PT DJAJENDRA MOTIVASI UNGGUL

Leadership Organization Business Personal Interpersonal Entrepreneurs and Employed Professionals

Category: ARTIKEL MANAGEMENT AND ORGANIZATION (page 79 of 81)

Stakeholder Dalam Sebuah Bisnis

”Bisnis Itu Seperti Air Yang Selalu Mengalir Dengan Caranya Sendiri, Tanpa Perduli Pada Apapun, Dan Terus Mengalir Menerobos Setiap Hambatan Untuk Mencapai Hasrat Dan Kepentingan Dari Yang Lebih Kuat Dan Lebih Cerdik. ” – Djajendra

Dunia bisnis adalah dunia komitmen, di mana para stakeholder yang terkait dalam sebuah bisnis wajib untuk saling terikat secara moral dan etika, serta memelihara komitmen untuk tidak melalaikan dan merugikan stakeholder yang lain.

Setiap stakeholder wajib menjaga kehormatan melalui integritas demi kepentingan para stakeholder yang lain. Sebab, bisnis hidup dari hubungan saling percaya dan saling mendukung.

Hubungan bisnis yang tidak tidak beretika biasanya cendrung merugikan para stakeholder yang posisi tawarnya lemah di bisnis tersebut. Hal ini disebabkan, para profesional yang mengelola bisnis tersebut tidak memiliki integritas dan niat baik pada stakeholder secara keseluruhan.

Pada dasarnya setiap stakeholder memiliki kebutuhan yang berbedah, kecuali dalam hal pelayanan, di mana semua stakeholder memiliki kebutuhan yang sama, yaitu mengharapkan mereka dilayani secara jujur, terbuka, penuh tanggung jawab, wajar, berkualitas, dan adil.

Para pengelola bisnis seharusnya bersikap profesional untuk memberikan yang terbaik buat kepentingan para stakeholder.

Seorang  pendiri bisnis pasti bermaksud untuk mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin buat dirinya. Keuntungan yang maksimal ini sangat tergantung dari loyalitas stakeholder kepada perusahaan. Khususnya, pelanggan, pemasok, dan karyawan.

Keberadaan stakeholder merupakan bagian dari mata rantai bisnis yang hadir dengan beragam misi, target, dan kepentingan. Dan untuk melayani semua kepentingan yang berbeda tersebut, para pengelola bisnis wajib menjalankan praktik bisnis berdasarkan etika bisnis yang berintegritas.

Dalam dunia bisnis hubungan antara para pengelola bisnis dengan pemegang saham adalah hubungan pegawai dan majikan, sedangkan hubungan antara pengelola bisnis dengan stakeholder adalah hubungan etika dan moral untuk tidak merugikan kepentingan masing-masing dalam bisnis.

Persoalan muncul pada saat pengelola bisnis memprioritaskan keinginan dan tujuan dari para pemegang saham mayoritas. Mengingat kekuatan pemegang saham mayoritas sangat kuat untuk memberi perintah pada manajemen secara langsung, sedangkan stakeholder di luar shareholder adalah kepentingan yang tidak dapat langsung memiliki pengaruh pada manajemen.

Hubungan harmonis antara stakeholder adalah sebuah obsesi yang wajib diwujudkan oleh para pengelola bisnis, dan harus menjadi komitmen untuk menjaga kepentingan dari para stakeholder dalam sebuah lingkaran bisnis yang harmonis dan seimbang.

Menjaga kepentingan stakeholder haruslah menjadi kunci kekuatan dalam sebuah hubungan bisnis yang berintegritas tinggi. Sikap independen dan profesional dari pengelola bisnis untuk bertindak jujur dan adil kepada stakeholder adalah sebuah tindakan yang akan membuat perusahaan mendapatkan reputasi dan kredibilitas yang tinggi.

Pengabdian para pengelola bisnis pada pemegang saham mayoritas adalah mutlak. Sebab, shareholder dengan kekuatan RUPS (rapat umum pemegang saham) secara absolut menentukan eksistensi dari para pengelola bisnis. Bila para pengelola bisnis tidak patuh pada pemegang saham, maka mereka berpotensi kehilangan jabatan dan fasilitas. Tetapi, hal ini bukanlah berarti para pengelola bisnis boleh melalaikan para stakeholder dan bertekuklutut pada setiap permintaan shareholder.

Para pengelola bisnis harus selalu ingat bahwa suksesnya bisnis sangat dipengaruhi oleh stakeholder, khususnya para konsumen dan penyuplai. Jadi, pengelola bisnis tidak boleh kehilangan akal sehatnya dalam menjaga semua kepentingan shareholder dan stakeholder secara utuh dalam sebuah integritas yang adil dan bermoral tinggi.

Shareholder dan stakeholder adalah dua kekuatan terpenting  dalam dunia bisnis, yang harus dipahami secara jujur dan adil oleh para pengelola bisnis, tanpa merugikan siapapun.

Kepemimpinan Adalah Masalah Waktu, Mengetahui Kapan Harus Bergerak Cepat, Dan Kapan Harus Bergerak Lambat

“Masa-Masa Sulit Haruslah Diakhiri Dengan Upaya Keras Untuk Mencari Peluang-Peluang Yang Hebat Melalui Kreativitas Yang Hebat.” – Djajendra

Pemimpin yang efektif pasti tahu kapan harus mempercepat aksi untuk mengerjakan rencana, dan kapan harus memperlambat aksi dalam pengerjaan rencana tersebut. Pemimpin yang efektif  berarti cerdas untuk memimpin diri sendiri dan mengatur ritme kehidupan sesuai rencana.

Dalam masa krisis, satu-satunya hal terpenting yang harus dilakukan pemimpin adalah melihat kedepan bersama visi masa depan yang cemerlang. Pemimpin tidak boleh jatuh dalam perangkap kepanikan, lalu menyuruh setiap orang untuk bereaksi secara cepat tanpa memahami ancaman yang ada, atau pemimpin tidak boleh menyuruh setiap orang untuk bereaksi secara hati-hati dan lambat tanpa melihat peluang-peluang besar yang mungkin muncul dari sebuah keadaan.

