PELAYANAN PUBLIK SESUAI JANJI DAN KOMITMEN ORGANISASI

DJAJENDRA 20 NOV 2013PELAYANAN PUBLIK SESUAI JANJI DAN KOMITMEN ORGANISASI

“Saat kepemimpinan mencanangkan perubahan untuk meningkatkan pelayanan publik yang lebih berkualitas, maka orang-orang yang cinta zona nyaman akan menyampaikan kisah-kisah sukses dari perubahan tersebut, sehingga kepemimpinan menjadi senang mendengarkan berita baik ini. Dan, rasa senang inilah merupakan akar dari terjebaknya kepemimpinan di dalam permainan orang-orang yang cinta zona nyaman. Kisah selanjutnya, kepemimpinan akan berpikir bahwa organisasi sudah luar biasa dengan pelayanan publiknya, sedangkan publik merasakan sebaliknya, dan keluhan publikpun tetap akan mengalir seperti biasanya.” ~ Djajendra

Kualitas pelayanan publik haruslah menjawab semua iklan, promosi, pariwara, dan kampanye yang organisasi lakukan. Jadi, apapun yang ditampilkan di dalam program sosialisasi dan pemasaran haruslah dipertanggungjawabkan di dalam wujud pelayanan publik yang profesional dan penuh integritas.

Kepercayaan publik dimulai saat mereka terpesona atau meyakini semua isi program pariwara yang secara proaktif dikampanyekan oleh organisasi. Dan kepercayaan publik ini akan diuji kebenarannya, yaitu saat mereka langsung terhubung dengan organisasi untuk menerima pelayanan publik. Bila ternyata para petugas di bagian pelayanan publik tidak melayani seperti yang dijanjikan di dalam pariwara organisasi, maka semua kampanye hubungan masyarakat yang dilakukan oleh organisasi akan sia-sia, dan berpotensi menjadi awal yang lebih merusak reputasi organisasi.

Dalam realitas, sering sekali terlihat upaya keras organisasi untuk membangun reputasi dengan kampanye hubungan masyarakat (public relations) yang sangat proaktif.  Dan hal ini dapat kita lihat, saat organisasi memanfaatkan media, seperti: TV, majalah, radio, koran, website, dan media sosial dengan sedemikian rupa, yang menawarkan janji dan komitmen pelayanan publiknya untuk tujuan membangun reputasi positif organisasi.

Jelas, membangun reputasi dengan pariwara yang meyakinkan publik adalah sebuah upaya yang harus dibuktikan kebenarannya di lapangan. Jadi, upaya membangun reputasi tersebut baru akan efektif, bila di lapangan para petugas pelayanan memiliki integritas dan tanggung jawab sepenuh hati, untuk melestarikan reputasi organisasi seperti yang sudah dibangun melalui kampanye proaktif  hubungan masyarakat.

Pelayanan publik yang profesional adalah yang terhubung dengan masyarakat secara sepenuh hati. Dalam hal ini, hubungan masyarakat di dalam pelayanan publik bukanlah pilihan, tetapi merupakan kewajiban organisasi. Oleh karena itu, setiap orang di dalam organisasi harus memiliki kesadaran dan niat baik, untuk memiliki hubungan baik dengan publik yang sedang dilayani. Dan hal ini, wajib diwujudkan secara proaktif melalui perilaku, sikap, dan sifat yang penuh kualitas dan integritas. Jadi, setiap individu organisasi wajib menampilkan diri dengan sepenuh hati dan penuh empati di dalam memberikan pelayanan sesuai janji dan komitmen organisasi.

Mindset yang diperlukan di dalam pelayanan publik adalah mindset yang tidak menonjolkan ego pribadi, tetapi mindset yang menempatkan kerendahanhati dan integritas sebagai dasar dalam meningkatkan kualitas pelayanan.

Menciptakan atau meningkatkan reputasi dan kredibilitas organisasi membutuhkan waktu minimal dua sampai lima tahun. Dan upaya peningkatan ini wajib dirawat setiap hari, termasuk diperbarui, dan juga dimodifikasi dengan inovasi pelayanan, yang lebih memudahkan publik untuk mendapatkan pelayanan berkualitas dari organisasi.

Reputasi dan kredibilitas itu seperti kaca yang mudah pecah. Jadi, dalam hal apapun, setiap insan organisasi wajib disadarkan dan dijaga moralnya agar tidak membuat kelalaian yang berakibat pada hilangnya kepercayaan publik pada pelayanan organisasi.

Setiap insan organisasi harus bekerja dengan terencana dan juga terfokus pada upaya untuk mencapai hasil yang memuaskan. Komunikasi, kolaborasi, koordinasi, dan energi positif haruslah menjadi fondasi yang membuat setiap orang saling bertanggung jawab, untuk memberikan pelayanan publik yang penuh integritas dan berkualitas.

Kepemimpinan organisasi harus selalu mawas diri dengan cara buka mata, buka telinga, buka akal sehat, dan buka hati agar mampu menyiapkan sumber daya manusianya untuk menjawab isu-isu negatif tentang pelayanan organisasinya.  Dan juga, harus menjadi pemimpin yang cerdas agar orang-orang di sekitar tidak memainkan sisi lemah kepemimpinan, yaitu rasa senang oleh pujian.

Salah satu penyebab kegagalan dalam pelayanan publik adalah kemampuan yang luar biasa dari orang-orang yang cinta zona nyaman. Orang-orang yang cinta zona nyaman ini mampu memainkan titik-titik lemah manajemen dan kepemimpinan. Pada umumnya, kegagalan perubahan di dalam organisasi selalu disebabkan oleh orang-orang kuat yang sudah nyaman dengan rutinitas dan kebiasaan yang ada.

Jadi, saat kepemimpinan mencanangkan perubahan untuk meningkatkan pelayanan publik yang lebih berkualitas, maka orang-orang yang cinta zona nyaman ini akan berdiri dibarisan paling depan untuk membantu pariwara dan sosialisasi. Saat implementasi, mereka juga yang paling aktif akan menyampaikan kisah-kisah sukses kepada kepemimpinan, sehingga kepemimpinan menjadi senang mendengarkan berita baik ini. Dan, rasa senang inilah merupakan akar dari terjebaknya kepemimpinan di dalam permainan orang-orang yang cinta zona nyaman. Kisah selanjutnya, kepemimpinan akan berpikir bahwa organisasi sudah luar biasa dengan pelayanan publiknya, sedangkan publik merasakan sebaliknya, dan keluhan publikpun tetap akan mengalir seperti biasanya.

