PT DJAJENDRA MOTIVASI UNGGUL

Leadership Organization Business Personal Interpersonal Entrepreneurs and Employed Professionals

Category: Cultural Collaboration (page 2 of 3)

Budaya Kolaborasi

BRIEFING ADALAH KOMUNIKASI TATAP MUKA YANG MENYATUKAN PIMPINAN DENGAN STAFNYA

DJAJ3NDRA 2014“Briefing dapat mengingatkan kembali semua prioritas yang sifatnya segera, mengumpulkan informasi dari realitas di lapangan, dan mempersiapkan para staf untuk lebih relevan dengan pencapaian kinerja.”~Djajendra

Briefing adalah komunikasi tatap muka yang paling efektif dan cepat untuk menjalankan tugas sehari-hari. Para leader selalu menggunakan komunikasi briefing, untuk menyampaikan langsung kebutuhan dan informasi kepada para karyawan. Sifat komunikasi briefing adalah singkat, jelas, ringkas, terukur, langsung, tata muka, dialog, umpan balik langsung, dan interaksi langsung. Komunikasi briefing menjadikan leader dan karyawan saling berinteraksi secara langsung, untuk menuntaskan prioritas dan tanggung jawab harian.

Komunikasi briefing menjadikan leader dan tim selalu berhubungan; dan memastikan bahwa tujuan dan target masih dalam satu visi, satu misi, dan satu bahasa kerja. Komunikasi briefing menyediakan ruang untuk saling mengklarifikasi dan menguatkan etos kerja.

Pemimpin yang profesional memiliki etos komunikasi yang cepat, tepat, efisien, efektif, dan memiliki daya dorong untuk pencapaian terbaik. Briefing adalah sebuah etos komunikasi yang biasanya dipraktikkan, untuk menyatukan persepsi dan arah kerja tim. Briefing menjadikan hubungan kerja sangat dekat dan saling melengkapi. Briefing yang berkualitas menyatukan semua orang di dalam soliditas bersama, serta mendorong semua orang untuk meningkatkan produktivitas dan kinerja.

Komunikasi briefing mampu memberikan penjelasan dan informasi dengan sangat rinci, akurat, tepat, relevan, dan sesuai realitas. Dialog tata muka antara leader dengan staf mampu menguatkan komitmen, kepercayaan, keyakinan, dan tanggung jawab bersama. Komunikasi briefing menjelaskan dan menerangkan segala sesuatu, serta menghilangkan kesalahpahaman dan ketidaktahuan.

Kesibukan di dalam rutinitas kerja dapat mengakibatkan staf lupa atau lalai, untuk fokus pada prioritas dan target. Di sinilah peran leader menjadi sangat penting untuk melakukan komunikasi briefing. Briefing dapat mengingatkan kembali semua prioritas yang sifatnya segera, mengumpulkan informasi dari realitas di lapangan, dan mempersiapkan para staf untuk lebih relevan dengan pencapaian kinerja.

Briefing menjadikan informasi selalu terbarukan, realitas staf dan proses pencapaian target terkontrol dengan baik.  Briefing mendekatkan leader dan staf, menjadikan mereka saling mengklarifikasi, dan saling memberi umpan balik untuk sebuah pencapaian yang lebih baik.

Komunikasi langsung dan efektif sangatlah penting agar semua hal di dalam organisasi terkendali dan terjaga. Kegagalan komunikasi dapat menyebabkan kesalahpahaman, kebingungan, gosip,  dan keraguan pada realitas yang ada. Briefing sebagai salah satu cara berkomunikasi yang cepat dan efisien, mampu menyederhanakan hal-hal kompleks, untuk dapat memberikan informasi yang jelas dan ringkas. Jadi, seorang leader yang profesional pasti memanfaatkan kehebatan briefing untuk berkomunikasi secara murah, cepat, tepat sasaran, akurat, produktif, dan ringkas.

Briefing setiap hari dengan durasi pertemuan 30 sampai dengan 60 menit, mampu mengingatkan semua orang untuk fokus dan produktif. Di dalam briefing, pemimpin dapat memberikan informasi terbaru, memotivasi staf agar lebih hebat di dalam menuntaskan tugas dan tanggung jawab.

Briefing adalah komunikasi yang paling efektif untuk saling menguatkan peran kerja, menguatkan komitmen bersama, dan meningkatkan etos untuk pencapaian kinerja terbaik.

Untuk pelatihan hubungi www.djajendra-motivator.com

TIM TANGGUH TERCIPTA DARI SIKAP RENDAH HATI ANGGOTA TIM

“Sikap rendah hati menjadikan anggota tim mampu belajar dan bangkit kembali, saat rintangan menghentikan kegiatan untuk mencapai sukses tim.”~Djajendra

Memiliki tim kerja yang tangguh dan andal pastilah merupakan impian setiap organisasi. Setiap pemimpin pasti memiliki impian untuk membentuk dan membangun tim yang andal dan berkinerja hebat. Dan juga, pasti berencana menjadikan timnya tumbuh dan berkembang, supaya bisa menjawab berbagai tantangan di masa depan.

Hal yang pasti, dalam membangun tim yang andal dan tangguh membutuhkan karakter, kompetensi, dan kualitas. Karakter yang cerdas dalam berkolaborasi dan berkoordinasi, adalah syarat terpenting untuk mewujudkan tim yang andal. Sedangkan kompetensi dan kualitas merupakan komponen yang sangat menentukan untuk mencapai kinerja terbaik.

Karakter yang rendah hati mampu dikelola dan dioperasionalkan di segala situasi dan kondisi bisnis. Sebab, orang-orang yang rendah hati dan sederhana selalu mau belajar, dan mengikuti perubahan yang ada dengan sepenuh hati. Karakter yang rendah hati mudah dimotivasi dan diajak untuk meningkatkan produktivitas. Mereka selalu rendah hati dan mudah mengalir di dalam proses kerja, untuk mewujudkan target.

Orang-orang rendah hati sangat mudah berbagi visi, menerima kritik, menerima pengetahuan baru, dan selalu bersemangat untuk melangkah ke masa depan yang lebih baik. Mereka tidak pernah merasa sudah pintar, sehingga mudah dipimpin untuk mengembangkan kualitas tim yang lebih kuat. Mereka selalu mau dengan rendah hati, untuk disiapkan dan dilatih agar dapat mengatasi rintangan dan tantangan.

