan. Dalam hal ini, dilema etika sudah tidak dapat lagi disembunyikan dengan cara apapun. Di sinilah diperlukan untuk mendengarkan suara hati yang sudah terbentuk sejak lama dari integritas pribadi yang tinggi. Artinya, saat dilema etika begitu sulit, dengarkan suara hati nurani Anda, lalu berpikirlah secara rasional dengan akal sehat sebelum mengambil keputusan atas dilema etika yang Anda hadapi. Itulah cara menjalankan standar etika kepemimpinan walau Anda sedang menghadapi dilema etika yang sulit.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

CORE COMPETENCE UNTUK MENINGKATKAN KEUNGGULAN BISNIS ANDA

motivasi-30092016

“Kompetensi inti adalah keunikan dan keunggulan yang sulit ditiru oleh pihak lain. Ini adalah tentang energi yang terpancar melalui pengetahuan, cara, gaya, dan kemampuan yang meninggikan kualitas seseorang.”~Djajendra

Kompetensi inti (Core Competence) adalah kemampuan menguasai sebuah pekerjaan secara total berdasarkan nilai-nilai pribadi ataupun nilai-nilai perusahaan, baik secara spiritual maupun ritual. Artinya, Anda dengan kompetensi inti mampu menentukan proses kerja terbaik, menentukan arah yang benar, membuat keputusan yang tepat, dan bertindak mewujudkan pekerjaan tersebut dengan kemampuan total berdasarkan nilai-nilai yang sudah menyatu secara holistik ke dalam diri Anda. Dalam hal ini; hati, pikiran, jiwa, dan tubuh menyatu dalam integritas dan akuntabilitas, untuk mewujudkan hasil akhir terbaik dari pekerjaan yang Anda kuasai dengan sepenuh hati.

Dalam perusahaan, selalu ada core values yang dimaksudkan untuk membentuk core competence. Core competence karyawan yang bersumber dari core values terlihat melalui etos kerja dan keterampilan kerja karyawan. Internalisasi core values perusahaan menjadi core competence karyawan bukanlah pekerjaan mudah. Diperlukan latihan, pencerahan, dan sistem yang membiasakan karyawan untuk memiliki core competence dari core values perusahaan. Biasanya, untuk membuat karyawan memiliki core competence dari core values perusahaan membutuhkan waktu, kesabaran, disiplin, ketekunan, dan moralitas yang tinggi.

Core competence atau kompetensi inti dihasilkan dari pembelajaran dan pengalaman yang lama, dan kompetensi inti ini sudah berwujud di dalam intuisi. Jadi, core competence seolah menjadi gaya atau cara Anda dalam menjalankan usaha atau pekerjaan, yang unik dan memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh siapapun.

Core competence membedakan antara satu usaha dengan usaha yang lain. Misalnya, Anda mengunjungi beberapa bank, lalu Anda merasakan perbedaan pelayanan dari satu bank dengan bank yang lainnya. Padahal, semua bank tersebut sudah memiliki standar operasional yang sama, dan rasa beda yang Anda rasakan itulah bersumber dari core competence. Jadi, core competence ini adalah nilai-nilai yang membentuk rahasia dari kesuksesan sebuah usaha. Nilai-nilai dalam core competence tidak lagi berdiri sendiri, tetapi melebur dan menyatu dalam satu energi yang sifatnya holistik, sehingga tidak semua orang bisa mengkloning atau mengcopynya untuk diterapkan pada usaha lain.

Contoh lain: di sebuah lokasi ada lima rumah makan yang sama menu makanannya, Anda dan banyak orang paling suka dan merasa paling cocok dengan salah satunya. Rasa paling cocok yang Anda dan orang-orang rasakan tersebut bersumber dari core competence rumah makan tersebut. Intinya, core competence menghasilkan rahasia dapur, sehingga tidak mudah dikloning oleh orang lain. Hal ini menciptakan keunggulan dalam kompetisi bisnis. Jadi, para pesaing tidak mudah mengalahkan usaha yang terbentuk dari core competence. Usaha yang dijalankan dengan core competence selalu unggul untuk meningkatkan keberhasilan bisnisnya.

