PT DJAJENDRA MOTIVASI UNGGUL

Leadership Organization Business Personal Interpersonal Entrepreneurs and Employed Professionals

Category: Management Training (page 3 of 3)

Manajemen Pelatihan

Role Play

“Segala Keinginan Dan Harapan Yang Dikerjakan Dengan Segenap Perhatian, Fokus, Disiplin, Energi, Dan Konsentrasi. Pasti Akan Terwujud Dalam Kehidupan.” – Djajendra.

Manusia hidup dalam sebuah training kehidupan yang mewajibkan dirinya untuk berlatih dan belajar secara terus-menerus sampai akhir hari kehidupannya. Tidak ada kata tamat dalam training kehidupan, sebab setiap hari adalah hari training. Jika Anda ingin sukses dalam hidup Anda, maka ada satu hal terpenting yang harus Anda lakukan dalam sepanjang perjalanan hidup Anda, yaitu Anda harus mampu memainkan peran kehidupan dengan sempurna. Bila pekerjaan sehari-hari Anda sebagai customer service, maka peran pelayanan sempurna harus bisa Anda mainkan dengan sempurna. Bila pekerjaan sehari-hari Anda sebagai big bos, maka peran sebagai pemimpin bijak dan cerdik harus bisa Anda mainkan dengan sempurna. Peran dalam kehidupan merupakan realitas yang tak mungkin bisa dihindari oleh siapa pun. Anda harus ingat bahwa setiap orang mempunyai perannya sendiri-sendiri di dalam hidup yang sangat kompleks ini, dan setiap orang harus cerdas memainkan perannya dengan sempurna. Bila Anda tidak cerdas memainkan peran kehidupan Anda, maka Anda akan tersingkir dari daftar orang sukses.

Permainan peran atau role play bukanlah monopoli orang film dan teater, tapi telah menjadi kebutuhan dari semua sektor kehidupan. Khususnya dalam kehidupan dunia bisnis, di mana setiap orang yang bekerja di sebuah perusahaan atau organisasi bisnis harus terampil dan bijak dalam memainkan peran, sesuai tugas dan tanggung jawab yang diberikan perusahaan kepadanya.

Kehidupan dunia kerja atau dunia bisnis yang semakin tidak sederhana, mengharuskan para pelakunya untuk berlatih peran kehidupan pekerjaan sehari-hari dengan lebih baik, agar mampu menjawab semua tantangan yang mereka hadapi seharian dengan lebih sempurna.

Seorang pemimpin tidak lagi bisa mengandalkan bakat dan karismanya, tapi juga harus secara disiplin melatih peran kepemimpinan yang dijalaninya secara profesional. Demikian juga dengan Anda yang bekerja melayani orang lain, tidak lagi sekedar fokus untuk terampil memuaskan kebutuhan orang lain, tapi Anda harus cerdas dan bijak menjalankan peran pelayanan yang Anda jalankan dalam kehidupan sehari-hari Anda, agar Anda bisa menjadi pribadi yang lebih istimewa di bandingkan yang lain.

Berikut ini saya berikan sebuah contoh tentang Role Play yang dikombinasikan dengan ice breaker games, hasil penggabungan ini saya sebut Role Play Games. (Permainan ini sering saya lakukan dalam training motivasi)

Tema RPG: Menjadi Diri Sendiri Bersama Cahaya Terang Kehidupan

Aturan Permainan:

Setiap orang menyalakan lilinnya dan berimajinasi bahwa lilin tersebut adalah ”cahaya suksesnya”. Setiap orang berdiri dan mulai menyanyikan lirik lagu menurut versinya masing-masing. Konsentrasikan jiwa dan pikiran hanya pada lirik lagu, jangan tergoda pada siapapun. Ingat! Konsentrasikan jiwa dan pikiran hanya pada lirik lagu dengan versi Anda, jangan mengikuti versi orang lain.

Aku ingin sukses…….

Aku harus sukses……

Aku menginspirasi harapanku…..

Tujuan Hidupku jelas dalam terang

Aku Orang sukses…….Aku orang sukses…..Aku orang sukses.

Kelimpahan milikku…….

Kemudahan punyaku…..

Rasa syukur hartaku…..

Bahagia sahabatku……..

Aku orang sukses…..Aku orang sukses….Aku orang sukses.

Aku adalah orang yang seperti aku inginkan…..

Tuhan selalu bersamaku…..

Membantu jalanku……

Menuju pintu sukses…….

Aku orang sukses…..Aku orang sukses….Aku orang sukses…..