Karakter rendah hati mudah terhubung dalam sistem kerja tim, langsung bekerja secara kohesif dan kolaboratif, untuk mencapai kinerja tim yang tinggi. Mereka sangat sadar untuk bekerja dalam aliran tim yang tangguh, bekerja menuju tujuan bersama, berbicara bahasa yang sama, dan saling mendukung untuk hasil akhir sesuai target. Mereka memahami motivasi, keinginan, harapan, dan etos kerja dari setiap individu di dalam tim kerja.

Orang-orang rendah hati mudah mengalir di dalam misi kerja sehari-hari. Mereka tekun dan penuh disiplin di dalam rutinitas misi sehari-hari. Mereka sadar untuk memimpin diri sendiri, serta selalu bersikap lebih profesional dalam memberikan pelayanan dan kontribusi.

Pekerjaan tim bukanlah siapa yang melakukan dengan lebih pintar dan hebat, tetapi siapa yang paling rendah hati melayani pekerjaan, dan siapa yang paling mudah terhubung untuk mencapai kinerja terbaik. Sikap rendah hati menjadikan anggota tim mau saling mendengarkan pikiran dan ide-ide, dan mau memperluas wawasan dan membangun kemampuan tim yang lebih efektif.

Sikap rendah hati untuk mematuhi nilai-nilai perusahaan; untuk mematuhi etika bisnis perusahaan; untuk menjalankan perilaku etis berdasarkan kode etik perilaku kerja; akan menjadikan tim tumbuh dan berkembang menuju sukses besar.

Sebuah tim yang solid haruslah tahu dan sadar tentang kesuksesan yang harus dicapai. Lalu, mempersiapkan tim untuk fokus pada misi, dan memperjelas visi dalam mencapai tujuan di sepanjang perjalanan sukses tim.

Tim yang kuat selalu melakukan pekerjaan dengan terencana sesuai visi, taktik, dan strategi bisnis. Setiap anggota tim menjadi energi yang selalu siap memainkan strategi dan taktik bisnis, supaya dapat mencapai kinerja terbaik. Mereka selalu mengembangkan rencana yang ada, dan sangat kreatif untuk menemukan solusi di setiap keadaan yang menghentikan perjalanan sukses tim.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PEMIMPIN ANDAL DIHASILKAN OLEH BUDAYA ORGANISASI YANG KUAT

PT DJAJENDRA MOTIVASI UNGGUL“Setiap perbedaan bukan untuk dipermasalahkan, tetapi untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan. Setiap keragaman digunakan sebagai realitas untuk saling bersedia, saling menghormati, saling berbeda, saling belajar, saling rendah hati, saling berjiwa besar, dan saling menguatkan kepercayaan.”~Djajendra

Peran kepemimpinan sangatlah menentukan keberhasilan pencapaian kinerja terbaik. Kepemimpinan yang andal memiliki kapasitas untuk mempengaruhi, memotivasi, menguatkan loyalitas, mengartikulasikan visi dan misi, mendorong pencapaian terbaik, dan menjadi energi positif untuk keandalan organisasinya.

Kepemimpinan yang andal diciptakan dari nilai-nilai budaya organisasi dan dikuatkan langkahnya dengan sistem, prosedur, dan proses kerja yang penuh integritas dan akuntabilitas. Pemimpin andal selalu bekerja berbasis budaya, dan tidak pernah bertindak tanpa mematuhi nilai-nilai budaya ataupun perilaku utama yang disepakati di dalam budaya kerja.

Kepemimpinan yang perilakunya keluar dari budaya organisasi, dan bertindak sesuai kepentingannya, pasti kehilangan kekuatan dan arah dalam mencapai kinerja terbaik.

Sumber daya manusia hanya bisa disatukan dalam budaya organisasi yang kuat. Semakin sadar perusahaan untuk menguatkan nilai-nilai budaya organisasi dan perilaku kerja, semakin terbentuk kepercayaan yang kuat diantara insan perusahaan. Bila budaya organisasi yang kuat menjadi fondasi kerja perusahaan, maka segala kerumitan kerja pasti hilang, dan segala potensi baik akan tergali secara berkelanjutan untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

Budaya organisasi yang kuat memiliki kemampuan untuk merekrut, meningkatkan, menguatkan, mempertahankan, memberdayakan bakat dan potensi unik sumber daya manusia. Nilai-nilai budaya organisasi mampu membawa sebuah pola, perilaku, dan sikap kerja yang memberikan peluang kepada setiap individu, untuk berkarya dan berkontribusi sesuai kekuatan nilai-nilai tersebut. Jadi, tidak akan ada ketegangan di antara insan perusahaan. Semua orang di dalam perusahaan akan mengalir dan bertindak oleh energi yang dikeluarkan nilai-nilai budaya. Jadi, setiap perubahan, kecepatan, kompleksitas, dan ketidakpastian dapat diterima dan dikelola dengan sistem nilai yang kuat dari budaya organisasi.

Kepemimpinan dalam budaya organisasi yang kuat mampu menjalankan manajemen hirarkis dengan kolaborasi yang utuh. Artinya, struktur organisasi walaupun dipimpin dengan pola hirarkis, tetapi budaya organisasi mampu meleburkan semua orang dalam pola kerja yang berkolaborasi, sehingga hirarkis tidak menciptakan jarak dan tembok pemisah. Kondisi ini menciptakan pertukaran ide secara bebas, hubungan kerja yang saling menghargai dalam kemerdekaan berpendapat, loyalitas yang saling melengkapi, manajemen taktik harian untuk memenuhi misi secara berkualitas. Intinya, budaya perusahaan mengarahkan setiap orang untuk terfokus pada cara kerja berdasarkan nilai-nilai perusahaan, yang mengharuskan setiap orang selalu bersama-sama dalam kolaborasi yang produktif.

Mungkin saja orang-orang hadir di perusahaan dengan beragam nilai, perilaku, karakter, dan budaya. Tetapi, kepemimpinan berbasis budaya pasti cerdas memetakan sistem nilai yang berbeda dari insan perusahaan. Lalu, mempengaruhi setiap insan perusahaan dengan nilai-nilai perusahaan, serta mengelola setiap orang untuk membiasakan sikap dan perilaku dengan nilai-nilai budaya perusahaan.

