PERAN INTERNAL AUDITOR DALAM WHISTLEBLOWING SYSTEM

“Whistleblowing system membutuhkan karakter kerja auditor yang selalu bersikap rendah hati, optimis, profesional, percaya diri, empati yang tinggi, fleksible, intuisi yang hebat, jujur dan bertanggung jawab, menyenangkan, tenang dan tidak suka marah, tegas dan tidak ragu, selalu bekerja dengan perasaan positif, dan tidak menghakimi atau menilai orang lain.”~Djajendra

Whistleblowing system sebagai alat untuk pencegahan terhadap praktik tata kelola perusahaan yang buruk. Whistleblowing system mampu menguatkan sistem manajemen resiko dan membantu melindungi reputasi perusahaan. Intinya, whistleblowing system sangat diperlukan untuk mewujudkan tata kelola perusahaan yang terbaik dan pengelolaan resiko yang berkualitas.

Perusahaan yang kuat dan sehat menjadikan whistleblowing system sebagai komponen penting dalam budaya perusahaan. Dalam hal ini, fungsi internal audit diperkuat dengan kualitas dan kompetensi, baik hard skill maupun soft skill, untuk dapat menjadi kekuatan yang andal dan hebat dalam menjalankan whistleblowing system. Internal audit yang berkualitas mampu menunjukkan kemampuan dan kecerdasan dalam mendeteksi, mencegah, juga melakukan penyelidikan atas informasi dan laporan yang di terima dari para whistleblower. Semua kegiatan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip tata kelola yang baik; semua kegiatan yang dianggap ilegal, tidak etis, melanggar prosedur, dan berbahaya bagi perusahaan; haruslah ditindaklanjuti dengan tegas dan penuh percaya diri dalam sikap rendah hati oleh setiap insan internal auditor.

Ketika menjalankan peran dalam whistleblowing system, auditor wajib menguasai dan terbiasa dengan soft skills, khususnya untuk mengelola emosi dan pikiran diri sendiri dan kemampuan untuk membaca emosi dan pikiran orang lain. Whistleblowing system membutuhkan karakter kerja auditor yang selalu bersikap rendah hati, optimis, profesional, percaya diri, empati yang tinggi, fleksible, intuisi yang hebat, jujur dan bertanggung jawab, menyenangkan, tenang dan tidak suka marah, tegas dan tidak ragu, selalu bekerja dengan perasaan positif, dan tidak menghakimi atau menilai orang lain.

Auditor harus terbiasa untuk merasa baik dan kuat saat menjalankan fungsi dan perannya di dalam whistleblowing system. Auditor yang berkualitas bekerja melalui prosedur dan audit program yang dirancang secara profesional. Auditor yang berkualitas tidak bekerja untuk menilai dan menghakimi pribadi seseorang, tetapi bekerja untuk menilai dan memastikan setiap proses kerja di dalam organisasi sudah sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang terbaik.

Menjalankan whistleblowing system tidaklah sederhana, diperlukan komitmen dan kekuatan mental yang hebat. Hal ini disebabkan, dalam realitas dunia kerja, selalu ada orang baik dan orang tidak baik, selalu ada yang jujur dan yang tidak jujur. Tidaklah mungkin auditor bisa menghilangkan yang tidak jujur dari tempat kerja. Jadi, hanya melalui sistem dan tata kelola yang penuh integritas, ketidakjujuran dapat diminimalkan. Oleh karena itu, auditor haruslah cerdas emosional dan bermental hebat dalam mengatur diri sendiri, mengelola hubungan dengan orang lain, mencapai keberhasilan atas pekerjaan yang ditangani, serta selalu menjalankan integritas dengan sepenuh hati.

Kekuatan auditor ada dalam kertas kerja yang dikerjakan dengan prinsip-prinsip audit yang profesional dan masuk akal. Auditor harus hebat dalam menangani kritik dan penolakan tanpa menyalahkan siapapun dengan alasan apapun. Auditor tidak boleh bereaksi berdasarkan emosional atau persepsi; auditor hanya boleh bekerja sesuai fakta, data, dan kebenaran. Jadi, apapun informasi yang didapatkan oleh auditor dari para whistleblower, auditor tidak boleh langsung menilai dan menyimpulkan sesuatu atas informasi tersebut. Auditor wajib menjadi sangat profesional untuk menemukan data, fakta, dan kebenaran atas informasi yang diterima dari para whistleblower.

Manajemen perusahaan secara konsisten wajib membangun dan menguatkan karakter kerja, kebiasaan, perilaku, sikap, etos, mental tangguh, dan daya tahan emosi dari para auditor agar dapat menjalankan whistleblowing system dengan profesional. Auditor bertanggung jawab untuk memastikan prosedur whistleblowing system berjalan efektif; memastikan dan menjamin kerahasiaan dari orang yang menyampikan informasi; bekerja untuk menghindari konflik kepentingan, dan juga penyalahgunaan whistleblowing system untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan misi whistleblowing system.  

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

AKAL SEHAT DAN INTEGRITAS PUBLIK MENJADI PENILAI TERHADAP INTEGRITAS PEJABAT PUBLIK

MOTIVASI 16042016

“Integritas dan akal sehat merupakan kekuatan yang membongkar semua yang tidak transparan.”~Djajendra

Di zaman transparansi, publik menjadi penilai atas kinerja dan etos pejabat publik. Sekarang ini, pejabat publik hidup di wilayah kerja yang dapat dilihat oleh siapa pun dan dari mana pun. Sudah tidak ada lagi ruang gelap untuk menyembunyikan sesuatu. Seiring waktu, baik dan buruk, pintar dan tidak pintar, terlihat dengan jelas oleh siapa pun.

Akal sehat dan integritas publik menjadi penilai terhadap integritas pejabat publik. Pelajaran penting di jaman baru ini adalah bekerjanya akal sehat masyarakat untuk menilai kinerja dan perilaku pejabat publik. Bagi pejabat publik harus ada kesadaran bahwa zaman sudah berubah, perilaku dan etos kerja juga harus segera dirubah, agar bisa tetap eksis dan karirnya berkembang.

Pada saat integritas dan akal sehat publik bersatu menjadi kekuatan moral positif, maka mereka mampu membongkar semua yang tidak transparan. Integritas dan akal sehat hidup dan tumbuh di tengah kehidupan masyarakat yang demokratis. Di zaman transparansi, kehidupan masyarakat disatukan oleh teknologi dan informasi. Semakin banyak masyarakat yang menjadi cerdas oleh informasi dan pengetahuan. Semakin banyak masyarakat yang memiliki alat komunikasi dengan teknologi untuk bisa beropini terhadap pejabat yang tidak transparan. Dunia sudah berubah, pejabat publik harusnya segera berubah sebelum menjadi korban opini publik.

Pengawasan dari publik adalah sesuatu yang nyata,tidak ada lagi tempat untuk menyembunyikan niat dan perilaku. Sebab, akal sehat dan integritas publik mampu membongkar semua yang tidak transparan, dan semua yang tidak jujur. 

