PT DJAJENDRA MOTIVASI UNGGUL

Leadership Organization Business Personal Interpersonal Entrepreneurs and Employed Professionals

Category: Performance Management (page 9 of 9)

Manajemen Kinerja

KARYAWAN BERKUALITAS

“Karyawan Adalah Modal Intelektual Yang Paling Bernilai Untuk Dirawat Secara Berkelanjutan Demi Keunggulan.” – Djajendra

Pengembangan kualitas karyawan yang berkelanjutan haruslah menjadi prioritas. Bila perusahaan secara terencana melakukan investasi di dalam pengembangan karyawan, maka  kemampuan dan kualitas karyawan akan menjadi modal intelektual dari perusahaan. Oleh karena itu, promosikan budaya belajar di tempat kerja Anda, agar karyawan di perusahaan Anda dapat menjadi modal atau aset intelektual yang membuat perusahaan Anda cemerlang di sepanjang  zaman.

Bila karyawan sudah menjadi modal intelektual dari perusahaan, maka karyawan akan menjadi energi yang kuat untuk menciptakan nilai tambah perusahaan. Termasuk, untuk menciptakan keuntungan, reputasi, kredibilitas, goodwill, ekspansi, dan keunggulan perusahaan dalam memenangkan kompetisi di pasar.

Untuk membuat karyawan menjadi modal intelektual, perusahaan harus memiliki program pelatihan yang terarah kepada visi dan misi perusahaan. Perusahaan harus melakukan program mentoring kepada karyawan secara berkelanjutan untuk membuat karyawan memahami apa yang diharapkan perusahaan dari mereka. Perusahaan harus membangkitkan motivasi belajar karyawan agar mereka bisa menjadi pembelajar yang kreatif untuk memiliki etos kerja sesuai visi dan misi perusahaan.

Peran kepemimpinan untuk mendorong ide-ide baru ke dalam pekerjaan akan menjadi motivasi yang membangkitkan gairah belajar dari karyawan. Membina proses belajar kreatif haruslah melalui jalan komunikasi yang memotivasi dan memberikan harapan positif melalui masa depan kepada karyawan. Selanjutnya, kepemimpinan harus selalu berdiri paling depan dengan sikap tegas, untuk membantu setiap proses mewujudkan karyawan menjadi modal intelektual dari perusahaan. Tidak boleh ada keraguan di dalam jiwa kepemimpinan untuk membuat semua karyawan sebagai modal inteletual dari perusahaan.

Partisipasi aktif karyawan untuk pertumbuhan dan perkembangan kualitas diri mereka, akan menjadi sebuah cara yang efektif dalam membuat karyawan menjadi modal intelektual dari perusahaan. Dalam hal ini, perusahaan harus memiliki strategi untuk membangun kesadaran karyawan agar karyawan mampu me-manage diri sendiri untuk dapat menjadi modal intelektual demi keberhasilan masa depan perusahaan dan dirinya sendiri.

Keterlibatan dan kemampuan tim manajemen dalam mewujudkan modal intelektual perusahaan melalui pekerjaan karyawan yang lebih berkualitas; kompensasi dan perhatian yang adil dan wajar; turnovers karyawan yang rendah; penghematan biaya non karyawan; peningkatan kepuasan dan loyalitas pelanggan; perilaku kerja karyawan yang lebih besar inovasi, kreativitas, produktivitas, profitabilitas, dan keberanian untuk mengambil risiko yang terkalkulasi; akan menjadi sebuah kekuatan yang membuat semua karyawan menjadi modal intelektual dari perusahaan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MANAJER HARUS MEMANTAU KEHIDUPAN BATIN KARYAWAN UNTUK KINERJA OPTIMAL

“Persoalan Kehidupan Batin Seseorang Adalah Hal Yang Sangat Sensitif, Tapi Dalam Upaya Peningkatan Kinerja Organisasi Hal Ini Haruslah Bersikap Transparan Dan Terbuka.” – Djajendra