Kepemimpinan andal berbasis budaya organisasi selalu menyatukan energi dan potensi insan perusahaan di dalam tujuan bersama. Dalam hal ini, setiap insan perusahaan wajib bekerja sepenuh hati untuk mewujudkan misi perusahaan sehari-hari; mempersiapkan hari ini untuk menuju dan mewujudkan visi dengan kinerja hebat; serta semua orang harus bersatupadu dalam kolaborasi kerja berdasarkan nilai-nilai, sistem, proses agar dapat memenuhi tujuan kerja dengan berkualitas.

Kepemimpinan yang bekerja dengan budaya organisasi yang kuat selalu menempatkan setiap insan perusahaan sebagai aset produktif. Setiap orang yang hadir haruslah menjadi energi tunggal, untuk bergerak secara bersama-sama dalam mewujudkan kinerja. Interaksi dan komunikasi kerja secara lintasi fungsional dan lintas tim dikendalikan oleh nilai-nilai budaya organisasi. Setiap perbedaan bukan untuk dipermasalahkan, tetapi untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan. Setiap keragaman digunakan sebagai realitas untuk saling bersedia, saling menghormati, saling berbeda, saling belajar, saling rendah hati, saling berjiwa besar, dan saling menguatkan kepercayaan.

Kepemimpinan andal berbasis nilai-nilai budaya organisasi bekerja secara berkelanjutan dalam jangka panjang. Tidak mungkin budaya kuat dibangun dalam semalam. Dibutuhkan waktu, kepercayaan, kesabaran, ketegasan, keterbukaan, investasi, komitmen, kerja keras, komunikasi, pertanggung jawaban, motivasi, harapan, dan keikhlasan untuk hidup dan tumbuh bersama nilai-nilai budaya perusahaan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PERSAHABATAN KERJA DAN HUBUNGAN KERJA YANG MENYENANGKAN DAN PRODUKTIF

DJAJENDRA 20 NOV 2013“Jadilah energi positif dengan sikap dan perilaku yang produktif dan melayani, lalu berinteraksilah dengan sepenuh hati dan totalitas di tempat kerja.”~Djajendra

Hubungan kerja yang sehat dan berkualitas menyebabkan rasa senang, kenikmatan kerja, produktivitas, dan kinerja yang hebat. Temukan sahabat-sahabat terbaik di tempat kerja, lalu berkolaborasilah dengan ikhlas agar menjadi energi produktif. Memiliki sahabat-sahabat kerja terbaik di tempat kerja pasti membuat Anda bahagia dan berkinerja.

Hubungan positif memperkuat etos kerja menjadi lebih produktif. Ketika energi baik terhubung dan saling mempengaruhi, maka lingkungan kerja akan menghasilkan budaya kerja yang membuat semua orang puas dan bahagia. Budaya kerja yang terkolaborasi dengan ikhlas dapat menghasilkan etos kerja yang andal.

Manusia hidup dalam interaksi sosial yang alami. Setiap orang pasti berharap dan menginginkan hubungan persahabatan yang baik. Semakin baik dan positif sebuah hubungan persahabatan, semakin bahagia dan berkualitas persahabatan tersebut. Demikian juga, semakin ikhlas hubungan persahabatan kerja, semakin produktif dan bahagia orang-orang di lingkungan kerja. Jadilah energi positif dengan sikap dan perilaku yang produktif dan melayani, lalu berinteraksilah dengan sepenuh hati dan totalitas di tempat kerja.

Hubungan kerja yang baik menjadikan lingkungan kerja penuh dengan harapan dan optimisme. Orang-orang yang terhubung dengan energi baik mampu menjaga kebersamaan, sehingga soliditas di antara orang-orang di tempat kerja menjadi semakin unggul. Energi baik mampu menjadikan orang-orang lebih kreatif dan inovatif dalam menemukan solusi, pembuatan keputusan, dan penyelesaian masalah.

Hubungan kerja dengan energi positif memberikan kemerdekaan dan kebebasan untuk hati nurani. Jadi, setiap kali pikiran liar mencoba mengganggu hubungan kerja yang baik dengan emosi dan perasaan tidak nyaman, maka hati nurani yang penuh energi positif mampu menghadirkan kebaikan untuk menghentikan pikiran liar dan perasaan tidak baik.

Persahabatan dan hubungan kerja yang baik meningkatkan kepercayaan. Bila orang-orang sudah saling mempercayai dan saling mengandalkan di tempat kerja, maka masing-masing fungsi dan peran kerja mampu menguatkan orang-orang untuk fokus pada pekerjaannya masing-masing. Hal ini akan menjadi kekuatan kolaborasi yang mengkontribusikan energi baik untuk menemukan peluang.

Persahabatan dan hubungan kerja yang baik pasti membentuk karakter kerja yang saling percaya, yang saling menghormati, yang sepenuh hati dan totalitas, yang melayani dengan hati, yang memiliki empati dan toleransi untuk keragaman dan perbedaan, yang terhubung secara etis, dan yang selalu berkomunikasi secara terbuka.

Energi baik menghindarkan perilaku gosip, gunjingan yang saling merendahkan, dan politik kantor yang buruk. Energi positif menjadi roh dari persahabatan kerja, sehingga setiap orang mampu saling mendengarkan dan saling meningkatkan pelayanan dengan sepenuh hati.

Persahabatan kerja dan hubungan kerja yang baik membangun fondasi budaya kerja yang unggul. Budaya kerja yang unggul adalah budaya kuat, yang membuat semua orang lebih terlibat dengan ikhlas dan antusias di setiap proses kerja. Budaya kerja yang kuat memotivasi setiap orang, untuk mengabdikan kualitas terbaiknya buat pencapaian kinerja yang lebih tinggi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KETERLIBATAN KARYAWAN DAN KEPEMIMPINAN DALAM KOLABORASI MENUJU SATU VISI YANG SAMA

“Pemimpin dan yang dipimpin harus memiliki satu komitmen yang sama, dan menjalankan komitmen tersebut dengan sepenuh hati. Keduanya harus berada dalam satu barisan yang sama, barisan yang menuju satu visi dengan optimis.” ~ Djajendra

Pencapaian target dan kinerja di tempat kerja, sangat ditentukan oleh keterlibatan karyawan dan kepemimpinan di dalam kolaborasi, yang terfokus pada hasil akhir terbaik. Tanpa pelayanan dan kontribusi yang proaktif dari karyawan dan kepemimpinan untuk pencapaian target, maka target dan kinerja terbaik akan sulit didapat. Setiap orang, setiap fungsi, setiap peran, dan setiap kekuatan di dalam organisasi, harus menjadi energi yang menguatkan keterlibatannya agar memudahkan proses pencapaian terbaik.