Sudah bukan zamannya lagi kata transparansi sebatas dibibir atau sebatas normatif. Kata transparansi harus tampil sebagai perilaku pejabat publik dalam wujud ide-ide yang sederhana, bersih, jernih, jujur, tegas, lugas, tidak membingungkan, menjalankan komitmen dengan berani, bertanggung jawab, dan mudah dipahami oleh masyarakat.

Tidak boleh seorang pejabat publik mencari alasan untuk ketidakmampuannya. Bila merasa tidak mampu, belajarlah dengan rendah hati agar lebih mampu. Pejabat publik adalah pelayan yang harus siap melayani negara dan masyarakat dengan jujur, terbuka, bertanggung jawab, adil, dan tepat waktu. Jadi, tidak boleh ada dalam pola pikir seorang pejabat publik bahwa dirinya adalah yang berhak menerima pelayanan dari publik. Diperlukan sikap rendah hati dan tanggung jawab untuk memberikan layanan terbaik bagi publik.

Transparansi adalah realitas zaman. Bila seorang pejabat publik hidup jauh dari transparansi dan kejelasan, maka konsekuensinya dia akan dijatuhkan oleh opini negatif publik. Jadi, pejabat publik harus sadar dan memahami bahwa kenyataan hidup pejabat publik harus di wilayah yang terang dan jelas.

Di zaman transparansi, setinggi apapun sebuah jabatan publik, haruslah menjadi pelayan publik yang transparan dan bertanggung jawab. Bukan zamannya lagi seorang pejabat publik memerankan diri menjadi Raja, sekarang peran seorang pejabat publik adalah pelayan masyarakat. Masyarakat dengan kekuatan akal sehat dan integritas menjadi wasit yang memberikan kartu merah atau pun kartu kuning terhadap pejabat yang tidak berkinerja baik.

Setiap praktik, pikiran, ucapan, perbuatan, masalah, dan solusi haruslah di dalam transparansi. Ketidakjujuran seorang pejabat publik mudah dibaca oleh akal sehat publik. Sekarang ini, publik sudah sangat cerdas dan terus-menerus diperkaya oleh informasi terbaru.

Akal sehat dan integritas publik mampu menjaga segala hal dengan jujur. Walau pejabat publik mencoba membingungkan publik dengan menerjemahkan yang benar sebagai yang salah, tetapi akal sehat dan integritas publik mampu mengawasinya dan menemukan yang benar.

Transparansi pejabat publik sudah menjadi kewajiban. Siapa pun yang tidak transparan terhadap pekerjaan publik, akan menjadi bagian yang tidak dipercaya oleh publik.

Zaman sudah berubah, integritas dan akuntabilitas adalah mutlak bagi pejabat publik. Tanpa integritas dan akuntabilitas, pejabat publik kehilangan kepercayaan dari publik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

CODE OF CONDUCT

code of conduct 30032016“Di tempat kerja, ada dua hal yang harus dihormati oleh setiap karyawan.Pertama: kepatuhan, dan yang kedua: komitmen. Kepatuhan berarti tunduk pada sistem, prosedur, kebijakan, aturan, dan struktur organisasi. Komitmen berarti melakukan janji dan menepati semua ucapan dengan integritas yang tinggi.”~Djajendra

Kode etik perilaku atau biasa yang disebut dengan code of conduct  adalah payung etika di tempat kerja. Code of conduct mengatur apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh setiap orang di tempat kerja. Tujuannya sederhana, yaitu agar sistem dan struktur bergerak dengan perilaku kerja yang etis dan tepat. Tanpa code of conduct akan terjadi kebingungan untuk memastikan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, apa yang benar dan apa yang tidak benar, sehingga proses kerja berpotensi di dalam konflik dan ketidakpastian.

Pertempuran antara baik dan tidak baik selalu ada. Kehadiran code of conduct dimaksudkan untuk membangun kehidupan kerja yang etis dan saling bertanggung jawab atas perilakunya masing-masing. Ini juga dimaksudkan untuk membangun kehidupan yang melancarkan proses kerja dengan etos yang baik. Code of conduct secara tegas membela yang baik dan menguatkan yang baik agar selalu menang melawan yang tidak baik. Code of conduct membuat karyawan dan pimpinan  percaya bahwa dengan kekuatan etis, tanggung jawab dapat dipertanggung jawabkan secara terhormat.

Moral adalah bagian terpenting dari code of conduct. Secara alami setiap orang memiliki karunia moral untuk memiliki perilaku etis, dan mereka punya hati nurani untuk membedakan apa yang baik dan apa yang tidak baik. Dengan memberikan code of conduct kepada setiap orang di tempat kerja, maka kehidupan kerja akan menghasilkan perilaku yang terhormat dan etis. Perilaku etis bekerja dan melayani untuk kejujuran, kebenaran, keadilan, kesetaraan, kebahagiaan, dan tanggung jawab.

Code of conduct harus diimbangi dengan internalisasi nilai-nilai inti (core values) perusahaan. Core values bertujuan membentuk fondasi etos kerja untuk mendukung tujuan dan strategi perusahaan. Sedangkan, code of conduct memberikan kekuatan untuk menangkis perilaku-perilaku tidak baik atau tidak etis. Bila core values dan code of conduct dapat dijalankan menjadi perilaku kerja setiap individu di tempat kerja, maka proses kerja akan bergerak tanpa resiko, dan hal ini menguntungkan semua pihak di tempat kerja.

Ketika code of conduct dan core values menjadi fondasi budaya organisasi, maka ini menjadi landasan untuk menjalankan kepatuhan organisasi. Tingkat kepatuhan dan ketaatan terhadap tata kelola dan etika akan menguat. Dalam hal ini, kepatuhan dan komitmen dapat berjalan harmonis, sehingga setiap individu dapat memberikan kinerja yang produktif dan yang terbaik. Kepatuhan berarti melakukan perintah organisasi dengan penuh tanggung jawab; komitmen berarti memenuhi janji dan melakukan yang dikatakan dengan benar. Jadi, di tempat kerja, ada dua hal yang harus dihormati oleh setiap karyawan dan pimpinan. Pertama: kepatuhan, dan yang kedua: komitmen. Kepatuhan berarti tunduk pada sistem, prosedur, kebijakan, aturan, dan struktur organisasi. Komitmen berarti melakukan janji dan menepati semua ucapan dengan integritas yang tinggi.

Code of conduct tidak hanya sebatas menjadi kepatuhan, tetapi juga menjadi komitmen yang bersumber dari kesadaran moralitas. Intinya, menjalankan code of conduct harus dari komitmen yang tidak hanya sebatas kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata. Kode perilaku merupakan dasar untuk menjadikan karyawan dan pimpinan sebagai aset berharga organisasi. Oleh karena itu, code of conduct tidak dibuat sebagai dokumen untuk memenuhi persyaratan good governance, tetapi harus menjadi investasi perusahaan untuk membangun sumber daya manusia yang berharga dan bernilai tinggi. Pada saat code of conduct betul-betul terimplementasi menjadi perilaku kerja, hal ini menunjukkan tingginya kualitas dan komitmen di tempat kerja untuk bekerja dengan cara-cara etis dalam mencapai kinerja terbaik.

