PT DJAJENDRA MOTIVASI UNGGUL

Leadership Organization Business Personal Interpersonal Entrepreneurs and Employed Professionals

Category: Cultural Collaboration (page 3 of 3)

Budaya Kolaborasi

MEMBANGUN TEMPAT KERJA YANG DAPAT DIPERCAYA OLEH KARYAWAN

DJAJENDRA PROFILE“Salah satu fungsi manajemen bukanlah untuk melanggar janji dan komitmen kepada karyawan, tetapi untuk membangun nilai-nilai kerja yang membuat karyawan ikhlas untuk mengabdi kepada perusahaan.” ~ Djajendra

Karyawan merupakan salah satu aset utama dari bisnis dan organisasi. Bila manajemen gagal membangun rasa percaya karyawan kepada perusahaan, maka karyawan akan menjadi beban yang menghambat kemajuan bisnis.

Manajemen yang baik selalu tahu bahwa loyalitas dan kepercayaan karyawan kepada perusahaan, akan memudahkan pencapaian kinerja dan misi perusahaan.

Lingkungan kerja dengan energi transparansi, akuntabilitas, dan keaslian, akan membangun hubungan kerja yang saling percaya. Di mana, komitmen, motivasi, kreativitas, integritas, dan loyalitas akan menjadi energi yang mendorong pencapaian kinerja dan prestasi.

Bila manajemen memperlakukan karyawan dengan sepenuh hati sebagai mitra kerja yang dihormati, maka karyawan juga akan memperlakukan perusahaan dan pelanggan dengan sepenuh hati dan totalitas.

Nilai-nilai apa yang perusahaan tanamkan ke dalam mindset karyawan, nilai-nilai itulah yang akan dikontribusikan oleh karyawan dalam perilaku kerja sehari-hari.

Pimpinan yang jujur, serta tim manajemen yang peduli kepada karir dan masa depan karyawan, akan menjadikan karyawan semakin mencintai perusahaannya.

Loyalitas tidaklah dapat dibeli, tetapi didapatkan dari rasa hormat.

Perusahaan akan mendapatkan loyalitas dari karyawannya, bila perusahaan cerdas mengaliri mindset karyawan dengan ide-ide yang bersumber dari energi transparansi, akuntabilitas, integritas, dan keaslian karakter manajemen.

Setelah perusahaan menjadi tempat yang paling dipercaya oleh karyawan, maka ide-ide brilian yang kreatif akan mengalir untuk memperkuat perusahaan.

Karyawan akan menjadi aset perusahaan yang sesungguhnya, saat rasa percaya karyawan kepada perusahaan dan tim manajemen mencapai puncaknya.

Tempat kerja atau lingkungan kerja yang profesional didasarkan pada sikap yang saling menghormati antara manajemen dan karyawan, sikap yang saling menjaga kepercayaan dan niat baik, sikap dan perilaku kerja yang patuh pada etika, serta sikap dan perilaku kerja yang cerdas berkomunikasi secara  jelas dan konsisten.

Lingkungan kerja yang sehat adalah yang menghormati umpan balik, dan memiliki perilaku kerja yang proaktif, untuk mengambil tindakan yang tepat agar dapat menjaga perusahaan pada arah visi yang benar.

Energi transparansi akan meniadakan semua agenda tersembunyi, dan menjadikan perusahaan sebagai ruang kerja yang terang menderang. Energi akuntabilitas akan membangun rasa tanggung jawab dan juga sikap untuk mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah dilakukan. Energi keaslian jati diri akan membangun perusahaan dengan integritas dan kesetiaan yang tinggi. Aliran ketiga energi tersebut di lingkungan kerja akan menjadikan tempat kerja dipercaya setiap karyawan dan pimpinan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KOLABORASI MERINGANKAN BEBAN BESAR

“Kolaborator tidak mengenal musuh dan teman, mereka hanya mengenal kepentingannya. Dan akan bekerja sama dengan pihak manapun, dengan siapapun agar mendapatkan kekuatan yang lebih besar, untuk memenangkan tujuan kelompoknya, yang bila dikerjakan sendiri tidak mungkin bisa berhasil.” ~ Djajendra

Kolaborasi adalah perbuatan kerja sama dengan siapapun yang didasarkan oleh kepentingan bersama. Kolaborasi dapat terjadi dengan musuh, dengan orang-orang yang berbeda ideologi, dan dengan siapa saja selama kepentingannya itu sama.

Kolaborasi bisa berada di dalam kekuatan baik ataupun kekuatan tidak baik. Ketika kekuatan tidak baik berkolaborasi dalam wujud berkomplot, bersekutu, berangkulan, bermitra, dan saling bekerja sama untuk niat tidak baik mereka; maka, kekuatan tidak baik tersebut akan menjadi solid untuk memenangkan niat dan tujuan mereka.

Demikian juga dengan kekuatan baik. Bila kekuatan baik berkolaborasi untuk mewujudkan niat dan tujuan baik mereka, maka kekuatan baik ini akan menjadi solid untuk memenangkan niat dan tujuan mereka.

Karena dasar kolaborasi adalah kepentingan dan bukan bersumber dari keyakinan, ideologi, maupun visi yang berkelanjutan; maka, kolaborasi sering sekali sifatnya jangka pendek, dan saat kepentingannya tercapai, semua kolaborator akan kembali ke sifat aslinya, yaitu hidup demi kepentingannya sendiri dan bukan kepentingan kolektif dari semua kolaborator.

Ketika para kolaborator mencapai kepentingannya, maka setiap kolaborator akan berusaha untuk memaksimalkan keuntungan sendiri tanpa memperhatikan situasi kolaborasi keseluruhan. Dan biasanya, tidak akan ada pencapaian pada visi yang digambarkan, karena saat kemenangan didapatkan, mulai saat itu sifat asli dari para kolaborator akan muncul, untuk memaksimalkan keuntungan dan kepentingan kelompok masing-masing.

Kolaborator sering sekali terjebak dalam perangkap oligarki. Dalam bisnis dan politik hal ini sudah biasa terjadi. Beberapa perusahaan yang berkolaborasi untuk menguasai sebuah bisnis, akan membatasi ataupun mematikan kemunculan pebisnis baru dibidang yang mereka kuasai. Intinya, para kolaborator itu ingin menguasai dan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak atas semua kepentingan mereka.

Demikian juga dalam politik, beberapa partai politik akan berkolaborasi untuk memenangkan pemilu, lalu menjalankan kekuasaan ataupun pemerintahan secara bersama-sama. Dalam praktik kolaborasi yang oligarki, biasanya hanya akan menguntungkan para kolaborator. Dan juga, para kolaborator itupun masing-masing akan berkonflik di internal mereka, karena sifat asli mereka hanyalah untuk memperjuangkan kepentingannya masing-masing.