Setiap orang yang hadir ke tempat kerja wajib terlibat di setiap proses dan interaksi untuk menuju pencapaian. Jadi, tidak boleh ada seorangpun yang merasa bukan pekerjaannya, sehingga boleh untuk tidak memperhatikan yang bukan wewenangnya. Sebagai contoh, seorang customer ingin berhenti berlangganan internet dari sebuah provider ternama. Customer mengikuti prosedur dan mengirimkan email ke customer service untuk melakukan pemutusan berlangganan. Tetapi, oleh customer service, karena dianggap proses pemutusan berlangganan bukan wewenangnya, maka customer service hanya berdiam dan tidak bersikap apapun. Dampaknya, customer merasa tidak direspon dengan baik, sehingga customer menjadi kesal dan tidak mempercayai provider tersebut. Jelas, sikap tidak terlibatnya customer service untuk disampaikan ke bagian pemutusan berlangganan, mengakibatkan customer mendapatkan pengalaman yang buruk, sehingga si customer pasti akan menjadi marketing dari mulut ke mulut yang menceritakan kekurangan provider tersebut. Akibatnya, provider tersebut diragukan kredibilitasnya oleh calon pelanggan.

Walaupun bukan tugas dan tanggung jawabnya, walaupun bukan pekerjaannya, keterlibatan setiap karyawan adalah panggung kolaborasi. Dunia kerja adalah dunia kolaborasi dan komunikasi, setiap orang dan setiap unit kerja harus saling membantu, dan terlibat untuk memudahkan proses pencapaian hasil terbaik. Komitmen untuk terlibat di semua aspek agar dapat membantu organisasi untuk mencapai hasil bisnis yang lebih baik, serta menjaga agar stekeholders mendapatkan kepuasaan dan kepastian dari pelayanan yang dilakukan oleh organisasi, adalah tanggung jawab yang harus dipelihara dan dirawat oleh setiap individu di tempat kerja.

Perusahaan wajib menguatkan nilai-nilai bersama, kepercayaan bersama, misi bersama, tujuan bersama, keyakinan bersama, dan etos kerja bersama yang memotivasi setiap orang untuk terlibat membangun kinerja dan reputasi perusahaan. Intinya, setiap individu wajib terlibat dengan menyiapkan waktu, energi, potensi, bakat, keterampilan, pikiran baik, emosi baik, dan pengetahuan, untuk menjadikan dirinya lebih produktif, serta lebih berguna dan bermanfaat buat kemajuan organisasi.

Keterlibatan menciptakan kepercayaan, menimbulkan loyalitas, dan membangun jembatan komunikasi yang menghubungkan setiap orang, untuk bekerja dalam kolaborasi yang terarah pada tujuan jelas. Keterlibatan adalah sebuah perjalanan atau proses, bukan tujuan. Keterlibatan adalah melakukan pekerjaan dengan totalitas dan sepenuh hati. Intinya, setiap karyawan dan kepemimpinan harus memulai hari kerjanya dengan tekad, untuk menjadi lebih terlibat, dan lebih berkontribusi, termasuk lebih melayani dengan berkualitas.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

BERPRESTASI DALAM RUTINITAS KERJA DAN MERAIH KINERJA TERBAIK SETIAP HARI

030“Orang-orang sukses selalu menyadari bahwa kualitas rutinitas kerja sangatlah menentukan keberhasilan di setiap wilayah waktu; baik itu di waktu jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Rutinitas kerja dengan disiplin dan ketekunan yang luar biasa akan menghasilkan keunggulan dan kehebatan. Rutinitas kerja yang berkualitas pastinya harus hidup di wilayah tujuan, sistem, dan proses.” ~ Djajendra

Pada umumnya, penilaian kinerja terfokus pada dua aspek besar, yaitu: aspek angka atau akuntansi dan aspek non angka. Menilai aspek angka sangatlah mudah, sebab faktanya dapat dilihat dengan hitungan yang jelas dan sederhana; sedangkan aspek non angka, biasanya berada di wilayah kompleksitas, berpotensi sangat subyektif oleh persepsi, sehingga diperlukan kebijaksanaan untuk bisa menilai aspek non angka. Artinya, salah menilai di aspek non angka, berpotensi kinerja di tahun yang akan datang turun oleh rasa frustasi dari yang tidak puas dengan hasil penilaian.

Perusahaan yang berbudaya kuat selalu sadar akan bahaya dari rasa frustasi atau rasa tidak percaya karyawan pada hasil penilaian kinerja. Bila karyawan merasa tidak puas dengan proses evaluasi kinerja mereka, maka dapat dipastikan mereka akan bekerja dengan setengah hati, dan tidak mungkin mau mengoptimalkan keterampilannya untuk mencapai kinerja yang diinginkan perusahaan.

Sekarang ini, sudah banyak perusahaan yang tidak memaksakan tujuan kepada karyawannya. Perusahaan-perusahaan berbudaya kuat mulai mengalirkan energi dan potensi karyawan ke dalam sistem dan proses. Karyawan dibuat bahagia dan senang di wilayah proses dan sistem, sehingga mereka berfokus dengan sepenuh hati pada sistem dan proses untuk melakukan pekerjaan dengan berkualitas. Di sini, tidak ada benchmark yang digunakan untuk mengukur kinerja karyawan. Budaya perusahaan yang kuat telah dirancang untuk menciptakan lingkungan kerja, yang membuat setiap orang menikmati rutinitas, sehingga totalitas mereka di dalam rasa senang menghasilkan kinerja terbaik.

Dalam budaya perusahaan yang kuat, sistem kerja telah dirancang dengan baik untuk selalu menang dan untuk selalu berkinerja terbaik. Budaya kerja yang berfokus pada sistem yang unggul, akan menguatkan komitmen setiap orang untuk proaktif dan totalitas di dalam proses kerja.