Pemimpin wajib tahu bahwa visi haruslah dilihat dalam satu persepsi yang sama dalam organisasi; visi yang dipahami setiap orang akan memancarkan energi sukses buat organisasi, dan organisasi akan menjadi cemerlang dan terang buat siapa pun untuk melihat masa depan yang jelas.

Visi adalah senjata paling sakti untuk membantu pemimpin bersama tim untuk berkonsentrasi dan fokus pada tujuan yang ingin diraih. Visi yang jelas dan yang dipahami semua orang akan menentukan seberapa cepat atau seberapa lambat organisasi boleh bergerak untuk menjawab tantangan yang ada.

Masa-masa sulit haruslah diakhiri dengan upaya keras untuk mencari peluang-peluang yang hebat melalui kreativitas yang hebat. Lalu, berikan rasa percaya diri yang seimbang kepada setiap orang, dan ajak semua orang untuk proaktif berjuang melewati waktu-waktu sulit dengan sikap sabar dalam perjuangan yang penuh tanggung jawab buat masa depan yang cemerlang.

Masa-masa sulit sesungguhnya adalah sebuah ujian untuk setiap orang terhadap integritas, komitmen, konsistensi, dan tanggung jawab kepada diri sendiri dan organisasi.

Ketika semua hal berjalan mulus dan gampang, adalah sangat mudah untuk menjadi hebat dan terbaik, termasuk sangat mudah untuk berucap dan berkata-kata tentang hal-hal yang hebat, tentang diri kita dan tentang kehebatan organisasi kita. Tetapi, hidup tidaklah selalu akan menghadirkan hal-hal hebat kepada kita, akan ada waktu-waktu sulit yang hadir untuk mengoreksi semua langkah-langkah masa lalu yang keliru.

Apa pun keadaan diri Anda dan organisasi Anda, janganlah merasa panik untuk mengkonsolidasi semua langkah-langkah buat masa depan yang lebih baik. Lakukan evaluasi kembali terhadap semua kondisi dari organisasi Anda, lalu fokuskan pada visi dengan integritas, temukan keputusan-keputusan yang bijaksana untuk menentukan kecepatan atau pun perlambatan aksi yang harus Anda lakukan. Pastikan semua itu dilakukan berdasarkan pengalaman dan komitmen dari setiap orang untuk mau berjuang meraih hasil terbaik.

Setiap pemimpin besar selalu mampu mengatasi masa-masa sulit dan bangkit dengan lebih hebat. Sebab, pemimpin besar akan selalu kembali kepada visi yang diperjuangkan untuk mencari tahu penyebab kegagalan yang terjadi pada dirinya, dan akhirnya ia akan menemukan jawaban-jawaban yang lebih berkualitas dari visi yang ia miliki.

Corporate Secretary Sebagai Pengawal Informasi Perusahaan

“Membiarkan Setiap Orang Menjadi Juru Bicara Perusahaan Kepada Publik Adalah Perbuatan Yang Berpotensi Mengundang Bencana Ke Dalam Perusahaan.” – Djajendra

Kelalaian menyampaikan informasi yang benar kepada publik akan menjadikan perusahaan kehilangan kredibilitas. Oleh karena itu,  perusahaan harus selalu menjaga kerahasian informasi internal perusahaan, dan tidak seorang pun diperbolehkan membicarakan informasi rahasia perusahaan kepada pihak di luar perusahaan.

Prinsip transparansi dalam good corporate governance bukan berarti setiap pegawai boleh bicara apa saja, atau memberikan informasi apa saja kepada pihak di luar perusahaan. Tetapi, setiap pegawai harus bekerja secara terbuka dan jujur atas setiap inci informasi dalam internal perusahaan. Lalu, setiap inci informasi yang benar itu dirangkum secara benar sesuai prosedur kerja perusahaan sebelum diinformasikan kepada publik.

Perusahaan yang sehat dan baik adalah perusahaan yang mampu mendisiplinkan proses keluar masuk informasi. Terutama informasi keluar haruslah benar-benar matang dan tidak asal-asalan. Sebab, sekali informasi internal keluar, maka informasi internal tersebut akan menjadi informasi publik.

Untuk mengawasi setiap informasi internal perusahaan yang keluar, perusahaan harus menetapkan kebijakan satu pintu keluar buat informasi dari internal perusahaan ke publik. Satu pintu itu sebaiknya melalui fungsi dan peran corporate secretary. Artinya, apapun hal-hal yang akan perusahaan sampaikan ke publik, semua itu harus diperiksa ulang dan diverifikasi ulang oleh fungsi corporate secretary. Tidak boleh ada kekuatan apa pun diperusahaan yang boleh tampil bersama informasi internal kepada publik. Semua informasi wajib disaring dan dipahami terlebih dahulu secara bijaksana, agar informasi tersebut tidak menciptakan dampak-dampak negatif buat perusahaan, karyawan, pemegang saham, dan stakeholder lainnya.

Dalam aktivitas sehari-hari sebaiknya fungsi corporate secretary didukung secara total oleh fungsi good corporate governance, agar setiap ketentuan internal dan eksternal perusahaan dapat dipastikan benar oleh fungsi good corporate governance.

Harus ada kebijakan yang jelas diperusahaan untuk tidak membicarakan hal-hal terlarang kepada pihak di luar perusahaan atau ke publik. Setiap karyawan dan pimpinan harus memahami dan diberi pemahaman untuk berhati-hati dalam setiap kata-kata dan komentar tentang informasi perusahaan yang belum pasti.

Perusahaan Efektif dan Karyawan Produktif

”Produktivitas Tinggi Hanya Dapat Dihasilkan Oleh Organisasi Yang Efektif Dengan Dukungan Karyawan Yang Optimis Dan Profesional.” – Djajendra

Produktivitas adalah sebuah keharusan dalam bisnis. Jika para pekerja bisnis mampu menjadi lebih efektif sesuai dengan sasaran dan target kerja, maka kemungkinan besar mereka akan menjadi pekerja yang produktif di semua aspek kerja perusahaan. Dan hal ini bisa terwujud jika perusahaan menjalankan setiap fungsi dan peran organisasi dengan efektif.