Dalam dunia nyata di tempat kerja, perilaku negatif yang sulit berubah(hardcore) atau ekstrem adalah sebuah tantangan. Sesungguhnya, semua orang diberkahi dengan pikiran baik dan etis agar mereka mampu menghadapi tantangan dari perilaku negatif yang sulit berubah. Nyatanya, perilaku ekstrem yang melihat semua aturan etis sebagai sesuatu yang merugikan dirinya juga muncul di tempat kerja. Jadi, tidak semua orang bisa berhubungan dengan code of conduct, ada juga yang secara mental sulit beradaptasi dan cendrung menjadi energi perusak.

Code of conduct mengarahkan perilaku kerja menjadi terukur dan etis, sehingga resiko dapat dihindari. Dalam hal ini, orang-orang yang patuh pada code of conduct mampu menghindari masalah, serta mampu bekerja sesuai tujuan dan aturan yang ada.

Keberadaan code of conduct untuk menghasilkan perilaku etis, sehingga perilaku etis dapat secara otomatis mengubah yang tidak baik menjadi baik. Kondisi ini mengubah kehidupan kerja melalui hubungan antar pribadi yang saling menjaga etika dan kehormatan masing-masing. Setiap orang menjadi kuat di dalam integritas, dan berani menghadapi tanggung jawab dengan penuh semangat. Jadi, pemimpin dan karyawan mengubah kehidupan kerja melalui hubungan antar pribadi yang saling menjaga etika. Mereka menjadi kuat secara fisik dan mental, dan berani menghadapi ketakutan atas berbagai dilema etika yang membuat mereka berada pada posisi sulit. Perilaku etis bekerja dengan contoh yang baik, dan memiliki mentalitas di dalam kekuatan integritas.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Previous post:

BUDAYA INTEGRITAS MENURUNKAN STRES DI TEMPAT KERJA

“Dalam budaya integritas, karyawan tidak terjebak dan berpolemik pada apa yang sudah terjadi, mereka fokus bekerja untuk menemukan solusi, tidak saling menyalahkan.”~Djajendra

Mau bahagia di tempat kerja? Kembangkan budaya integritas dengan sepenuh hati dan jujur. Budaya integritas tercipta pada saat setiap orang di tempat kerja bertanggung jawab dengan jujur atas kontribusi, kinerja, produktivitas, etika, tata krama, sopan-santun; kepatuhan pada aturan, kebijakan, sistem, dan kepemimpinan. Dalam hal ini, setiap individu terbiasa dan memiliki keyakinan untuk bertanggung jawab penuh atas tindakan, serta menerima apapun konsekuensinya dengan ikhlas. Semua orang terpanggil rasa tanggung jawabnya untuk menjadikan tempat kerja harmonis, bahagia, kreatif, damai, jujur, etis, dan saling melayani dengan hati yang jujur.

Budaya integritas mengekspresikan perilaku jujur, etis, bertanggung jawab, andal, kreatif, produktif, berkinerja, serta menjalankan pekerjaan sesuai aturan dan prosedur. Ini semua terjadi secara kolektif, dan terlihat di dalam kolaborasi kerja, yang mempercepat proses kerja dari kesadaran dan rasa tanggung jawab masing-masing orang. Integritas lahir dari mental dan pola pikir yang menunjukkan minat untuk kehidupan yang jujur, ikhlas, bertanggung jawab, dan berkinerja tinggi.

Apa hubungannya budaya integritas dengan stres?

Budaya integritas menciptakan energi kolektif dari perilaku kerja yang jujur, terbuka, adil, bertanggung jawab, melayani, berkinerja, produktif, etis, serta taat aturan dan hukum. Di sini, setiap individu terlibat untuk menciptakan kepastian proses kerja; menciptakan hubungan kerja yang harmonis melalui kolaborasi yang saling membantu dan bergotong royong; serta menjauhkan diri dari perilaku yang dikendalikan oleh ego dan kepentingan sempit. Dampaknya, lingkungan kerja menjadi lebih menyenangkan dan positif, sehingga stres berkurang dan kebahagiaan mengisi hari-hari kerja setiap orang.

Ketika stres di tempat kerja berkurang, maka waktu dan sumber daya dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pencapaian kinerja tertinggi. Semua orang hanya fokus untuk menjadi produktif dan memberikan nilai tambah lebih, mereka hidup dalam budaya realistis dan harapan untuk mencapai lebih. Mereka menjadi sangat percaya diri dan bermental pemenang. Mereka menatap visi sambil bekerja keras menyempurnakan misi dan tujuan sehari-hari. Mereka sadar untuk menerima integritas sebagai kekuatan yang mengarahkan mereka untuk bergerak menuju masa depan dengan ikhlas dan bahagia.

Jadi, integritas menjadi obat anti stres. Integritas membuat orang menjadi jujur dengan hidupnya, kerjanya, hubungannya dengan orang lain, dan dirinya sendiri. Dalam budaya integritas, karyawan tidak terjebak dan berpolemik pada apa yang sudah terjadi, mereka fokus bekerja untuk menemukan solusi, tidak saling menyalahkan. Setiap orang saling berkontribusi untuk mendapatkan hasil yang ditargetkan; setiap orang berbagi peran dan fungsi tanpa melibatkan ego sektoral dan ego pribadi. Dan ini semua yang menjadi penyebab bahagia, serta penyebab turunnya tingkat stres di tempat kerja.

Integritas menjadikan seseorang jujur terhadap dirinya sendiri. Dia sadar dan tahu tentang konsep diri yang benar, lalu menjadi arsitek yang merancang jati dirinya untuk dapat menangani kepercayaan yang diberikan oleh perusahaan kepadanya, dengan penuh tanggung jawab dari kemampuan yang dia miliki.

Walaupun stres merupakan kejadian yang tidak bisa dihindari.Tetapi, dengan niat dan komitmen untuk menjadi jujur pada diri sendiri, dan ikhlas untuk memenuhi tanggung jawab atas peran dan fungsi di tempat kerja. Maka, stres dapat dikendalikan dalam intensitas rendah. Hal ini, menyebabkan daya tahan mental dan ketahanan fisik dapat diandalkan untuk pencapaian kinerja terbaik.