Core competence tidak bisa dimiliki secara instan, dia hanya dapat dimiliki setelah Anda melewati berbagai jenis proses dan pengalaman, lalu menemukan makna suci dari pekerjaan yang Anda lakukan. Termasuk, Anda memiliki semangat yang tinggi dan cinta yang mendalam terhadap pekerjaan atau bisnis yang Anda kerjakan.

Mengembangkan core competence memerlukan kerja sangat keras, kemampuan untuk menggunakan nilai-nilai secara konsisten dalam menemukan solusi terbaik, dan terus-menerus menekuni dan mengembangkan pekerjaan atau bisnis secara berkelanjutan.

Sebuah bisnis atau pekerjaan yang dilandasi oleh core competence selalu menawarkan sesuatu yang unik dan unggul. Pelanggan selalu bersedia membelih dan membayar lebih untuk sesuatu yang unik dan unggul. Jadi, perusahaan yang mengembangkan sumber daya manusianya dengan core competence sesuai strategi perusahaan akan melakukan hal-hal yang kreatif, unik, dan mampu mempengaruhi pelanggan untuk membeli lebih banyak.

Core competence sangat dibutuhkan untuk membangun keunggulan kompetitif berkelanjutan. Karyawan-karyawan dengan core competence selalu memiliki keahlian untuk memenangkan kompetisi bisnis. Ini seperti memiliki tim bermental pemenang yang selalu kreatif untuk memenangkan target bisnis. Di samping itu, mampu mengembangkan keterampilan yang dimiliki menjadi lebih berkualitas dan lebih siap memenangkan kompetisi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PENYIMPANGAN DALAM ETIKA KERJA MELEMAHKAN BUDAYA ORGANISASI

“Budaya organisasi yang kuat tercipta dari perilaku etis karyawan dan pimpinan yang konsisten.”~Djajendra

Untuk menjaga konsistensi perilaku etis di tempat kerja memerlukan implementasi dan internalisasi kode etik, etika bisnis, nilai-nilai organisasi, dan berbagai kebijakan untuk peningkatan kualitas integritas, serta kemampuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang holistik dan membahagiakan setiap orang.

Penyimpangan dalam etika kerja akan membuat suasana kerja terganggu. Perusahaan tanpa etika merusak perilaku kerja dan menciptakan suasana kerja yang buruk.

Etika kerja diperlukan untuk menjaga rutinitas dan aktivitas sehari-hari di tempat kerja berjalan dengan perilaku positif. Karyawan dengan perilaku etis memiliki kepribadian dengan standar moral yang tinggi, sehingga mereka dapat menjaga diri untuk tidak melakukan penyimpangan di tempat kerja.

Penyimpangan dalam etika kerja menguatkan konflik kepentingan dan penyalahgunaan aset perusahaan.Dan, perlu disadari bahwa moralitas pekerja yang rendah menyulitkan perusahaan untuk menjaga tidak terjadinya penyimpangan. Jadi, bila di tempat kerja masih terjadi penyimpangan dalam etika kerja dan etika bisnis, maka ini artinya internalisasi nilai-nilai moral yang baik dan penegakkan aturan haruslah ditingkatkan.

Etika tidak hanya untuk diucapkan dan ditulis dalam bentuk kode etik. Lebih dari itu, etika merupakan perilaku wajib untuk dapat memiliki budaya perusahaan yang kuat dan unggul. Bila karyawan tidak memiliki perilaku etis, maka mereka tanpa merasa bersalah atau berdosa akan melanggar semua aturan, dan penyimpangan dianggap benar oleh mereka.

Perilaku tanpa etika: mudah berbohong, sering absen dengan berbagai alasan, selalu mencari keuntungan dari hubungan kerja, membuat keputusan tanpa memetakan resiko, tidak menganggap kode etik dan etika bisnis, serta berperilaku sesuka hati tanpa memikirkan aturan dan kebijakan.