Membuat karyawan menjadi produktif tidak hanya cukup melalui kepemimpinan yang efektif. Tetapi, diperlukan mind set secara keseluruhan di perusahaan untuk menjadi lebih produktif. Hal ini hanya bisa terwujud bila perusahaan menciptakan lingkungan kerja dalam keseimbangan yang harmonis yang diperkuat dengan nilai-nilai kerja dalam wujud tekad, komitmen, disiplin, antusias, etika, dan semangat yang tinggi untuk menjadi yang terbaik.

Produktivitas berarti memanfaatkan waktu yang dimiliki secara optimal untuk menghasilkan out put yang sebanyak mungkin dengan kualitas setinggi mungkin. Produktivitas berarti tidak pernah menunda-nunda pekerjaan dan cerdas berkomunikasi, berkoordinasi, berkolaborasi, dan bersinergi dengan semua pihak untuk menghasilkan out put  berkualitas yang optimal. Produktivitas berarti bekerja secara efektif, kreatif, strategis, inovatif, dan tepat guna terhadap setiap tindakan untuk menghasilkan out put berkualitas terbaik.

Perusahaan yang efektif pasti akan menyiapkan sistem informasi, rencana, sumber daya, strategi, dan visi yang jelas untuk membantu para karyawan menjadi lebih produktif dalam melakukan pekerjaan sesuai target.

Jika perusahaan tidak menjelaskan atau menggambarkan semua rencana, tujuan, strategi, dan visi secara jelas dan terang; maka karyawan akan sering bingung untuk mengambil tindakan. Akibatnya, akan sering-sering terjadi penundaan kerja dan karyawan merasa tidak memiliki informasi yang jelas untuk menyelesaikan tugas sesuai waktu.

Perusahaan harus mendelegasikan semua target dan sasaran kerja dengan jelas dalam bahasa yang sederhana, lalu menciptakan kepastian dalam setiap rencana, dan memberikan informasi yang benar kepada karyawan.

Kembangkan sistem kerja yang mampu membantu karyawan untuk menjadi lebih produktif, untuk menyelesaikan semua tugas dan tanggung jawab dengan cepat dan tepat waktu. Untuk itu, perusahaan harus membangun etos kerja yang diperkuat dengan panduan etika bisnis, code of conduct, sop, dan kebijakan lain yang sederhana dan mudah untuk dikerjakan. Termasuk, mengembangkan teknologi dan peralatan kerja yang bersifat tepat guna, yang mampu menyederhanakan dan mempermudah cara pencapaian target. Selain itu, perusahaan harus selalu memotivasi para karyawan untuk meningkatkan keterampilan dan kompetensi mereka agar menjadi lebih berkualitas.

Melalui Kekuatan Intuisi Anda Pasti Mampu Mengelola Risiko Yang Tidak Teridentifikasi

”Risiko Yang Tak Teridentifikasi Sifatnya Tidak Berwujud, Tidak Berwarna, Tidak Terukur, Tidak Beraroma. Tetapi, Dia Berenergi Sangat Kuat Yang Bisa Melumpuhkan Kekuatan Bisnis.” – Djajendra

Intuisi yang terlatih dengan sempurna mampu menjadi alat yang ampuh untuk mengelola risiko yang tidak teridentifikasi. Seperti yang kita pahami bahwa dalam manajemen risiko ada namanya risiko yang dapat diukur, dipetakan, diidentifikasikan, dimitigasi, atau dapat dikenali melalui berbagai cara dalam pola ukur intelektual. Tetapi, ada juga risiko-risiko yang sulit diprediksi apalagi diidentifikasi melalui ukuran-ukuran intelektual. Sebab, jenis risiko ini sangat tidak mungkin dibuatkan konsep dan teorinya, jenis risiko ini bisa muncul oleh sebab akibat yang sangat kreatif dan cendrung tanpa batas.

Lantas, bagaimana seharusnya perusahaan mengelola risiko-risiko yang tidak teridentifikasi ini?

Adalah sebuah realita bahwa  dalam bisnis selalu akan ada unsur spekulasi, yang pada akhirnya menciptakan situasi tidak pasti. Ketidakpastian dalam bisnis adalah bagian nyata yang tak boleh diingkari eksistensinya oleh siapa pun dalam internal perusahaan. Bila ketidakpastian ini diingkari, maka risiko akan dengan sangat mudah menyusup ke semua aspek organisasi.

Risiko yang tak teridentifikasi ini sifatnya tidak berwujud, tidak berwarna, tidak terukur, tidak beraroma apa pun. Tetapi dia berenergi sangat kuat yang bisa melumpuhkan kekuatan bisnis Anda, termasuk mengakhiri pesona karier Anda bersama perusahaan yang Anda cintai.

Diperlukan integritas perilaku dalam kesadaran total untuk selalu berhati-hati dan berhitung risiko ’sebab – akibat’ dari sebuah proses bisnis. Pimpinan perusahaan harus selalu mengajarkan kepada setiap bawahannya untuk bekerja secara tim dalam lintas fungsi kerja dan antar unit kerja. Termasuk secara disiplin melakukan brainstorming untuk membuat kategori risiko yang saling terkait di antara unit kerja dan fungsi kerja yang ada.

Ketidakpastian merupakan akar dari tumbuhnya beragam risiko yang sering kali terkesan tidak teridentifikasi. Padahal bila Anda mampu melatih intuisi Anda secara sempurna untuk mencium dan melihat melalui mata hati Anda, terhadap berbagai jenis risiko yang tak teridentifikasi ini, maka secara otomatis pikiran bawah sadar Anda akan mengidentifikasikan semua risiko yang tak teridentifikasi itu. Untuk kemudian, agar dapat Anda kelola secara profesional, serta menghindari berbagai bencana terhadap perusahaan, bisnis, dan diri Anda sendiri.

presentation helper 1

Jangan Biarkan Daya Saing Perusahaan Merosot!