Kolaborasi bukanlah hal yang mudah untuk diterapkan di internal organisasi. Sebab, sebuah organisasi terbentuk oleh fungsi, peran, struktur, sistem, prosedur, budaya, tata kelola, dan kepemimpinan yang sifatnya permanen. Sedangkan kolaborasi sifatnya mencapai sebuah kepentingan atau sasaran dalam jangka waktu tertentu. Jadi, kolaborasi hanyalah sesuai untuk diterapkan terhadap tim yang ditugaskan untuk mencapai sebuah target atau goal dalam jangka waktu tertentu.

Penerapan kolaborasi di dalam tim kerja membutuhkan fondasi kepercayaan dan pengaruh. Kepercayaan dan pengaruh haruslah ditanamkan oleh pimpinan tim kepada setiap anggotanya agar mereka mau menjadi kolaborator yang efektif, untuk mencapai sebuah target atau goal yang dipercayakan kepada tim mereka. Dan harus diingat bahwa kolaborasi di tim kerja bukanlah murni kolaborasi. Sebab, setiap anggota tim sebagai kolaborator masih bisa dikendalikan oleh perusahaan melalui visi, misi, dan nilai-nilai kerja yang mengikat mereka dalam loyalitas. Karyawan atau anggota tim yang menjalankan peran kolaborator masih tergantung kepada gaji, perintah, kebijakan, budaya, tata kelola, dan prosedur perusahaan. Jadi, mereka tidak mungkin berperilaku seperti para kolaborator dalam kolaborasi murni.

Kolaborasi murni pada umumnya terjadi antar negara oleh sebuah kepentingan bersama, antar partai politik juga oleh kepentingan bersama, dan antar perusahaan untuk mengamankan kepentingan bisnis mereka secara keseluruhan. Dalam hal ini, kesetiaan peserta kolaborator tidaklah dapat dijamin. Potensi pengkhianatan terhadap kolaborasi tetaplah besar. Sebab, mereka berkolaborasi bukan untuk mewujudkan visi atau mimpi bersama, tetapi untuk memenangkan kepentingan masing-masing dengan memanfaatkan energi besar dari kekuatan kolaborasi tersebut.

Kolaborasi bertujuan untuk meringankan beban besar. Tetapi, karena energi kolaborasi ada di dalam kepentingan, maka energi ini pada akhirnya hanya akan memanfaatkan kekuatan besar, untuk mewujudkan kepentingan kelompok, tanpa peduli kepada kepentingan yang lebih luas.

Kolaborator selalu akan berhadapan dengan situasi yang lebih kompleks setelah mencapai kemenangan atas perjuangan mereka. Setelah mereka sukses meraih kemenangan dari kolaborasi mereka, selanjutnya mereka akan masuk ke dalam dunia nyata sehari-hari. Di sini, mereka akan berhadapan dengan realitas bahwa mereka bersumber dari perbedaan-perbedaan yang sangat tajam. Perbedaan-perbedaan itu bisa saja dari ideologi yang sangat jauh, pola pikir, ataupun karena sebelumnya sudah menjadi musuh klasik. Jadi, setelah menang, para kolaborator bisa lebih dramatis lagi perjuangannya untuk mewujudkan kepentingan masing-masing.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

LINGKUNGAN KERJA YANG POSITIF MENINGKATKAN MOTIVASI KERJA

2013-04-221“Setiap orang suka dengan pujian, dan tidak suka dengan kritikan. Saat Anda harus memberikan tanggapan kepada seseorang, pastikan Anda merespon dengan positif. Bila ingin mengkritik, gunakan kata-kata positif dan jangan merendahkan dirinya.” ~ Djajendra

Lingkungan kerja yang positif akan membangun hubungan yang kuat dengan rekan kerja, bawahan, pimpinan, pelanggan, serta dengan semua pemangku kepentingan yang lainnya.

Perilaku kerja dengan tata kelola yang konsisten berdasarkan nilai-nilai organisasi yang kuat, akan memiliki dampak positif, untuk meningkatkan disiplin dan motivasi kerja setiap orang di dalam organisasi. Keberhasilan atau kegagalan di tempat kerja sangat ditentukan oleh soliditas di lingkungan kerja. Semakin antusias dan disiplin orang-orang melayani pekerjaan masing-masing, semakin kuat hubungan kerja yang akan terjalin di lingkungan kerja tersebut.

Setiap fungsi dan peran di tempat kerja tidaklah boleh saling menjauh, tetapi harus saling mengisi dengan berkomunikasi secara aktif, untuk mengumpulkan masukan sebelum mengambil keputusan. Perilaku kerja dalam kebebasan kreatif; dalam kemampuan untuk menahan diri; serta dalam kecerdasan untuk menghadapi tantangan dan risiko, akan menjadi modal yang kuat untuk menjaga lingkungan kerja selalu solid dan positif.

Setiap orang di tempat kerja harus mempersiapkan sebuah kebiasaan kerja yang fokus pada hal-hal penting dan prioritas. Sikap fokus pada prioritas ini akan membantu orang-orang untuk berkontribusi dan melayani tujuan dengan tepat sasaran. Membiasakan pola kerja dengan sebuah checklist, akan memudahkan dan membantu dalam menyelesaikan prioritas pekerjaan. Pimpinan harus selalu memperjelas harapan dan memastikan bahwa disiplin dan motivasi kerja yang tinggi selalu bersama perilaku kerja, dan tidak pernah bergeser ke arah negatif oleh alasan apapun.

Budaya kerja yang memberikan tanggapan positif  dengan toleransi untuk kemajuan bersama. Setiap orang di tempat kerja, apakah itu manajer, direksi, staf, dan semua pemangku kepentingan lainnya wajib untuk saling memberikan tanggapan positif.  Kesadaran masing-masing pihak untuk menyadiri kesalahan atau kegagalan yang disebabkan oleh dirinya atau unit kerjanya, akan membuat organisasi tumbuh sehat dan kuat.

Sikap saling salah menyalahkan hanya akan memperburuk hubungan kerja, dan pada akhirnya akan membahayakan keutuhan organisasi. Karena, konflik dari hubungan buruk tersebut dapat membuat setiap orang gagal merespon risiko dengan pengetahuan dan akal sehat.

Hubungan kerja yang saling memberikan informasi yang berguna, serta saling menjalankan manajemen risiko mulai dari pekerjaan masing-masing, akan menjadikan hubungan kerja tersebut lebih bertanggung jawab. Sikap rendah hati dalam kecerdasan emosional akan menempatkan setiap orang selalu bekerja dalam suasana hati yang bahagia. Sehingga, setiap kesalahan atau kelalaian akan dengan cepat dapat diperbaiki.

Lingkungan kerja yang positif dihasilkan dari energi kolaboratif  dan disiplin. Bila semua karyawan dan pimpinan dapat membangun hubungan yang harmonis, dan dapat bekerja dengan dukungan energi kolaboratif  tanpa pamrih, termasuk mendapatkan rasa hormat atas semua energi positif  yang mereka kontribusikan kepada organisasi; maka, lingkungan kerja tersebut akan menjadi sangat produktif, efektif, kreatif, efisien, dan penuh energi bahagia.

