PT DJAJENDRA MOTIVASI UNGGUL

Leadership Organization Business Personal Interpersonal Entrepreneurs and Employed Professionals

Category: Corporate Culture (page 21 of 21)

Budaya Perusahaan

Disiplinkan Core Value Perusahaan Anda

” Setiap Kalimat Dari Core Value Perusahaan, Setiap Hari Akan Diuji Oleh Karyawan-Karyawan Yang Membangkang Terhadap Core Value Tersebut.” – Djajendra

Mengatur kebiasaan kerja sesuai dengan nilai-nilai yang perusahaan miliki, bukanlah pekerjaan yang mudah. Dalam banyak kasus, setiap upaya dan kerja keras perusahaan untuk menjalankan core value secara optimal di setiap aktifitas perusahaan, akan mendapatkan respons daya tolak dari karyawan. Hal ini biasanya disebabkan oleh ketidaksiapan mind set karyawan untuk menerima core value tersebut. Padahal visi, misi, dan rencana kerja perusahaan baru akan berjalan dengan maksimal, bila para karyawan dan pimpinan mampu bekerja keras sesuai dengan core value perusahaan.

Core value yang biasanya juga disebut sebagai corporate value, atau pun kadang-kadang disebut juga sebagai nilai-nilai luhur perjuangan perusahaan, merupakan sebuah komitmen yang wajib dijalankan oleh semua pihak di perusahaan secara konsisten.

Pertanyaannya, bagaimana menghadapi daya tolak tersebut?

Pertama, perusahaan tidak boleh berpikir bahwa setelah core value tertulis secara rinci di atas kertas sesuai dengan fungsi dan peran kerja masing-masing unit kerja, maka secara otomatis harus dipahami oleh karyawan. Para karyawan perlu dilatih secara rutin untuk sebuah proses penginternalisasian setiap arti dari kalimat-kalimat yang tertulis di dalam corporate value tersebut. Agar setiap kata-kata yang ada di core value tersebut bisa tertanam secara permanen di mind set karyawan. Kedua, perusahaan harus selalu mengawasi dan mengevaluasi persepsi dari para karyawan terhadap core value. Misalnya, salah satu kalimat core value berkata,” Menjaga keamanan, kebersihan, kenyamanan, dan kedamaian lingkungan kantor.”

Apakah kalimat core value tersebut telah dipahami dalam satu bahasa persepsi oleh setiap orang di kantor?

Biasanya, orang-orang memiliki kesulitan untuk melihat satu persoalan dalam satu persepsi yang sama. Oleh karena itu, sebuah kalimat core value bisa dimaknai secara beragam sesuai persepsi dan kebutuhan karyawan. Jelas! Hal ini harus dihindari. Bila tidak, perusahaan akan mengalami kesulitan untuk memberdayakan semua potensi SDM dan potensi perusahaan buat mencapai kinerja yang optimal.

Dalam pengalaman saya melakukan evaluasi terhadap core value perusahaan, selalu saja akan ada persepsi yang berbeda dari para karyawan dalam memahami sebuah kalimat dari core value tersebut. Hal ini merupakan sebuah tantangan yang cukup serius. Ingat, setiap kalimat dari core value tersebut setiap hari akan diuji oleh karyawan-karyawan yang membangkang terhadap nilai-nilai luhur perusahaan tersebut. Pasti akan ada karyawan-karyawan yang berpikiran bahwa core value perusahaan menjadi penghambat kerja mereka, sehingga mereka selalu berpikiran negatif terhadap core value perusahaan. Untuk mengatasi hal ini, perusahaan harus sesering mungkin melakukan proses pendisiplinan terhadap core value, agar setiap orang di perusahaan mau menerima dan menjalankan core value perusahaan dengan sepenuh hati. Perusahaan tidak boleh merasa puas dan bangga terhadap semangat bekerja berdasarkan core value, perusahaan harus selalu mengawasi dengan ketat, agar setiap maksud dan tujuan dalam core value bisa dilaksanakan secara baik di setiap momen kerja perusahaan.