Seperti kita ketahui, tujuan selalu memberikan arah dan pandangan untuk mencapai sesuatu. Sistem dan proses yang unggul akan memberikan ruang yang terang untuk bertindak dengan sepenuh hati.  Jadi, perusahaan tidak perlu memaksa karyawan untuk fokus pada tujuan. Perusahaan cukup memotivasi dan merawat kualitas rutinitas kerja karyawan di dalam sistem dan proses kerja, untuk bisa menghasilkan kinerja terbaik setiap hari. Dan hal ini, karyawan secara otomatis akan mencapai tujuan perusahaan melalui kinerja rutinitas yang dihasilkan dari sistem dan proses yang unggul.

Sistem yang kuat tidak akan mengkotak-kotakan karyawan oleh ego peran dan fungsi masing-masing. Jadi, walaupun dalam realitas struktur organisasi karyawan merupakan bagian-bagian unit kerja yang berkolaborasi untuk mewujudkan visi organisasi. Tetapi, tanpa sistem dan budaya yang unggul, kerja sama yang baik sulit terwujud.

Bila sistem dan proses bergerak berpondasikan indikator kinerja yang transparan dan adil, maka sangatlah mudah untuk memotivasi dan menginspirasi karyawan supaya mereka menjadi pekerja keras, yang berdedikasi untuk menghasilkan kinerja terbaik organisasi. Perusahaan harus menguatkan transparansi atas Key Performance Indicator (KPI). Setiap karyawan wajib diberikan edukasi tentang arti KPI atau indikator utama dalam penilaian kinerja. Setiap poin-poin yang ada di dalam KPI, yang akan digunakan untuk mengukur dan menilai kinerja individu wajib diinternalisasikan, sehingga mereka tahu apa yang membuat mereka terlihat hebat, berhasil, unggul, menang, dan mencapai kebesaran karir.

Berprestasi dalam rutinitas kerja dan meraih kinerja terbaik setiap hari. Setiap karyawan yang ingin mendapatkan karir hebat haruslah bekerja dengan motivasi 100 persen dan kemampuan menghasilkan kinerja yang 100 persen. Jadi, bila sudah berada dalam lingkungan budaya organisasi yang kuat dan unggul, maka hanya diperlukan kesadaran untuk mendisiplinkan diri, memampukan diri, dan memotivasi diri sendiri secara terus-menerus agar mampu menjadi pribadi hebat yang selalu konsisten memberikan kinerja kerja terbaik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

ETOS KERJA YANG KUAT AKAN MEMBAHAGIAKAN LINGKUNGAN KERJA

DJAJENDRA PROFILE“Bekerja dengan sepenuh hati adalah kunci sukses untuk membangun dan menjalankan etos kerja yang produktif dan efektif. Dan, bila masih ada yang bekerja dengan setengah hati, maka etos kerja akan selalu dibawah standar dan kualitas.”~ Djajendra

Etos kerja merupakan perilaku kerja yang sangat ahli bersama nilai-nilai perusahaan. Biasanya, perusahaan dilengkapi dengan core values (nilai-nilai inti), dan nilai-nilai inti inilah yang akan menyatukan pola pikir dan pola perilaku setiap orang untuk menjadi senyawa yang solid dalam kolaborasi kerja.

Dalam praktik, etos kerja selalu disandingkan dengan etika kerja. Walau banyak pendapat mengatakan bahwa etika berasal dari etos. Tetapi, tetaplah sesuatu yang harus dipisahkan dengan jelas agar orang-orang di tempat kerja bisa memahaminya secara sendiri-sendiri.

Etika kerja mudah dipahami oleh semua orang di tempat kerja, karena merupakan alat penting dalam menjalankan tata kelola yang baik (good corporate governance). Etika kerja sudah memiliki petunjuk yang sangat jelas dan detail di dalam panduan etika bisnis dan kode etik (kode untuk perilaku kerja yang etis), sehingga semua orang dapat menjalankan etika kerja dengan jelas dan pasti. Termasuk, setiap orang dengan sangat mudah dapat diawasi oleh fungsi pengawasan, atas ketaatan dan kepatuhan kepada panduan etika bisnis dan code of conduct yang diterapkan di dalam perusahaan.

Mudahnya mengukur dan mengawasi etika kerja, tetapi tidak demikian dengan etos kerja. Etos kerja ukurannya adalah interpretasi atas nilai-nilai perusahaan, yang selalu bisa salah tafsir dalam dinamika praktik kerja sehari-hari. Etos kerja yang abadi ada di dalam semangat kerja yang sepenuh hati, dan pasti akan hilang saat semangat kerja itu hanya setengah hati. Jadi, ukuran etos kerja selalu menjadi sesuatu yang sangat pribadi, dan diperlukan pendekatan dari hati ke hati untuk membangkitkan potensi kerja dari sumber daya manusia perusahaan.

Ethos kerja merupakan fondasi dari karakter kerja perusahaan, dan jati diri perusahaan akan terwujud dari karakter kerja perusahaan tersebut. Hanya dengan semangat budaya organisasi yang kuat dan unggul dapat diwujudkan etos kerja yang unggul. Artinya, budaya organisasi dengan kepercayaan, keyakinan, kebiasaan, praktik, adat istiadat kantor, dan mantra-mantra motivasi yang menguatkan kebersamaan dalam kolaborasi kerja yang solid, akan menjadikan etos kerja menciptakan perilaku kerja yang menguntungkan semua pihak.

Kepemimpinan haruslah menjadi wajah publik perusahaan. Kepemimpinan yang memberikan keteladanan dan contoh atas etos kerja yang berkualitas, akan menciptakan budaya perusahaan yang cerdas melayani stakeholders dengan kualitas dan kreativitas. Jadi, kepemimpinan wajib menguasai etos kerja yang otentik dari nilai-nilai dan budaya perusahaan yang unik dan solid.

Etos kerja tidak akan berkembang dalam budaya keserakahan dan tinggi hati. Etos kerja akan tumbuh menjadi luar biasa dalam budaya integritas dan rendah hati. Kepatuhan pada etika dan tata kelola yang sehat, serta perilaku kepemimpinan dan organisasi yang selalu belajar dengan rendah hati, akan menjadikan etos kerja kuat dan unggul untuk selamanya.