Bila Anda ingin tahu lebih rinci tentang tujuan Role Play Games ini, silakan hubungi www.djajendra-motivator.com

Gaya Presentasi Training Yang Persuasif Mampu Mengubah Mind Set Audiens

“Presentasi Persuasif Memiliki Tujuan Membangun Mind Set Baru. Jadi, Trainer Tidak Menjual Produk Training, Tetapi Menjual Gagasan, Ide-Ide Baru, Dan Mengajak Audiens Untuk Berimajinasi Melampaui Teori Dan Konsep Lama.” – Djajendra

Salah satu teknik pelatihan yang berkembang saat ini adalah pelatihan dengan strategi persuasif, yaitu sebuah strategi presentasi yang terfokus kepada upaya untuk meyakinkan audiens, agar audiens terpengaruh untuk membangun mind set yang sesuai dengan harapan barunya. Teknik presentasi persuasif tidak sekedar tergantung kepada kehebatan isi slide presentasinya, tetapi lebih kepada kemampuan si trainer untuk membujuk halus supaya para audiens menjadi yakin akan kebenaran materi presentasi tersebut.

Sebuah training yang efektif haruslah di mulai dari trainer yang menguasai materi presentasi secara total dalam wawasan yang sangat luas. Trainer harus memiliki daya imajinasi yang sangat tinggi untuk menciptakan nilai-nilai dan solusi-solusi baru buat meyakinkan audiens terhadap hal-hal baru dan perubahan. Trainer dan trainee adalah dua kekuatan penting dalam membuat sebuah training menjadi efektif, hidup, dan bermanfaat. Trainee yang baik pasti tahu untuk bersikap proaktif dalam mengeksplorasi semua isi materi presentasi dengan logika dan akal sehat, sedangkan trainer yang baik pasti tahu cara untuk melakukan komunikasi melalui teknik presentasi persuasif dan tidak selalu tergantung kepada materi presentasi yang baku.

Dalam presentasi training yang persuasif, trainer harus mempresentasikan ide-ide baru yang lebih kompetitif buat membantu audiens. Ide-ide baru tersebut harus menjadi nasehat-nasehat yang cemerlang, agar audiens bisa melakukan perubahan dan perbaikan di dalam pekerjaan dan kehidupan pribadinya.

Pola presentasi persuasif harus memperkuat dialog di antara trainer dengan trainee. Trainer tidak boleh mengkontrol jalannya presentasi, tetapi selalu bersikap terbuka dengan ide-ide baru untuk membangun kepercayaan diri audiens. Trainer harus siap untuk menjawab setiap pertanyaan dari audiens melalui wawasan yang luas, dan yang paling penting, trainer harus mencoba untuk menjawab semua pertanyaan audiens dari sudut keinginan si audiens.

Hal terpenting yang harus dipahami trainer adalah bahwa presentasi dengan gaya persuasif tidak tergantung kepada kecanggihan slide show. Tetapi, lebih tergantung kepada kedewasaan dan kemampuan trainer sebagai pemberi nasehat yang ulung dan hebat.

Salah satu inti dari konsep presentasi persuasif adalah trainer harus fokus kepada kepentingan audiens, bukan kepada kepentingan trainer. Oleh karena itu, trainer harus memiliki informasi-informasi yang tepat tentang apa saja materi kebutuhan trainee, hanya setelah itu, trainer mulai dapat mempersiapkan slide presentasi yang tepat sasaran.

Fokus utama presentasi persuasif adalah membuat audiens mampu mengubah cara mereka melihat dan merasakan tentang sesuatu, untuk membuat mereka bergerak menuju tujuan dalam arah yang benar. Trainer harus memahami apa yang membuat audiens mau membuat keputusan untuk menerima ide-ide baru tersebut. Lalu, trainer harus mengidentifikasi dan mengembangkan semua harapan trainee dalam sebuah presentasi persuasif yang sesuai kebutuhan.

Konsep utama dari presentasi persuasif adalah menanamkan ide-ide baru ke dalam mind set audiens. Sebuah presentasi persuasif memiliki tujuan membangun mind set baru. Jadi, trainer tidak mungkin menjual produk training, tetapi trainer harus menjual gagasan, ide-ide baru, dan mengajak audiens untuk berimajinasi melampaui teori dan konsep lama.