Ketika Etos Kerja Menjadi Kekuatan Inti Pemberdayaan Potensi Karyawan

“Etos Kerja Berarti Dedikasi Dalam Integritas Untuk Melaksanakan Semua Fungsi Dan Peran Kerja, Dalam Tanggung Jawab, Melalui Mutu Dan Kualitas Diri Tertinggi.” – Djajendra

Pada tahun 1996, saat saya mengikuti sebuah program pendidikan di Kellogg, Northwestern University. Salah satu materi yang dibahas adalah tentang core value yang dihubungkan ke dalam work ethos, atau di sini kita kenal dengan istilah etos kerja.

Work ethos sesungguhnya bermaksud memberdayakan moral karakter seseorang untuk mencair bersama core value organisasi, lalu bekerja dengan perilaku yang sesuai harapan core value tersebut.

Semangat sejati dari work ethos adalah bekerja atas dasar kesadaran tertinggi diri sendiri terhadap tugas dan tanggung jawab kerja. Untuk itu, diperlukan pemberdayaan terhadap sumber motivasi diri untuk bekerja berdasarkan kekuatan spiritual, moral, dan etika. Dan, salah satu hal terpenting dalam pemberdayaan nilai-nilai spiritual, moral, dan etika adalah kualitas kepemimpinan diri sendiri untuk bisa mencair di dalam organisasi, di semua area dan di semua level secara sempurna.

Ethos itu sendiri berasal dari bahasa Yunani, yang terjemahan bebasnya bermakna kebiasaan-kebiasaan, karakter, dan perilaku yang keluar dari moral atau pun dari batin terdalam yang paling jujur. Saya pribadi menyerap makna ethos ini sama maknanya dengan integrity.

Konon katanya, work ethos ini sudah diimplementasikan diberbagai aktifitas pekerjaan di zaman kuno dulu, baik itu di Yunani maupun diberbagai bangsa besar di zaman kuno dulu. Artinya, sejak zaman kuno kehidupan kerja manusia telah dihubungkan dengan tanggung jawab moral, etika, dan spiritual.

Perusahaan-perusahaan di zaman sekarang sudah semakin memahami pentingnya tanggung jawab moral, etika, dan spiritual karyawan dalam menjalankan fungsi dan peran kerja. Sebab, saat seorang karyawan memahami tanggung jawab kerjanya secara etika, moral dan spiritual, maka dirinya secara otomatis sudah tahu apa yang harus dikerjakan; sudah tahu apa yang harus dilakukan; dan sudah tahu apa yang harus dipertanggungjawabkan kepada perusahaan dan pimpinan.

Rekan Kerja Anda Ingin Dihargai

“Bantulah Selalu Orang Lain Untuk Meningkatkan Rasa Percaya Diri Mereka Sendiri. Kembangkanlah Keahlian Anda Dalam Membuat Orang Lain Merasa Penting. Sangat Jarang Ada Pujian Yang Lebih Bisa Anda Berikan Pada Seseorang Daripada Membantunya Untuk Menjadi Berguna Dan Untuk Menemukan Kepuasan Karena Ia Berguna.” – Donald Laird.

Salah satu penyebab terjadinya konflik di pekerjaan adalah kurangnya perasaan saling menghargai. Perasaan untuk saling menghargai ini sangat penting dan sangat menentukan kinerja dan keberhasilan perusahaan dalam mencapai target tertinggi. Jika perusahaan bersama-sama pimpinan dan karyawan tidak mampu mengendalikan diri untuk saling menghargai dalam sebuah keharmonisan hubungan kerja yang baik, maka dapat dipastikan semua hubungan kerja di manajemen perusahaan akan terganggu dan akan tidak berjalan seperti seharusnya.

Setiap fungsi, peran, dan perilaku kerja wajib di atur dalam sebuah panduan etika bisnis dan code of conduct perusahaan. Etika bisnis dan code of conduct harus menjadi alat yang melindungi setiap pimpinan dan karyawan dari risiko apa pun.