Etos kerja yang kuat membutuhkan manusia-manusia dengan kepribadian yang rendah hati, pembelajar, penuh disiplin, berintegritas tinggi, profesional, dan bekerja dengan sepenuh hati. Jadi, penguatan etos kerja perusahaan haruslah dipikirkan sejak rekrutmen karyawan atau pimpinan baru. Bila perusahaan salah rekrutmen, dan hanya terpesona pada penampilan dan kualitas kompetensi seseorang, tanpa menjadikan kepribadian sebagai sesuatu yang sangat penting, maka orang yang baru direkrut tersebut berpotensi menjadi energi yang melemahkan etos kerja yang sudah ada.

Kepemimpinan di perusahaan harus memastikan bahwa orang-orang di dalam perusahaan, tidak ada di persimpangan keterampilan, atau kepribadian yang setengah hati bersama perusahaan. Setiap orang wajib menguasai keterampilan dan kualitas, dan juga siap bekerja dengan sepenuh hati dalam totalitas kontribusi dan pelayanan.

Kepribadian yang setengah hati adalah sumber dari rusaknya etos kerja perusahaan. Apalagi bila seorang pemimpin perusahaan atau karyawan masih menjalankan usaha-usaha pribadi di luar perusahaan, maka sudah pasti ia tidak mungkin akan berkontribusi dengan sepenuh hati, dan jelas hal ini tidak akan membantu penciptaan etos kerja yang baik.

Bila perusahaan berniat untuk menciptakan etos kerja yang hebat dan unggul, maka wajiblah untuk membangun komitmen di atas fakta integritas agar orang-orang yang bekerja bersama perusahaan, mampu fokus pada pekerjaannya di perusahaan dengan sepenuh hati dan totalitas, serta tidak ada rangkap jabatan di perusahaan atau organisasi yang lain. Sepenuh hati adalah kunci sukses untuk membangun dan menjalankan etos kerja yang produktif dan efektif.

Etos kerja yang kuat akan membahagiakan lingkungan kerja.  Nilai-nilai perusahaan yang terinternalisasi dengan baik akan menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan dan membahagiakan setiap orang. Dan di sini, setiap orang mampu menciptakan pekerjaan yang bermakna untuk dirinya dan perusahaan, termasuk mampu mengeksplorasi dan mengekspresikan jati diri perusahaan melalui karakter pribadinya.

Etos kerja yang unggul dan kuat akan menciptakan perusahaan yang otentik dan unik. Dan juga, akan membantu memfasilitasi suasana kerja yang penuh dengan semangat berbagi, berkontribusi, melayani, membantu, dan menemukan kebahagiaan dari kolaborasi yang sempurna. Pada akhirnya, semua yang baik dari etos kerja akan membantu menjaga kesehatan perusahaan secara berkelanjutan, untuk kepentingan jangka panjang, termasuk untuk kepentingan peningkatan profitabilitas melalui kekuatan etos kerja individu.

Peningkatan berkesinambungan untuk lebih memahamkan etos kerja kepada setiap orang di tempat kerja haruslah menjadi hal yang rutin. Semakin sadar kepemimpinan perusahaan memfasilitasi pertumbuhan individu dengan kualitas etos kerja yang unggul, semakin perusahaan akan memiliki kekuatan sumber daya manusia sebagai aset, yang menentukan kemajuan atau keberhasilan dari aset-aset produktif yang lainnya.

Budaya kerja yang etis hanyalah kombinasi dari apa yang akan dihargai dan dihukum. Tetapi, etos kerja berbicara tentang kepribadian yang bekerja dengan sepenuh hati yang menunjukkan perhatian, disiplin, ketekunan, kerja keras, inovasi, kinerja, prestasi, serta berani mengambil risiko untuk kemajuan perusahaan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KEHILANGAN KEPERCAYAAN BERARTI KEHILANGAN PELUANG DAN MASA DEPAN

DJAJENDRA“Bisnis adalah kepercayaan, kurangnya kepercayaan akan menimbulkan krisis kredibilitas, termasuk penurunan reputasi.”~ Djajendra

Hal yang paling ditakutkan dari kata kepercayaan (trust) adalah menjadikannya sebagai pajangan, tetapi tidak pernah dilatih dan diinternalisasikan agar digunakan setiap orang di sepanjang waktu kerja mereka di kantor.

Kepercayaan adalah kemampuan setiap orang untuk mengalirkan potensi dan kompetensi dengan kekuatan etika dan integritas. Dan juga, kemampuan setiap orang untuk berkolaborasi; saling bergantung pada sistem dan prosedur kerja; berkontribusi untuk menghasilkan organisasi yang efektif dan produktif; serta menghasilkan jasa, produk, dan hasil akhir yang berkualitas terpercaya.

Perusahaan dengan kepercayaan yang tinggi dan solid di internal akan memiliki keharmonisan kerja, peningkatan kinerja yang terus-menerus, produktivitas yang tinggi, konflik yang rendah, serta kadar tekanan dan stres yang lebih rendah. Sebab, kepercayaan akan menyatukan setiap hati di dalam kolaborasi empati dan toleransi, sehingga tanggung jawab bersama di dalam energi kolaborasi akan menjadikan perusahaan sebagai tempat yang nyaman dan aman.

Kehilangan kepercayaan adalah kerugian besar. Bila perusahaan tidak mampu menjaga kepercayaan yang diberikan oleh pemangku kepentingan; maka perusahaan akan kehilangan peluang, reputasi, kredibilitas, penjualan, dan masa depan.

Banyak sekali perusahaan-perusahaan jatuh oleh kepercayaan yang hilang. Kepercayaan adalah harta yang sangat penting. Menjaga dan merawat kepercayaan dengan integritas, transparansi, akuntabilitas, dan perilaku etis, akan menjadikan perusahaan lebih dipercaya.

Arthur Anderson, kantor akuntan publik, yang masuk ke dalam lima besar terbaik dunia, harus kehilangan kepercayaan, dan pada akhirnya hilang untuk selamanya. Kelalaian kantor akuntan Arthur Anderson untuk menjaga etika dan integritas dalam menjalankan audit terhadap Enron Corporation, berakibat pada izin kantor akuntan publiknya dicabut oleh pengadilan di Amerika Serikat.