Sikap Saya Terhadap Peserta Training

“Katakan Padaku, Dan Aku Akan Melupakannya. Tunjukkan Padaku, Dan Aku Mungkin Akan Mengingatnya. Biarkan Aku Melakukannya, Maka Aku Akan Bisa.” – Laotse

Di setiap pelatihan, saya selalu membangun kepercayaan diri peserta dan mendorong semangat mereka untuk menjadi lebih baik; saya selalu memberikan pujian kepada para peserta tentang kehebatan potensi yang mereka miliki; dan saya juga selalu memberikan penghargaan dan pengakuan terhadap setiap aktifitas dan kepedulian mereka di kelas dengan ucapan terima kasih.

Konsep saya sangat sederhana, yaitu mendorong potensi peserta untuk menjadi lebih terang, mengarahkan potensi peserta kepada misi dan visi perusahaan, dan mengajari peserta untuk selalu merawat semua potensi hebat yang ada di dalam diri mereka. Intinya, saya mengajarai para peserta untuk selalu peduli kepada semua kehebatan yang ada di dalam diri mereka dan sekaligus patuh pada aturan, peraturan, dan etika bisnis perusahaan.

Saya selalu meyakinkan setiap peserta bahwa mereka memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menjadi pribadi terbaik; saya selalu meyakinkan setiap peserta untuk meningkatkan kinerja di setiap tugas dan tanggung jawab; saya selalu meyakinkan setiap peserta untuk mengurangi dan menghapus semua konflik kepentingan di dalam pekerjaan; saya selalu meyakinkan setiap peserta untuk membangun kualitas diri dengan integritas, dan saya juga selalu meyakinkan setiap peserta untuk tumbuh melalui pengalaman hidupnya yang unik.

Sikap saya untuk membangkitkan kesadaran tertinggi peserta, dan mendorong peserta untuk mencapai kesuksesan tertinggi adalah sebuah sikap untuk memperjelas bahwa kekuatan keyakinan dan kepercayaan diri akan mengantar mereka kepada keberhasilan tanpa batas.

Saya selalu percaya bahwa setiap orang dilahirkan untuk meraih keberhasilan, dan setiap orang memiliki hak mutlak untuk menjadi seperti yang ia inginkan. Jadi, tugas saya sebagai seorang trainer adalah memberikan selengkap mungkin informasi dan petunjuk yang memungkinkan para peserta untuk menentukan langkah-langkah sukses mereka yang selanjutnya.

Pertanyaannya, apakah cara saya ini mampu mencairkan hati-hati beku yang sudah lama hidup di dalam mind set negatif dan pesimistis. Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya harus merenungkan setiap perilaku dari para peserta training di kelas saya. Pertama, ada peserta training yang secara sukarela membuka gerbang hati dan gerbang pikirannya untuk menerima nilai-nilai positif buat memperbaiki setiap ketidaksempurnaan yang ada di dalam diri mereka. Tetapi, ada juga peserta training yang mempertahankan sikap negatifnya dalam melihat setiap persoalan kehidupan yang dia temui. Walaupun  pelatihan adalah tempat melakukan proses pembelajaran terhadap nilai-nilai baru, tapi para pemikir negatif tetap berjuang keras untuk mempertahankan ideologi negatif mereka. Dan hal ini membuat saya harus bekerja lebih keras untuk memberikan pencerahan-pencerahan yang bersifat logika. Jadi, saat beradapan dengan para pemikir negatif, senjata saya adalah melakukan pencerahan melalui logika yang terang. Apakah ini berhasil? Di kelas biasanya berhasil, tapi di kehidupan nyata saya selalu berdoa agar mereka berhasil. Sebab, apakah para pemikir negatif mau merubah ideologi negatif dengan ideologi positif?

Learning Centre

“Seumur Hidup Saya Tak Pernah Bekerja. Yang Saya Lakukan Hanyalah Bersenang-Senang.” – Thomas Edison

Perusahaan pembelajar. Di zaman pemberdayaan ini, hanya perusahaan-perusahaan pembelajarlah yang akan mampu melakukan transformasi semangat dan nilai-nilai organisasi ke dalam batin sumber daya manusia,  sehingga harapan perusahaan pada kualitas sumber daya manusia dapat dicapai dengan maksimal.

Sabtu, 8 Agustus 2009, ketika saya menjadi nara sumber di acara peluncuran kartu core value sebuah perusahaan finance, yang diadakan di Learning Centre perusahaan tersebut di Rancamaya – Bogor.

Saya melihat ada sebuah semangat yang luar biasa besar  dalam perusahaan tersebut, untuk membangun kualitas sumber daya manusia yang unggul dan yang dapat dipercaya.