Para pemimpin harus memahami bahwa rasa senang oleh pujian adalah salah satu titik lemah yang akan menghilangkan sikap kritis kepemimpinan. Jadi, para pemimpin sebagai orang-orang yang bertanggung jawab penuh atas program perubahan dan program peningkatan kualitas pelayanan publik, haruslah selalu menggunakan akal sehat, dan juga bersikap rasional, termasuk memiliki empati yang kuat untuk mendengarkan keluhan publik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MEMATUHI ATURAN, PERATURAN DAN MENGIKUTI PROSEDUR DENGAN PERILAKU KERJA YANG PROFESIONAL

DJAJENDRA 20 NOV 2013

“Aturan dan peraturan bukanlah kekuatan yang mencoba membatasi kebebasan ataupun kemerdekaan jiwa seseorang. Tetapi, merupakan kekuatan yang menegakkan kebebasan dan kemerdekaan bersama di dalam ketegasan, kepastian, dan tanggung jawab.”~ Djajendra     

Dalam sebuah organisasi sangat banyak kepentingan yang terlibat di dalamnya, sehingga semua orang harus disatukan ke dalam budaya kehidupan kerja yang fokus pada visi, misi, dan tujuan bersama.

Bila semua orang sudah merasa bersatupadu di dalam lingkungan kerja yang solid dan harmonis; maka hal ini akan menjadi energi yang meningkatkan moral, kepuasan kerja, kinerja, produktivitas, hubungan, dan semangat kontribusi yang terus-menerus menjadi lebih baik. Semua ini hanya bisa didapatkan dari penegakkan aturan dan peraturan yang lebih tegas, tepat, konsisten, serta jelas dan mudah untuk dipahami.

Organisasi yang unggul pasti dibangun dengan infrastruktur dan sistem yang baik, serta diperkuat dengan aturan dan prosedur yang jelas, tegas, mengikat, dan konsisten. Jadi, aturan, peraturan, dan prosedur dibuat untuk dipatuhi agar kehidupan kerja menjadi lebih konsisten di dalam kepastian dan ketegasan.

Semakin banyak jumlah orang di sebuah organisasi semakin beragam pola pikir, kepentingan, niat, kepercayaan, keyakinan, cara kerja, dan pola kerja mereka. Dan semua ini menjadi sangat penting untuk diatur dalam satu kepastian dan ketegasan, dengan maksud agar semua orang bisa memahami dan menegakkan irama kehidupan kerja di dalam aturan bersama.

Aturan dan peraturan bukanlah tanda ketidakpercayaan, tetapi merupakan tanda kepastian dan ketegasan, untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan nilai dan prinsip yang dimiliki organisasi. Jadi, di tempat kerja, tidaklah etis bila membenci aturan-aturan yang mendisiplinkan diri untuk patuh pada berbagai kebijakan dan strategi organisasi. Sebab, aturan dan peraturan bukanlah kekuatan yang mencoba membatasi kebebasan ataupun kemerdekaan jiwa seseorang. Tetapi, merupakan kekuatan yang menegakkan kebebasan dan kemerdekaan bersama di dalam ketegasan, kepastian, dan tanggung jawab.

Setiap orang di dalam organisasi wajib untuk mempercayai aturan dan peraturan, serta tidak berpikir bahwa dirinya tidak dipercaya sehingga harus diatur dengan peraturan. Gunakan akal sehat dan pahami konsekuensi bila semua orang menjadi tidak patuh pada aturan dan peraturan.

Pengawasan yang penuh disiplin dalam penegakkan aturan dan peraturan sangatlah diperlukan. Sebab, pada kenyataannya tidak semua orang memiliki tingkat akal sehat yang sama, atau kesadaran akan konsekuensi atas tidak patuhnya pada aturan, peraturan, dan juga pada prosedur organisasi.

Ketidakpatuhan pada aturan, peraturan, dan prosedur sangatlah berisiko untuk menciptakan penggelapan, penyalahgunaan, kesalahan, penyembunyian, dan perbuatan pelanggaran etika, yang pada akhirnya menjadi sesuatu yang merugikan semua pihak.

Penegakkan peraturan dan aturan yang tegas di tempat kerja akan menjadi kekuatan yang sempurna untuk menjalankan budaya integritas, kejujuran, loyalitas, keamanan kerja, kepedulian, tanggung jawab, keterbukaan, serta perjuangan untuk pencapaian kinerja organisasi dan pencapaian kesejahteraan dari para pemangku kepentingan.

Organisasi yang tertata rapi dengan aturan, peraturan, prosedur, sistem, dan nilai-nilai budaya kerja, serta dipatuhi dengan sepenuh hati dan totalitas dari jiwa-jiwa yang penuh integritas, akan menjadi tempat kerja yang menguntungkan dan melindungi semua pemangku kepentingan. Jadi, mematuhi aturan, peraturan, dan prosedur akan membantu diri sendiri untuk mendapatkan lingkungan kerja yang menjanjikan karir dan masa depan yang lebih menyenangkan.

Tempat kerja yang sehat dan produktif haruslah diciptakan dari semangat peningkatan moral kerja; dari ketekunan dan kehadiran; dari  produktivitas yang lebih baik; dan dari perilaku kerja yang patuh pada aturan, peraturan, dan prosedur. Dan jelas, semua cara ini adalah strategi yang paling praktis dan paling murah untuk digunakan dalam menciptakan lingkungan kerja berbudaya kinerja dan integritas.

Mematuhi aturan, peraturan dan mengikuti prosedur dengan profesional adalah langkah praktis untuk menciptakan iklim dan praktik organisasi dengan tata kelola yang baik. Dampak positifnya, setiap individu akan bekerja di dalam kepastian dan ketegasan, serta menjadi energi yang mempromosikan kesehatan organisasi melalui kesehatan mental, fisik, dan moral masing-masing.