Reputasi dan kredibilitas yang sudah cukup lama dibangun oleh kantor akuntan publik Arthur Anderson, ternyata terhapus oleh peristiwa Enron, yang membuat mereka kehilangan kepercayaan untuk selamanya.

Bisnis adalah kepercayaan, kurangnya kepercayaan akan menimbulkan krisis kredibilitas, termasuk penurunan reputasi. Selama bisnis dijalankan dengan integritas dan perilaku yang etis, maka kepercayaan stakeholders kepada bisnis tersebut akan terus meningkat.

Sering sekali sebuah perusahaan tumbang oleh hilangnya kepercayaan dari pelanggan. Apalagi pada perusahaan-perusahaan yang penjualannya bergantung pada kontrak dari pelanggan, maka saat pelanggan kehilangan kepercayaan, saat itu juga perusahaan tersebut bisa langsung tidak mampu beroperasional.

Sekali kepercayaan hilang, maka membangun kembali kepercayaan bukanlah persoalan mudah, membutuhkan pembuktiaan integritas dan perilaku etis yang konsisten di sepanjang waktu. Dan juga, membutuhkan biaya yang sangat besar agar kepercayaan dapat dipulihkan kembali.

Kepemimpinan perusahaan harus mengambil tanggung jawab, untuk meningkatkan gairah setiap orang di dalam perusahaan agar ikhlas menjalankan kode etik dan etika bisnis perusahaan, dengan sepenuh hati dari integritas pribadi yang konsisten.

Jadi, bila pemimpin aktif memberikan pencerahan dan memperkaya setiap orang untuk hidup dalam kebenaran etika dan integritas, maka reputasi dan kredibilitas perusahaan akan semakin memperkuat kepercayaan stakeholders kepada perusahaan.

Kepercayaan haruslah dibangun dari internal perusahaan, yaitu dengan cara menciptakan lingkungan kerja yang menjauhkan orang-orang di dalam perusahaan terhadap hal-hal negatif, seperti: malas, frustrasi, kecewa, bingung, stres, apatis, marah, bosan, dan kehilangan harapan. Jadi, semua perilaku negatif tersebut adalah musuh utama dari kepercayaan. Dan, kepemimpinan perusahaan harus rajin menghapus semua perilaku negatif tersebut dari lingkungan perusahaannya.

Membangun kepercayaan adalah tugas utama kepemimpinan perusahaan. Setiap pemimpin wajib menciptakan harapan, lalu menjaga harapan tersebut dengan tata kelola yang etis dan penuh integritas.

Pemimpin harus membuat semua orang di dalam perusahaan merasa kebutuhannya terpenuhi dengan baik. Selanjutnya, secara rutin menguatkan orang-orang di dalam perusahaan agar saling percaya, serta melayani stakeholders dengan kekuatan etika dan integritas, sehingga rasa percaya stakeholders kepada perusahaan menjadi semakin meningkat.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KEBERHASILAN KEPEMIMPINAN DITENTUKAN OLEH DUKUNGAN DARI KERJA SAMA TIM YANG UNGGUL

“Tanpa kekuatan sumber daya manusia yang bekerja sama, maka kepemimpinan akan sulit mencapai kinerja terbaik.” ~ Djajendra

Pemimpin dengan visi besar wajib mendapatkan bantuan dan dukungan dari tim kerja yang solid. Untuk itu, pemimpin harus sering-sering berbicara dan mengulang kata-kata yang memotivasi setiap orang agar secara ikhlas, sukarela, maupun terpaksa, membentuk kebiasaan kerja dalam kerja sama. Tanpa kekuatan sumber daya manusia yang bekerja sama, maka kepemimpinan akan sulit mencapai kinerja terbaik.

Kepemimpinan yang cerdas sangat memahami bahwa perilaku, hubungan, dan sikap individu berpotensi untuk tidak konsisten dalam kerja sama; sehingga dibutuhkan nilai-nilai yang tegas dan konsisten untuk mengharuskan semua perilaku, hubungan, dan sikap individu patuh pada nilai-nilai organisasi agar dapat membangun lingkungan kerja sama tim yang produktif.

Nilai-nilai memiliki kekuatan untuk menyatukan kualitas orang-orang agar dapat bekerja sama dalam kolaborasi dan sinergi yang terfokus pada tujuan. Dan, pengaruh dari energi nilai-nilai kerja tersebut, haruslah menyebabkan ratusan bahkan ribuan orang di dalam organisasi, dapat saling melayani dan saling berkontribusi untuk pencapaian tujuan.

Kecerdasan dan kesabaran kepemimpinan untuk membangun tim kerja berlandaskan nilai-nilai dan budaya organisasi yang konsisten dan kuat, akan memudahkan para karyawan untuk menciptakan kolaborasi dan sinergi tingkat tinggi, untuk memudahkan pencapaian tujuan dan visi kepemimpinan.

Kerja sama tim terbaik tercipta dari kompetensi, kualitas, produktivitas, efektivitas, kolaborasi, komunikasi, tanggung jwab, peran yang otentik dari masing-masing individu, pengaturan tata kelola yang sehat, pemahaman bersama atas peta perjalanan menuju tujuan, ekspektasi kinerja, serta cara kepemimpinan memimpin timnya di dalam kekuatan integritas, transparansi, dan akuntabilitas.

Pemimpin harus kreatif dalam menciptakan peran masing-masing individu di dalam tim. Dan juga, harus terjun ke lapangan untuk membangun kesatuan visi tim, serta memahami dinamika kelompok di dalam tim. Dalam hal ini, pemimpin harus bersikap tegas, jelas, menyelaraskan  dinamika tim ke dalam harapan organisasi, dan memfokuskan setiap perhatian hanya untuk menuju tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan untuk tim.

Kepemimpinan yang bijak selalu akan sadar bahwa kekuatan yang mereka miliki berasal dari para manajer dan karyawan yang terus menerus berkontribusi dan melayani kepemimpinan tersebut. Karena sadar akan hal ini, maka kepemimpinan selalu akan bekerja lebih keras untuk membangun tim yang kuat, bagus, solid, dan efektif.