Keseriusan perusahaan finance tersebut diwujudkan melalui sebuah Learning Centre yang dilengkapi dengan fasilitas kampus termodern plus fasilitas hotel berbintang. Lebih dari dua ratus kamar berkualitas tinggi disiapkan untuk menampung para karyawan, agar para karyawan tidak sekedar belajar tapi juga benar-benar berlibur untuk melakukan penyegaran diri.

Saya percaya bahwa setelah selesai proses pembelajaran di Learning Centre tersebut, para karyawan pasti mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru, untuk kemudian lebih memantapkan diri berjuang bersama visi perusahaan.

Kembali ke soal acara peluncuran kartu core value. Saya melihat ada semangat yang begitu besar, baik itu dari level top manajemen, maupun sampai ke level terbawah, untuk membangun komitmen yang tulus terhadap core value perusahaan.

Para peserta acara tersebut sangat paham betul bahwa core value akan menjadi efektif, bila butir-butir di dalam core value tersebut diterima secara tulus dan sukarela oleh setiap karyawan dan pimpinan. Mereka juga paham bahwa core value harus menjadi alat untuk membangun perilaku baru sesuai dengan visi dan misi perusahaan. Intinya, mereka semua kompak untuk bekerja berdasarkan core value yang mereka miliki.

Kembali ke soal Learning Centre.

Saya benar-benar kagum dengan konsep dan metode pembelajaran yang digunakan di Learning Centre tersebut. Upaya mensosialisasikan core value perusahaan kepada para karyawan dilakukan secara visual, konseptual, dan juga pencerahan. Di mana, ada proses untuk menggugah kesukarelaan para karyawan untuk mempersatukan barisan dan memperkuat komitmen kerja dengan core value.

Ada konsep untuk membuang mind set lama dan diganti ke mind set baru yang sesuai dengan core value perusahaan.

Learning centre merupakan kampusnya perusahaan, yang berfungsi sebagai tempat pembelajaran hal-hal yang baru yang strategis.

Learning Centre juga bisa berfungsi sebagai laboratorium perusahaan untuk melakukan berbagai penelitihan terhadap sistem manajemen, model kerja, model bisnis, etos kerja, budaya perusahaan, membangun visi pribadi, visi kepemimpinan di perusahaan, dan juga untuk membangun visi bersama.

Sudahkah perusahaan Anda membangun learning centre buat memberdayakan semua potensi sumber daya manusia perusahaan?

Saat Pemimpin Menjadi Supertrainer

“Walaupun Mungkin Seorang Pemimpin Tidak Terlibat Dalam Proses Perekrutan Dan Pemberhentian Para Stafnya, Tapi Ia Masih Bisa Melatih Mereka Untuk Menjadi Pribadi-Pribadi Yang Andal Dan Profesional.”-Djajendra

Organisasi masa depan menuntut pemimpin tidak hanya sekedar menjadi bos yang perintah sana perintah sini, tapi menjadi pemimpin yang mampu membimbing, mengarahkan, dan memberi rasa nyaman kepada semua bawahan.

Pemimpin harus bertindak dengan efektif untuk menemukan keberhasilan dengan dukungan dari para staf yang terlatih secara profesional. Dan untuk itu, pemimpin wajib memposisikan dirinya sebagai supertrainer yang membantu para stafnya menemukan kualitas kerja terbaik dalam diri mereka masing-masing.

Walaupun mungkin seorang pemimpin tidak terlibat dalam proses perekrutan dan pemberhentian para stafnya, tapi ia masih bisa melatih mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang andal dan profesional dalam upaya menyelesaikan pekerjaan mereka di kantor secara bijak.

Peran pemimpin sebagai supertrainer berbeda dengan peran bos dalam proses penyelesaian pekerjaan. Pemimpin sebagai supertrainer wajib menjalankan peran sebagai seorang pengamat, pembimbing, pengarah, pengkritik, pendidik, dan pemberi solusi.

Pemimpin harus mampu menggabungkan antara pengalaman akademis dan pengalaman praktis, sehingga mampu menjalankan peran secara optimal untuk menjadikan para trainee atau pun para staf memiliki wawasan dan keterampilan yang berkualitas tinggi.

Istilah supertrainer yang digunakan dalam tulisan ini menunjukkan bahwa peran pemimpin sebagai trainer itu total dan tidak sama seperti peran, fungsi, dan tanggung jawab trainer-trainer biasa. Seorang supertrainer harus dekat dengan trainee dan harus memiliki intuisi, empati, dan niat baik untuk menegakkan nilai-nilai profesionalisme di tempat kerja secara total dan utuh.