Pemimpin yang berkualitas pasti akan membantu setiap orang di tempat kerja untuk mendapatkan pola pikir yang benar. Mulai dengan bahasa komunikasi yang sopan dengan tatakrama yang etis, serta melakukan pengembangan kepribadian karyawan dengan konsisten dan berkelanjutan. Termasuk, mempersiapkan karyawan dengan pola berpikir yang dilengkapi kecerdasan emosional, untuk dapat mengatasi semua potensi konflik, akibat dari perbedaan persepsi yang ditimbulkan oleh perbedaan dari fungsi dan peran kerja masing-masing pihak.

Orang-orang yang bekerja dengan perasaan senang dan bahagia selalu berkontribusi lebih. Karyawan dan pimpinan yang bahagia dengan lingkungan kerja pasti bekerja lebih kreatif, menghasilkan hasil yang lebih berkualitas dan juga menjadi lebih produktif. Perasaan bahagia akan membuat hati ikhlas untuk bekerja ekstra, dan ikhlas untuk berbagi pengetahuan dengan yang lain.

Sikap positif dalam motivasi dan disiplin kerja yang tinggi akan menular; untuk menciptakan suatu lingkungan kerja yang kuat, unggul, terarah, dan melibatkan semua pihak dalam kolaborasi dan soliditas kerja yang produktif. Pimpinan dan tim manajemen harus mampu menjadi teladan yang memfokuskan semua energi organisasi ke arah positif. Lalu, mampu menjadi kekuatan yang membuat setiap individu di dalam organisasi bekerja menuju kebahagiaan, kesenangan, keterlibatan, dan masing-masing dapat memaknai pekerjaan dengan optimis.

Lingkungan kerja yang positif pasti membuat setiap orang menikmati hubungan kerja dan lingkungan tempat mereka bekerja. Setiap orang pasti mampu tertawa, bahagia, sehat, damai, dan merasakan energi positif di sekitar kehidupan kerja mereka. Dan hal ini, pasti akan memotivasi jiwa dan sikap ikhlas dari masing-masing hati, untuk mengisi peran kerja, yang sesuai dengan kompetensi dan keahlian masing-masing dengan antusias dan penuh optimistis.

Lingkungan kerja yang positif selalu dibangun dan dikembangkan dengan pengaruh positif dari kepemimpinan, budaya organisasi, dan manajemen. Sifat manusia tidak suka dipaksa atau didorong dengan ambisi, tetapi lebih suka dipengaruhi dan diyakinkan tentang manfaat dari terciptanya lingkungan kerja yang positif dan kuat. Jadi, ketika Anda memutuskan untuk membangun lingkungan kerja yang positif dan kuat, pastikan Anda sebagai pemimpin mampu menularkan pengaruh yang kuat, untuk mengajak setiap orang berkontribusi  dalam penguatan lingkungan kerja yang positif dan produktif.

Setiap penularan atau pengaruh akan merangsang terciptanya perubahan. Dalam perubahan orang-orang membutuhkan panduan dan bimbingan untuk mengubah perilaku, serta bimbingan untuk dapat beradaptasi dengan hal-hal baru dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif.

Pemimpin yang berkualitas selalu akan mendengarkan semua kebutuhan yang diperlukan selama masa adaptasi. Jadi, dia tidak akan sekedar berpidato berapi-api, lalu menyerahkan perubahan itu kepada masing-masing individu atau kelompok. Tetapi, dia akan terlibat di setiap momen untuk memahami, membantu, mendengarkan, belajar, menahan diri, dan menawarkan perbaikan-perbaikan yang cepat dan tepat sasaran. Dan, dia akan bekerja dengan totalitas untuk mewujudkan lingkungan kerja yang positif, serta selalu mengawal setiap kondisi dan situasi, agar para karyawannya mampu bekerja dengan disiplin dan motivasi yang tinggi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MEMOTONG KECIL-KECIL AKAR MASALAH, LALU DIHAPUS UNTUK SELAMANYA

DSCN9565

“Tidak semua masalah akan membuat orang-orang menjadi tidak bahagia, dan tidak semua solusi akan membuat orang-orang bahagia. Dalam hidup, masalah dan solusi selalu akan ada untuk memberikan beberapa jawaban bagi yang ingin terus bergerak bersama hidupnya, dan bagi yang ingin terus-menerus mengeksplorasi kehidupan.” ~ Djajendra

Ketika berhadapan dengan masalah, Anda harus menemukan metode terbaik buat menyelesaikan masalah tersebut.  Salah satu metode terbaik adalah menemukan akar persoalan dari masalah tersebut, lalu kombinasikan akal sehat dengan pengetahuan yang terbuka dan berkembang, untuk diterapkan secara kreatif terhadap masalah tersebut.

Sebuah masalah tidaklah boleh menyimpan atau menyembunyikan akar persoalan. Bila akar persoalan dari masalah tersebut pura-pura diabaikan, maka masalah tersebut akan terus-menerus hadir untuk menghapus semua solusi yang pernah dibuat. Hal terbenar dalam penyelesaian masalah adalah menemukan kekuatan tertinggi dari akar persoalan, kemudian memiliki komitmen dan disiplin yang tinggi, untuk membangun kekuatan yang lebih besar sebagai penyeimbang ataupun penghapus akar persoalan, agar akar persoalan menjadi tidak berdaya, dan tidak lagi terus tumbuh dalam berbagai wujud masalah.

Kemampuan untuk menghapus mata rantai dari akar persoalan akan menjadi awal dalam pengembangan solusi. Memotong kecil-kecil akar masalah, serta menghapus potongan kecil-kecil dengan kekuatan yang konsisten untuk menuntaskan mata rantai dari akar masalah, akan menjadikan masalah tersebut kehilangan daya dan energi untuk tumbuh kembali.

Solusi yang paling tepat untuk setiap masalah, adalah menjadikan masalah tersebut tidak memiliki kemampuan, untuk bangkit dengan berbagai wujud masalah baru. Miliki strategi dan taktik yang fokus pada akar masalah, lalu tuntaskan akar masalah dengan solusi yang paling kuat dan efektif.

Solusi terbaik akan muncul saat Anda bertindak dengan tegas, serta memiliki keinginan dan antusias untuk pencapaian  solusi yang berkekuatan pasti dalam menuntuskan masalah tersebut untuk selamanya. Dengan kerendahan hati dan langkah –langkah sederhana, Anda dapat langsung masuk dan fokus pada akar masalah, dan tidak sekedar mencari solusi untuk semua masalah yang terlihat dipermukaan saja, tetapi benar-benar bekerja pada solusi di akar masalah.

Jika Anda tidak benar-benar bertindak dan bekerja di titik akar terendah dari masalah tersebut. Maka, Anda tidak akan pernah mampu menyelesaikan masalah dengan tuntas, Anda hanya berkemampuan untuk meredam masalah yang tampak dipermukaan, dan di titik akar masalah, masalah itu tetap akan tumbuh, untuk kemudian kembali muncul kepermukaan. Artinya, semua solusi Anda sifatnya sementara, dan bukan menyelesaikan masalah sampai tuntas.