Bila masing-masing orang saling melanggar etika kerja dan etika bisnis perusahaan, maka secara otomatis semua hal baik pun akan hilang dan akan tergantikan oleh hal-hal yang tidak baik. Oleh karena itu, setiap pimpinan dan setiap karyawan harus bekerja dengan kesadaran tertinggi untuk selalu patuh menjalankan standard operating procedure, etika bisnis, code of conduct, dan semua aturan, sistem, kebijakan, dan peraturan perusahaan secara profesional dan bijaksana.

Hubungan kerja yang saling menghargai hanya dapat terwujud saat perusahaan, pimpinan, dan para pegawainya menjadi satu energi positif untuk menjalankan etika kerja dan etika bisnis perusahaan secara sempurna.

Sikap dan perilaku untuk saling menghargai harus dimulai dari tekad perusahaan untuk menjalankan prinsip-prinsip kerja yang berlandaskan kepada integritas, kinerja, dan membebaskan perusahaan dari konflik kepentingan siapa pun. Artinya, perusahaan benar-benar dijalankan dengan sistem, prosedur, aturan, kebijakan, peraturan, dan energi yang terfokus kepada nilai-nilai yang saling menghargai dan yang saling melengkapi.

Rekan kerja Anda ingin merasa dihargai dan demikian juga dengan diri Anda pasti ingin dihargai. Oleh karena itu, pastikan Anda mampu menjadi pribadi yang berpikir, bertindak, bersikap, dan berperilaku dengan mengedepankan nilai-nilai moral dan nilai-nilai kehidupan yang baik dan positif.  Hanya melalui nilai-nilai kebaikan yang positif, Anda dan rekan kerja Anda bisa saling menyatu untuk menghasilkan kinerja dan prestasi terbaik.

Perusahaan Lagi Krisis? Jangan lalai untuk melakukan penghematan

“Bila Anda Menyuruh Karyawan Anda Untuk Berhemat, Sedangkan Anda Sendiri Tidak Memberi Keteladanan Untuk Berhemat, Maka Hasilnya Hanya Dalam Bentuk Sindiran Yang Mengurangi Kehormatan Anda.” – Djajendra.

Di zaman krisis ini mungkin sebagian besar perusahaan sudah kurang mendapatkan order dari pembeli. Nah, pasti para bos sedang sibuk menyuruh penghematan di semua aspek operasional perusahaan. Sebab, tak ada bos yang ingin perusahaannya bangkrut oleh menurunnya order.

Bos yang cerdas tahu bahwa penghematan adalah cara terbaik untuk menjaminan kontinyuitas dari operasional perusahaan. Pertanyaannya, apakah para karyawan telah melakukan perintah si bos? Kalau para karyawan lalai melakukan penghematan, maka PHK akan menjadi bom waktu buat karyawan.

Bila order menurun terus dan manajemen tidak mampu melakukan penghematan di semua aspek operasional perusahaan, maka tidak mungkin perusahaan mampu membayar gaji karyawannya. Dan, PHK akan menjadi kisah selanjutnya.

Saat bos menyuruh para karyawan melakukan penghematan total, maka seharusnya bos terlebih dahulu melakukan penghematan total dalam gaya dan pola hidup pribadi yang lebih sederhana.

Bos harus hidup hemat sambil memberi contoh kepada para karyawan. Sebab, bos adalah panutan yang paling berpengaruh kepada sikap karyawan untuk melakukan penghematan di semua aspek operasional perusahaan.

Karyawan akan selalu menunggu sikap bos dalam memahami penurunan order, serta ingin memiliki gambaran yang jelas dan tegas tentang kebijakan dan rencana perusahaan ke depan.

Bagi karyawan, bos tetaplah memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjadi penunjuk arah yang jelas, agar mereka bisa survive dalam krisis ini dan tidak divonis dengan PHK.
Bos yang bijak tidak akan ngotot pada gaya hidup mentereng untuk memamerkan kekuasaan dan kewibawaannya. Bos yang cerdas tahu diri, bahwa di zaman krisis memperlihatkan kemewahan sebagai simbol kekuasaan dan kewibawaan hanya akan menjadi bahan olok-olokan orang lain.