“Saat Perusahaan Memperlihatkan Tanda-Tanda Penurunan Kinerja, Maka Saat Itu Wajib Mengumpulkan Semua Kekuatan Internal Dan Eksternal Perusahaan. Lalu, Memotivasi Semua Manusia Perusahaan Untuk Mengumpulkan Energi Sukses Dan Sekaligus Bekerja Buat Kinerja Terbaik.” – Djajendra

Ketika daya saing perusahaan merosot dalam kompetisi pasar yang ketat, ketika keseimbangan pertumbuhan bisnis turun akibat inflasi dan daya beli masyarakat yang rendah, ketika perusahaan sudah mulai oleng karena tidak punya sumber pendapatan tetap lagi untuk membayar semua biaya. Dan sekarang Perusahaan berada dalam titik krisis multidimensi, yang membuat perusahaan sudah sekarat dan hampir koma akibat penyakit krisis multidimensi yang menggerogoti semua bagian tubuh perusahaan. Apa yang harus Anda lakukan? Sedangkan Anda memiliki kewajiban – kewajiban yang harus dibayar, seperti gaji, biaya operasional rutin, biaya bunga pinjaman, dan biaya – biaya tetap lainnya yang harus Anda keluarkan walaupun bisnis Anda sudah tidak bisa berjalan normal lagi akibat sakit krisis multidimensi yang sedang dideritanya.

Bila perusahaan Anda sebuah raksasa besar mungkin akan ada banyak alternatif untuk mengobati sakit krisis multidimensi yang diderita perusahaan, sebab sebuah perusahaan raksasa pasti menarik perhatian para investor besar yang kaya raya, dan lagian perusahaan raksasa pasti masih sanggup membayar para konsultan terbaik untuk segera mengobati penyakit krisis multidimensi perusahaan dengan berbagai obat mujarab, dan melalui keterlibatan banyak orang super pintar akan segera menyelamatkan semua kesulitan perusahaan melalui perawatan intensif yang akan menyembuhkan penyakit krisis multidimensi tersebut secara sempurna. Tetapi apa ceritanya bila perusahaan Anda adalah menengah kebawah yang mungkin selama ini harus berjuang sendiri untuk survive dengan sistem manajemen yang ala kadarnya, sebab untuk mendapatkan orang – orang super hebat mungkin perusahaan Anda belum sanggup membayarnya.

Artikel ini saya buat untuk bahan referensi perusahaan kecil dan menengah dalam mengobati perusahaannya yang lagi sakit keras.
Perusahaan suka oleng oleh sebab pengelolaan yang tidak tepat pada saat – saat krusial. Untuk menjaga agar perusahaan tidak oleng, maka Anda harus mampu menjaga efektifitas, efisiensi, produktivitas, dan profit perusahaan Anda dalam keseimbangan yang tepat untuk memastikan agar perusahaan Anda tidak oleng oleh berbagai penyakit perusahaan yang mematikan.
Berbagai penyakit perusahaan yang timbul akibat lemahnya daya saing, cash flow yang sulit, sumber daya manusia yang tidak efektif, manajemen risiko yang lemah, produk dan jasa yang ketinggalan zaman, tidak mampu berekspansi, sistem pengendalian yang tidak terukur, sistem keuangan yang tidak konsisten, para customer yang sudah bosan, dan ada banyak lagi penyebab – penyebab untuk membawa perusahaan Anda masuk kedalam ruang ICU.
Apabila perusahaan Anda sudah terlanjur masuk ICU (intensif care unit)oleh penyakit yang sangat parah, lantas apa reaksi Anda? Apakah Anda menyerah dan membubarkan perusahaan?, atau mungkin Anda mencari investor baru, atau mungkin Anda tetap berjuang keras untuk mengobati setiap penyakit perusahaan Anda dengan kesabaran tinggi. Apa pun dapat Anda lakukan agar perusahaan Anda menjadi sembuh dan kuat lagi untuk mampu bersaing di dalam pasar yang penuh dengan kompetisi tinggi tersebut.
Kunci mengobati penyakit parah perusahaan Anda adalah kepemimpinan yang kuat dan memiliki daya tahan untuk bekerja dalam organisasi perusahaan yang serba kurang. Kepemimpinan yang sanggup memotivasi dan meyakinkan setiap sumber daya manusia perusahaan untuk tetap bersemangat tinggi dalam kerja sama mengobati semua penyakit berbahaya tersebut dengan kesabaran tinggi dan kerja keras tanpa henti. Kepemimpinan yang memberi contoh – contoh positif dalam proses penyembuhan perusahaan dari penyakit kronis. Kepemimpinan yang sepenuh hati mengabdikan dirinya untuk keselamatan dan penyembuhan penyakit perusahaan secara total.
Customer adalah salah satu obat paling mujarab untuk mengatasi semua penyakit perusahaan Anda. Ingat bahwa tanpa customer bisnis itu tidak ada, dengan memberikan perhatian yang besar kepada kebutuhan para customer Anda, maka perusahaan masih bisa bernafas untuk tetap sadar dari komanya. Bisnis memerlukan kepercayaan dari para customernya, dan ketika Anda memfokuskan untuk tetap memberikan pelayanan terbaik kepada semua customer Anda, berarti Anda telah mulai mengobati penyakit ganas perusahaan Anda secara tepat.
Mental pisikologis para stakeholder perusahaan; seperti bank, karyawan, pemilik saham, pemasok, customer, kantor pajak, dan yang lain – lainnya harus diyakinkan dengan sepenuh hati dan kejujuran tinggi untuk mau membantu mengerti usaha perusahaan ke arah penyembuhan total melalui dukungan langsung dan tidak langsung dari para stakeholdernya.
Sejenak saya ingin mengajak Anda untuk mengingat sebuah buku bagus karya Michael Teng yang berjudul “Corporate Turn Around, Nursing A sick Company Back to Health”. Dalam buku tersebut Michael Teng memberikan informasi berdasarkan pengalaman nyata dia menyelamatkan perusahaan – perusahaan dari kebangkrutan. Dia membangun persepsi bahwa perusahaan mirip seperti tubuh manusia. Dan oleh karena itu, penyakit perusahaan harus disembuhkan seperti cara – cara penyembuhan yang lazim digunakan dalam medis kedokteran penyembuhan penyakit manusia. Cara Michael Teng dengan persepsinya tersebut menurut akal sehat dapat kita terima sebagai sebuah referensi penting dalam upaya penyembuhan penyakit perusahaan yang sudah kronis.
Selama perusahaan dalam proses pengobatan, janganlah sekali – kali berpikir tentang hal – hal negatif, seperti kebangkrutan, ketidakmampuan, ketidakyakinan, atau mencoba menyerah untuk terus dengan sabar mengobati dan mengendalikan gerak langkah perusahaan ke arah sehat.
Sebelum Anda dan sumber daya manusia Anda berpikir cara – cara tehnis penyembuhan penyakit kronis perusahaan Anda, Anda bersama setiap sumber daya manusia perusahaan Anda harus membangun kepercayaan diri, motivasi untuk mampu menyembuhkan penyakit perusahaan, semangat yang tidak luntur oleh badai apapun, keyakinan seratus persen bahwa perusahaan akan terselamatkan, dan semua pikiran dan tindakan positif yang efektif dalam mengobati penyakit perusahaan secara optimal.
Kita semua sepakat bahwa cash flow adalah detak jantung perusahaan yang mengalirkan darah kesemua bagian tubuh organisasi dan sendi kehidupan perusahaan. Tanpa cash flow yang positif, dipastikan penyakit akan semakin kronis dan hal ini tidak akan membantu penyembuhan perusahaan Anda.
Ada banyak cara untuk tetap menjaga cash flow berada dalam kondisi cash in (masuk)lebih besar dari cash out (keluar), antara lain melalui meningkatkan penjualan, mengendalikan pengeluaran dengan perilaku efisiensi total, atau mendapatkan pinjaman berbiaya rendah. Tetapi secara mental juga harus dibangun persepsi bahwa Anda bersama semua sumber daya manusia Anda selalu memiliki keyakinan dan kerja keras yang mampu menjaga cash flow yang sehat di perusahaan Anda. Cash flow positif adalah sebuah kunci penting yang tidak boleh sekalipun diabaikan dalam proses penyembuhan penyakit perusahaan Anda, termasuk pada saat perusahaan berada dalam tingkat kesehatan yang prima.
Pada akhirnya kita semua harus sadar bahwa dunia bisnis memiliki kompleksitas yang sangat tinggi, dan setiap perusahaan yang terlanjur sudah sakit parah harus mau belajar dan melatih dirinya secara konsisten untuk mengobati setiap penyakitnya dengan kesadaran tertinggi, ketulusan hati tertinggi, keikhlasan tertinggi dari setiap sumber daya manusianya untuk mau bersatu dalam persepsi yang sama dalam upaya terkonsentrasi dengan prioritas utama menyembuhkan penyakit kronis perusahaan tersebut.