Setiap masalah haruslah dieksplorasi sampai pada kedalaman yang paling dalam. Lalu, dengan kesadaran dan tanggung jawab, masalah tersebut harus ditemukan solusinya, kemudian melakukan penyembuhan pada luka-luka yang ditimbulkkan oleh masalah tersebut, baik dalam kehidupan pribadi maupun pada kehidupan sosial.

Dalam proses penyelesaian masalah pasti ada pihak yang bahagia dan ada juga pihak yang kurang bahagia. Diperlukan sikap terbaik dan tegas untuk mendekati setiap masalah. Dan, diperlukan solusi yang kuat, agar yang tidak bahagia dengan solusi tersebut, tidak menyusun kekuatan kembali untuk bangkit dan menciptakan masalah yang lebih besar.

Kita semua hidup dalam dunia yang tercipta dari sudut pandang kita masing-masing. Sudut pandang dalam wujud perspektif  individu, kelompok, dan sosial; sudut pandang yang tercipta dari cara kita berpikir, cara kita berkeyakinan, cara kita menafsirkan makna, dan cara kita memahami diri sendiri. Artinya, dalam kehidupan yang sangat berwarna dan beragam ini, kita masing-masing akan selalu hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan. Selama semua perbedaan itu tumbuh dan berkembang di ruang toleransi dan cinta, maka sangatlah mudah untuk menyelesaikan semua akar masalah dari perbedaan itu. Tetapi, bila semua perbedaan itu tumbuh dalam ruang ego dan fanatisme kebenaran sepihak, serta tidak ada ruang bagi toleransi dan cinta, maka akar masalah akan menjadi sesuatu yang tidak mudah untuk dituntaskan dengan solusi yang adil.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MEMBUAT BUDAYA PERUSAHAAN SELALU KUAT DENGAN PERUBAHAN

DJ876“Budaya perusahaan adalah sesuatu yang hidup dan selalu membutuhkan perubahan, agar dapat menjadi semakin kuat untuk berfungsi sesuai zaman.” ~ Djajendra

Ketika sebuah bisnis membutuhkan cara kerja dan budaya perusahaan yang baru, sedangkan sumber daya manusianya belum siap, atau tidak mampu memahami kebutuhan tersebut, maka bisnis tersebut secara perlahan akan mengalami kemunduran.

Sering sekali, penyebab tidak disesuaikannya budaya perusahaan dengan realitas zaman, bersumber dari tidak terbukanya pikiran kepemimpinan perusahaan, untuk melakukan perubahan. Rutinitas dan kesibukan sehari-hari selalu membuat orang-orang terbiasa dengan cara kerja yang lama, termasuk bekerja dalam budaya organisasi yang monoton, kurang kreativitas, dari waktu ke waktu, tanpa pernah bergeser dari cara berpikir yang lama.

Kemauan dan kecerdasan untuk menata ulang budaya perusahaan, agar sistem nilai, dan nilai-nilai yang mendukung budaya tersebut, dapat menjadi sebuah bangunan yang menguatkan aktivitas bisnis dan organisasi. Dalam hal ini, budaya perusahaan haruslah menciptakan norma-norma baru yang sesuai dengan situasi dan tantangan. Bila norma-norma telah disesuaikan, maka semua aturan dan pedoman kerja dapat memandu perilaku kerja yang sesuai dengan situasi dan harapan.

Budaya perusahaan haruslah dapat menjadi sistem untuk berbagi nilai dalam satu persepsi; berbagi norma untuk saling menguatkan dalam soliditas kerja; mengatur cara bersikap, berpakaian, berkomunikasi, berinteraksi, emosi, serta menghidupkan fungsi kehidupan sosial, yang lebih harmonis dalam soliditas kerja yang kolaboratif.

Kesadaran untuk memperkuat aspek budaya dengan cara menginternalisasikan nilai-nilai perusahaan; memperkuat kebiasaan atau perilaku yang diinginkan oleh perusahaan; memahamkan makna dari simbol perusahaan kepada setiap karyawan; serta memperkuat bahasa yang diimpikan di dalam setiap proses dan interaksi organisasi, akan menjadikan perusahaan selalu lebih unggul dengan budaya yang kuat.

Setiap individu di dalam perusahaan harus dapat menampilkan karakter kerja yang mewakili nilai-nilai perusahaan. Semakin kuat karakter individu oleh nilai-nilai perusahaan, maka semakin unggul para individu menjalankan norma-norma kerja dengan perilaku yang berbudaya.

Karyawan dengan perilaku yang berbudaya akan menjadi penyebab perusahaan mengalami pertumbuhan dan kemajuan. Sebab, berbudaya berarti setiap karyawan akan bersatupadu dalam satu bahasa, satu nilai, satu perilaku, serta dalam satu visi dan misi untuk berkarya dan berkontribusi.

Budaya perusahaan yang kuat akan membuat setiap orang merasa hadir bersama kontribusinya; merasa berani untuk bertindak dan mengambil keputusan sesuai batasan tanggung jawab; merasa bersyukur, karena mereka hidup dan bekerja dalam budaya, yang membuat karir mereka berkembang dalam kesadaran, bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama untuk sukses; merasakan adanya penularan kehidupan kerja yang sehat dalam keharmonisan hubungan kerja;  merasa tidak sendiri dengan pekerjaan, sebab budaya yang kuat akan menyatukan setiap aspek kerja dalam soliditas etos kerja   

Setiap orang dalam perusahaan wajib menjadi terikat dengan budaya kerja yang sama, agar setiap penilaian dan pengukuran untuk pelaksanaan bisnis, dapat dijalankan secara konsisten untuk menghasilkan mutu kerja yang berkualitas.

Budaya perusahaan yang kuat akan menjadi jembatan yang kuat, untuk melintasi zona potensi konflik antar fungsi dan peran kerja yang berbeda. Dan pada akhirnya, secara lintas fungsional, setiap fungsi maupun peran akan bergerak lancar di sepanjang jalur proses kerja, sehingga efektivitas dan produktivitas dapat dipercepat untuk keunggulan bisnis dan organisasi.

Budaya perusahaan yang kuat akan membuat setiap unit organisasi dalam mobilitas tinggi untuk meraih kualitas dan kinerja. Semua orang akan merasa sejajar, dan terikat dalam kebersamaan untuk bekerja bersama-sama, berinteraksi satu sama lain dengan cara-cara yang efektif dan produktif, serta memenuhi tujuan sesuai target.

Budaya perusahaan yang kuat selalu mampu mempersempit jarak setiap karyawan menuju pusat kekuasaan; mampu menyatukan individualisme untuk bekerja dalam soliditas kolektivisme; mampu bekerja dengan arah yang jelas, dan cerdas menghindarkan diri dari ketidakpastian.