Budaya integritas tidak dapat diciptakan secara instan, diperlukan sistem dan budaya yang mendisiplinkan setiap individu untuk taat secara ikhlas pada kejujuran dan tanggung jawab. Tidak ada yang sempurna. Tidak ada manusia yang terlepas dari kesalahan. Budaya integritas menciptakan lingkungan dan iklim kerja yang memperbaiki kesalahan tanpa menyalahkan orang lain. Budaya integritas mendorong setiap orang untuk menahan ego dan rasa tinggi hati. Budaya integritas menjadikan setiap orang di tempat kerja sebagai energi produktif yang mengeksplorasi potensi positif dari dalam diri sendiri, untuk dipersembahkan bagi kehidupan yang lebih besar dan lebih luas.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENCEGAH PERILAKU KORUPTIF

“Perilaku koruptif terjadi karena ketidakmampuan seseorang untuk menjalankan integritas, komitmen, tanggung jawab, dan kejujuran.”~Djajendra

Korupsi adalah tindakan ilegal yang memperdagangkan kekuasaan, kepercayaan, dan jabatan untuk keuntungan diri sendiri dan kelompoknya. Biasanya, korupsi terjadi karena ada kesempatan untuk memecahkan masalah bersama secara rahasia, dan mereka percaya bahwa tidak seorang pun yang melihat dan mengetahui perbuatan mereka. Di samping itu, perilaku koruptif sangat meyakini bahwa sistem dan pengawasan yang ada bisa mereka mengakali, sehingga tidak mampu mendeteksi korupsi yang mereka lakukan secara rahasia.

Siapa pun bisa jujur dan jauh dari perilaku koruptif, ketika tidak ada godaan, tidak ada peluang untuk korupsi, dan tidak ada budaya untuk korupsi di sana. Persoalannya, ketika keimanan dan integritas seseorang rendah, tetapi dia memiliki kekuasaan dan peluang untuk memperkaya diri, maka dia akan tergoda untuk melakukan korupsi dengan berbagai cara.

Perilaku koruptif sangat berani pasang badan dan tidak takut malu, mereka hanya takut kehilangan uang dan kekayaannya. Jadi, apapun hukumannya, selama uang dan kekayaannya utuh, perilaku koruptif akan bahagia dan damai-damai saja hidupnya. Hal ini terjadi, karena korupsi dilakukan bukan sekedar untuk memperkaya diri sendiri, tetapi untuk menjamin terpenuhinya kehidupan ekonomi dan keuangan keluarganya secara turun-temurun. Ingat, korupsi itu tujuannya hanya satu yaitu uang, bukan yang lain. Jadi, walaupun dia dihukum mati, tetapi selama uang dan hartanya utuh, maka itu tidak akan menjadi persoalan baginya. Oleh karena itu, selama tidak ada hukuman tegas untuk kekayaan yang dimiliki, perilaku koruptif akan terus tumbuh dan sulit diberantas ataupun dicegah dengan cara apapun. Miskinkan perilaku koruptif, maka dia akan takut, dan korupsi pun bisa turun drastis.

Bagi perilaku koruptif perbuatan mereka adalah benar dan tidak merasa bersalah, sehingga walaupun pernah dihukum bukan berarti mereka akan berhenti untuk melakukan korupsi. Mereka tetap akan melakukannya kalau ada peluang untuk dilakukan secara rahasia. Di samping itu, mereka juga memiliki seribu satu akal untuk mengelabui sistem dan pengawasan yang ada. Jadi, selama sistem, tata kelola, dan pengawasan tidak ditingkatkan kualitasnya secara terus-menerus, maka perilaku koruptif akan selalu mampu melampaui kemampuan yang dimiliki oleh sistem dan pengawasan tersebut.

Siapapun boleh dipercaya dan kepercayaan adalah sesuatu yang paling penting. Persoalannya, bila kepercayaan yang diberikan tidak dilengkapi dengan sistem, tata kelola yang terbaik, kepemimpinan yang tegas dan berani, serta pengawasan yang jujur dan bertanggung jawab. Maka, kepercayaan itu mudah tergoda untuk memiliki perilaku koruptif.

Rasa cinta yang berlebihan kepada sesuatu, apakah itu barang ataupun orang, dapat menjadi jalan untuk terciptanya perilaku koruptif. Sebagai contoh: si A sangat mencintai sebuah merek mobil, sudah lama dia terobsesi untuk memiliki mobil tersebut, dan sekarang dia memiliki kekuasaan untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin secara ilegal. Karena cinta sudah mengalahkan integritas dan keimanannya, maka dia akan mencari cara paling rahasia, untuk mendapatkan uang ilegal sebanyak mungkin agar dapat memiliki semua yang dia cintai. Cinta yang berlebihan berpotensi menciptakan perilaku koruptif.

Ketika integritas tidak menyentuh hati nurani; ketika tidak percaya bahwa jiwa yang kaya integritas di dalam rasa syukur mampu mendatangkan keberlimpahan; ketika tidak sadar atau tidak yakin bahwa Tuhan melihat segalanya; ketika tidak percaya adanya hukum sebab-akibat, hukum konsekuensi; ketika tidak percaya pada hukum karma. Maka, hati nurani akan kehilangan kemampuan untuk menemukan kebenaran sejati. Dan saat itu, perilaku koruptif akan hadir dan menghancurkan integritas diri.

Bagi perilaku koruptif, tertangkap dan dihukum hanyalah sebuah musibah. Walaupun sudah tertangkap dan dihukum berkali-kali, selama dirinya tidak memiliki integritas, perilaku koruptifnya tidak akan pernah sembuh, sehingga manipulasi dan kebohongan tetap menjadi perilaku sejatinya.

Integritas adalah sebuah nilai yang menerangkan tentang sifat dan perilaku seseorang yang jujur dan sangat kompeten dibidangnya. Artinya, dia berkualitas dan dapat diandalkan untuk menjalankan sebuah pekerjaan dengan jujur, bertanggung jawab, etis, berkualitas, berkinerja tinggi, dan sulit untuk menggantikannya. Seseorang yang memiliki integritas yang tinggi lahir dari kekuatan moralitas dan spiritualitas yang sangat tinggi. Seseorang yang memiliki integritas takut kepada hukum Tuhan, sehingga dia menjadi pribadi yang bersungguh-sungguh menjalankan amanah dengan kompetensi dan kualitas terbaik, tanpa mengambil apapun untuk keuntungan pribadi, apalagi untuk memperkaya diri sendiri ataupun keluarga.

Perilaku koruptif merupakan akar untuk terciptanya budaya korupsi. Kalau sudah menjadi budaya, maka tidak bisa lagi digunakan konsep pencegahan ataupun pemberantasan, harus digunakan konsep transformasi ataupun revolusi mental. Revolusi mental harus diikuti dengan sistem baru yang mengarahkan semua perilaku kepada disiplin untuk taat kepada sistem anti perilaku koruptif. Bila sistem mampu memaksa mental dan perilaku untuk menghindari perilaku koruptif, maka secara perlahan-lahan, perilaku koruptif akan berubah menjadi perilaku yang jujur dan penuh tanggung jawab. Dan, disinilah akan lahir budaya tanpa korupsi, dimana semua orang akan hidup dari kerja kerasnya yang halal.

Sistem yang baik dan kuat mampu mengelola wilayah resiko yang berpotensi dikendalikan oleh perilaku koruptif. Jadi, harus dengan tegas memetakan wilayah potensi korupsi, lalu wilayah yang dianggap sangat beresiko tersebut diperkuat pengawasannya, dan ditingkatkan revolusi mentalnya dengan intensitas yang lebih tinggi, secara terus-menerus, berulang-ulang, sampai perubahan itu terjadi.