Etika Bisnis Menyelamatkan Para Karyawan Dan Pimpinan Dari Perangkap Masalah

“Etika Bisnis Menentukan Perilaku Bisnis Yang Berintegritas, Tanpa Etika Bisnis, Integritas Perusahaan Akan Hilang.” – Djajendra

Aktifitas bisnis dilaksanakan dan ditujukan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia, dan  agar aktifitas bisnis mampu berjalan secara baik diperlukan etika bisnis.  Etika bisnis diperlukan untuk memagari perilaku pimpinan dan karyawan agar tidak terperangkap dalam masalah.

Bila etika bisnis mampu dijalankan secara tegas dan konsisten, maka nilai-nilai yang ada dalam etika bisnis tersebut dapat menciptakan sebuah aktifitas bisnis yang sehat dan berkualitas tinggi. Yaitu,Sebuah praktik bisnis yang bebas dari konspirasi, korupsi, kolusi, dan nepotisme, sehingga mampu mengoptimalkan shareholders value perusahaan.

Secara prinsip etika bisnis itu mengatur agar para pemimpin dan karyawan di perusahaan tidak menjadi korban dari kegiatan bisnis tersebut. Oleh karena itu, pemahaman etika bisnis harus diikuti dengan kekuatan sifat baik yang didukung oleh nilai-nilai moral kehidupan yang tinggi.

Etika bisnis wajib diimplementasikan secara baik oleh setiap orang di perusahaan, agar mampu memainkan peran dan fungsi manajemennya secara profesional, tanpa keluar dari aturan main yang ada di perusahaan, serta mampu memahami apa yang baik dan apa yang tidak baik secara bijaksana.

Etika bisnis itu seperti cahaya yang menerangi semua fungsi dan peran kerja karyawan dan pimpinan. Semakin terang pikiran si karyawan dan pimpinan untuk memahami dan mematuhi etika bisnis, akan semakin tinggi kualitas integritas dan kinerja mereka.

Bila karyawan dan pimpinan mampu mematuhi etika bisnis secara sempurna, maka secara otomatis mereka akan menjadi energi positif perusahaan;  mereka akan menjadi pribadi yang membangun kebaikan di organisasi; mereka akan menjadi pribadi istimewa yang berpotensi meraih sukses tertinggi.

Etika bisnis tidak sekedar aturan yang mengikat para karyawan dan pimpinan di perusahaan, tapi etika bisnis harus menjadi sebuah energi yang mampu menciptakan nilai tambah buat organisasi.

Etos Kerja Yang Baik Akan Menghasilkan Pelayanan Berkualitas Tinggi

DJ456“Kita Semua Harus Jujur Bahwa Untuk Membangun Sebuah Etos Kerja Yang Baik Dibutuhkan Sebuah Habitat Kerja Yang Dipenuhi Integritas Untuk Melayani.” – Djajendra

Mencintai pekerjaan adalah langkah awal menuju etos kerja terbaik. Tanpa mencintai pekerjaan sangatlah tidak mungkin seseorang bisa menikmati detik-detiknya bersama perusahaan. Bahkan sekedar memiliki sikap empati dan toleransi pada lingkungan pekerjaan sudah merupakan sebuah titik terang untuk mendapatkan etos kerja yang baik. Begitu seseorang mau mencintai pekerjaannya dengan tulus, maka dia akan menjadi pribadi yang kaya hati dan mudah melayani orang lain dengan perasaan bahagia. Cinta pada pekerjaan merupakan sebuah jalan kehidupan yang akan memperkaya kehidupan seseorang di semua aspek kehidupannya.