Budaya yang kuat akan menjauh dari ketimpangan etos kerja, karena setiap orang sadar untuk memiliki etos kerja berkualitas. Jarak antar individu di berbagai tingkat hirarki unit organisasi akan terkolaborasi. Skala jarak antar unit kerja akan semakin kecil, hingga setiap unit kerja dapat menjadi sangat dekat untuk menyelesaikan target.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PEMIMPIN BERTINDAK SEPERTI SEORANG PELATIH SEPAK BOLA

LEADERSHIP AND TEAMWORK 4 JAM

Pemimpin Bertindak Seperti Seorang Pelatih Sepak Bola

“Jika Anda bekerja di sebuah tim lintas fungsional, Anda harus selalu berkontribusi melalui sikap rendah hati untuk kesuksesan bersama, tanpa berpikir bahwa fungsi pekerjaan Anda lebih istimewa dari yang lain.” – Djajendra

Organisasi masa depan akan menuntut setiap karyawan dan pimpinan untuk dapat bekerja sama atau pun berkolaborasi secara lintas fungsional. Keunggulan masing-masing unit kerja atau individu harus menjadi satu peran dalam multi fungsi pekerjaan.

Bekerja efektif dengan fungsi lain akan menjadi sebuah kebutuhan yang harus dapat dijawab oleh setiap orang untuk membuat organisasi menjadi lebih fleksible. Hal ini, sama seperti praktik tim sepak bola yang mewajibkan semua pemain untuk siap dimainkan di posisi mana pun. Seorang pemain belakang harus mampu menjadi penyerang, seorang penyerang juga harus siap dimainkan di posisi sesuai strategi pelatih. Artinya, setiap orang di dalam tim harus bisa memainkan fungsi dan peran apa saja sesuai kebutuhan strategi tim untuk mencapai kemenangan.

Mungkin Anda sudah sering terlibat dalam sebuah tim lintas fungsional di tempat kerja Anda. Biasanya, tim lintas fungsional terdiri dari orang-orang dari berbagai fungsi atau departemen dalam suatu organisasi, yang dibentuk untuk tujuan menyelesaikan sebuah proyek atau pun untuk menyelesaikan sebuah masalah. Dalam tim lintas fungsional, setiap orang harus memiliki keahlian untuk memecahkan masalah, atau untuk mengeksplorasi solusi potensial buat berkontribusi terhadap proyek atau misi yang ditetapkan.

Di masa depan, cara kerja tim lintas fungsional akan menjadi sebuah keharusan dalam rutinitas kerja seharian. Pemimpin akan memainkan peran pelatih seperti di dalam tim sepak bola saat ini. Di mana, semua sumber daya manusia harus dapat digunakan sesuai kebutuhan strategi organisasi dan strategi bisnis. Oleh karena itu, setiap individu di dalam organisasi wajib memiliki multi keterampilan dan wawasan yang luas tentang pekerjaan di tempat kerja. Termasuk, memiliki keterampilan negosiasi yang baik, serta memiliki kecerdasan emosional yang berkualitas untuk berkomunikasi secara efektif dengan para stakeholder kunci.

Kepemimpinan dan karyawan dengan keahlian yang berbeda harus duduk bersama-sama untuk menciptakan karya besar sesuai misi organisasi. Kemampuan untuk memecahkan masalah dan menemukan solusi terbaik harus menjadi perilaku kerja bersama. Efisiensi, efektivitas, dan produktivitas harus menjadi hal yang diutamakan dalam semua perilaku kerja lintas fungsional.

Bekerja dalam tim lintas fungsional tidak hanya membutuhkan keahlian teknis dari setiap orang, tapi juga keahlian untuk membangun integritas pribadi, agar dapat mengendalikan kepribadian diri, serta mampu melebur dan menyatu dalam satu kekuatan besar untuk satu tujuan bersama yang utuh dan solid.

Setiap orang dalam cara kerja tim lintas fungsional harus dapat menjadi lebih bertoleransi terhadap fungsi kerja lain. Tidak boleh dipelihara pikiran dan perasaan yang meremahkan fungsi pekerjan orang lain. Bila sudah menjadi satu tim, maka semua jenis fungsi pekerjaan harus berada dalam satu kesatuan bersama, tidak boleh ada yang menganggap fungsi pekerjaannya lebih tinggi dari yang lain. Bila ada pihak yang menganggap fungsi pekerjaannya lebih bergengsi dan lebih penting, maka kerja sama dalam tim lintas fungsional akan menjadi tidak efektif.

Kerja sama secara lintas fungsional adalah cara kerja yang sedang berkembang saat ini. Kekuatan kolaborasi mulai dari pengetahuan, keterampilan, pelayanan, dan kepribadian, akan menjadi hal yang sangat menentukan keberhasilan dari kerja sama tersebut. Setiap individu harus menyiapkan kepribadian yang penuh integritas untuk memberikan energi positif terhadap jaringan kerja sama tersebut. Tidak boleh ada konflik ataupun persaingan untuk kemenangan ego pribadi atau kelompok, yang ada hanyalah sikap untuk saling menjaga hubungan kerja dengan antusias, serta semua orang bertindak dengan efektif terhadap tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Peran pemimpin menjadi sangat menentukan dalam merekatkan hubungan kerja antar fungsi. Di sini, pemimpin bertindak seperti seorang pelatih, yang setiap hari dengan antusias memberikan motivasi kepada setiap individu untuk menghasilkan ide-ide terbaik, sumber daya, kualitas, dan hasil akhir yang berkinerja tinggi.

Setiap individu harus mematuhi instruksi dan perintah pimpinan, dan mampu membawa diri sepenuhnya kepada setiap interaksi. Termasuk, cerdas memberikan sinyal ketertarikan dalam setiap kolaborasi untuk terlibat dan menanggapi setiap aliran ide-ide.

Pemimpin wajib melakukan apa yang dikatakan, dan menjaga integritas diri, agar sebagai panutan dalam kolaborasi tetap dihormati dan dipercaya oleh setiap individu. Sebagai pemimpin yang dipercaya, maka setiap masukan dari anggota tim, harus diterima dengan terbuka, lalu disampaikan secara terbuka kepada semua orang dalam tim. Peran pemimpin adalah membangun keyakinan dan kepercayaan diri setiap orang, untuk menghasilkan ide dan sumber daya buat membantu peningkatan kinerja organisasi.

Djajendra

JANGAN SALING MENYALAHKAN DALAM KERJA KELOMPOK

SEMI OUTBOUND MOTIVASI DAN TEAMWORK - DJAJENDRA

Jangan Saling Menyalahkan Dalam Kerja Kelompok

“Berkelompok untuk mengerjakan sebuah tujuan berarti harus meninggalkan penonjolan sifat dan perilaku individu, dan digantikan dengan sifat dan perilaku untuk memperkuat kerja kelompok dalam mencapai tujuan bersama dengan berkualitas.” ~ Djajendra

Setiap individu dalam kelompok harus berkontribusi melalui kompetensi masing-masing; dengan cara menyatukan visi, persepsi, logika berpikir, keyakinan, perilaku, niat, emosi, dan kepentingan dalam satu entitas tunggal sebagai satu kesatuan yang solid. Tidak boleh ada individu yang menjadi lebih dominan dengan perilaku individualnya dalam kerja kelompok, karena sifat dan perilaku individual yang terlalu menonjol akan melemahkan kekuatan kelompok.