Secara umum, kepemimpinan dalam organisasi atau perusahaan selalu berpikir dan bersikap dengan sangat pragmatis tentang cara pencapaian kinerja. Sangat jarang ada manajer yang tertarik untuk mengelola dinamika pikiran, emosi, persepsi, gairah, dan motivasi karyawan di tempat kerja. Padahal, semua dinamika di atas tersebut sangat mempengaruhi kinerja organisasi. Realitas selalu menempatkan karyawan sebagai pekerja yang telah dibayar dan wajib melengkapi tugas dan tanggung jawab harian, di setiap hari kerja, sesuai format standar kerja perusahaan. Masalah kehidupan batin karyawan dianggap sebagai persoalan yang sangat pribadi, sehingga tidak etis untuk dicampuri. Persoalannya, saat karyawan dalam kehidupan batin yang buruk, mereka akan berkontribusi secara buruk untuk kinerja organisasi. Artinya, kehidupan batin karyawan yang buruk akan menjadi beban atau penghambat dalam pencapaian kinerja terbaik perusahaan.

Keberhasilan dalam mencapai kinerja terbaik perusahaan tidak hanya tergantung kepada kecerdasan, pengetahuan, keterampilan, etika, dan integritas. Tapi, sangat tergantung kepada suasana hati, kestabilan emosi, motivasi, gairah, persepsi, niat, dan pikiran positif  karyawan untuk berkontribusi secara total buat kinerja terbaik diri mereka sendiri dan perusahaan. Prinsip keterbukaan atau transparansi di tempat kerja seharusnya dapat mendorong minat para manajer untuk belajar memahami suasana hati dan pikiran dari para karyawannya, agar kehidupan kerja dalam perilaku berpura-pura dan tidak terbuka dapat dihindari.

Karyawan sangat butuh emosi positif, gairah, pikiran positif, persepsi untuk mencintai pekerjaan dan perusahaan; serta perilaku untuk saling berinteraksi secara produktif antar karyawan, rekan kerja, bawahan, dan atasan untuk bisa saling bekerjasama dalam semangat untuk menghasilkan kualitas kerja dan kinerja terbaik. Oleh karena itu, sudah seharusnyalah peran manajer di tempat kerja mampu terlibat dalam mengurusi kehidupan batin dan pikiran karyawan. Termasuk, memotivasi suasana hati karyawan untuk memberikan pelayanan prima kepada pelanggan, pemasok, atau stakeholder lainnya.

Manajer harus bekerja keras untuk tidak membiarkan karyawan mengalami emosi frustasi yang mengurangi perasaan bangganya terhadap pekerjaan, kepemimpinan, dan perusahaan. Selama ini, peran dan fungsi manajer lebih banyak tercurah kepada hal-hal yang terlihat secara kasat mata, tapi untuk hal-hal yang tidak terlihat sepertinya jarang sekali ada manajer yang memiliki kemampuan empati untuk memahaminya. Dalam era organisasi milenium ini, peran dan fungsi manajer harus diperluas untuk bisa memahami kehidupan batin karyawan untuk bisa memotivasi kontribusi mereka terhadap pekerjaan harian di tempat kerja dalam upaya peningkatan kinerja organisasi.

Persoalan kehidupan batin seseorang adalah hal yang sangat sensitif, tapi dalam upaya peningkatan kinerja organisasi hal ini haruslah bersikap transparan dan terbuka. Setiap karyawan dan pimpinan di tempat kerja pastinya memahami bahwa mereka dituntut untuk bersikap dan berperilaku secara profesional. Oleh karena itu, setiap orang di tempat kerja harus berjiwa besar dan ikhlas untuk mengelola kehidupan batin demi kinerja organisasi melalui kreatifitas, kualitas kerja, komitmen terhadap pekerjaan, dan kontribusi untuk kebersamaan di tempat kerja. Bila kehidupan batin terkelola secara baik, maka semua kejadian dalam interaksi di tempat kerja pasti akan  disikapi secara positif dalam persepsi, emosi, dan motivasi yang membahagiakan semua orang.

Untuk training hubungi: www.djajendra-motivator.com

MENINGKATKAN KINERJA USAHA

“Bayarlah Karyawan Anda Dengan Gaji Yang Memenuhi Kebutuhan Dan Kenyamanan Hidup Mereka, Dan Yakinlah Bahwa 95% Dari Mereka Akan Memberikan Kualitas Terbaik Untuk Usaha Anda.” Djajendra

Suatu ketika ada seorang pengusaha tekstil yang bertanya kepada saya tentang cara terbaik untuk meningkatkan kinerja usahanya. Dalam kesempatan itu saya sampaikan bahwa cara terbaik untuk meningkatkan kinerja usaha adalah dengan memiliki teknologi produksi yang mampu menghasilkan produk berkualitas dengan biaya rendah, agar produknya bisa memangkas harga pasar untuk mendapatkan pangsa pasar terbesar.