Fungsi pemimpin sebagai supertrainer adalah sebagai pelaku inti dalam proses transformasi pengetahuan, wawasan, dan keterampilan menjadi nilai-nilai yang siap untuk dikerjakan dan dikembangkan oleh trainee.

Pemimpin tidak boleh sekedar menjadi trainer, tapi juga menjadi komunikator yang mampu menyampaikan semua pesan secara jelas, efisien, dan efektif.

Tanggung jawab pemimpin sebagai supertrainer adalah mempersiapkan tema pelatihan yang tepat sasaran dan sesuai kebutuhan trainee. Sebaiknya, pemimpin bersama para trainee menentukan pokok-pokok pikiran yang akan menjadi materi pelatihan.

Pemimpin juga memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan trainee ke dalam proses belajar yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas karakter, kemampuan personal, skill yang sesuai dengan tuntutan kerja, dan kesadaran untuk memiliki perusahaan.

Pemimpin sebagai supertrainer harus mampu mengamati dan mempelajari semua bakat dan potensi trainee. Selanjutnya, semua bakat dan potensi itu di motivasi untuk berprestasi di tingkatan yang lebih tinggi.

Pemimpin juga tidak boleh membiarkan orang-orang yang berkualitas tinggi diam dan tidak berkontribusi buat kemajuan organisasi.

Sebagai supertrainer pemimpin wajib mengeksplorasi semua bakat dan potensi trainee secara maksimal, agar para trainee yang juga merupakan para staf dapat berprestasi secara maksimal, serta dapat berperan aktif dalam menciptakan solusi-solusi hebat buat kesuksesan organisasi.

Role Play untuk Pelatihan

“Setiap Pergerakan Hebat Dan Berpengaruh Dalam Rangkaian Kejadian Di Dunia Ini Merupakan Kejayaan Dari Antusiasme. Tidak Ada Kehebatan Apa Pun Yang Dapat Dicapai Tanpanya.” – Ralph Waldo Emerson

Role play atau permainan peran adalah salah satu sesi penting di setiap pelatihan karyawan. Melalui role play suasana pelatihan menjadi penuh tawa dan kritis. Suasana ngantuk pun bisa berubah menjadi penuh gairah. Intinya, role play selalu mampu memberikan energi yang membuat para peserta tetap bersemangat bersama acara pelatihan. Jadi, Semakin sering para peserta tertawa kritis, maka semakin hidup dan bergairah acara pelatihan tersebut.

Dalam sebuah acara pelatihan good corporate governance – etika bisnis, saya membuat sebuah role play dengan skenario yang sangat sederhana, tapi bisa mengundang lelucon, tawa, dan sikap kritis peserta. Bunyi skenarionya seperti berikut,”  isteri Anda dicurigai telah menerima komisi dari mitra bisnis perusahaan Anda. Dan, Anda adalah orang yang ikut membuat keputusan terhadap tender perusahaan dengan mitra bisnis tersebut. Perusahaan memiliki bukti-bukti aliran dana dari mitra bisnis ke rekening isteri Anda. Sekarang Anda sedang diperiksa oleh tim GCG. Bagaimana cara Anda menjelaskan hal ini kepada atasan dan departemen GCG?”

Untuk skripnya bersifat bebas, di mana para peserta harus secara spontan mengeluarkan kata-kata dialog atau pun monolog sesuai suara hati mereka. Intinya, skenario di atas hanyalah sebagai petunjuk dasar, dan semua permainan peran dilakukan secara bebas sesuai suara hati nurani para peserta.

Biasanya setelah pertunjukkan drama “role play” selesai, pasti akan ada diskusi dan perdebatan. Dan, kebetulan di acara pelatihan ini ada seorang peserta yang begitu antusias dan sedikit ngotot. Si peserta berkata,” kalau saya dijebak bagaimana, mungkin saya tidak tahu tentang aliran uang itu, dan mungkin isteri saya juga ikut menjebak saya.” Sepertinya si peserta telah terhipnotis dengan drama “role play” tersebut, dan menjadi begitu perasa dan sensitif dengan setiap kata-kata yang diucapkan oleh para pelakon drama tersebut.