Dalam kelompok, setiap individu tidak hanya harus memiliki tanggung jawab atas tindakan mereka sendiri, tapi juga harus memiliki kesadaran bahwa sebuah kesalahan kecil dari individu dapat mengakibatkan kesalahan besar dalam kelompok. Oleh karena itu, tidak boleh ada perdebatan tentang siapa yang harus disalahkan atas kegagalan kerjasama di dalam kelompok. Bila terjadi kegagalan, maka setiap individu tidak boleh saling menyalahkan, tapi harus saling interospeksi melalui kesadaran diri untuk kembali ke tujuan utama dari misi berkumpul dalam kelompok.

Setiap individu yang terhimpun dalam kelompok harus diperlakukan sebagai kelompok tunggal dengan pengalaman, persepsi, keyakinan, niat, dan logika berpikir yang kolektif. Pikiran kelompok harus menjadi lebih dominan dibandingkan pikiran individu sebagai anggota kelompok. Interaksi antara individu tidak saja melalui perilaku pribadi dan etos kerja, tapi juga melalui perasaan dan pikiran yang mampu bersatupadu untuk kepentingan tujuan bersama, atribut, nilai, kebanggaan, serta perasaan senasib dalam empati dan toleransi yang saling mengikat hati untuk menjadi lebih solid.

Ketika pikiran dan perilaku kelompok mulai menyatu ke dalam hati nurani masing-masing individu anggota kelompok, maka kerja sama yang ada akan mencerminkan realitas pikiran kelompok. Semakin bersatupadu cara berpikir kelompok, semakin pikiran dan perasaan akan menyatukan kekuatan dan potensi masing-masing individu untuk menjadi sangat kuat dalam sebuah tim yang kokoh dan solid.

Setiap individu harus bertanggung jawab penuh untuk mengalokasikan kualitas kerja dalam meningkatkan mutu kelompok dan individu. Bertanggung jawab penuh berarti bertanggung jawab secara moral, kualitas, tindakan kolektif, tindakan individu, kontribusi yang sifatnya kolaboratif, serta bertanggung jawab untuk berpikir dan bertindak secara kolektif melalui keunggulan individu dalam sifat dan perilaku rendah hati.

Setiap individu harus diberikan pencerahan secara berkelanjutan melalui deskripsi yang jelas tentang tata kelola dan tata cara kerja kelompok, baik untuk perilaku maupun mindset. Tujuannya, untuk membuat masing-masing individu anggota kelompok mampu memiliki perasaan empati dalam melancarkan misi dan tujuan tim.

Setiap individu anggota kelompok harus memiliki kualitas sebagai penyeimbang yang dapat terhubungkan dengan setiap anggota kelompok. Pikiran dan perasaan yang terpisah oleh kepentingan ego diri akan mempengaruhi tanggung jawab moral individu untuk berkontribusi dalam ketunggalan kelompok.

Kerja kelompok adalah pekerjaan yang senantiasa harus menyeimbangkan antara energi individu dan energi kelompok. Bila ke dua energi ini dapat dirawat dalam keharmonisan hubungan kerja yang konsisten, maka setiap individu anggota kelompok akan dengan ikhlas menghubungkan pikiran dan perilaku berkualitas untuk kebaikan kelompok.

Ketika pikiran dan perasaan menjadi solid dalam kerja sama tim yang penuh empati, toleransi, dan kontribusi dalam pelayanan; maka pikiran dan perasaan individu akan menghindari terjadinya konflik di dalam kelompok. Setiap individu akan selalu bekerja dalam kesadaran untuk saling membantu dalam mewujudkan komitmen tim, dan bukan saling menyabotase kepentingan tim dengan memperbesar ego kepentingan pribadi.

Menyiapkan seperangkat standar kerja yang memberikan arah dan panduan untuk kualitas kerja kelompok, akan menjadikan setiap individu selalu memegang tanggung jawab kelompok dalam menghasilkan karya dan prestasi.

Djajendra

BEKERJA DALAM TIM HARUS DENGAN VISI YANG SAMA

SEMI OUTBOUND MOTIVASI DAN TEAMWORK - DJAJENDRA

BEKERJA DALAM TIM HARUS DENGAN VISI YANG SAMA

Video pelatihan djajendra: http://www.youtube.com/user/MrDjajendra

“Seseorang Menjadi Pintar Karena Dia Bisa Meyakinkan Diri, Untuk Menemukan Jawaban Atas Berbagai Ketidaknyamanan Dalam Hidup. Seseorang Menjadi Tidak Pintar Karena Dia Hanya Mampu Menemukan Berbagai Alasan Pembenaran, Untuk Tidak Melakukan Apa-Apa, Atau Untuk Tidak Menemukan Jawaban Atas Ketidaknyamanan Dalam Hidup. Ketika Seseorang Membenarkan Status Quo Sebagai Cara Aman Dalam Mempertahankan Hidup, Maka Orang Tersebut Selalu Hidup Dalam Ketidakpuasan. Padahal, Hidup Adalah Kreatif Dan Manusia Adalah Kreatif. Bila Seseorang Tidak Mendorong Dirinya Menjadi Lebih Kreatif, Maka Dia Akan Menunggu Sangat Lama Dalam Ketidaknyamanaan Realitas. Orang Pintar Selalu Belajar Dan Berupaya Terus, Agar Dapat Bergerak Di Luar Zona Kenyamanan; Sedangkan Orang Tidak Pintar, Selalu Ngotot Dan Memiliki Banyak Alasan, Agar Dia Tetap Bersembunyi Di Dalam Tembok Zona Kenyamanan.” ~ Djajendra

Bekerja dalam tim berarti bekerja dalam visi yang sama. Setiap orang di dalam tim harus dapat memimpin diri sendiri dengan efektif, lalu mampu memotivasi diri sendiri dan orang-orang lain di dalam tim, untuk tetap berada dengan visi yang sama.

Visi yang sama harus menjadi dasar untuk setiap tindakan pencapaian kegiatan tim. Visi yang sama harus dibuat jelas aturan mainnya, agar orang-orang di dalam tim sadar untuk tetap berada pada jalur kelompok yang harus mereka ambil. Termasuk, selalu berada dalam arah yang sama, untuk saling membantu dan berkontribusi dalam ikatan saling percaya satu sama lain.

Setiap orang dalam tim harus mengedepankan kompromi sesuai visi, dan melaksanakan visi dengan sepenuh hati dalam tanggung jawab yang tidak mudah goyah oleh tantangan apa pun. Sekali visi diputuskan, maka setiap orang harus merasa tahu tentang tujuan masa depan yang harus mereka capai.