Perilaku koruptif seperti penyakit menular yang sangat mudah ditularkan dari satu orang ke orang lain. Dia seperti kisah vampire yang bila menggigit langsung menjadikan orang sebagai vampire, lalu bisa hidup abadi di dalam kegelapan dengan kekuatan dahasyatnya, dan hanya terang atau sinar matahari yang ditakuti. Sebab, sinar terang bisa membakar dan memusnahkan vampire. Demikian juga dengan perilaku koruptif, sekali seseorang menikmati atau memiliki kekuatan lebih dari hasil korupsinya, maka dia akan menjadi contoh dan teladan yang mengundang minat orang lain untuk melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan.

Ketika perilaku koruptif sudah sangat kuat dengan kekuatan uangnya yang mampu membeli dan membayar apapun untuk membuatnya menang, maka realitas ini akan menjadi contoh bagi siapapun untuk memiliki perilaku koruptif. Persepsi orang akan mengatakan daripada jujur hidup miskin, lebih baik korupsi, walau tertangkap, anak-isteri masih bisa hidup kaya raya. Jadi, secara normatif bisa saja orang mengatakan tidak pada korupsi, tetapi secara perilaku dia sangat koruptif.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

INTEGRITAS TERCIPTA DARI KUALITAS MORAL YANG TANGGUH

INTEGRITAS 03032016

“Ketika Anda menanam pohon tidak jujur, pohon itu akan tumbuh dan berbuah tidak jujur di sepanjang hidup Anda.”~Djajendra

Menjadi pribadi dengan integritas yang tinggi membutuhkan keberanian. Sebab, realitas kehidupan selalu memunculkan ketidakjujuran dan orang-orang yang tidak bisa dipercaya. Mungkin Anda sudah sangat jujur, bisa dipercaya, taat hukum, taat aturan, taat prosedur, etis, berani, tegas, dan bertanggung jawab. Tetapi, dalam interaksi bisnis mungkin Anda harus berhadapan dengan orang-orang yang tidak punya integritas dan kejujuran. Bila dalam interaksi itu posisi Anda lebih kuat dan lebih berkuasa, maka Anda bisa bersikap tegas untuk menjaga integritas dan kejujuran di setiap tindakan. Sebaliknya, bila posisi dan kekuasaan dari orang yang tidak jujur itu lebih kuat dari Anda, maka Anda berada dalam posisi yang lemah ataupun tak berdaya untuk menjaga integritas dan kejujuran. Dilema integritas selalu ada, itulah tantangan terberat dalam menjalankan integritas.

Integritas berarti bersikap jujur dengan diri sendiri dan orang lain dalam setiap situasi dan kondisi. Jadi, walaupun Anda berada dalam posisi yang lebih lemah dan tak berdaya, disinilah kualitas moralitas Anda diuji. Keselarasan antara nilai-nilai pribadi Anda, keyakinan Anda, dan tindakan Anda sedang diuji. Integritas membutuhkan keberanian, keikhlasan, ketegasan, pengorbanan, dan keyakinan untuk menjalankannya dengan totalitas.

Integritas adalah jalan untuk menegakkan harga diri dan rasa hormat. Ketika tindakan Anda sesuai dengan keyakinan dan kejujuran Anda, maka Anda sudah memiliki integritas. Ketika Anda percaya pada kebenaran dan keadilan, maka Anda sudah mempunyai integritas. Ketika Anda tidak akan pernah melakukan apa pun yang membahayakan integritas perusahaan Anda, integritas pekerjaan Anda, integritas teman-teman kerja Anda, integritas pimpinan Anda, dan integritas pelanggan Anda. Maka, Anda sudah mempunyai integritas. Ketika Anda tidak akan pernah mau berkompromi dalam menegakkan kebenaran, keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab. Maka, Anda sudah memiliki integritas. Integritas tercipta dari sikap dan perilaku Anda yang konsisten dan tegas sesuai nilai-nilai moralitas yang sifatnya universal.

Siapapun yang mengambil jalan pintas dalam hidupnya, dia berpotensi mengorbankan kejujuran dan integritasnya. Misalnya, Anda ingin mendapatkan lebih banyak uang dan keberhasilan dengan jalan pintas yang mengabaikan kejujuran, maka Anda pasti akan mengorbankan integritas Anda. Mungkin dalam jangka pendek Anda merasa berhasil atau mendapatkan kesenangan dari cara-cara tersebut. Tetapi, dalam jangkan panjang, setelah uang Anda sudah terkumpul berlebihan, Anda akan masuk dalam perangkap konflik batin. Konflik batin ini terjadi karena Anda tidak jujur dengan diri sendiri. Seperti kita ketahui, integritas berarti menjadi sangat jujur dengan diri sendiri dan orang lain. Jadi, kalau selama ini Anda tidak jujur dengan diri sendiri, maka batin Anda atau hati nurani Anda pasti merasa malu dan menderita akibat tindakan Anda yang tidak terpuji tersebut. Disamping itu, pasti ada orang-orang yang mengetahui perilaku tidak jujur Anda, dan pada saat Anda kehilangan kekuasaan, kepercayaan orang kepada Anda akan hilang.

Membangun integritas dimulai dari niat untuk patuh terhadap prinsip-prinsip moral dan etika. Kepatuhan ini akan membentuk kebiasaan, dan kebiasaan akan membentuk karakter moral yang berperilaku sesuai nilai-nilai moralitas. Bila perilaku sesuai nilai-nilai moralitas sudah menjadi sebuah kebiasaan, maka dilihat atau tidak dilihat orang pun Anda akan bertindak sesuai integritas.  Jadi, Anda akan menjadi jujur pada diri sendiri dalam segala hal yang Anda lakukan.

Setelah Anda menjadi jujur dengan diri sendiri, maka dengan mudah Anda bisa berperilaku jujur dengan orang lain. Kalau Anda sudah jujur dengan orang lain, Anda bisa mengembangkan hubungan jangka panjang yang dipercaya. Jadi, Anda menjadi orang yang dipercaya, dan mudah mendapatkan persetujuan dari orang-orang dalam segala hal yang Anda lakukan sesuai nilai-nilai integritas.

Orang yang hidup dengan integritas, tidak punya alasan untuk berbohong, tidak perlu menyembunyikan sesuatu, tidak perlu hidup dalam ketakutan dan kerumitan, dan tidak ada alasan untuk hidup dalam stres ataupun tekanan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

BENTURAN ANTARA ETIKA DAN ETIKET MENCIPTAKAN DILEMA

[wpdevart_youtube]hmV78yrj5TU[/wpdevart_youtube]

“Saat Anda tegas menegakkan etika, etiket sulit berfungsi.”~Djajendra

Memiliki kemampuan untuk menjaga etika dan etiket secara bersama-sama tidaklah mudah. Dalam realitas bisnis, etika selalu dihadapkan pada pilihan yang sulit. Sering sekali muncul dilema etika yang bersumber dari kepentingan. Ketika dilema etika muncul, maka persoalan juga bisa muncul di etiket.