Setelah mendengar jawaban dari saya, pengusaha tekstil tersebut merasa tidak puas, dia berbicara tentang banyak faktor-faktor lain, terutama tentang kualitas sumber daya manusia dan faktor sosial ekonomi yang tidak efisien, yang sangat mempengaruhi kinerja usahanya. Dia merasa banyak sekali biaya-biaya di luar biaya produksi yang membuat produknya menjadi mahal dan sulit bersaing, sehingga secara akumulasi kinerja usahanya mengalami tren penurunan.

Setelah mendengar curhat dari pengusaha tekstil tersebut, saya berkata “Saya sangat menyadari bahwa kinerja usaha sangat tergantung kepada banyak faktor, tapi kuncinya terletak kepada teknologi dan sumber daya manusia yang mampu menghasilkan produk berkualitas berbiaya murah untuk memenangkan kompetisi di pasar.  Tentang hal-hal yang terkait dengan biaya-biaya di luar biaya produksi adalah masalah kualitas manajemen. Bila saja tim manajemen menjalankan fungsi dan perannya sesuai nilai-nilai good corporate governance melalui panduan etika bisnis yang berintegritas, maka saya yakin efisiensi dan efektifitas usaha akan dengan sendirinya menjadi sangat kompetitif.”

Sering sekali pengusaha lebih suka mencari kekurangan dari luar kendali dirinya untuk dijadikan alasan atas penurunan kinerja usahanya. Padahal, ada banyak hal yang harus mereka lakukan secara internal untuk bisa mengaktifkan operasional usaha yang lebih berkualitas, efisien, efektif, dan produktif. Menurut saya, ada tiga aspek terpenting yang harus selalu diperhatikan, yaitu: kualitas bahan baku, kualitas sumber daya manusia, kualitas mesin dan teknologi produksi. Bila ketiga kualitas ini dapat dioptimalkan melalui tim manajemen yang cerdas dan berintegritas, maka pastilah perusahaan tersebut akan menjadi kuat dan memenangkan kompetisi di pasar.  Integritas tim manajemen puncak untuk menyediakan alat-alat produksi berkualitas terbaik, serta selalu melatih dan memperhatikan kenyamanan dan keamanan kerja dari sumber daya manusianya, akan menjadikan perusahaan mampu berkinerja maksimal sesuai proyeksi perusahaan. Termasuk, strategi bisnis yang cerdas dan kreatif akan menjadi alat motivasi yang kuat buat sumber daya manusia perusahaan untuk bekerja lebih giat dalam mencapai kinerja sesuai harapan.

Di saat tim manajemen puncak mampu menyiapkan infrastruktur berkualitas terbaik untuk semua aktivitas operasional dan strategi perusahaan, serta mampu memenuhi kebutuhan dan harapan dari sumber daya manusia, maka setiap orang di dalam perusahaan akan merasa memiliki tanggung jawab moral untuk tetap teguh dan akan terus maju mengejar kinerja terbaik mereka. Mereka akan bekerja lebih keras dan lebih cerdas untuk memberikan kontribusi terbaik buat peningkatan kinerja usaha.

Kinerja usaha sangat tergantung kepada kemampuan dan integritas sumber daya manusia untuk menerjemahkan strategi bisnis dalam satu misi bersama menuju kepada proyeksi kinerja yang diharapkan. Artinya, strategi bisnis perusahaan tidak hanya cukup dipahami oleh sekelompok kecil elit pimpinan perusahaan, tapi harus diterjemahkan dalam berbagai bahasa manajemen dan operasional untuk dipahami oleh semua lapisan sumber daya manusia perusahaan; agar mereka tahu dan mengerti apa yang harus mereka kontribusikan dari bakat dan potensi mereka untuk peningkatan kinerja usaha perusahaan. Bila karyawan tidak mampu menerjemahkan strategi perusahaan dalam upaya meningkatkan kinerja usaha, maka hasilnya: semua energi sumber daya manusia akan terbuang percuma, tim manajemen puncak akan kehilangan waktu untuk mengejar kinerja sesuai proyeksi, dan kinerja usaha dari perusahaan akan terus berkurang dan menurun.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Newer posts