Setiap individu mampu menjadi mandiri dalam kekuatan kelompok. Artinya, setelah visi dijadikan dasar dalam kerja sama kelompok, maka setiap individu secara mandiri harus bisa mengartikulasikan visi dengan baik, melalui tugas, tanggung jawab, peran, dan fungsi masing-masing di dalam tim. Tidak ada lagi individu yang membuang-buang waktu dengan mencari dukungan ataupun bimbingan, tapi semuanya mampu bergerak harmonis, dalam tim yang solid dan unggul.

Ketika visi sudah terserap dan tersosialisasi dengan baik di dalam tim, maka tim secara otomatis akan mampu mengelola berbagai keragaman yang tersebar di dalam tim. Tim yang datang bersama-sama di seluruh unit yang berbeda akan melakukan pekerjaan sesuai visi, dan visi yang dipahami akan menjadi basis untuk membangun kepercayaan sebagai dasar kerja sama tim yang baik.

Anggota tim yang menguasai visi pastilah cerdas berbicara dan mendengarkan, karena visinya sudah sama, dan buatnya Komunikasi adalah kunci. Dia pasti cerdas mengajukan pertanyaan, mengakui kesalahan, mengangkat isu-isu, dan menawarkan ide-ide. Dia pasti memahami pengetahuan rekan kerjanya. Dia pasti memiliki keahlian, ide, dan keprihatinan.

Setelah visi menjadi sama, maka tidaklah akan sulit untuk mengintegrasikan sudut pandang yang berbeda. Tidaklah akan sulit untuk mensintesis informasi dan ide-ide secara kelompok. Dan tidaklah akan sulit untuk mengidentifikasi dan menggabungkan tantangan, peluang, dan solusi sehingga semuanya menjadi masuk akal untuk tim.

Visi yang sama akan membangun tim dalam lingkungan yang pasti, setiap orang dalam tim akan memahami langkah demi langkah yang harus mereka lakukan dalam waktu dan budget yang disepakati. Mereka akan saling mendiskusikan setiap kemajuan dalam satu visi yang sama, dan terfokus kepada upaya untuk mencapai tujuan tim.

Visi yang sama akan menyatukan ide-ide besar untuk diarahkan ke dalam proses inovasi. Visi yang sama akan membuat tim solid dalam mengeksekusi inovasi yang berdaya jual tinggi.

Visi yang sama akan menempatkan para spesialis untuk berkontribusi buat keberhasilan tim. Dan para spesialis akan berkolaborasi dalam tim bersama nilai-nilai tim untuk menghasilkan karya terbaik.

Visi yang sama akan menjaga integritas antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan oleh para anggota tim. Ini akan membuktikan keaslian dari potensi spesialisasi masing-masing anggota tim. Selanjutnya, para anggota tim akan selalu menjadi konsisten dengan visi tim. Dan dari hari ke hari, dari anggota tim ke anggota tim, dari situasi ke situasi, dari perbedaan ke perbedaan, dan dari kerja keras ke kerja keras; setiap anggota tim selalu solid dalam satu visi yang tidak akan meragukan nurani mereka masing-masing.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

TIDAK MENUTUP HATI UNTUK BERKOLABORASI DALAM KERJA SAMA YANG SALING BERKONTRIBUSI

SEMI OUTBOUND MOTIVASI DAN TEAMWORK - DJAJENDRA

TIDAK MENUTUP HATI UNTUK BERKOLABORASI DALAM KERJA SAMA YANG SALING BERKONTRIBUSI

“Kerja Sama Adalah Proses Saling Mengetahui Kebutuhan Masing-Masing, Saling Berbagi Dalam Kontribusi, Saling Menjaga Keseimbangan, Dan Saling Berjalan Dalam Satu Bahasa Sesuai Misi.” ~ Djajendra

Perusahaan tidak mungkin memisahkan prestasi individu dari prestasi kerja tim, sebab, setiap individu adalah bagian dari kerja tim dalam organisasi yang memiliki banyak fungsi dan peran. Setiap fungsi dan peran harus merasa saling terhubungkan dalam sebuah kolaborasi kerja untuk menghasilkan tujuan sesuai rencana. Bila ada fungsi dan peran yang menutup hati untuk berkolaborasi dalam kerja sama yang saling berkontribusi, maka kehidupan kerja dalam organisasi akan menjadi tidak efektif.

Setiap orang di dalam organisasi wajib untuk melibatkan upaya bersama untuk mencapai tujuan bersama. Membiarkan kerja sama mengalir dalam kolaborasi kerja yang saling membantu, akan memudahkan pencapaian prestasi dan kinerja terbaik dari setiap unit kerja.

Keuntungan yang paling nyata saat bekerja secara tim adalah terdistribusinya beban kerja secara sempurna, dan juga setiap orang dengan cepat dapat mengambil keputusan, serta bisa saling melengkapi, dan pada akhirnya dapat menghindari kesalahan di tempat kerja.

Interaksi kerja sama yang dilengkapi dengan keterampilan kecerdasan emosional akan membuat setiap orang menjadi unggul secara mental dan fisik. Dampaknya, perusahaan akan memiliki keunggulan daya saing yang kuat dari ikatan yang kuat antara satu sama lain. Karyawan dan pimpinan yang cerdas secara emosional akan bekerja untuk mewujudkan prestasi terbaik, dan mereka akan saling membantu satu sama lain, karena energi empati akan membuat mereka semua secara emosional merasa terikat dalam satu tanggung jawab bersama, untuk mencapai tujuan bersama, tanpa mengkotak-kotakkan kepentingan sesuai fungsi dan peran.

Komunikasi adalah kunci sukses dalam pekerjaan tim. Oleh karena itu, setiap orang harus berani berbicara dan sabar mendengarkan. Keberanian untuk mengajukan pertanyaan akan membuat semua jawaban tersedia, dan karyawan tinggal mengerjakan dengan berkualitas. Komunikasi yang baik memerlukan jiwa besar untuk mengakui kesalahan, dan hal ini akan membuat semua potensi risiko dapat terditeksi sejak dini. Komunikasi yang baik memerlukan kecerdasan untuk mengangkat isu-isu penting, dan hal ini akan membuat potensi yang tidak kelihatan menjadi terlihat. Komunikasi yang baik membutuhkan keberanian untuk menawarkan ide-ide cemerlang, dan hal ini akan membuat kerja sama menjadi saling memberikan manfaat untuk semua pihak. Komunikasi yang baik memerlukan pengetahuan untuk memahami karakter rekan kerja, karakter pimpinan, dan keahlian, ide, dan keprihatinan mereka atas semua proses dalam kerja sama tersebut.