Hidup ini adalah belajar dari kesalahan, ketika kita sadar dan tulus untuk memperbaiki kesalahan, maka kita pun akan tumbuh menjadi lebih bermanfaat buat kehidupan banyak orang. Demikian juga dengan role play etika bisnis tersebut, walaupun itu hanya sebuah permainan, tapi nilai-nilai yang ada dalam permainan tersebut seharusnya dijadikan pelajaran untuk tidak membuat kesalahan yang sama.

Dalam setiap sesi role play, saya selalu ingin mengajarkan nilai-nilai moral. Nilai-nilai moral yang mampu membedakan tentang benar dan salah, tentang baik dan buruk. Sebab, sekali kita menjadi pribadi yang tak mampu membedakan mana yang baik dan buruk, dan mana yang benar dan salah, maka kita akan berada dalam skenario kehidupan yang penuh dengan energi negatif, yang membuat diri kita terjebak bersama penderitaan batin untuk selama-lamanya.

Saya Diminta Untuk Menyentuh Perasaan Dan Pikiran Karyawan

“Segala Sesuatu Yang Kita Ketahui Kita Pelajari Dari Orang Lain.” – John Wooden

Sekarang ini sangat banyak perusahaan-perusahaan di Indonesia yang memiliki kesadaran untuk melakukan pelatihan terhadap pengembangan kualitas sumber daya manusianya. Pada umumnya, jenis pelatihan yang paling diminati adalah yang terfokus kepada pengembangan kualitas karyawan dibidang etika, etos, kepemimpinan, motivasi, pelayanan, penjualan, dan berpikir positif.  Di mana, bidang-bidang di atas itu diarahkan  agar para karyawan bisa bekerja lebih giat, lebih disiplin, lebih bertekad, lebih fokus, lebih yakin, lebih percaya diri, lebih berinisiatif, lebih gigih, lebih berkarakter, lebih berkualitas, lebih bersemangat, dan lebih profesional.

Untuk materi pelatihan, tidak selalu perusahaan harus fokus kepada hal-hal yang bersifat normatif, teori, dan konseptual. Sebaiknya, perusahaan juga harus lebih peduli kepada konsep materi pelatihan yang bersifat moral, motivasi, pencerahan, dan tips-tips sederhana untuk membantu kehidupan karyawan bersama perusahaan. Sebab, hal-hal yang bersifat moral, motivasi, dan pencerahan akan langsung menyentuh hati nurani karyawan untuk lebih bertanggungjawab terhadap semua fungsi dan peran kerja mereka bersama perusahaan.

Dari pengalaman saya, saya sering bertemu dengan berbagai macam kualitas dari para penentu pelatihan. Ada orang-orang yang luar biasa hebat dan sangat memahami materi pelatihan seperti apa yang harus diberikan kepada karyawannya, tapi banyak juga yang tidak memahami kebutuhan pelatihan karyawannya. Saya melihat bahwa seorang pembuat keputusan untuk pelatihan karyawan haruslah seorang pribadi dewasa yang cerdas dengan kekuatan empati dan pikiran positif terhadap perkembangan karir karyawan di perusahaan.

Saya memiliki sebuah pengalaman yang luar biasa hebat dengan orang-orang yang luar biasa. Suatu pagi saya menerima email yang sangat sederhana, yang menanyakan kesediaan saya untuk menjadi pembicara etika bisnis di dua puluh cabang perusahaannya di seluruh Indonesia. Dan, saya membalas email dengan mengatakan saya bersedia menjadi pembicara di dua puluh cabang perusahaannya. Semua proses berjalan begitu singkat dan begitu sederhana. Beberapa hari kemudian saya bertemu dengan tim tersebut, ternyata tim yang mengundang saya ini adalah pribadi-pribadi yang sangat berpengalaman dan luar biasa luas wawasannya.  Saya bertanya tentang materi yang mereka inginkan, dan jawaban mereka sangat singkat, yaitu meminta saya menyentuh perasaan dan pikiran karyawan mereka untuk menjalankan panduan etika bisnis perusahaan secara jujur dan benar. Titik. Hanya itu saja pesan mereka kepada saya. Karena pesan dari orang-orang luar biasa itu begitu jelas dan sederhana, maka saya bisa mendisain materi presentasi yang sesuai harapan mereka, yaitu menyentuh perasaan dan pikiran karyawan untuk menjalankan panduan etika bisnis perusahaan secara sempurna.

Komunikasi yang jelas dan sederhana antara perusahaan dengan nara sumber akan menjadikan sebuah pelatihan lebih berkualitas. Termasuk, ruang training dengan pencahayaan yang baik, dan sound system yang sempurna akan membuat suasana training semakin luar biasa.

Newer posts