Bos yang bijak pasti mengurangi pengeluaran-pengeluaran pribadi yang tidak perlu, dan sebelum menyuruh karyawan melakukan penghematan, bos sudah terlebih dahulu menyuruh keluarga di rumah untuk melakukan penghematan total dalam menghadapi krisis yang ada.

Bos yang cerdas tidak sekedar berbicara penghematan sambil ke kantor dengan mobil pribadi yang mewah, tapi ia akan memperlihatkan penghematan itu dari sikap, perilaku, pola dan gaya hidup sehari-harinya.

Bos yang bijak tidak akan menjadikan benda-benda mewah sebagai simbol kekuasaan dan kewibawaan, tapi ia akan menggunakan kesederhanaan sebagai contoh dan keteladanan hidup.

Menyuruh berhemat melalui keteladanan berarti mau menghilangkan hak privileges, seperti tidak tinggal di hotel mewah, tidak menggunakan limo dan jet pribadi, bersedia mengurangi atau memotong gaji sendiri, bersedia menjadi pribadi sederhana yang siap melakukan perubahan untuk menjadikan perusahaan lebih kuat dan kokoh.

Dec 2, 2008

KECERDASAN OPERASIONAL

”Saat Orang-Orang Kehilangan Kecerdasan Operasional Atau Pun Kecerdasan Implementasi, Maka Yang Tersisa Hanyalah Janji-Janji Kosong Yang Tak Pernah Berubah Dari Wujud Rencana Dan Strategi Yang Hebat, Dan Tak Pernah Menjadi Realitas.” – Djajendra

Kehidupan korporasi lebih banyak dihabiskan untuk melakukan aktifitas operasional, tetapi sangat jarang ada pencerahan batin untuk memahami kecerdasan operasional atau pun kecerdasan implementasi. Selalu saja perhatian dari para pemimpin dan manajer lebih banyak diberikan kepada hal-hal strategis dan perencanaan. Padahal sebagian besar kegagalan perusahaan diakibatkan oleh lemahnya implementasi, operasional, dan pengawasan. Operasional bisnis yang lemah membuat semua strategi dan rencana yang hebat itu mati tak berkutik. Akibatnya, perusahaan akan terkapar dalam  berbagai kesulitan yang biasanya sudah sangat terlambat untuk perbaikan.
Sudah saatnya para pemimpin untuk lebih peduli kepada hal-hal yang berkaitan kepada kecerdasan operasional dan implementasi. Sebab, sering sekali sebuah rencana yang begitu indah dengan janji dan harapan yang luar biasa hebat,  ternyata tidak dapat dijalankan seperti tulisan dan kata-kata yang ada direncana tersebut. Dan pada akhirnya, rencana dan strategi yang begitu hebat itu terkubur dalam ketidakmampuan, dalam ketidakcerdasan orang-orang untuk menjadikannya sebagai realitas yang bermanfaat buat kehidupan.

Saat orang-orang kehilangan kecerdasan operasional atau pun kecerdasan implementasi, maka yang tersisa hanyalah janji-janji kosong yang tetap dalam wujud rencana dan strategi yang hebat, tanpa pernah menjadi realitas.

Hari ini dunia bisnis hidup di zaman yang kaya dengan strategi dan informasi; di zaman yang begitu mudah untuk memahami strategi, informasi, dan rencana dari perusahaan mana pun di dunia ini melalui internet; di zaman yang begitu mudah mengcopy atau meniru produk, jasa, visi, misi, dan nilai-nilai perusahaan dari bagian dunia manapun.

Dunia bisnis yang kaya akan informasi ini sepertinya sangat miskin akan implementasi dan operasional. Buktinya banyak sekali perusahaan-perusahaan yang didirikan dengan meniru perusahaan-perusahaan sukses  lainnya, tetapi hanya sangat sedikit yang bisa bertahan, sedangkan mayoritas mati sebelum berkembang. Biasanya perusahaan-perusahaan yang bertahan ini disebabkan oleh kecerdasan operasional dan kecerdasan implementasi dalam wujud eksekusi strategi yang cemerlang dan tepat sasarn.