Starbucks Coffee adalah sebuah bisnis yang dijalankan dengan sikap baik. Kenapa saya bilang SIKAP BAIK? Sebab, ketika kita mampir di outlet starbucks di negara manapun; senyuman, sapaan, dan ucapan terima kasih pasti akan kita dapatkan. Begitulah cara para karyawan starbucks memperlakukan customer mereka. Seolah-olah semua karyawan itu begitu mencintai, begitu menikmati pekerjaan mereka, sehingga terlihat tak pernah lelah-lelahnya mereka melayani customer dengan sikap baik.

Saya sengaja melakukan on the spot riset dengan mengelilingi tiga kota besar, khusus untuk mampir minum kopi sambil mempelajari konsistensi sikap baik dalam pelayanan di Starbucks Coffee. Saya hanya fokus untuk memahami konsistensi sikap baik. Jadi, konsentrasi riset saya hanya pada SIKAP BAIK karyawan dalam interaksinya dengan customer. Hasilnya memang luar biasa. Persepsi saya mengatakan bahwa para karyawan starbucks tersebut sangat menikmati dan sangat mencintai pekerjaan mereka bersama Starbucks Coffee. Ada sebuah konsistensi pelayanan di hampir semua Starbucks Coffee yang saya kunjungi. Ada sebuah sikap baik yang luar biasa dari para karyawannya. Starbucks Coffee memang memiliki etos kerja yang pantas untuk kita pelajari. Etos kerja yang membuat customer menjadi senang berlama-lama minum kopi sambil mendengarkan musik yang indah.

Etos kerja biasanya merupakan hasil akhir dari sebuah budaya perusahaan.

Saat saya sedang menikmati etos kerja para karyawan Starbucks Coffee, saya menjadi sangat yakin dengan kisah kecintaan Mr. Howard Schultz kepada kopi. Pengetahuan tentang kopi dan peminum kopi telah membentuk mind set dan karakter Mr. Howard Schultz, untuk membangun budaya perusahaan Starbucks Coffee yang luar biasa disiplin.

Kita semua harus jujur bahwa untuk membangun sebuah etos kerja yang baik, dibutuhkan sebuah habitat kerja yang dipenuhi rasa cinta untuk melayani. Rasa cinta untuk melayani ini harus didukung dengan kepemimpinan, keyakinan, sistem, prosedur, dan pengetahuan yang total terhadap bisnis yang dijalani.

Good Corporate Citizen

“Warga Perusahaan Yang Baik Adalah Pribadi Dengan  Kesadaran Diri Sendiri Untuk Menjalankan Tugas Dan Tanggung Jawab, Dengan  Berpedomankan Etika Bisnis Dan Code of Conduct.” – Djajendra

Salah satu misi dari pelaksanaan prinsip-prinsip good corporate governance adalah menciptakan warga perusahaan yang berintegritas dan berdedikasi buat kekuatan bisnis perusahaan. Dan, perusahaan yang sehat dan kuat akan terwujud saat para warganya bekerja berdasarkan nilai-nilai moral dan etika bisnis yang berintegritas tinggi.

Good Corporate Citizen atau warga perusahaan yang baik adalah pribadi-pribadi yang patuh pada semua kebijakan perusahaan; patuh pada semua peraturan dan perundang-undangan yang ada; patuh untuk berjuang dan bekerja keras membela semua kepentingan para stakeholders; dan tidak pernah mengambil keuntungan pribadi dari sebuah aktifitas bisnis perusahaan.

Good Corporate Citizen artinya warga perusahaan yang bertanggung jawab untuk bekerja dan membangkitkan semua potensi sukses perusahaan melalui cara kerja beretika. Mereka adalah pribadi-pribadi yang tidak hitung-hitungan dalam  membantu perusahaan; mereka adalah warga perusahaan yang berdedikasi penuh bersama tanggung jawab buat menjaga reputasi, kredibilitas, dan kehormatan perusahaan di mana pun.

Sebagai warga perusahaan terbaik, mereka sangat disiplin untuk melaksanakan semua aturan – aturan perusahaan dengan sesempurna mungkin. Mereka memiliki tingkat kesadaran diri yang sangat terukur untuk menaklukan semua keadaan yang mengundang bencana risiko ke perusahaan. Mereka adalah warga perusahaan yang tekun bekerja keras untuk memaksimalkan semua kepentingan stakeholders, tanpa melihat stakeholders mana yang lebih kuat atau siapa yang lebih berkuasa. Mereka bekerja dengan karakter satu kata dan satu perbuatan.

6 Langkah Mengimplementasikan Good Corporate Governance

PROFILE DJAJENDRA 2“Temukan Nilai-Nilai Kebaikan Dan Keadilan Untuk Mendukung Profesionalisme Bisnis Anda, Agar Bisnis Anda Dicintai Oleh Setiap Stakeholder Di Sepanjang Zaman.” – Djajendra

Menjalankan praktik bisnis dengan prinsip-prinsip good corporate governance, sama artinya dengan menyiapkan payung sebelum hujan turun, ataupun menjauhkan perusahaan dari berbagai masalah dengan risiko tinggi.

Good corporate governance memerlukan komitmen tinggi dengan dukungan konsistensi pikiran, emosi, dan tindakkan yang strategis dalam setiap kebijakan dan operasional perusahaan.

Konsep good corporate governance, bila dijalankan secara cerdas dan bijaksana, maka ia akan berfungsi sebagai alat yang membantu manajemen untuk memperkuat  semua aspek kerja perusahaan, baik itu untuk memperkuat internal perusahaan, maupun untuk menjaga reputasi dan kredibilitas ke eksternal, khususnya stakeholder.