Setiap orang yang patuh pada aturan dan peraturan akan menjadi energi positif, yang menciptakan lingkungan kerja menjadi lebih terawat, aman, nyaman, berkualitas, unggul, produktif, efektif, efisien. Dan lebih dari itu, mampu mempertahankan orang-orang terbaik untuk selamanya setia kepada organisasi, juga mampu meningkatkan kualitas dan kompetensi setiap orang untuk menjadi lebih berkualitas.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MELINDUNGI ORGANISASI DARI PERILAKU TIDAK JUJUR

DjajSCN9599“Orang cerdas bila perilakunya tidak jujur, dia akan menjadi sesuatu yang buruk untuk kehidupan.” ~ Djajendra

Pada awalnya, orang-orang suka kagum pada kecerdasan dan sopan santun seseorang. Pada akhirnya, orang-orang akan menilai seseorang dari perilaku jujur yang penuh integritas. Jadi, seseorang yang sangat terpelajar dan juga yang sangat cerdas, bila memiliki perilaku tidak jujur dan miskin integritas, maka dia akan dianggap sebagai sesuatu yang merusak kehidupan dan kebaikan.

Bila kecerdasan disalahgunakan untuk melayani ketidakjujuran, maka kecerdasan itu akan menjadi musibah untuk kehidupan. Sebab, ketidakjujuran adalah perilaku yang menyakitkan ataupun merugikan orang-orang yang menerima ketidakjujuran itu. Jadi, siapapun yang mempraktikkan perilaku tidak jujur, yang memperkaya diri sendiri, adalah energi negatif yang pasti menjatuhkan kinerja organisasi, dan merugikan para pemangku kepentingan.

Organisasi selalu menginginkan sumber daya manusia yang berpendidikan dengan prestasi tinggi, terampil, cerdas, beretos kerja profesional, kompetensi yang sesuai dengan tugas dan tanggung jawab, serta patuh pada etika dan integritas. Ini semua diharapkan menjadikan organisasi semakin kuat dan unggul dalam melayani tanggung jawab. Tetapi, sumber ketidakjujuran di dalam organisasi  juga selalu dimunculkan oleh orang-orang yang sangat pintar, berpendidikan sangat tinggi, sangat sopan, sangat bermoral tinggi, dan seolah-olah hidup dalam etika dan integritas tanpa celah.

Untuk orang-orang jujur yang sangat patuh pada etika dan integritas, saat terpaksa harus berurusan dengan seseorang yang tidak jujur, dan bila tidak punya pilihan sama sekali, mereka pastilah dirugikan dan sekaligus disakitkan. Mereka yang jujur pasti sulit melindungi diri dari kebohongan dan ketidakjujuran, karena tidak diberikan pilihan untuk bersikap jujur oleh yang tidak jujur. Pada akhirnya, mereka yang jujur tidak bisa melindungi diri dari efek buruk ketidakjujuran tersebut.

Agar kejujuran menjadi perilaku yang dipatuhi oleh semua orang, maka etika dan integritas wajib untuk diinternalisasikan secara rutin ke dalam mindset. Selanjutnya, etika dan integritas harus secara rutin diperiksa faktanya di lapangan, dan juga setiap hari harus direkam sikap dan perilaku orang-orang, untuk melihat apakah kejujuran sudah menjadi budaya yang menguatkan etika dan integritas.

Bila ketidakjujuran masih terlihat dalam rantai struktur organisasi, dan juga dalam rantai kepemimpinan, maka ketidakjujuran pasti menjadi lebih berkuasa dibandingkan kejujuran.

Melindungi organisasi dari perilaku tidak jujur adalah kewajiban. Bila organisasi dibiarkan ditangan orang-orang tidak jujur, mereka pasti menggerogoti seluruh potensi dan kekayaannya. Dan hal ini, akan menjadi penyebab kerugian ataupun penurunan kinerja  organisasi, walau organisasi sudah memiliki aset-aset produktif yang seharusnya tidak mungkin rugi.

Sistem yang hebat dan tata kelola yang luar biasa akan menjadi sia-sia oleh perilaku yang tidak jujur. Orang-orang tidak jujur adalah energi yang akan menggerogoti semua kebaikan dari sistem dan tata kelola tersebut, lalu mereka yang tidak jujur ini akan menularkan budaya tidak jujur. Dan pada akhirnya, organisasi akan kehilangan kekuatan jujurnya di dalam pelayanan dan pertanggungjawabannya.

Ketidakjujuran memiliki dampak yang merusak wibawa, moral, reputasi, dan kredibilitas organisasi. Jelas, kondisi ini akan menjadikan organisasi memiliki risiko yang sangat tinggi untuk kehilangan kinerja secara terus-menerus. Dan juga, pasti akan menyebabkan kerusakan pada pola kerja dan etos kerja, sehingga penurunan dan pelemahan di semua aspek organisasi menjadi berkelanjutan, yang dalam jangka panjang berpotensi mematikan organisasi.  

Perilaku tidak jujur haruslah dihadapi dengan sistem pengawasan yang penuh integritas untuk membangun budaya jujur. Sekuat apapun ketidakjujuran haruslah dihadapi dengan sabar dan penuh strategi. Ketidakjujuran pasti sangat pintar berbohong; pasti sangat pintar mencari cara untuk melindungi ketidakjujurannya; serta pasti sangat cerdas untuk menciptakan situasi dan perilaku yang seolah-olah dirinya adalah korban. Jadi, ketidakjujuran adalah energi dan karakter yang sangat mampu untuk memainkan peran pura-pura jujur, sehingga orang-orang awam akan kehilangan fokus atas perilaku tidak jujurnya.

Menyerah pada ketidakjujuran adalah kekalahan, yang membuat setiap orang akan masuk ke dalam kehidupan budaya organisasi yang tidak jujur. Organisasi dengan budaya tidak jujur hanya akan mampu menghasilkan hal-hal yang merugikan, menyakitkan, dan mengecewakan pemangku kepentingan.

Memotivasi kesadaran untuk berperilaku jujur tidaklah mungkin mempan untuk orang-orang yang mindsetnya sudah tidak jujur. Oleh karena itu, diperlukan tindakan yang penuh disiplin untuk menguatkan sistem, tata kelola, serta pengawasan yang berfondasikan etika dan integritas.