Contoh, untuk memperlancar proses bisnis, A menjaga hubungan baik dengan B. B adalah orang yang berpengaruh dalam membuat keputusan kepada siapa proyek diberikan. B selalu memprioritaskan A untuk mengerjakan proyek-proyeknya. A merasa B sangat membantu dan banyak menolong. Rasa terima kasih dan sopan-santun A kepada B ditunjukkan dengan cara memberikan hadiah dan fasilitas. Dalam hal ini, A ingat bahwa dia harus memiliki etiket agar hubungannya dengan B baik selalu. A pun berusaha memaksimalkan kenyamanan pribadi B dan hubungan yang saling menghargai. Ya, memang, memiliki etiket berarti harus mampu berperilaku tahu diri, menyamankan hati orang yang membantu, serta merawat hubungan bisnis yang saling menghargai.

Etiket bersumber dari konsensus sosial dan budaya tentang perilaku dan penampilan yang sopan-santun. Etiket bisa berubah dari waktu ke waktu sesuai kemajuan peradaban. Etiket terlihat melalui kepantasan perilaku, sikap, dan penampilan. Etiket adalah tentang memaksimalkan kenyamanan pribadi dan hubungan sosial yang saling menghargai. Seseorang yang beretiket berarti memiliki keterampilan sosial dan keterampilan diri yang tahu diri dan sopan-santun. Etiket tidak hanya mengatur perilaku dan sikap mulai dari gaya pribadi, bahasa tubuh, cara berpakaian, perilaku di meja makan, cara menyapa, dan banyak lagi yang berkaitan dengan sopan-santun. Tetapi, etiket juga mengatur bagaimana cara berterima kasih kepada orang-orang yang sudah membantu dan memperlancar kehidupan kita.

Jadi, A memikirkan tentang perasaan B yang sudah membantunya, sehingga hati nuraninya berkata bahwa sangatlah wajar bila dia memberikan sesuatu buat B. Benar memang bahwa etiket bukanlah tentang prinsip-prinsip moral, etiket adalah tentang prinsip-prinsip menjaga hubungan baik dengan tata krama yang tinggi. Etiket berarti menghormati, menghargai, dan selalu berbaik hati kepada orang lain. Apalagi bila orang yang membantu kita, maka haruslah tahu diri dan tahu terima kasih. Ini biasanya yang ada dipikiran dunia nyata kehidupan, dan sangat berbeda dengan dunia pikiran normatif.   

Lain etiket, lain lagi etika. Etika sifatnya normatif dan dipaksakan menjadi terapan di dunia bisnis. Etika berisi tentang penilaian moral dan kriteria apa yang benar dan apa yang tidak benar. Etika diperusahaan dipandu dengan pedoman etika bisnis dan kode perilaku yang etis. Etika adalah alat untuk menjaga tata kelola perusahaan yang baik, yaitu: tata kelola bisnis yang mengedepankan isu-isu moral.

Dalam dunia nyata, etika menjadi beban etiket. Etika diatur secara normatif dan melihat segala sesuatu dari sisi benar dan salah. Tidak boleh ada banyak warna dalam etika. Hanya boleh hitam atau putih, benar atau salah. Etika tidak memiliki kemampuan untuk merespon situasi yang berubah dan berbeda dari sikap manusia. Sebagai contoh, dalam bisnis yang banyak saingan, terjadi kompetisi memperebutkan pelanggan. Biasanya, orang yang mengendalikan pelanggan sangat menentukan kepada siapa dia akan memberikan bisnis tersebut. Di sini, pihak yang paling pintar mengambil hati dan menyenangkan hati pengendali pelanggan berpotensi mendapatkan bisnis. Artinya, hubungan baik dan sopan-santun menjadi lebih penting daripada aturan-aturan moral yang diatur secara normatif dalam etika bisnis.

Dalam konsep hubungan baik, perilaku yang melayani dan menghormati selalu menjadi lebih bekerja daripada perilaku etis yang terikat pada norma-norma moralitas. Intinya, dunia bisnis adalah dunia etiket, dan etika tetap dijadikan sebagai hal-hal normatif yang sering sekali malas diterapkan menjadi perilaku.

Perlu konsensus sosial yang penuh integritas untuk membuat etika dan etiket hidup berdampingan dan saling mengisi. Bila etika dan etiket saling mengisi menjadi etos di tempat kerja. Maka, kebiasaan, karakter, perilaku, watak, adat, budaya, dan sikap akan menjadi kekuatan untuk praktik tata kelola perusahaan yang terbaik (good corporate governance).

Benturan antara etika dan etiket selalu menciptakan dilema, yang membuat hati ragu dan takut bertindak. Dunia bisnis bukanlah dunia moralitas. Dunia bisnis adalah dunia hubungan baik. Dunia bisnis adalah dunia yang harus pintar etiket agar mudah mendapatkan bisnis.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

IMPLEMENTASI GOOD CORPORATE GOVERNANCE MEMBUTUHKAN KEPEMIMPINAN YANG KUAT, TEGAS, DAN DIAKUI

GOOD CORPORATE GOVERNANCE 2016“Hubungan kerja antara para direksi dengan tim manajemen tidak hanya di sekitar meja rapat, tetapi harus dari hati ke hati dan saling melengkapi.”~Djajendra

Praktik good corporate governance akan berjalan sempurna bila kepemimpinannya fokus dan peduli untuk menjalankan tata kelola perusahaan yang terbaik. Tata kelola perusahaan yang terbaik secara formal mudah diwujudkan. Tetapi, di dalam praktik dibutuhkan kepemimpinan yang kuat, tegas, dan diakui. Bila kepemimpinan perusahaan lemah, maka sangat sulit untuk mencegah pelanggaran atas tata kelola. Pemimpin yang kuat dan produktif mampu membangun hubungan kerja yang sehat dan produktif dengan tim manajemennya ataupun dengan CEO nya. Pemimpin yang kuat memiliki keberanian dan pengetahuan untuk mengkoordinasikan tim manajemen secara efektif dan produktif, lalu memiliki intuisi dan keberanian untuk proses pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.

Good corporate governance tidak hanya tentang kepatuhan dan kesesuaian perilaku dengan tata kelola yang terbaik, tetapi juga tentang hubungan dan komunikasi yang baik antara para direksi dengan tim manajemennya. Dewan direksi perusahaan harus memiliki kekuasaan dan kewenangan penuh untuk menciptakan arah pencapaian. Para direktur harus mampu memberdayakan tim manajemen untuk menjalankan kekuasaan, membuat keputusan, mengawasi perusahaan, dan bertanggung jawab penuh atas setiap peristiwa. Garis tanggung jawab antara para direktur dengan tim manajemen perusahaan harus jelas dan profesional. Tidak boleh ada benturan kepentingan. Setiap pihak harus memperkuat kompetensi perilaku untuk mendorong terciptanya hubungan kerja yang produktif dan kreatif.