Good corporate governance yang baik haruslah disinergikan ke dalam total quality management, agar gaya manajemen perusahaan bisa berjalan sesuai dengan konsep manajemen mutu yang didalamnya diperkuat oleh prinsip-prinsip good governance. Semua ini diperlukan, agar perusahaan bisa menjalankan strategi bisnisnya secara mulus, sekaligus dapat mengidentifikasikan dan mengatasi berbagai potensi risiko yang bisa merusak reputasi dan kredibilitas perusahaan di mata stakeholdernya.
Praktik good corporate governance tidaklah boleh sekedar menjadi alat kontrol yang berlebihan, tapi harus menjadi alat yang memperkuat fungsi-fungsi manajemen untuk memberikan kualitas terbaik kepada stakeholder.

Perusahaan harus memanfaatkan prinsip-prinsip good corporate governance, untuk  meningkatkan kualitas pelayanan perusahaan kepada karyawan, customer, shareholder, dan stakeholder lainnya secara cerdas dan profesional, sesuai dengan arah dari strategi bisnis perusahaan.

Berikut ini ada 6 langkah untuk mengimplementasikan good corporate governance yang efektif.

1. Mempersiapkan Mind Set Sumber Daya Manusia
Mind set adalah sesuatu yang begitu penting, dan sangat berpengaruh atas suksesnya implementasi nilai-nilai dan prinsip-prinsip good governance di dalam perusahaan. Oleh karena itu, pada langkah pertama ini, perusahaan harus melakukan motivasi dan mengembangkan mind set baru yang sesuai dengan nilai dan prinsip good governance kepada setiap orang di perusahaan, tanpa terkecuali. Langkah pertama ini adalah awal dalam proses menginternalisasikan nilai-nilai good corporate governance kepada setiap individu di perusahaan. Di sini, diperlukan komitmen dan ketulusan dari para top manajemen untuk meletakkan kerangka dasar good corporate governance di setiap fungsi dan aspek kerja perusahaan. Sebab, hanya para top manajemen-lah yang memiliki kekuasaan besar, untuk mengharuskan setiap individu dalam perusahaan, bekerja sesuai nilai dan prinsip good corporate governance.

2. Mempersiapkan Rencana Implementasi
Langkah kedua ini adalah langkahnya para top manajemen. Implementasi good governance hanya bisa dimulai atas restu dan kuasa para top manajemen. Oleh sebab itu, pimpinan puncak perusahaan harus menyiapkan tim yang hebat untuk menyusun rencana implementasi. Di mana, rencana ini dibuat untuk menyatukan setiap proses bisnis dan organisasi secara total, berbasiskan nilai dan prinsip good governance.

Rencana implementasi harus mencakup,  rencana memanfaatkan nilai dan prinsip good governance untuk membangun reputasi dan kredibilitas pelayanan perusahaan kepada shareholder, pelanggan, karyawan, dan stakeholder lainnya. Rencana untuk memperkuat daya tahan dan daya saing perusahaan, termasuk rencana untuk memperbaiki setiap risiko menjadi peluang, sehingga perusahaan dapat memfokuskan dirinya buat masa depan yang lebih cemerlang.

3. Mempersiapkan Standard Operating Procedure Yang Baru

Langkah ketiga ini adalah kelanjutan dari langkah kedua. Setelah pimpinan puncak menyiapkan rencana implementasi, maka harus dibentuk sebuah tim, untuk menyesuaikan kembali Standard Operating Procedure (SOP) yang ada dengan nilai dan prinsip good governance, yang sesuai dengan kebijakan yang dihasilkan dari langkah kedua. Selanjutnya, SOP yang baru ini, wajib menginternalkan nilai dan prinsip good governance ke dalam prosedur pengoperasian bisnis dan organisasi perusahaan; wajib menjelaskan mengenai bagaimana prosedur standar dalam mengelola perusahaan berbasis good governance; dan wajib menjadi alat yang konsisten untuk membantu setiap orang di perusahaan dalam menjalankan bisnis perusahaan sesuai visi, misi, values, dan strateginya.

4. Mempersiapkan Implementasi SOP Secara Paralel

Setelah langkah ketiga tuntas, maka pimpinan puncak harus membuat tim untuk melakukan implementasi terhadap SOP baru. Implementasi terhadap SOP baru tidak boleh bersifat langsung, sebab nanti bisa menciptakan stres dan kepanikan di dalam organisasi. Untuk itu, SOP baru haruslah dijalankan secara paralel dengan SOP yang lama. Tim yang dibentuk pimpinan puncak ini, harus secara intensif mempelajari dan mengambil tindakkan untuk memperbaiki setiap stres dan kepanikan yang ditimbulkan oleh SOP baru. Tim harus fokus untuk menyiapkan SOP baru dari segala aspek, agar bisa segera menggantikan SOP lama secara permanen. Konsep paralel ini hanya bersifat sementara, dan harus dihentikan segera pada saat setiap orang terbiasa dengan SOP yang baru.

5. Membangun Komitmen Dan Mempertegas Budaya Baru Berbasis Good Governance

Pada langkah kelima ini, SOP baru harus sudah diterima dengan sepenuh hati oleh setiap orang di perusahaan. Termasuk, setiap pemimpin telah menjadi lebih ikhlas untuk melaksanakan setiap proses kerja berdasarkan prinsip dan nilai  good governance. Dan, sekaranglah saatnya untuk membangun komitmen yang mempertegas kembali kepada setiap orang, untuk selalu konsisten menjalankan budaya kerja berbasiskan nilai dan prinsip good governance, serta harus siap memperbaiki kesalahan untuk memenuhi komitmen yang telah tersusun rapi dalam wujud SOP baru.

Tim yang dibentuk pada saat implementasi SOP paralel, harus dibentuk kembali dengan tugas dan tanggung jawab yang baru, untuk mengawasi dan memperbaiki proses pelaksanaan SOP baru. Selain itu, pimpinan puncak juga harus mempertegas komitmennya terhadap implementasi good governance dengan aturan, kebijakan, dan sistem organisasi yang sesuai dengan SOP baru.

Seluruh nilai-nilai yang ada di SOP baru tersebut, haruslah terfokus kepada daya saing dan daya tahan perusahaan, untuk bisa meningkatkan kualitas pelayanan yang memuaskan stakeholder. Khususnya, buat pelanggan, karyawan, dan shareholder.