Jadi, menghadapi ketidakjujuran tidaklah mungkin dapat diselesaikan sebatas pencerahan atau mempengaruhi moral dan hati nurani seseorang, tetapi wajib menjadi persoalan hukum yang adil dan tegas. Sebab, kehidupan ini adalah campuran dari orang-orang baik dan tidak baik. Hanya orang-orang baik yang dapat dipengaruhi melalui pencerahan, sedangkan orang-orang tidak baik akan selalu memelihara perilaku tidak jujur untuk keuntungan mereka.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

 

KEHILANGAN KEPERCAYAAN BERARTI KEHILANGAN PELUANG DAN MASA DEPAN

DJAJENDRA“Bisnis adalah kepercayaan, kurangnya kepercayaan akan menimbulkan krisis kredibilitas, termasuk penurunan reputasi.”~ Djajendra

Hal yang paling ditakutkan dari kata kepercayaan (trust) adalah menjadikannya sebagai pajangan, tetapi tidak pernah dilatih dan diinternalisasikan agar digunakan setiap orang di sepanjang waktu kerja mereka di kantor.

Kepercayaan adalah kemampuan setiap orang untuk mengalirkan potensi dan kompetensi dengan kekuatan etika dan integritas. Dan juga, kemampuan setiap orang untuk berkolaborasi; saling bergantung pada sistem dan prosedur kerja; berkontribusi untuk menghasilkan organisasi yang efektif dan produktif; serta menghasilkan jasa, produk, dan hasil akhir yang berkualitas terpercaya.

Perusahaan dengan kepercayaan yang tinggi dan solid di internal akan memiliki keharmonisan kerja, peningkatan kinerja yang terus-menerus, produktivitas yang tinggi, konflik yang rendah, serta kadar tekanan dan stres yang lebih rendah. Sebab, kepercayaan akan menyatukan setiap hati di dalam kolaborasi empati dan toleransi, sehingga tanggung jawab bersama di dalam energi kolaborasi akan menjadikan perusahaan sebagai tempat yang nyaman dan aman.

Kehilangan kepercayaan adalah kerugian besar. Bila perusahaan tidak mampu menjaga kepercayaan yang diberikan oleh pemangku kepentingan; maka perusahaan akan kehilangan peluang, reputasi, kredibilitas, penjualan, dan masa depan.

Banyak sekali perusahaan-perusahaan jatuh oleh kepercayaan yang hilang. Kepercayaan adalah harta yang sangat penting. Menjaga dan merawat kepercayaan dengan integritas, transparansi, akuntabilitas, dan perilaku etis, akan menjadikan perusahaan lebih dipercaya.

Arthur Anderson, kantor akuntan publik, yang masuk ke dalam lima besar terbaik dunia, harus kehilangan kepercayaan, dan pada akhirnya hilang untuk selamanya. Kelalaian kantor akuntan Arthur Anderson untuk menjaga etika dan integritas dalam menjalankan audit terhadap Enron Corporation, berakibat pada izin kantor akuntan publiknya dicabut oleh pengadilan di Amerika Serikat.

Reputasi dan kredibilitas yang sudah cukup lama dibangun oleh kantor akuntan publik Arthur Anderson, ternyata terhapus oleh peristiwa Enron, yang membuat mereka kehilangan kepercayaan untuk selamanya.

Bisnis adalah kepercayaan, kurangnya kepercayaan akan menimbulkan krisis kredibilitas, termasuk penurunan reputasi. Selama bisnis dijalankan dengan integritas dan perilaku yang etis, maka kepercayaan stakeholders kepada bisnis tersebut akan terus meningkat.

Sering sekali sebuah perusahaan tumbang oleh hilangnya kepercayaan dari pelanggan. Apalagi pada perusahaan-perusahaan yang penjualannya bergantung pada kontrak dari pelanggan, maka saat pelanggan kehilangan kepercayaan, saat itu juga perusahaan tersebut bisa langsung tidak mampu beroperasional.

Sekali kepercayaan hilang, maka membangun kembali kepercayaan bukanlah persoalan mudah, membutuhkan pembuktiaan integritas dan perilaku etis yang konsisten di sepanjang waktu. Dan juga, membutuhkan biaya yang sangat besar agar kepercayaan dapat dipulihkan kembali.

Kepemimpinan perusahaan harus mengambil tanggung jawab, untuk meningkatkan gairah setiap orang di dalam perusahaan agar ikhlas menjalankan kode etik dan etika bisnis perusahaan, dengan sepenuh hati dari integritas pribadi yang konsisten.

Jadi, bila pemimpin aktif memberikan pencerahan dan memperkaya setiap orang untuk hidup dalam kebenaran etika dan integritas, maka reputasi dan kredibilitas perusahaan akan semakin memperkuat kepercayaan stakeholders kepada perusahaan.

Kepercayaan haruslah dibangun dari internal perusahaan, yaitu dengan cara menciptakan lingkungan kerja yang menjauhkan orang-orang di dalam perusahaan terhadap hal-hal negatif, seperti: malas, frustrasi, kecewa, bingung, stres, apatis, marah, bosan, dan kehilangan harapan. Jadi, semua perilaku negatif tersebut adalah musuh utama dari kepercayaan. Dan, kepemimpinan perusahaan harus rajin menghapus semua perilaku negatif tersebut dari lingkungan perusahaannya.

Membangun kepercayaan adalah tugas utama kepemimpinan perusahaan. Setiap pemimpin wajib menciptakan harapan, lalu menjaga harapan tersebut dengan tata kelola yang etis dan penuh integritas.

Pemimpin harus membuat semua orang di dalam perusahaan merasa kebutuhannya terpenuhi dengan baik. Selanjutnya, secara rutin menguatkan orang-orang di dalam perusahaan agar saling percaya, serta melayani stakeholders dengan kekuatan etika dan integritas, sehingga rasa percaya stakeholders kepada perusahaan menjadi semakin meningkat.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

BUDAYA TRUST MENINGKATKAN PERDAGANGAN DAN INVESTASI

“Bangsa dan negara yang cerdas menyiapkan dirinya dengan budaya kepercayaan, akan mendapatkan keuntungan dan manfaat yang sangat besar dari globalisasi, termasuk akan menikmati kemakmuran dan kesejahteraan yang lebih baik.” ~ Djajendra

Kepercayaan adalah mata uang yang paling tinggi nilainya. Bila Anda menjadi orang yang paling dipercaya, maka permintaan atas jasa atau layanan dari Anda akan sangat tinggi. Demikian juga, bila produk atau jasa dari perusahaan Anda sangat dipercaya oleh pelanggan dan stakeholders lainnya, maka potensi bisnis Anda akan terus meningkat secara berkelanjutan, dan pastinya penjualan akan berada di posisi tertinggi.