Tata kelola yang terbaik dimulai dari kepercayaan Rapat Umum Pemegang Saham untuk memberikan tanggung jawab kepada dewan direksi. Setelah menerima tanggung jawab dari RUPS, para direktur harus menentukan tim manajemen yang tangguh, untuk menjalankan arah strategis perusahaan dan mencapai tujuan. Selain kemampuan teknis, hubungan direksi dengan tim manajemen sangatlah penting agar tata kelola yang terbaik dapat berfungsi dengan optimal.

Kesesuaian perilaku dengan undang-undang, peraturan, kode etik, dan praktik bisnis yang terbaik menjadi fondasi dalam menciptakan tata kelola yang terbaik. Perilaku kerja yang baik selalu beradaptasi dengan proses kerja yang nyata. Apapun realitas di lapangan, perilaku baik mampu berfungsi untuk menjalankan tata kelola yang terbaik. Setiap orang mengetahui siapa dirinya, apa tugasnya, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, bagaimana menjaga hubungan kerja yang produktif, dan bagaimana menjadi energi positif di dalam proses manajemen.

Tujuan implementasi good corporate governance adalah untuk memaksimalkan kinerja perusahaan dengan cara-cara etis. Karena yang berproses dalam tata kelola adalah fungsi-fungsi manajemen dan peran yang diberikan perusahaan kepada setiap individu karyawan, maka para direksi harus memiliki kepemimpinan yang kuat, untuk memastikan bahwa bisnis dan operasional perusahaan dijalankan dengan mematuhi aturan dan hukum yang berlaku. Peran monitoring para direksi harus dijalankan dengan konsisten agar tata kelola yang terbaik dapat diimplementasikan sesuai harapan. Para direksi harus terus-menerus memantau melalui laporan dan juga fakta di lapangan untuk memastikan bahwa semua prinsip-prinsip good corporate governance dijalankan dengan baik.

Karena RUPS memberikan tanggung jawab perusahaan kepada para direksi, maka seluruh risiko menjadi tanggung jawab penuh dewan direksi. Agar risiko dapat dikelola secara baik, maka fungsi pengawasan internal harus diperkuat dan menjadi lebih mandiri. Pengawasan internal harus mampu memberikan laporan dan informasi yang tepat kepada para direksi, agar para direksi secepatnya dapat mengambil keputusan yang benar dan tepat.

Dalam tata kelola yang baik, informasi haruslah yang benar sesuai fakta, tidak boleh sebuah informasi menciptakan asumsi. Sebab, asumsi tidak bersumber dari fakta, dia hanya bersumber dari persepsi dan keyakinan. Sedangkan tata kelola yang baik menganut prinsip kepatuhan, ketaatan, dan kesesuaian. Jadi, sebuah informasi yang bersifat asumsi berpotensi merusak tata kelola yang baik.

Kepemimpinan yang kuat dan berani adalah kunci sukses implementasi good corporate governance. Para direksi bertanggung jawab untuk semua tindakan dan keputusan perusahaan. Para direksi tidak boleh melempar kesalahan kepada pihak manapun. Sebab, mereka secara sah telah menerima tanggung jawab untuk menjalankan perusahaan dari para pemegang saham. Oleh karena itu, dewan direksi harus mengembangkan budaya perusahaan yang kuat untuk memandu perilaku organisasi yang sehat dan andal. Proses organisasi yang baik tumbuh dan berkembang melalui sistem dan prosedur yang tepat. Bila sistem dan prosedur tidak berkualitas, maka proses organisasi juga menjadi tidak berkualitas. Hal ini akan menghasilkan tata kelola yang buruk.

Kepemimpinan dewan direksi yang kuat dihasilkan dari perilaku dan sikap yang tepat. Para direksi harus mampu menjadi bijak dan mewakili keseimbangan yang tepat dengan tim manajemen. Pengalaman dan pengetahuan para direksi harus bisa mempengaruhi peningkatan kinerja tim manajemen. Hubungan kerja antara para direksi dengan tim manajemen tidak hanya di sekitar meja rapat, tetapi harus dari hati ke hati dan saling melengkapi.

Kepemimpinan yang kuat selalu memahami kelemahan yang ada di dalam diri mereka ataupun yang ada di sekitar mereka. Oleh karena itu, mereka selalu sadar dan memiliki persepsi positif untuk pengembangan diri sendiri. Mereka selalu rendah hati untuk belajar dan memperbaiki yang kurang.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

COMPLIANCE OFFICER MENJAGA MANAJEMEN TIDAK BERBUAT KESALAHAN

MOTIVASI 17 JAN 2016“Compliance Officer bekerja untuk memulihkan kesalahan dan tidak boleh menuduh kesalahan kepada pihak manapun.”~Djajendra

Compliance Officer diprogram untuk menjaga keberlangsungan tata kelola yang baik. Dia tidak boleh berpersepsi ataupun berasumsi. Dia harus fokus bekerja untuk menjaga kepatuhan, ketaatan, dan kepatutan dalam pemenuhan keinginan aturan.

Tata kelola yang baik (Good Corporate Governance) dibangun dari kepatuhan terhadap etika, aturan, undang-undang, kebijakan, dan sistem. Semua ini dimulai dari komitmen top manajemen untuk mematuhi dan mentaati etika, dan semua aturan yang wajib dijalankan dengan sepenuh hati. Untuk bisa menjalankan komitmen top manajemen diperlukan sebuah unit kerja yang membantu top manajemen dalam menjalankan fungsi compliance secara profesional. Fungsi compliance dijalankan oleh para pegawai yang disebut sebagai Compliance Officer, yaitu petugas  yang memastikan bahwa semua orang di dalam perusahaan sudah taat dan patuh dalam menjalankan tata kelola yang baik. Compliance Officer bertugas memenuhi keinginan top manajemen agar tata kelola yang baik terimplementasi dengan sempurna. Mengingat sangat beragam karakter dan perilaku dari orang-orang yang bekerja di sebuah perusahaan, maka independesi dan fairnes dari seorang Compliance Officer menjadi penting. Compliance Officer tidak boleh memberikan respon atas persepsi atau asumsinya; dia hanya boleh memberikan respon atas dasar aturan, etika, dan undang-undang. Sifat dari keberadaan Compliance Officer adalah mandiri dan profesional, tidak boleh berdiri di atas kepentingan pihak manapun, hanya berdiri di atas kepentingan tata kelola yang baik sesuai kebijakan perusahaan.

Compliance Officer harus berani memutuskan dengan tegas demi menjaga etika dan aturan yang benar. Tidak boleh ragu. Tidak boleh setengah hati. Berperilaku rendah hati dan menjaga komunikasi dengan semua pihak di internal perusahaan. Berpenampilan dengan gaya kerja yang sopan, tenang, sabar, menjaga emosi, berpikir positif, berjiwa besar, dan bekerja sesuai aturan. Dia juga harus terlatih untuk mendengarkan suara hati baiknya, serta mampu menolak suara hati yang takut untuk menegakkan kepatuhan dan ketaatan. Harus berani mengambil risiko dan bertanggung jawab atas pekerjaan compliance, serta memahami semua konsekuensi sebagai pelaksana compliance di perusahaan.