Bekerja tanpa etika menjadikan mental buruk dan etos kerja tidak produktif. Hal ini merugikan perusahaan. Selain itu, lingkungan kerja menjadi tidak bahagia karena perilaku yang tidak adil, tingginya diskriminasi, saling bermusuhan, bergosip, perilaku menghakimi, menilai, dan menyudutkan rekan kerja. Semua kondisi ini menciptakan lingkungan kerja sehari-hari yang tidak produktif dan tidak mendatangkan rasa memiliki perusahaan oleh karyawan.

Sekecil apapun penyimpangan dalam etika kerja dan etika bisnis pasti melemahkan budaya organisasi. Dalam budaya yang lemah karyawan tidak mampu bekerja optimal, sebagian energi terkuras untuk melayani hal-hal negatif yang diakibatkan oleh penyimpangan etika.

Penyimpangan etika di tempat kerja mengurangi kualitas kerja untuk semua karyawan. Jelas, hal ini mengakibatkan turunnya kualitas pelayanan, dan memburuknya hubungan pelanggan dengan perusahaan. Kondisi ini pasti menurunkan kinerja bisnis dan berdampak serius pada penurunan citra perusahaan.

Menguasai etika tidaklah bisa secara otomatis. Sering sekali, atau pada umumnya, perusahaan membuat kode etik dan panduan etika bisnis, lalu disosialisasikan dalam waktu singkat, dan memaksa karyawan untuk mematuhinya. Dalam realitas, cara ini selalu gagal. Perlu diingat bahwa implementasi etika bertujuan untuk mengubah perilaku karyawan. Mengubah perilaku membutuhkan disiplin yang tinggi untuk berlatih perilaku etis, yang sesuai dengan kode etik dan panduan etika bisnis. Dalam hal ini, perusahaan harus sadar untuk melatih semua karyawan secara rutin, dan melatihnya berulang-ulang agar perilaku etis terbiasa bagi karyawan.

Tidak ada cara instan dalam menciptakan perilaku etis, dan tidak bisa menyerahkan perilaku etis kepada kesadaran karyawan. Perusahaan wajib membuat kebijakan dan aturan untuk menyadarkan karyawan agar berperilaku etis di tempat kerja. Lalu, menegakkan aturan dan menghukum yang tidak etis.

Budaya organisasi yang kuat dikembangkan melalui perilaku etis karyawan. Semua ini bisa dimulai dari lingkungan kerja. Misalnya, karyawan bertanggung jawab menjaga kebersihan ruang kerja, menjaga kebersihan toilet dan tersedianya kertas toilet, menjaga dapur dan kantin kantor yang bersih dan piring-piringnya tersusun dengan baik. Walaupun mungkin sudah ada petugas khusus yang mengerjakan pekerjaan kebersihan lingkungan kantor, tetapi perilaku etis karyawan haruslah peduli, serta memiliki tanggung jawab untuk berbudaya bersih dan sehat di tempat kerja.

Perilaku tidak etis, seperti: mengaku sakit, tapi sebenarnya pergi jalan-jalan;  jatuh cinta dengan rekan kerja, padahal sudah punya isteri atau suami; berperilaku buruk di acara atau kegiatan kekeluargaan dengan rekan kerja dan atasan; ikut campur dalam urusan pekerjaan orang lain; meminta komisi atau keuntungan kepada pihak ketiga dari pelayanan yang diberikan; tidak bertanggung jawab untuk menjaga dan merawat perlengkapan kantor; menghabiskan sebagian jam kerja untuk berselancar di sosial media; berperilaku boros dan tidak bertanggung jawab saat menggunakan fasilitas kantor; meja kerja tidak bersih dan banyak makanan ringan; senang mendengarkan gosip dan mengulanginya untuk rekan kerja yang lain; tidak peduli dengan komplain pelanggan; tidak memiliki empati terhadap rekan kerja, bawahan, atasan, dan pelanggan; tidak peduli dengan standar kerja; mengabaikan kualitas di setiap proses kerja; tidak disiplin; dan malas berkontribusi untuk kemajuan perusahaan. Semua perilaku tidak etis ini pasti melemahkan budaya organisasi. Jadi, kalau mau memiliki budaya organisasi yang kuat, maka tingkatkan kualitas perilaku etis di tempat kerja.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PERAN INTERNAL AUDITOR DALAM WHISTLEBLOWING SYSTEM