Dalam dunia yang semakin kecil oleh globalisasi dan teknologi internet ini, setiap warga negara Indonesia harus sadar akan pentingnya kepercayaan dalam pembangunan ekonomi bangsa dan negara Indonesia. Bila kejujuran, transparansi, akuntabilitas, dan kualitas dapat diberikan dari integritas dan etika yang tinggi; maka pandangan positif  dari warga atau korporasi negara-negara lain, akan mempengaruhi peningkatan perdagangan dan investasi mereka ke Indonesia. Jadi, trust atau kepercayaan adalah mata uang atau kekayaan abadi yang wajib Anda hadirkan dalam aktivitas bisnis sehari-hari. Tanpa trust, perusahaan Anda secara perlahan-lahan akan kehilangan pangsa pasar, dan pada akhirnya sulit mencapai target penjualan yang Anda tetapkan.

Setiap kebijakan bisnis tidaklah boleh mengabaikan faktor kepercayaan. Untuk meningkatkan faktor kepercayaan dalam bisnis diperlukan upaya peningkatan citra positif perusahaan. Citra positif akan meningkatkan reputasi dan kredibilitas perusahaan, dan hal ini akan memiliki dampak yang sangat besar pada kemampuan untuk menjual produk atau jasa.

Ada sebuah cerita menarik dari sebuah toko digital printing dan fotocopy, yang sangat agresif dalam membangun citra positif  tokonya secara fisik. Di tokonya sangat  banyak banner, brosur, dan berbagai macam tempelen-tempelen kertas warna-warni dengan kata-kata yang sangat indah tentang kualitas produk, harga yang kompetitif, dan pelayanan 24 jam. Setelah berjalan lebih dari tiga tahun, toko yang hebat itupun ditutup. Dari hasil penelitian, ternyata toko tersebut tidak memiliki sumber daya manusia yang tulus dan ikhlas memberikan pelayanan cepat dan tepat waktu. Sikap dan perilaku karyawan yang ketus, tanpa senyum, dan menganggap pelanggan yang membutuhkan mereka, mengakibatkan rasa kecewa dan hilangnya kepercayaan pada toko tersebut. Walau pemiliki toko tersebut sudah memiliki program-program penjualan yang hebat, tetapi sikap dan perilaku negatif dari para operator toko, telah menghilangkan kepercayaan pelanggan pada toko tersebut. Dari hari ke hari akumulasi rasa kecewa atas pelayanan yang buruk telah membuat para pelanggan meninggalkan toko tersebut untuk selamanya. Kabar buruk yang ditularkan dari mulut ke mulut tentang toko tersebut, pada akhirnya menciptakan akumulasi rasa tidak percaya yang sangat tinggi.   

Kepercayaan yang tinggi hanya dapat dihasilkan dari sikap dan perilaku yang dengan sepenuh hati menjalankan etika, integritas, akuntabilitas, transparansi, pelayanan dari hati, serta selalu bekerja lebih bersama kreativitas dan inovasi dalam menghasilkan hal-hal terbaik untuk memuaskan kebutuhan konsumen.

Budaya saling percaya akan menjadikan hubungan bisnis dan investasi antar negara, antar perusahaan, antar pribadi menjadi lebih produktif, serta menjanjikan pangsa pasar yang lebih besar.

Fondasi globalisasi adalah etika bisnis yang kuat dan unggul, hukum yang adil dan bijak, integritas di semua aspek bisnis; serta kinerja sumber daya manusia yang efektif, produktif, efisien, dan kreatif. Jadi, negara dan bangsa manapun pasti akan unggul dalam globalisasi, bila budaya trust menjadi energi yang menggerakan perilaku kehidupan kerja sehari-hari.

Bangsa dan negara yang cerdas menyiapkan dirinya dengan budaya kepercayaan, akan mendapatkan keuntungan dan manfaat yang sangat besar dari globalisasi, termasuk akan menikmati kemakmuran dan kesejahteraan yang lebih baik.  

Bila prasangka buruk mengurangi kepercayaan kepada sebuah bangsa dan negara, maka sudah seharusnya negara dan bangsa tersebut menunjukkan kepada dunia bahwa mereka telah membiasakan perilaku kehidupan dengan penguatan etika, integritas, transparansi, akuntabilitas, dan pelayanan yang lebih dari hati yang tulus.

Budaya trust adalah kekuatan yang wajib dibangun dan dikembangkan melalui sistem, tata kelola, mindset, dan perilaku kehidupan di dalam kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab, kreativitas, inovasi, pelayanan, serta kualitas yang terus-menerus ditingkatkan untuk tetap menang di pasar.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

INTEGRITAS PRIBADI MEMBANGUN PERSONAL BRANDING

“Personal branding seharusnya merupakan definisi diri sebagai pemimpin yang memiliki pola hidup, yang melayani diri sendiri dan orang lain, dengan integritas dan akuntabilitas diri yang konsisten.” ~ Djajendra

Membangun personal branding atau merek pribadi adalah sesuatu yang sangat penting bagi kemajuan karir. Dan semua ini wajib dilakukan dalam proses manajemen diri, untuk tujuan penguatan integritas dan akuntabilitas diri agar diri menjadi pribadi yang otentik terhadap hidupnya.

Dalam realitas sekarang ini, personal branding seolah-olah telah menjadi komoditas yang dapat dimiliki atau dibeli secara instan oleh siapapun. Orang-orang yang uangnya banyak, memiliki banyak pilihan untuk membangun personal branding. Mereka dapat menggunakan media sosial, TV, majalah, koran, ataupun film untuk membangun merek pribadinya. Sedangkan orang-orang yang uangnya terbatas dapat menggunakan media sosial di internet untuk membangun merek pribadinya.

Siapapun Anda memiliki kesempatan untuk memoles fisik, karakter, emosi, intelektual, spiritual, dan penampilan diri secara instan, dengan berbagai atribut agar secepatnya menjadi populer di masyarakat.

Banyak orang lupa bahwa personal branding yang abadi adalah hasil dari integritas pribadi yang konsisten. Bila seseorang membangun personal branding dengan cara-cara instan, yang terfokus pada pencitraan diri untuk mencapai sebuah tujuan jangka pendek, maka apa yang dilakukan itu akan cepat terbuka kepalsuannya.