Compliance Officer bekerja untuk memulihkan kesalahan dan tidak boleh menuduh kesalahan kepada pihak manapun. Pada dasarnya orang tidak suka mengakui kesalahan ataupun tidak suka menerima penilaian tentang kekurangan dan kesalahannya. Di sinilah Compliance Officer harus dapat memahami tentang orang lain. Pengetahuan tentang orang lain menjadi sangat penting bagi pekerjaan compliance. Bila Compliance Officer tidak mampu memahami orang lain dengan empati yang tinggi, maka keberadaannya berpotensi tidak disukai oleh banyak orang di perusahaan. Sebaliknya, bila dia memiliki empati untuk membantu memulihkan dan menyadarkan orang ke arah tata kelola yang baik, maka keberadaannya berpotensi mendapatkan dukungan.

Pekerjaan compliance tidak boleh menyebabkan kepanikan, semua tindakan dan perilaku dilakukan dengan tertib sesuai prosedur. Pekerjaan compliance adalah memastikan kepatuhan dan perbaikan atas hal-hal yang keliru. Fokusnya adalah hari ini patuh dan taat, serta mempengaruhi peningkatan kinerja jangka panjang perusahaan. Untuk itu semua, petugas compliance harus menguatkan kredibilitas dan reputasinya dengan integritas yang tinggi, sehingga dia dipercaya dan didengarkan oleh semua orang di dalam perusahaan.

Seburuk apapun realitas kepatuhan manajemen atas tata kelola yang baik, Compliance Officer harus bersikap tenang dan tidak menyebarkan rasa tidak puasnya. Lebih baik mengambil langkah mundur, jangan menyerang dengan argumentasi. Pahami konsekuensi dari ketidakpatuhan tersebut, dan berikan kesadaran melalui kalkulasi manajemen risiko. Berkomunikasilah untuk mengambil hati manajemen, dan yakinkan manajemen tentang kerugian yang bakal dihadapi mereka saat keadaan memburuk.

Tata kelola yang baik (Good Corporate Governance) membutuhkan orang-orang berjiwa besar yang mau mengakui kesalahan dan sadar untuk memperbaikinya. Tidak malu meminta bantuan orang lain untuk memandu memperbaikinya. Sikap yang menunjukkan integritas dan kekuatan untuk memperbaiki akan mempercepat pemulihan.

COMPLIANCE OFFICER DJAJENDRA

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

ETIKA BISNIS MEMBUTUHKAN AKUNTABILITAS DAN HATI NURANI YANG JUJUR

ETIKA BISNIS 14 JAN 2016

“Etika bisnis dalam prakteknya membutuhkan akuntabilitas dan hati nurani yang jujur.”~Djajendra

Etika bisnis mengatur proses bisnis agar tidak melanggar aturan, moral, dan kejujuran untuk bisa mendapatkan keuntungan. Intinya, siapapun boleh mencari keuntungan asal keuntungan didapatkan melalui kejujuran dan tanggung jawab. Bisnis yang etis lebih dipercaya oleh pemangku kepentingan, sehingga berpotensi tumbuh dengan kinerja terbaik. Praktik bisnis membutuhkan hati nurani yang bersih dan tanggung jawab agar perilaku bisnis yang etis dapat terwujud.

Bila moralitas dan etika hilang dari bisnis, hal-hal buruk pasti muncul untuk menghilangkan kejujuran dan tanggung jawab. Apalagi saat integritas berada di jalan buntu dan tujuan bisnis untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal, maka di saat inilah kekuatan moral harus muncul secara kuat untuk menjaga Anda agar tidak tergelincir dalam perilaku tidak etis. Bisnis yang sehat membutuhkan manajemen risiko yang diperhitungkan secara baik untuk dapat menciptakan bisnis yang etis.

Meskipun diakui bahwa etika bisnis adalah bagian terpenting dari tata kelola perusahaan yang baik, tetapi etika bisnis selalu dalam dilema, sehingga menjadi perilaku sehari-hari tidaklah mudah. Tidak jarang dilema etika suka mengganggu integritas, sehingga kepentingan bisa mengalahkan integritas.

Etika bisnis dalam prakteknya membutuhkan akuntabilitas dan hati nurani. Akuntabilitas bersumber dari integritas. Akuntabilitas bermuara dari tanggung jawab yang ikhlas dan tulus. Ketika perusahaan dikendalikan dan dikelola oleh orang-orang yang bertanggung jawab, maka perusahaan dengan mudah dapat memenuhi etika bisnis yang telah disepakati. Sebaliknya, ketika perusahaan dikendalikan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, mereka selalu mencoba mengakali etika bisnis untuk mendapatkan jalan pintas dalam setiap proses bisnis.

Praktek etika bisnis yang baik selalu berani mengambil tanggung jawab dan memiliki respon yang cepat untuk menemukan solusi atas setiap dilema. Tidak pernah menyalahkan orang lain atau membuat alasan atas sesuatu yang salah. Bersikap profesional dan menerima konsekuensi atas kejadian dari pilihan dan tindakan yang dibuat.

Hanya orang-orang yang terbiasa menjadi akuntabel yang bisa menjalankan etika bisnis. Dalam hal ini, peran dan tanggung jawab harus digunakan secara tepat dan benar. Jangan terjebak dalam wilayah kerja orang lain. Jadilah jujur dengan diri sendiri dan orang lain; jadilah jujur untuk menjalankan tata kelola yang baik; jadilah jujur ketika Anda salah, lalu mau memperbaiki dan membiasakan perilaku etis di setiap proses bisnis.

Kompetensi dan integritas harus bersatupadu dalam tanggung jawab dan hati nurani yang bersih. Anda tidak hanya cukup membuktikan kualitas kompetensi di tempat kerja, tetapi juga harus membuktikan kualitas integritas yang tinggi. Dengan integritas yang tinggi Anda terhindar dari ketidakjujuran, sehingga terhindar risiko jeratan hukum akibat perilaku tidak etis. Kuatkan etika dan nilai-nilai perusahaan ke dalam perilaku kerja, lalu yakinlah bahwa reputasi profesional Anda akan terus meningkat untuk menjamin arah positif dari karir Anda.

Ketika Anda ingin secara jujur menjalankan etika bisnis, Anda harus jujur dengan karakter Anda. Dalam hal ini, karakter Anda harus dibentuk kembali dengan cara menganalisa isi pikiran inti Anda, niat dan perilaku Anda. Pastikan hal-hal tidak baik, seperti: keserakahan, iri hati, dan emosi negatif lainnya mampu terhapus dari karakter Anda.

Ingat, potensi ketidakjujuran tidak hanya bersumber dari dalam diri, tetapi juga dari luar diri Anda. Saat Anda sudah mampu melatih diri sendiri untuk berperilaku etis, Anda juga harus sadar bahwa setiap hari orang-orang dengan perilaku tidak etis berpotensi di sekitar Anda. Jadi, miliki ketenangan dan kesabaran dalam setiap interaksi, hadapi setiap situasi dengan sikap profesional. Hal terpenting, jangan pernah melanggar aturan, dan setiap tindakan harus sesuai dengan aturan yang benar.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com