“Whistleblowing system membutuhkan karakter kerja auditor yang selalu bersikap rendah hati, optimis, profesional, percaya diri, empati yang tinggi, fleksible, intuisi yang hebat, jujur dan bertanggung jawab, menyenangkan, tenang dan tidak suka marah, tegas dan tidak ragu, selalu bekerja dengan perasaan positif, dan tidak menghakimi atau menilai orang lain.”~Djajendra

Whistleblowing system sebagai alat untuk pencegahan terhadap praktik tata kelola perusahaan yang buruk. Whistleblowing system mampu menguatkan sistem manajemen resiko dan membantu melindungi reputasi perusahaan. Intinya, whistleblowing system sangat diperlukan untuk mewujudkan tata kelola perusahaan yang terbaik dan pengelolaan resiko yang berkualitas.

Perusahaan yang kuat dan sehat menjadikan whistleblowing system sebagai komponen penting dalam budaya perusahaan. Dalam hal ini, fungsi internal audit diperkuat dengan kualitas dan kompetensi, baik hard skill maupun soft skill, untuk dapat menjadi kekuatan yang andal dan hebat dalam menjalankan whistleblowing system. Internal audit yang berkualitas mampu menunjukkan kemampuan dan kecerdasan dalam mendeteksi, mencegah, juga melakukan penyelidikan atas informasi dan laporan yang di terima dari para whistleblower. Semua kegiatan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip tata kelola yang baik; semua kegiatan yang dianggap ilegal, tidak etis, melanggar prosedur, dan berbahaya bagi perusahaan; haruslah ditindaklanjuti dengan tegas dan penuh percaya diri dalam sikap rendah hati oleh setiap insan internal auditor.

Ketika menjalankan peran dalam whistleblowing system, auditor wajib menguasai dan terbiasa dengan soft skills, khususnya untuk mengelola emosi dan pikiran diri sendiri dan kemampuan untuk membaca emosi dan pikiran orang lain. Whistleblowing system membutuhkan karakter kerja auditor yang selalu bersikap rendah hati, optimis, profesional, percaya diri, empati yang tinggi, fleksible, intuisi yang hebat, jujur dan bertanggung jawab, menyenangkan, tenang dan tidak suka marah, tegas dan tidak ragu, selalu bekerja dengan perasaan positif, dan tidak menghakimi atau menilai orang lain.

Auditor harus terbiasa untuk merasa baik dan kuat saat menjalankan fungsi dan perannya di dalam whistleblowing system. Auditor yang berkualitas bekerja melalui prosedur dan audit program yang dirancang secara profesional. Auditor yang berkualitas tidak bekerja untuk menilai dan menghakimi pribadi seseorang, tetapi bekerja untuk menilai dan memastikan setiap proses kerja di dalam organisasi sudah sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang terbaik.

Menjalankan whistleblowing system tidaklah sederhana, diperlukan komitmen dan kekuatan mental yang hebat. Hal ini disebabkan, dalam realitas dunia kerja, selalu ada orang baik dan orang tidak baik, selalu ada yang jujur dan yang tidak jujur. Tidaklah mungkin auditor bisa menghilangkan yang tidak jujur dari tempat kerja. Jadi, hanya melalui sistem dan tata kelola yang penuh integritas, ketidakjujuran dapat diminimalkan. Oleh karena itu, auditor haruslah cerdas emosional dan bermental hebat dalam mengatur diri sendiri, mengelola hubungan dengan orang lain, mencapai keberhasilan atas pekerjaan yang ditangani, serta selalu menjalankan integritas dengan sepenuh hati.