Membangun personal branding melalui media sosial memerlukan prinsip kehati-hatian, dan juga kedewasaan diri di dalam integritas pribadi yang konsisten. Sebab, media sosial adalah raksasa yang menampung segala pola pikir, keyakinan hidup, sifat, perilaku, ideologi, emosi, dan kepribadian individu yang unik. Mengabaikan realitas media sosial, dan mengedepankan ego diri atas realitas media sosial, akan berdampak pada gagalnya personal branding yang Anda bangun.

Siapkan diri Anda dengan konsep diri dan manajemen diri agar kehadiran Anda di media sosial sesuai dengan tujuan dan misi hidup Anda. Lalu, miliki tujuan dan maksud yang jelas, terdefinisikan secara profesional, serta wujudkan misi dan tujuan kehadiran Anda di media sosial, untuk memperkaya wawasan kehidupan.

Personal branding Anda adalah komitmen Anda untuk melayani orang lain. Jadi, pastikan bahwa apa-apa yang Anda ceritakan tentang diri Anda, apa-apa yang Anda wacanakan untuk membangun kehidupan yang lebih baik, dan apa-apa yang Anda yakini dapat menjadikan kehidupan lebih baik, haruslah secara konsisten Anda perlihatkan melalui karakter dan gaya hidup Anda.

Personal branding Anda wajib mewakili nilai-nilai kehidupan Anda yang asli. Ingat! Personal branding bukanlah berarti promosi diri. Personal branding tidak ada hubungannya dengan promosi diri. Walau Anda dikenal banyak orang oleh merek pribadi Anda, tetapi hal itu mewakili nilai-nilai kehidupan yang secara konsisten, telah Anda ceritakan atau berikan kepada orang-orang di jaringan media sosial Anda.

Merek pribadi atau personal branding Anda merupakan aset yang harus Anda rawat di dalam energi integritas dan akuntabilitas yang konsisten. Jangan pernah memulai langkah awal dengan kepalsuan jati diri, karena hal itu akan menjadikan Anda hidup secara tidak konsisten dengan merek pribadi Anda.

Personal branding Anda yang asli dari integritas pribadi, akan menjadi alat untuk memajukan karir, kinerja, dan prestasi Anda secara berkelanjutan.

Bangunlah personal branding Anda dengan gairah dan antusias untuk pencapaian terbaik terhadap sebuah misi atau tujuan. Jangan pernah membangun personal branding dengan ambisi atau persaingan, karena hal itu akan menjadikan Anda terbebani oleh energi negatif dari ambisi dan persaingan Anda tersebut.

Jadilah jujur terhadap diri sendiri. Jadilah pribadi yang memimpin diri sendiri untuk pencapaian yang lebih tinggi. Jadilah pemimpin diri yang lebih otentik untuk melayani kehidupan dengan kontribusi, yang dihasilkan dari keunikan dan keikhlasan pribadi Anda.

Integritas pribadi Anda adalah harta yang tak ternilai kekayaannya. Jadi, gunakan integritas pribadi Anda sebagai fondasi atas bangunan merek pribadi Anda.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

BUDAYA KORUPSI MERUNTUHKAN KEDAULATAN BANGSA DAN NEGARA

“Budaya korupsi prinsipnya adalah uang. Jadi, siapa yang punya uang paling banyak akan mendapatkan segala kemudahan, dan siapa yang tidak punya uang harus menikmati ketidakadilan.“~ Djajendra  

Korupsi adalah perbuatan yang melemahkan bangsa dan negara.

Ketika hukum tidak mampu menghadapi korupsi, maka korupsi akan menjadi budaya yang memaksa orang-orang jujur untuk terlibat dalam korupsi.  

Bila orang-orang jujur sudah terlibat dalam korupsi, maka itu artinya kedaulatan bangsa dan negara sudah dikalahkan oleh korupsi.

Korupsi bukan saja sebuah ancaman dalam menjaga kedaulatan bangsa dan negara, tetapi sudah menjadi penyakit yang melemahkan bangsa dan negara, serta secara perlahan-lahan membuat bangsa dan negara kehilangan daya tahan dan kekuatan.

Korupsi akan menciptakan ketidakadilan dalam semua bidang kehidupan. Segala sesuatu dalam budaya korupsi akan diukur dengan uang. Jadi, budaya korupsi adalah wujud dari uang sebagai panglima kehidupan.

Di negara-negara yang korupsinya kuat, maka segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan bangsa dan negara akan menjadi lemah.

Ketidakadilan, kemiskinan, ketertinggalan, kebodohan, dan rendahnya keamanan adalah hasil nyata dari budaya korupsi.

Budaya korupsi tidak akan menciptakan kesejahteraan dan masa depan yang lebih baik untuk kemajuan bangsa dan negara. Budaya korupsi prinsipnya adalah uang. Jadi, siapa yang punya uang paling banyak akan mendapatkan segala kemudahan, dan siapa yang tidak punya uang harus menikmati ketidakadilan.   

Mengakhiri budaya korupsi hanya bisa diwujudkan dengan menegakkan budaya etika dan integritas. Lalu, menjadikan hukum sebagai panglima, dan tidak lagi menjadikan uang sebagai panglima kehidupan.

Korupsi tidaklah boleh dilindungi. Sebab, semakin dilindungi, semakin menjadi budaya permanen yang abadi kekuatannya.

Selama budaya etika dan integritas tidak kuat dalam berbangsa dan bernegara, maka semua upaya pemberantasan korupsi akan sia-sia, dan hanya akan menjadi tontonan yang memperlihatkan wajah buruk dari bangsa dan negara.

Setiap warga negara wajib berkontribusi untuk menghentikan budaya korupsi. Caranya adalah dimulai dari dirinya, keluarganya, komunitasnya, lingkungannya, dan seterusnya membangun kesadaran dan pencerahan agar semua orang mengerti bahwa korupsi adalah racun yang mematikan bangsa dan negara.

Selain partisipasi aktif warga negara dalam menghapus budaya korupsi. Sangatlah diperlukan integritas dan konsistensi pemerintah bersama semua lembaga tinggi dan tertinggi negara untuk membangun sistem, tata kelola, dan kebijakan yang membuat korupsi tidak berdaya.

Menghapus budaya korupsi haruslah dengan membangun mindset, bahwa jabatan adalah alat untuk pelayanan dari integritas, dan bukan sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan. Jadi, perubahan pola pikir ini haruslah ditegakkan melalui sistem dan tata kelola, lalu secara periodik diukur efektivitasnya.