Kecerdasan operasional ini dapat dimulai dari aksi implementasi strategi bisnis yang tepat guna, birokrasi administrasi yang efektif dan efisien,  prosesing yang telitih dan telaten, efisiensi di semua aspek biaya, pemanfaatan teknologi yang efisien dan efektif, pemanfaatan kompetensi sumber daya manusia yang sesuai kebutuhan, kemampuan memaksimalkan kualitas aset-aset produktif untuk menjadi mesin uang, dan percepatan perputaran bisnis dengan kualitas pelayanan terbaik.

Kecerdasan operasional berarti kemampuan dari semua level sumber daya manusia untuk mempunyai energi positif yang seimbang; agar bisa menyatukan dirinya ke dalam sistem, strategi, kebijakan, regulasi, visi, misi, dan nilai-nilai; dalam semangat melaksanakan setiap tugas, pekerjaan, dan tanggung jawab yang sesuai rencana dan strategi, seperti yang tertulis.

Kecerdasan operasional mengajarkan motivasi dan semangat untuk bertindak dengan tegas dan benar. Kecerdasan operasional mengajarkan cara-cara mengeksekusi strategi dengan sempurna, tanpa terikat kepada sikap takut dalam keragu-raguan. Kecerdasan operasional berarti berani bertindak sesuai strategi, berani mengeksekusi setiap rencana dengan penuh percaya diri, dan berani mengambil risiko atas setiap tindakan yang dibuat.

Mental jago strategi di atas kertas haruslah diimbangi dengan mental jago operasional dilapangan secara maksimal. Sebab, sekarang ini sudah banyak sekali orang-orang pintar yang terpenjara di dalam konsep, analisa, dan saran. Dan sangat sedikit orang-orang pintar yang terdidik untuk melakukan operasional dan implementasi di lapangan sesuai strategi dan rencana.

Kecerdasan operasional haruslah menjadi jati diri, etika, budaya, dan moralitas perusahaan di dalam relasinya dengan stakeholder. Tanpa adanya kecerdasan operasional, perusahaan hanya akan menjadi beban buat stakeholdernya, dan tidak pernah menjadi aset yang menguntungkan stakeholder.

KARYAWAN ADALAH MODAL PERUSAHAAN

“Karyawan Adalah Modal Terpenting Perusahaan Untuk Menghasilkan Nilai Tambah Perusahaan.” – Djajendra

PROFILE 5Karyawan adalah sumber daya yang sangat penting dan sangat menentukan suksesnya perusahaan. Karyawan juga selalu disebut sebagai human capital, yang artinya karyawan adalah modal terpenting untuk menghasilkan nilai tambah perusahaan.

Sebagai modal terpenting, fungsi dan peran karyawan selalu bertujuan untuk memaksimalkan produktivitas dan efisiensi perusahaan melalui cara kerja yang efektif. Sebab, bila karyawan tidak produktif dan tidak efisien, maka karyawan mungkin tidak lagi menjadi modal terpenting, tapi menjadi beban buat perusahaan.

Sejak dari proses rekrutmen sampai dengan proses evaluasi kinerja, para karyawan harus selalu diingatkan bahwa mereka adalah modal perusahaan, agar para karyawan memahami makna keberadaan mereka di dalam perusahaan.

Bila persoalan kepemimpinan, komunikasi, etika, dan etos kerja tidak dijalankan secara benar oleh perusahaan, maka karyawan berpotensi menjadi pekerja yang tidak efektif, dan mungkin juga berpotensi menjadi beban perusahaan.

Perusahaan yang hebat akan selalu merawat kualitas para karyawannya, apakah itu dari sisi emosi, intelektualitas, ataupun dari sisi keterampilan. Yang terpenting perusahaan yang hebat selalu berupaya untuk menjadikan setiap karyawannya sebagai modal, dan menghindarkan para karyawannya menjadi beban perusahaan.

Newer posts