Kekuatan auditor ada dalam kertas kerja yang dikerjakan dengan prinsip-prinsip audit yang profesional dan masuk akal. Auditor harus hebat dalam menangani kritik dan penolakan tanpa menyalahkan siapapun dengan alasan apapun. Auditor tidak boleh bereaksi berdasarkan emosional atau persepsi; auditor hanya boleh bekerja sesuai fakta, data, dan kebenaran. Jadi, apapun informasi yang didapatkan oleh auditor dari para whistleblower, auditor tidak boleh langsung menilai dan menyimpulkan sesuatu atas informasi tersebut. Auditor wajib menjadi sangat profesional untuk menemukan data, fakta, dan kebenaran atas informasi yang diterima dari para whistleblower.

Manajemen perusahaan secara konsisten wajib membangun dan menguatkan karakter kerja, kebiasaan, perilaku, sikap, etos, mental tangguh, dan daya tahan emosi dari para auditor agar dapat menjalankan whistleblowing system dengan profesional. Auditor bertanggung jawab untuk memastikan prosedur whistleblowing system berjalan efektif; memastikan dan menjamin kerahasiaan dari orang yang menyampikan informasi; bekerja untuk menghindari konflik kepentingan, dan juga penyalahgunaan whistleblowing system untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan misi whistleblowing system.  

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KEPERCAYAAN ADALAH KUNCI SUKSES DI TEMPAT KERJA

“Mindset dari pemilik perusahaan yang hebat adalah tidak mengambil semua keuntungan dari bisnis untuk disimpan sebagai keuntungan pribadi. Mereka merasa sudah sangat kaya raya di sepanjang hidupnya, sehingga mereka akan kembali menginvestasikan semua keuntungan, untuk memperluas usaha agar dapat menciptakan pekerjaan yang lebih banyak buat orang lain.”~Djajendra

Ketika menerima sebuah pekerjaan segera tunjukkan integritas dan akuntabilitas agar dipercaya oleh pemberi kerja. Integritas dan akuntabilitas diperlihatkan melalui kualitas kerja, kompetensi, etos kerja, dan kinerja. Hadirlah di tempat kerja dengan kemampuan dan kualitas yang membuat Anda andal dan dipercaya.

Kepercayaan adalah kunci sukses di tempat kerja. Bila Anda menjadi orang yang dipercaya dan diandalkan oleh pemberi kerja, maka karir Anda akan terus naik dan mencapai puncak tertinggi.

Miliki sikap rendah hati dan mau terus belajar untuk menyesuaikan diri dengan realitas di tempat kerja. Jadilah pembelajar yang selalu mau tahu banyak hal dan berniat tulus membantu proses kerja dengan sepenuh hati. Percayai bahwa tempat kerja Anda adalah yang terbaik untuk meningkatkan kualitas hidup Anda.

Bersatulah dengan rencana, misi, visi, dan nilai-nilai perusahaan Anda. Lalu, bergeraklah bersama sistem dan prosedur untuk menghasilkan kinerja yang paling produktif. Semakin Anda mampu berkinerja dengan sangat produktif, semakin Anda dipercaya dan diandalkan oleh pemberi kerja. Kepercayaan yang Anda dapatkan itu senilai loyalitas Anda terhadap pekerjaan dan perusahaan Anda.

Kembangkan reputasi dan profesionalisme Anda di dalam industri atau bisnis yang dijalankan oleh perusahaan Anda. Jadilah ahli yang unggul terhadap industri dan bisnis yang dijalankan. Perlihatkan etos pelayanan Anda kepada perusahaan atas dasar integritas, akuntabilitas, disiplin, kepercayaan, transparansi, dan cinta yang sepenuh hati.

Hilangkan prasangka buruk dan perilaku saling curiga di tempat kerja. Optimalkan pikiran positif untuk melihat kepentingan pemberi kerja, manajemen, kepemimpinan, rekan kerja, bawahan, dan stakeholder lainnya. Prasangka buruk dan rasa curiga Anda di tempat kerja menjadikan karir Anda berjalan di tempat, Anda pun menjadi pribadi yang bekerja tanpa memiliki kedamaian dan kebahagiaan. Jadi, setiap hari berpikir positiflah terhadap siapapun dan apapun, fokuskan energi dan waktu untuk menghasilkan karya terbaik dengan kinerja terbaik. Miliki etos kerja dengan prinsip kehati-hatian agar setiap potensi resiko dapat Anda kendalikan.