Budaya korupsi adalah energi yang akan meruntuhkan kedaulatan bangsa dan negara, dan selanjutnya memaksa setiap orang untuk mengabdi pada budaya korupsi. Bila ada yang melawan pada budaya korupsi, maka dirinya akan dijadikan musuh bersama oleh budaya korupsi.

Sudah waktunya untuk mengakhiri budaya korupsi. Bila tidak segera mengambil langkah-langkah untuk menghapus budaya korupsi, maka setiap orang berpotensi dijadikan hamba korupsi oleh sistem kehidupan dalam budaya korupsi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MERAJUT HATI INDONESIA – DIRGAHAYU KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA KE 68

DJ876“Merdeka berarti bebas dari penjajahan; bebas dari perhambaan; bebas dari kemiskinan moral; bebas dari semua hal yang membuat diri tidak merdeka.” ~ Djajendra

Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang cerdas membuat negaranya menjadi tempat yang lebih baik untuk kehidupan semua orang. Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang hidup dalam makna; serta memahami tujuan berbangsa yang lebih dalam, tanpa terjebak dalam wawasan sempit sebatas golongan, ambisi, keserakahan, korupsi, dan konspirasi dalam keyakinan kelompok.

Orang-orang merdeka adalah mereka yang hidup lebih puas dan lebih produktif. Orang-orang merdeka selalu cerdas mengambil langkah-langkah untuk menemukan sendiri kemerdekaan buat dirinya, dan juga membantu orang-orang lain untuk menemukan tujuan dalam kehidupan yang merdeka.

Orang-orang merdeka adalah orang-orang yang cerdas merajut hati bangsanya; yang cerdas merajut hati negaranya; dan yang cerdas merajut ideologi berbangsanya, dengan visi yang bermakna untuk semua orang  dalam keragaman dan perbedaan.

Orang-orang merdeka adalah orang-orang yang cerdas menghubungkan gairah pribadi dengan gairah berbangsa atau tujuan bernegara. Orang-orang merdeka adalah orang-orang yang cerdas mengungkap kekuatan sikap baik dalam wujud cinta, toleransi, empati, dan kepedulian sosial yang tinggi. Orang-orang merdeka adalah orang-orang yang fokus untuk membangun lingkungan kebangsaan yang positif dan produktif. Orang-orang merdeka adalah orang-orang yang menggunakan umpan balik untuk meningkatkan nilai-nilai kehidupan positif. Orang-orang merdeka adalah orang-orang yang hidup merdeka, dan bebas berekspresi dalam kreativitas zaman dan peradaban.

Orang-orang merdeka adalah orang-orang yang mempersiapkan kualitas dirinya dengan kompetensi; untuk menjaga dan juga meningkatkan kualitas kesejahteraan, kualitas keamanan, kualitas kesehatan, dan kualitas kenyamanan hidup dirinya dan orang lain.

Orang-orang merdeka selalu membangun kekuatan bersama dengan hati, serta menjadi energi positif yang terhubung dalam kekuatan produktif dan kreatif. Orang-orang merdeka selalu akan menemukan cara terbaik, untuk bekerja dan hidup dalam tujuan, serta selalu berusaha untuk menemukan tujuan dengan harmonis.

Orang-orang merdeka sadar bahwa kehidupan itu hidup dalam keragaman dan perbedaan; sadar bahwa kehidupan itu hidup dalam warna-warni keindahan hidup. Jadi, orang-orang merdeka pasti akan hidup dalam kekuatan Bhinneka Tunggal Ika “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Artinya, orang-orang merdeka selalu ikhlas dan tulus berkontribusi di dalam keragaman dan perbedaan hidup, tanpa membuat hidup orang lain menjadi tidak merdeka, atau juga, tanpa membuat hidupnya sendiri terisolasi dari kemerdekaan, karena keyakinan hidupnya yang menjauhkan dirinya dari nilai-nilai kemerdekaan.

Orang-orang merdeka akan cerdas menggunakan setiap detik waktunya untuk berbagi kemerdekaan dengan setiap orang. Orang-orang merdeka selalu mempersiapkan kualitas diri, untuk bisa hidup merdeka di dalam realitas kehidupan.

Selamat Hari Peringatan HUT RI ke-68, semoga Indonesia selalu jaya dan rakyatnya hidup bahagia.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KEKUASAAN DAN WEWENANG UNTUK KEHARMONISAN KEHIDUPAN SOSIAL

PROFILE DJAJENDRA 2“Kekuatan pemimpin tidak sebatas terletak pada kata-kata yang menginspirasi, tetapi juga pada keberanian untuk bertindak dan memastikan bahwa hukum berjalan di jalan yang tegas dan benar.” ~ Djajendra

Pemimpin adalah seseorang yang dipilih dan dipercaya untuk menjalankan hukum, etika, ideologi, keamanan, kebaikan, serta tatanan sosial yang harmonis dan seimbang. Pemimpin yang berkualitas pasti menjalankan kepercayaan yang diberikan, untuk menjaga hukum dan etika kehidupan sosial yang kuat dan unggul.

Ketika pemimpin ragu dan tidak percaya diri dalam menjalankan kekuasaan dan wewenang dengan tegas dan adil, maka hal ini akan menjadi kelemahan yang suka dimanfaatkan oleh pihak-pihak, yang pola pikirnya terbiasa untuk mengabaikan hukum dan etika kehidupan sosial.

Sikap pemimpin yang ingin terlihat terlalu baik kepada semua pihak, hanya akan menjadi titik lemah dari kepemimpinan tersebut. Pemimpin yang terlihat lemah pastilah akan kehilangan kemampuan, untuk menjalankan keamanan dan kenyamanan, dalam hubungan sosial di semua tingkat masyarakat umum.

Walau pun seorang pemimpin sangat cerdas secara kompetensi, tetapi bila terlalu ragu dan takut mengambil risiko, maka dia akan menjadi titik terlemah dari kepemimpinan tersebut. Saat kepemimpinan berada di tingkat yang lemah, maka saat itu semua konflik dan kekerasan akan muncul kepermukaan, dan membuat orang-orang tidak percaya lagi dengan keamanan. Sebab, semua benturan sosial dirasakan tidak mampu diamankan dan diselaraskan untuk keharmonisan kehidupan, serta tidak diselesaikan dengan hukum yang adil dan pasti.