6. Mengubah Teori Dan Konsep Menjadi Realitas

Sudah menjadi kebiasaan banyak orang yang sangat takut menghadapi perubahan. Jadi, pasti akan ada pihak-pihak yang keberatan dengan implementasi good governance di perusahaan. Pasti akan ada pihak-pihak yang berkata bahwa semua ini hanya teori dan konsep yang tak mungkin bisa dijalankan dalam lingkungan perusahaan. Untuk itu, pimpinan puncak bersama-sama dengan setiap pimpinan unit kerja harus bersikap super disiplin, untuk mengubah teori dan konsep good governance menjadi realitas yang membudaya di setiap sudut organisasi perusahaan. Ajarkan kepada setiap pribadi secara terus-menerus bahwa menciptakan perusahaan yang jujur, adil, terbuka, dan bertanggung jawab kepada stakeholder, serta membuat perusahaan menjadi lebih profesional, sehat, berdaya saing, berdaya tahan, berkinerja tinggi, akan menjadi tempat yang nyaman dan damai buat membangun impian karier masa depan yang gemilang.

Perusahaan harus membangun kualitas dari semua karyawan, tanpa kecuali, untuk memiliki kompetensi yang sesuai dengan nilai dan prinsip good governance. Untuk itu, diperlukan pelatihan yang dilakukan secara rutin dan terprogram dengan baik, yang terfokus kepada upaya membantu proses transformasi dari teori dan konsep menjadi kebiasaan baru yang membudaya.

Lakukan motivasi secara terus-menerus untuk menginternalisasikan nilai dan prinsip kerja good governance di semua level. Khususnya, yang terkait dengan pedoman etika bisnis, code of conduct, peraturan dan kebijakan perusahaan yang strategis lainnya. Lakukan evaluasi secara berkala untuk melihat konsistensi dan keberkelanjutan dari setiap orang terhadap budaya baru berbasis good governance.

Jangan lupa untuk memberikan penghargaan kepada unit kerja dan individu yang mampu menjadi inspirator dan motivator dalam membudayakan nilai-nilai dan prinsip-prinsip good governance di perusahaan. Dan, pastikan tidak ada yang menyerah atau merasa gagal untuk mentransformasikan nilai dan prinsip good governance menjadi budaya kerja yang dicintai oleh setiap orang di perusahaan

Good Corporate Governance Perlu di Motivasi ke Mind Set Karyawan

“Sebelum Menganugerahi Anda Dengan Kesuksesan Besar, Kesempatan Biasanya Menguji Keteguhan Hati Anda Melalui Kesulitan.” – Napoleon Hill

Ketika tulisan ini di buat saya sedang berada di kota Jambi. Saya sedang melakukan sebuah perjalanan mengelilingi pulau Sumatra bersama tim good corporate governance dari sebuah perusahaan besar, yang memiliki banyak cabang di pulau Sumatra. Saya diajak tim good corporate governance tersebut untuk memberikan motivasi kepada para pegawai mereka. Motivasi untuk menjalankan good corporate governance, yaitu dalam wujud menginternalisasikan pedoman etika bisnis dan code of conduct perusahaan.

Pelatihan yang saya lakukan bersama tim GCG ini sifatnya kolaborasi, kami semua menjadi satu tim yang saling melengkapi. Konsep pelatihan kolaborasi memang masih sangat jarang dipraktikan di Indonesia, tapi saya sangat kagum dengan kekompakkan dan kemenyatuan tim GCG bersama diri saya dalam perjalanan yang sangat membahagiakan hati ini. Tidak ada rasa lelah, tidak ada keluh-kesah, tidak ada wajah tanpa senyum. Setiap orang mampu memainkan peran dan fungsi masing-masing dengan luar biasa hebat. Saya benar-benar menemukan kekuatan energi positif yang luar biasa dari tim GCG tersebut.

Sudah tidak zamannya lagi pelatihan pegawai bersifat satu arah, semua pelatihan pegawai harus bersifat multi arah. Artinya, setiap individu wajib secara proaktif berpartisipasi untuk mengutarakan pendapat dan ide mereka buat kemajuan perusahaan dan kemajuan diri mereka sendiri.

Diperlukan pencerahan untuk menerangi batin dan pikiran para pegawai, sebab dalam kegelapan batin dan pikiran para pegawai tidak akan mampu melihat apa pun. Mereka hanya mampu mendengar suara tanpa mampu melihat, dan bila suara yang mereka dengar itu suara negatif, maka mereka akan menjadi pribadi negatif, walaupun dalam batin dan pikiran mereka ada benih-benih untuk berpikir dan bertindak positif.

Diperlukan pencerahan secara berkelanjutan untuk membuat para pegawai benar-benar memahami prinsip-prinsip positif dibalik praktik good corporate governance. Diperlukan kalimat-kalimat positif yang menegaskan nilai-nilai kebaikan yang ada dalam good corporate governance. Diperlukan pribadi-pribadi yang berpikiran luas dan dewasa untuk menyampaikan kalimat-kalimat baik tentang good corporate governance dan etika bisnis. Dan, saya sangat beruntung dapat ditemani oleh sebuah tim GCG yang luar biasa cerdas, dewasa, dan menguasai semua seluk beluk permasalahan secara bijaksana.

Pelatihan yang baik tidak hanya tergantung kepada sang pelatih atau pembicara, tapi sangat tergantung kepada pengetahuan, pengalaman, kedewasaan, dan kebesaran hati dari para pribadi yang bertanggung jawab kepada pelatihan tersebut.

Di sepanjang perjalanan saya bersama tim GCG ini, saya menemukan pribadi-pribadi dewasa yang bijaksana dan sangat berpengalaman di bidang pekerjaan mereka, sehingga aura dan intuisi mereka lebih berbicara daripada kata-kata yang terucap.

Perjalanan saya bersama tim GCG ini masih tersisa satu minggu lagi, perjalanan bahagia yang sulit terlupakan. Saya menulis tulisan ini di bulan Oktober 2009, dari lobi Abadi Hotel & Convention Center, kota Jambi, di jalan Jend Gatot Subroto No.92-98.

Older posts Newer posts