Ketika Anda dipercaya dan diandalkan oleh pemberi kerja, tunjukkan semangat kerja yang lebih hebat, tunjukkan rasa terima kasih yang lebih hebat, tunjukkan penghargaan dan penghormatan kepada pemberi kerja dengan tulus.

Bersyukur dan berterima kasih untuk pekerjaan yang Anda miliki adalah sesuatu yang sangat penting. Berterima kasih kepada orang yang mempekerjakan Anda adalah sesuatu yang sangat penting. Berdoa dan berjuang untuk melayani pekerjaan dengan sepenuh hati adalah sesuatu yang sangat penting. Hargai, nikmati, syukuri, dan tunjukkan etos terbaik untuk mendapatkan kepercayaan dari pemberi kerja.

Mendapatkan kepercayaan dari pemberi kerja bukanlah sesuatu yang mudah. Anda harus menunjukkan etos dan kualitas kerja yang andal melalui integritas dan akuntabilitas yang tinggi, sebelum mendapatkan kepercayaan dari pemberi kerja.

Setiap janji dan komitmen kepada perusahaan wajib Anda penuhi. Lakukan apa yang Anda katakan. Jangan terlalu banyak berjanji dan berkata-kata. Berjanji sedikit dan berkata-kata sedikit, melakukan tindakan yang melebihi kata-kata maupun janji. Tindakan Andalah yang dapat menjadikan Anda andal dan dipercaya. Oleh karena itu, fokuskan energi dan waktu untuk memiliki tindakan yang produktif.  

Tumbuhkan pola pikir positif dan tunjukkan kepada perusahaan betapa Anda ikhlas dan sepenuh hati dalam melayani perusahaan. Berikan kontribusi yang lebih daripada yang diberikan perusahaan kepada Anda. Jangan hitung-hitungan kepada perusahaan Anda. Ambil tanggung jawab untuk melayani pekerjaan, sistem, prosedur, pelanggan, dan kepemimpinan dengan kemampuan total.

Perusahaan yang baik dan kepemimpinan yang hebat selalu sadar dan rendah hati, untuk meningkatkan hubungan baik dengan setiap karyawannya. Mereka menyadari bahwa dengan mempercayai dan menghormati kualitas dan keandalan karyawan, maka mereka dapat meningkatkan kinerja pelayanan dan keuntungan perusahaan. Mereka juga sadar bahwa karyawan adalah harta yang paling produktif untuk meningkatkan kekayaan perusahaan.

Mindset dari pemilik perusahaan yang hebat adalah tidak mengambil semua keuntungan dari bisnis untuk disimpan sebagai keuntungan pribadi. Mereka merasa sudah sangat kaya raya di sepanjang hidupnya, sehingga mereka akan kembali menginvestasikan semua keuntungan, untuk memperluas usaha agar dapat menciptakan pekerjaan yang lebih banyak buat orang lain. Biasanya, mereka menjalani gaya hidup yang sederhana, sehingga tidak memerlukan banyak uang untuk pola hidup yang dijalani. Fokus mereka selalu untuk memperluas usaha dan menciptakan lapangan kerja yang produktif sebanyak mungkin.

Ketika Anda menjadi karyawan yang andal dan terpercaya, maka Anda pun berpotensi menjadi pemimpin dalam usaha-usaha baru yang diciptakan oleh pemilik modal. Intinya, karir Anda bisa cemerlang saat perusahaan melakukan investasi diberbagai bidang usaha yang baru. Oleh karena itu, bekerjalah dengan etos terbaik dan berkomitmen untuk keberhasilan perusahaan. Kembangkan hubungan kerja yang positif dan produktif di setiap proses kerja. Tunjukkan kolaborasi dari hati yang paling ikhlas dan tanpa berharap untuk kepentingan pribadi.  

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Older posts Newer posts