Kekuasaan dan wewenang di tangan pemimpin adalah senjata untuk menjaga kedamaian, keamanan, keharmonisan, kebahagiaan, kenyamanan, keadilan, dan kepastiaan hukum. Jadi, seorang pemimpin haruslah menjaga loyalitasnya pada hukum, etika sosial kebangsaan, ideologi bangsa, serta sikap tegas kepada pihak-pihak yang merongrong kedamaian dan keharmonisan kehidupan bangsa dan negara.

Asasi kehidupan setiap individu haruslah dijamin dengan adil dan beretika dalam kepastian hukum. Damai hanya akan tercipta bila kekuasaan dan wewenang pemimpin digunakan untuk cinta, keadilan, toleransi, kepastian hukum, dan kesejahteraan tanpa diskriminasi.

Apapun keyakinan dan pola pikir individu haruslah tetap berada dalam bingkai kebangsaan dan keragaman. Sebab, sebagai bangsa pastilah berbagai perbedaan dan keragaman akan mengisinya. Jadi, kebangsaan haruslah menjadi alat untuk menjaga asasi kehidupan pribadi setiap individu atau pun kelompok.

Setiap orang berhak hidup dalam damai, bahagia, aman, nyaman, pasti, dan terlindungi oleh hukum yang kuat dan positif. Dan semua ini hanya dapat terwujud, bila kekuasaan dan wewenang pemimpin terfokus pada hal-hal, yang menjaga keamanan dan kenyamanan kehidupan sosial, dalam toleransi keragaman dan perbedaan.

Kekuasaan berarti memiliki kuasa atas semua wewenangnya. Jadi, pemimpin yang sudah diberikan kekuasaan oleh warganya, dan bila tidak memanfaatkan kekuasaan tersebut untuk bertindak sesuai batas-batas tanggung jawab, maka kekuasaan yang dimiliki hanya akan berakhir sia-sia.

Setiap pemimpin akan datang dan pergi, dan warga negara selalu berharap banyak kepada semua pemimpin yang hadir. Warga negara juga sangat berharap, agar pemimpin cerdas menggunakan wewenang dan kekuasaan, untuk menciptakan kebaikan di tengah perbedaan dan keragaman.

Kekuatan pemimpin tidak sebatas terletak pada kata-kata yang menginspirasi, tetapi juga pada keberanian untuk bertindak dan memastikan bahwa hukum berjalan di jalan yang tegas dan benar.

Kekuasaan dan wewenang yang bijak pasti akan menjadi energi, yang mewadahi semua keragaman dan perbedaan, dalam pola kehidupan yang bertoleransi dan saling menghormati. Pemimpin yang bijak selalu menjadi teladan untuk kehidupan yang harmonis. Dan, dia selalu bertanggung jawab untuk menjalankan nilai-nilai kebangsaan dengan sebaik-baiknya, agar bangsa dan negara selalu berjalan sesuai ideologi yang disepakati bersama saat kemerdekaan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MERAJUT HATI INDONESIA YANG MERDEKA

DJ876“Merdeka berarti bebas dari penjajahan; bebas dari perhambaan; bebas dari kemiskinan moral; bebas dari semua hal yang membuat diri tidak merdeka.” ~ Djajendra

Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang cerdas membuat negaranya menjadi tempat yang lebih baik untuk kehidupan semua orang. Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang hidup dalam makna; serta memahami tujuan berbangsa yang lebih dalam, tanpa terjebak dalam wawasan sempit sebatas golongan, ambisi, keserakahan, korupsi, dan konspirasi dalam keyakinan kelompok.

Orang-orang merdeka adalah mereka yang hidup lebih puas dan lebih produktif. Orang-orang merdeka selalu cerdas mengambil langkah-langkah untuk menemukan sendiri kemerdekaan buat dirinya, dan juga membantu orang-orang lain untuk menemukan tujuan dalam kehidupan yang merdeka.

Orang-orang merdeka adalah orang-orang yang cerdas merajut hati bangsanya; yang cerdas merajut hati negaranya; dan yang cerdas merajut ideologi berbangsanya, dengan visi yang bermakna untuk semua orang  dalam keragaman dan perbedaan.

Orang-orang merdeka adalah orang-orang yang cerdas menghubungkan gairah pribadi dengan gairah berbangsa atau tujuan bernegara. Orang-orang merdeka adalah orang-orang yang cerdas mengungkap kekuatan sikap baik dalam wujud cinta, toleransi, empati, dan kepedulian sosial yang tinggi. Orang-orang merdeka adalah orang-orang yang fokus untuk membangun lingkungan kebangsaan yang positif dan produktif. Orang-orang merdeka adalah orang-orang yang menggunakan umpan balik untuk meningkatkan nilai-nilai kehidupan positif. Orang-orang merdeka adalah orang-orang yang hidup merdeka, dan bebas berekspresi dalam kreativitas zaman dan peradaban.

Orang-orang merdeka adalah orang-orang yang mempersiapkan kualitas dirinya dengan kompetensi; untuk menjaga dan juga meningkatkan kualitas kesejahteraan, kualitas keamanan, kualitas kesehatan, dan kualitas kenyamanan hidup dirinya dan orang lain.

Orang-orang merdeka selalu membangun kekuatan bersama dengan hati, serta menjadi energi positif yang terhubung dalam kekuatan produktif dan kreatif. Orang-orang merdeka selalu akan menemukan cara terbaik, untuk bekerja dan hidup dalam tujuan, serta selalu berusaha untuk menemukan tujuan dengan harmonis.

Orang-orang merdeka sadar bahwa kehidupan itu hidup dalam keragaman dan perbedaan; sadar bahwa kehidupan itu hidup dalam warna-warni keindahan hidup. Jadi, orang-orang merdeka pasti akan hidup dalam kekuatan Bhinneka Tunggal Ika “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Artinya, orang-orang merdeka selalu ikhlas dan tulus berkontribusi di dalam keragaman dan perbedaan hidup, tanpa membuat hidup orang lain menjadi tidak merdeka, atau juga, tanpa membuat hidupnya sendiri terisolasi dari kemerdekaan, karena keyakinan hidupnya yang menjauhkan dirinya dari nilai-nilai kemerdekaan.

Orang-orang merdeka akan cerdas menggunakan setiap detik waktunya untuk berbagi kemerdekaan dengan setiap orang. Orang-orang merdeka selalu mempersiapkan kualitas diri, untuk bisa hidup merdeka di dalam realitas kehidupan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com