Organisasi dengan struktur yang efektif dan produktif; hirarki kepemimpinan yang mudah mencair dan mengalir ke semua tingkatan di dalam struktur organisasi; tata kelola organisasi yang menciptakan pemahaman yang jelas atas peran masing-masing; sikap dan perilaku kerja individu di dalam tanggung jawab dan harapan; garis dan arah yang jelas di dalam setiap langkah kerja; komunikasi yang terbuka di dalam kontribusi dan melayani; keputusan kepemimpinan yang jelas dan konsisten; serta kesetaraan dan keharmonisan kerja di dalam budaya organisasi yang dinamis, akan menjadi kunci keberhasilan kepemimpinan untuk memberdayakan tim menjadi lebih unggul.

Budaya organisasi harus lebih menghormati “Kami” daripada “Aku”. Sebab, dalam budaya kolaborasi dan sinergi “Kami” akan menyatukan semua individu untuk menumbuhkan diri di dalam semangat kerja sama, sedangkan “Aku” berpotensi menjadikan individu saling berkompetisi untuk menonjolkan keunggulan pribadi.

Membangun sebuah tim adalah menemukan sebuah kombinasi yang unggul untuk pencapaian kinerja tertinggi. Dalam hal ini, setiap individu di dalam organisasi harus sadar diri bahwa mereka adalah bagian dari yang lain. Kesuksesan individu adalah kesuksesan yang dihasilkan dari pekerjaan organisasi, tim, dan kepemimpinan. 

Pekerjaan terpenting kepemimpinan adalah mendapatkan sebuah tim kerja dengan kombinasi kompetensi dan kualitas yang beragam. Termasuk, karakter dan kepribadian yang beragam agar dapat menciptakan dinamika kelompok yang lebih hidup di dalam kreativitas. Juga, menjadikan tim yang beragam ini solid dan kolaboratif  dalam setiap proses kerja.

Tim kerja adalah kekuatan dinamis dan kreatif yang dimiliki kepemimpinan. Sebagai salah satu sumber daya kepemimpinan yang paling penting, maka kepemimpinan harus selalu menjaga energi positif tim.

Berbagai dinamika berpotensi menjadikan tim lebih solid ataupun tidak solid, dan tugas kepemimpinanlah untuk memperkuat soliditas tim. Tanpa tim kerja yang solid dan berkolaborasi secara sempurna, maka kepemimpinan menjadi tidak produktif.

Pemimpin harus selalu menjaga keselarasan tim pada tujuan, serta membuat keputusan yang mampu mengubah kecepatan atau memperlambatnya, untuk kebaikan strategi dan taktik kepemimpinan di dalam pencapaian terbaik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

ENERGI KOORDINASI KEPEMIMPINAN UNTUK MENYATUKAN SEMUA KEPENTINGAN KE DALAM VISI ORGANISASI

“Bila sudah memiliki visi bersama, tetapi pola pikir dan suasana hati tidak konsisten pada visi bersama, maka diperlukan energi koordinasi untuk menyatukan dan menyemangati semua pihak agar fokus pada visi bersama.” ~ Djajendra

Koordinasi berfungsi untuk menyatukan dan mempertemukan semua kegiatan organisasi ke dalam visi. Setelahnya, mengarahkan setiap fungsi untuk berkolaborasi dalam konsistensi budaya kerja yang kuat.

Koordinasi kepemimpinan yang kuat bersumber dari budaya organisasi yang kuat, yang mampu menyebabkan kesatuan tindakan dan bergerak ke arah yang tepat.

Kepemimpinan haruslah menjadi energi yang menciptakan kehidupan organisasi, yang terkoordinasi dalam tata kelola yang etis, serta mendapatkan respon positif dari integritas pribadi setiap individu.

Setiap hubungan kerja haruslah terkoordinasi secara kuat di bawah kendali sistem dan tata kelola. Lalu, kepemimpinan menjadi energi, untuk melakukan interaksi dan komunikasi dengan sesering mungkin, tepat waktu, akurat, dengan data yang benar, dengan pemecahan masalah, dan tidak hadir untuk mencari kesalahan, tetapi untuk menemukan solusi yang tepat buat kemajuan organisasi.

Setiap fungsi dan peran di dalam organisasi sifatnya saling tergantung. Demikian juga dengan pekerjaannya, yang saling tergantung, kadang agak tak terlihat, dan selalu berubah oleh suasana hati individu.  Disinilah koordinasi itu berfungsi untuk menjaga konsistensi pola kerja agar selalu menyatu dalam sifat saling tergantung.

Organisasi tanpa koordinasi akan kacau dan tidak terkendali, serta berpotensi menjadikan organisasi kehilangan moral kerja. Pemimpin yang memiliki hak penuh untuk menguasai dan menjalankan setiap sumber daya organisasi, haruslah membangun kekuatan kepemimpinan yang konsisten dengan memfungsikan koordinasi di semua level organisasi.

Koordinasi kepemimpinan haruslah menjadi energi pendorong untuk terciptanya budaya kolaborasi yang kuat di tempat kerja. Pemimpin harus sadar bahwa kepentingan individu, kelompok, departemen atau divisi oleh dorongan ego, dapat menciptakan konflik permanen yang menurunkan kinerja dan moral kerja.

Sebagai pemimpin yang memiliki kekuasaan dan wewenang penuh atas organisasi, sudah merupakan tanggung jawabnya untuk menjaga soliditas kerja, dengan cara mempertemukan dan memberdayakan setiap fungsi dan potensi organisasi agar dapat mencapai tujuan dengan kinerja terbaik.

Koordinasi merupakan bagian dari kegiatan kelompok, tim, ataupun kolaborasi dari cara kerja struktur organisasi. Jadi, untuk pekerjaan yang sifatnya individu, yang tidak terhubung dengan kegiatan pihak lain, maka koordinasi tidak diperlukan. Sekali lagi, koordinasi hanya diperlukan untuk memfasilitasi semua fungsi manajemen agar berkolaborasi dan berkomunikasi untuk pencapaian kinerja.

Pemimpin wajib untuk menciptakan energi koordinasi agar dapat menyatukan semua kepentingan ke dalam visi organisasi. Walau koordinasi merupakan prinsip dan fungsi manajemen, tetapi pemimpin haruslah menghadirkannya untuk memperkuat semua fungsi manajemen dalam kolaborasi dan soliditas kerja sama.

Semua fungsi manajemen wajib terkendali dalam koordinasi. Tanpa koordinasi, organisasi akan kehilangan arah, dan kepemimpinan akan kehilangan kehormatan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Older posts Newer posts