Setiap orang dalam kerja sama harus memiliki semangat untuk mengintegrasikan sudut pandang yang berbeda. Tidak boleh ada pikiran atau karakter yang ingin memperuncing, atau terlalu lama memperdebatkan hal-hal yang didasarkan dari sudut pandang yang berbeda. Bila ada perbedaan sudut pandang, maka segera satukan semua pikiran dan mengintegrasikan semua perbedaan ke dalam misi yang dikerjakan, lalu dilengkapi dengan Informasi dan ide-ide yang mendukung integrasi tersebut, sehingga tidak meninggalkan benih perpecahan dalam tim. Pemimpin perlu mengidentifikasi dan menggabungkan tantangan, peluang, dan solusi sehingga setiap orang dalam tim merasa masuk akal, dan mampu meninggalkan sudut pandang yang berbeda demi keberhasilan tim.

Ketika tim berada dalam lingkungan yang tidak pasti, maka setiap orang tidak boleh mengambil keputusan dengan inisiatif masing-masing. Tapi, harus saling berkoordinasi dan menggunakan pendekatan langkah demi langkah, serta mengambil waktu untuk mendiskusikan solusi dan kemajuan. Kemudian, menyiapkan tata kelola tim yang mampu mengeluarkan tim dari lingkungan yang tidak pasti,  dan membuat tim mampu bermain bebas di hamparan luas kreativitas dan inovasi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KOLABORASI MENINGKATKAN EFISIENSI DAN EFEKTIFITAS ORGANISASI

SEMI OUTBOUND MOTIVASI DAN TEAMWORK - DJAJENDRA

KOLABORASI MENINGKATKAN EFISIENSI DAN EFEKTIFITAS ORGANISASI

Video pelatihan djajendra: http://www.youtube.com/user/MrDjajendra

“Tidak Boleh Ada Pihak Yang Menganggap Dirinya Paling Benar Dan Paling Pintar. Sebab, Bila Ada Yang Menganggap Paling Benar Atau Paling Pintar, Maka Keharmonisan Dalam Kolaboratif Akan Hilang, Dan Digantikan Konflik Yang Sulit Dipadamkan.” ~ Djajendra

Kolaborasi adalah praktek kerja dimana individu bekerja sama, untuk tujuan yang sama, untuk mencapai manfaat bisnis dengan maksud mencapai efisiensi dan efektifitas. Banyak organisasi memanfaatkan kolaborasi untuk meningkatkan kerjasama dan mengurangi jumlah ruang, waktu, orang, sumber daya, dan biaya.

Syarat utama dalam kolaborasi adalah kesadaran untuk meyakini bahwa setiap orang dalam kolaborasi adalah bagian dari entitas yang bekerja bersama untuk satu tujuan organisasi. Di sini, setiap individu yang terlibat dalam kolaborasi harus memiliki motivasi diri yang kuat, dan mendorong diri masing-masing untuk terlibat dalam ritme kerja kolaboratif, serta selalu proaktif dalam konsensus pemecahan masalah.

Iklim dan ritme kolaboratif membutuhkan karakter kerja individu yang selalu siap berpartisipasi dalam kolaborasi, dan mengharapkan orang lain untuk berpartisipasi. Dan setiap individu harus cerdas bernegosiasi, saling berkontribusi dalam kerja sama, untuk menemukan titik tengah dari solusi yang diinginkan. Hubungan timbal balik yang adil dan terbuka merupakan dasar untuk menghasilkan iklim kolaboratif yang efektif dan efisien untuk kepentingan organisasi.

Setiap kepentingan dalam kolaborasi harus terlibat secara proaktif, tidak boleh hanya menunggu dan melihat hal-hal terjadi tanpa partisipasi, serta memotivasi diri sendiri untuk berpikir dan mempertimbangkan alternatif terbaik, agar dapat memberikan kontribusi sesuai harapan.

Kolaborasi merupakan kemampuan untuk eksis dalam realitas kebersamaan. Realitas kebersamaan akan sukses bila setiap orang didasarkan pada nilai-nilai diri sendiri. Dan tidak boleh ada pihak yang menganggap dirinya paling benar dan paling pintar. Sebab, bila Ada yang menganggap paling benar atau paling pintar, maka keharmonisan dalam kolaboratif akan hilang, dan digantikan konflik yang sulit dipadamkan. Oleh karena itu, dalam rangka membangun kepercayaan dengan orang lain, Anda harus tahu nilai-nilai Anda sendiri, keyakinan, dan motivasi Anda untuk berada dalam iklim kolaboratif yang harmonis.

Keragaman dan perbedaan adalah sesuatu yang abadi dalam kehidupan. Oleh karena itu, dalam iklim kolaboratif tidak boleh ada niat atau upaya untuk menyeragamkan keragaman. Jadilah pembelajar untuk menghargai dan mengelola kelompok yang beragam. Perbedaan adalah aset penting untuk proses kolaboratif yang efektif. Bila terjadi konflik oleh perbedaan, maka tampillah untuk resolusi konflik yang konstruktif. Dalam lingkungan kolaboratif, konflik dipandang sebagai kesempatan untuk memperdalam pemahaman dan kesepakatan. Oleh karena itu, gunakan kekuatan Anda untuk menciptakan win-win situasi. Pembagian kekuasaan dan pengakuan atas dasar kekuatan diri sendiri adalah bagian dari kolaborasi yang efektif.

Kolaborasi yang efektif terwujud dari berbagai proses pendewasaan atas komunikasi, kerjasama, ketulusan, keikhlasan, dan fleksibilitas. Mengakui bahwa kolaborasi adalah sebuah perjalanan. Keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk kolaborasi yang efektif membutuhkan waktu dan praktek. Resolusi konflik, keunggulan komunikasi, penyelidikan apresiatif, dan pengetahuan tentang proses kelompok dalam keterampilan belajar di sepanjang proses kolaboratif. Menghargai kerja sama yang dapat terjadi secara spontan. Jadi, kolaborasi adalah suatu kondisi yang secara otomatis akan saling berkontribusi secara spontan jika faktor-faktor  seperti komunikasi, kerjasama, ketulusan, keikhlasan, fleksibilitas, resolusi konflik, penghormatan terhadap perbedaan dan keragaman telah benar – benar sempurna pada tempatnya.

Kolaborasi bukanlah sebuah peristiwa tunggal yang terhenti di satu titik persoalan. Tetapi, kolaborasi merupakan sebuah proses belajar dari keberhasilan dan kegagalan kolaboratif itu sendiri. Dan mendorong setiap orang untuk menjadi bagian dari tim eksklusif, yang bisa menjadi yang terbaik, dalam kreatifitas dan inovasi kerja. Jadilah reflektif. Bersedia untuk mencari umpan balik dan mengakui kesalahan untuk perbaikan terus menerus.

Kolaborasi adalah salah satu keterampilan yang paling dibutuhkan di tempat kerja saat ini, dan ada kebutuhan bagi semua pemangku kepentingan untuk belajar keterampilan ini. Kolaborasi bukanlah obat mujarab, jadi pahami kapan harus menerapkan kolaborasi dan kapan tidak dibutuhkan kolaborasi untuk sebuah tindakan atau keputusan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Newer posts